Joe William

Joe William
Pertemuan di Victoria peak.



...Victoria Peak-Hongkong....


Di salah satu Villa mewah di kawasan elite di Hongkong yang hanya bisa ditempati orang-orang berduit tampak sedang mengadakan pertemuan.


Di salah satu Villa besar yang memiliki luas nyaris sembilan ratus meter persegi ini, di kenal oleh beberapa kalangan adalah milik keluarga kaya raya yang memiliki aset miliaran dollar Amerika di berbagai negara di belahan dunia.


Mereka adalah keluarga Miller. Pemegang saham terbesar di perusahaan Arold Holding Company yang dulunya berbasis di daratan Tiongkok. Namun setelah belasan tahun yang lalu setelah Founder dari perusahaan itu meninggal, para ahli waris dalam keluarga ini memutuskan untuk memindahkan pusat perusahaan mereka ke Hongkong dengan berbagai alasan.


Diketahui bahwa Tuan besar Arold Miller dulu tidaklah memiliki keturunan. Oleh karena itu, dia mengadopsi dua putra dari keponakannya dan membesarkan mereka layaknya seperti cucu sendiri.


Awalnya, kedua cucunya ini damai-damai saja ketika Tuan besar itu masih hidup. Namun semenjak meninggalnya Arold Miller ini, mereka mulai bersaing sehingga puncak dari persaingan itu, terbelahnya perusahaan menjadi dua cabang walaupun masih berada di bawah naungan yang sama yaitu Arold Holding Company.


Adolf Miller selaku cucu tertua memiliki seorang putra bernama Honor Miller. Mereka memutuskan untuk memindahkan basis perusahaan mereka di Hongkong. Sementara itu cucu nomor dua yaitu Rudolf Miller memilih Macau sebagai pusat perusahaan yang dia pimpin.


Untuk Rudolf Miller ini, juga mempunyai seorang putra bernama Albern Miller.


Kedua cabang dari keluarga Miller ini tidak pernah akur antara satu dengan yang lain. Bagi Adolf, dia merasa bahwa Honor layak menjadi pimpinan tertinggi perusahaan Arold Holding Company suatu saat nanti. Sebaliknya bagi Rudolf pula, Albern putranya juga memiliki kesempatan yang sama dengan Honor. Jadilah mereka ini bersaing untuk mendominasi dalam perusahaan.


Untuk pertemuan ini sendiri, tercetus oleh Adolf yang menerima laporan dari Honor tentang seorang pemuda yang sebaya dengannya sepertinya sangat berkuasa dan melakukan tindakan gila dengan menjadikan semua manager dan staf tertinggi menjadi pelayan pribadinya dan lebih gila lagi, karena kunjungannya itu, perusahaan miliknya mengalami kerugian yang tidak sedikit.


Melalui penelusuran mereka yang dibantu oleh Tuan Paul, Frank dan Diana Regnar, maka mereka dapat mengambil kesimpulan bahwa anak muda gila itu pasti adalah anak Jerry William yaitu musuh bebuyutan bagi keluarga Miller.


Mungkin sejak kecil bahwa mereka berdua ini di doktrin oleh Arold Miller bahwa setiap keturunan empat naga dari Metro City adalah musuh, maka kali ini mereka bersatu untuk memerangi perusahaan Future of Company beserta mencari tau siapa-siapa saja musuh mereka.


"Tuan Paul. Kau adalah orang yang paling tau seluk beluk di Starhill, Metro City dan kota-kota besar lainnya. Kau juga antara orang-orang yang paling tau tentang Jerry William ini. Dengan siapa dia bermusuhan, dan siapa-siapa saja sahabatnya baik itu dari kalangan pengusaha, maupun dari dunia bawah tanah." Kata Adolf Miller bertanya dalam kesempatan di pertemuan itu.


"Tuan Miller. Saya dengan Tuan muda telah melakukan banyak penjajakan dan mempelajari tentang Jerry William ini. Menurut Diana Regnar sendiri, memang Jerry William ini memiliki seorang anak bernama Joe William. Namun sampai sekarang, tidak ada yang tau seperti apa wajah anak ini. Ini karena ketika berusia satu tahun, anak ini telah dititipkan ke salah seorang yang terdekat dengan mereka."


"Banyaknya informasi yang simpang siur membuat saya dalam belasan tahun ini gagal menjejaki keberadaan anak itu sampai pada suatu saat saya menemukan gambar yang viral ini."


"Menurut hasil penyelidikan saya, bahwa anak yang bertingkah aneh ini memang bernama Joe William. Lalu saya coba mendalami pencarian dan menemukan bahwa ini bukanlah hal yang mustahil. Karena Jerry juga memiliki hubungan baik dengan beberapa tokoh bisnis di negara Indonesia. Dia juga memiliki perusahaan Tower Mall. Dapat dipastikan jika seorang pemuda membuat rugi sebuah perusahaan tanpa adanya tindakan hukuman yang ditimpakan kepadanya, maka apa jawaban yang tepat untuk ini?" Tanya Tuan Paul.


