
"Tuan muda. Ini adalah bangunan apartemen 19 lantai milik Tower Sole propier yang dibangun oleh perusahaan konstruksi dari Starhill. Bangunan ini adalah salah satu properti milik anda di kota Kemuning ini." Kata Miss Aline menjelaskan.
"Oh iya. Iya saya tau." Kata Joe menjawab. Padahal sudut matanya kini memperhatikan sekitar empat orang lelaki asing berdiri dengan mengarahkan kamera ke arahnya.
"Apakah anda ingin melihat-lihat yang lainnya Tuan muda?" Tanya Aline.
"Sudahlah Miss Aline. Tujuan ku sudah tercapai." Jawab pemuda membuat wanita setengah baya itu terbengong-bengong.
"Tuan muda. Maksud anda?"
"Oh. Tid-tidak. Tidak ada maksud apa-apa. Oh ya. Anda silahkan sibuk. Aku akan pergi dulu." Kata Joe sambil berjalan lalu dengan sangat-sangat sengaja berjalan sendiri menuju keempat orang asing itu.
Sebelumnya karena sudah memberi kode kepada Tigor, maka tidak ada yang mengikuti Joe yang memang sengaja lewat untuk melihat reaksi dari keempat orang yang dicurigainya itu.
"Pak Tigor. Ada apa dengan Tuan muda?" Tanya Miss Aline yang keheranan.
"Oh itu. Mungkin penyakit lamanya kambuh." Jawab Tigor membuat raut wajah Aline menjadi cemas.
"Apakah Tuan muda memiliki penyakit?" Tanya Aline yang memang tidak begitu faham maksud dari perkataan Tigor ini.
"Banyak Nona. Penyakit Tuan muda itu sungguh banyak sekali."
"Oh ya. Saya pergi dulu menyusul Tuan muda yang berpenyakitan itu." Kata Tigor sambil mengangguk hormat lalu bergegas menyusul ke arah perginya Joe tadi.
"Kini tinggallah Aline dengan raut wajah penuh kekhawatiran mendengar jawaban dari Tigor tadi."
"Joe ini harusnya lahir dari rahim ku. Hanya saja Clara lebih beruntung mendapatkan cinta Jerry." Katanya dalam hati. Lalu dia pun bergegas untuk kembali ke Tower mall.
Dengan ekor matanya, Joe terus saja melirik ke arah empat lelaki tadi. Mereka memang tidak mengikutinya. Namun, kemanapun dia melangkah, selalu saja dibuntuti dengan tatap mata orang asing itu.
"Biarkan saja sesuka hatinya. Aku ingin membeli mobil. Kata Ayah, aku bahkan bisa membeli pabrik mobil. Apa iya. Coba aku keluarkan uang seratus juta. Mungkin bisa untuk membeli mobil." Kata Joe dalam hati lalu segera menuju ke arah bank BCA untuk mengeluarkan uang tunai.
Baru saja Joe memasuki bank tersebut, Tigor dan pak Burhan pun tiba juga di sana dan celingukan karena Joe begitu cepat menghilang.
"Kemana pula ketua ini?" Pikirnya dalam hati.
Dia lalu mencoba untuk menelepon Joe. Namun tidak di jawab.
"Ketua. Apakah anda baik-baik saja? Jika anda membuka pesan ini, saya menunggu anda di Martins Hotel." Kata Tigor mengirim pesan suara.
Tak lama setelah Tigor dan pak Burhan pergi menuju Tower Mall untuk mengambil mobil mereka, Joe pun melenggang keluar dari bank BCA yang dia masuki tadi sambil menyandang plastik kresek di pundaknya yang berisi seratus juta rupiah uang yang baru saja dia tarik.
Ketika dia mendengar pesan suara dari Tigor tadi, tahu lah dia bahwa Tigor akan menunggu dirinya di Martins Hotel, maka Joe pun segera menghentikan taksi lalu berangkat menuju Martins Hotel.
Karena Tigor harus ke Tower mall dulu untuk mengambil mobil, maka Joe pun tiba lebih dulu di Martins Hotel kemudian membalas pesan suara dari Tigor tadi.
"Paman Tigor, aku sudah berada di Martins Hotel. Anda bisa datang ke kamar ku. Ada yang ingin aku bahas bersama dengan kalian." Kata Joe lalu bergegas menuju lift.
Tampak beberapa anak buah Tigor membungkuk hormat ketika Joe lewat di depan mereka.
*********
"Lima juta."
"Lima puluh juta."
"Tujuh puluh lima juta."