"Hmmm... Masuk akal juga."


"Benar Tuan. Saya sangat yakin jika anak itu adalah anak Jerry William yang memang sengaja diasingkan untuk mengelabui musuh-musuhnya.


"Apakah kau dapat melacak di mana lokasi yang spesifik tentang keberadaan anak dari Jerry William ini?" Tanya Adolf Miller.


"Hmmm... Bagaimana menurut mu Rudolf?" Tanya Adolf Miller kepada adiknya.


"Jika Jerry William ini memiliki mitra bisnis, dia pasti memiliki saingan. Jika dia memiliki sahabat, dia pasti juga memiliki musuh. Aku ingin tau siapa saja musuh Jerry ini. Dengan begitu, kita bisa membuat tawaran kerja sama dengan musuh-musuhnya itu." Jawab Rudolf Miller.


"Idea yang sangat masuk akal Tuan. Dengan begini, kita bisa mengirim orang-orang kita ke Indonesia. Misi mereka adalah menjaring sebanyak-banyaknya musuh Jerry ini sekaligus mencari tau keberadaan putranya ini. Syukur-syukur bisa menemukan keberadaannya lalu akhiri hidupnya." Kata Tuan Paul sambil melakukan gestur sembelih di lehernya.


"Baiklah. Untuk masalah ini aku rasa tidak terlalu sulit. Lalu bagaimana dengan Garden Hill itu?" Tanya Adolf kepada Tuan Paul.


"Inilah yang jadi masalah Tuan. Kami terkecoh oleh pergerakan Jerry ini. Tadinya mereka melakukan peninjauan di lokasi perbatasan antara Hillstreet dan MegaTown. Kami yang menduga bahwa mereka ingin melobi pemerintah daerah untuk sebuah proyek di sana langsung memotong pergerakan mereka dan melobi pemerintah daerah setempat untuk berinvestasi di sana. Namun celaka nya adalah mereka malah menarik diri lalu mengalihkan perhatian mereka ke Garden Hill. Akhirnya kami terkecoh. Dalam menuntaskan kesepakatan di perbatasan, mereka ternyata telah mendapat izin dari pemerintah daerah Garden Hill untuk berinvestasi di sana." Jawab Tuan Paul sambil tertunduk.


Prak!


Terdengar suara meja di pukul dengan tangan membuat Tuan Paul tampak semakin tertunduk.


"Hahaha. Bagaimana kak? Sudah aku katakan bahwa Honor mu itu tidak becus melakukan pekerjaan. Sekarang tidak ada alasan untuk mu melarang putra ku Albern untuk turun tangan ke MegaTown." Kata Rudolf dengan nada bicara penuh ejekan.


"Masih belum terlambat Tuan. Setelah kegagalan itu, saya mencari celah supaya kita bisa memasuki Garden Hill dengan cara lain. Dan setelah melakukan beberapa penelitian, saya akhirnya menemukan celahnya." Kata Tuan Paul.


"Katakan apa idea mu!" Pinta Adolf.


"Ada sebuah perusahaan lokal di sana bernama Garden Company. Atas beberapa kerja yang saya lakukan, saya berhasil memutus aliran dana ke perusahaan mereka ini. Saat ini perusahaan mereka sedang di ambang bangkrut dan memerlukan investor yang bisa menyuntikkan dana ke dalam perusahaan."


"Maksud saya adalah, kita bisa memasuki Garden Hill melalui perusahaan ini. Mari kita berinvestasi dalam perusahaan itu. Miliki saham mayoritas milik Garden Company ini. Perusahaan ini adalah pintu masuk kita ke kawasan itu. Bagaimana menurut anda Tuan?" Tanya Tuan Paul.


"Bagus. Menurut mu, berapa nilai pasar perusahaan tersebut?" Tanya Adolf.


"Tidak sampai se-kuku hitam perusahaan Arold Holding Company ini Tuan. Aku menaksir bahwa nilai pasar perusahaan itu hanya dalam kisaran ratusan juta Dollar saja. Bahkan mungkin Harga Villa ini lebih besar dari nilai pasar perusahaan itu."


"Bagus. Ayo kita bergerak cepat. Andai terlambat, kemungkinan bagi kita untuk mempersulit Future of Company akan menemui jalan berliku." Kata Adolf.


"Baiklah. Mari kita bubarkan saja pertemuan ini. Dan kau Rudolf. Putra mu masih belum mampu menyaingi Honor putra ku. Tahan dulu ambisi mu. Hahahaha." Kata Adolf sambil tertawa lalu meninggalkan ruangan itu diikuti oleh Tuan Paul.


Kini tinggallah Rudolf dengan mata berkilat-kilat menatap punggung kakaknya itu.