"Seratus juta rupiah." Kata Joe menghitung uang yang berada dalam plastik kresek itu sambil terduduk di lantai kamar hotel dengan posisi ngangkang sehingga uang tersebut persis dilingkari oleh kedua kakinya.
Gaya duduk Joe ini persis seperti anak-anak yang sedang bermain ketika tahun 80-90-an dulu.
Tok tok tok..!
Terdengar pintu kamar hotel di ketuk dari luar.
"Masuk!" Kata Joe sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan seikat uang lima jutaan.
"Ya ampun ketua. Anda dapat uang dari mana?" Tanya Tigor sambil membantu Joe untuk bangkit dari duduknya. Karena dia merasa Joe yang duduk seperti itu persis seperti pengemis di kaki lima.
"Paman. Aku sudah minta izin dari Ayah ku. Katanya aku boleh membeli mobil. Dia juga bilang kalau aku boleh membeli apa saja. Jangankan mobil. Pabrik nya pun boleh aku beli." Kata Joe dengan lugunya lalu menambahkan. "Apakah uang itu cukup untuk membeli mobil?" Tanya Joe.
"Untuk apa membawa uang tunai untuk membeli mobil, ketua? Kan ketua punya banyak kartu. Ada kartu debit. Ada kartu kredit. Untuk apa uang tunai?" Tanya Tigor.
Mendengar pertanyaan ini, Joe hanya garu-garu kepala saja sambil tersenyum kecut.
"Ketua ingin beli mobil seperti apa?" Tanya Tigor.
"Volvo seperti punya ayah ku. Eh tidak. Itu terlalu sengsara. Em..., Apakah uang segini cukup untuk membeli mobil seperti mobil paman yang hanya dua kursi itu? Tentunya itu lebih murah. Selain kecil, mobil itu juga hanya memiliki dua pintu." Kata Joe bertanya sekaligus memberi penilaian.
Dia mengira semakin kecil kendaraan itu, semakin sedikit pintunya, maka semakin murah pula harganya. Hal ini membuat Tigor kembali memegangi perutnya menahan tawa.
"Ketua. Untuk mobil BMW i8 milik saya itu, ketua harus membawa sekarung uang jika ingin membelinya dengan menggunakan uang tunai." Jawab Tigor membuat Joe terbengong.
"Ini seratus juta ini banyak ini, Paman!"
"Iya. Seratus juta itu memang banyak. Tapi tidak cukup untuk membeli mobil sport. Bagaimana menjelaskan kepada anda." Kata Tigor sambil garu-garu kepala.
Dia juga merasa sangat sulit untuk menjelaskan. Selain dia juga tidak memiliki pendidikan yang cukup untuk menjelaskan hal-hal seperti itu.
"Begini saja. Anda tidak perlu membeli mobil. Jika ketua suka, pakai saja mobil milik ku itu. Lagi pula mobil itu sangat jarang di pakai. Apa lagi usia ku sudah semakin tua." Kata Tigor.
"Terimakasih paman. Aku memiliki mobil di Garden Hill. Tapi entah seperti apa mobil itu. Aku hanya mendengar namanya saja dari kakek karena itu adalah hadiah ulangtahun ku. Kelak aku akan mengemudikan mobil itu di jalan raya. Harus pamer biar orang tau kalau aku ini orang kaya." Kata Joe lalu berkacak pinggang dengan sebelah tangan kirinya sementara tangan kanan menoel hidungnya sendiri.
"Hahaha. Anda bisa saja ketua. Tapi memang iya. Anda harus pamer. Apa lagi anda akan kembali ke negara anda. Kota Starhill dan Metro city. Kota dimana orang yang tidak memiliki apa-apa akan di hina sampai setengah mati. Mungkin anda pernah mengalami itu." Kata Tigor menebak.
"Huh... Bukan hanya di sana. Di sini pun aku bahkan mendapat hinaan. Paman sendiri kan tau seperti apa Hendro memperlakukan aku." Kata Joe sambil meletakkan uang miliknya di atas meja.
"Dulu itu kalau aku memegang uang ini, kemudian aku di hina oleh Hendro. Mungkin pipinya akan babak belur aku tampar dengan menggunakan uang seikat besar ini." Kata Joe dengan geram. Namun itu hanya sebentar saja. Dia pun lalu tertawa terbahak-bahak membuat Tigor juga ikut tertawa.
"Ketua, tadi mengapa anda seperti melihat sesuatu? Apa maksudnya ketika anda memberi kode kepada saya tadi?" Tanya Tigor penasaran.
Bersambung...