
Sepeda motor BMW S 1000 RR menderu kencang meninggalkan area parkir di universitas Kota Batu membuat beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang melihat kejadian itu bertanya-tanya dalam hati mereka.
Memang, semenjak Joe ini identitasnya sudah terbongkar, selama itu pula dia menjadi buah bibir di kalangan mahasiswa baik Senin maupun junior yang seangkatan dengan dirinya.
Di salah satu kursi panjang dekat taman, anak-anak J7 juga memperhatikan sepeda motor sport tersebut meninggalkan area kampus dan langsung berbaur dengan pengguna jalan raya lainnya.
"Kau terlihat sangat serius sekali, Jericho. Ada apa?" Tanya James yabg sejak tadi memperhatikan sahabatnya itu yang melihat ke arah penunggang sepeda motor tadi.
"Tidak apa-apa. Hanya saja, Ayahku tadi subuh mengatakan bahwa ada hal yang sangat mendadak. Paman Tigor tiba-tiba menghubunginya mengatakan bahwa ketua mereka sedang dalam bahaya. Yang aku heran kan, bukankah Joe ini adalah ketua nya? Lalu, kapan dia berada dalam bahaya?"
"Apa jangan-jangan, perkataan Hendro kemarin hanya bualan belaka?" Kini Jaiz pula yang bertanda tanya.
"Tidak mungkin. Aku tau betul siapa Hendro ini. Dia tidak akan memuji siapapun kecuali dirinya sendiri. Jika dia sudah memuji seseorang, pastilah orang itu sangat berpengaruh," kilah Jericho terhadap keraguan sahabatnya Ini.
"Eh. Itu Namora. Coba kau tanya ada apa sebenarnya!" Tunjuk Juned kepada seorang pemuda yang sebaya dengannya.
Melihat Namora, Jericho pun segera bangun dan menghampiri pemuda itu yang sedang menuju area parkir.
Tiba di sana, dia langsung menyapa pemuda tersebut. "Namora. Ada masalah apa sebenarnya? Kata Ayah ku tadi, Paman Tigor meneleponnya dan mengatakan bahwa ketua sedang dalam bahaya. Tapi, aku lihat bukankah Joe baik-baik saja?!"
"Aku juga baru tau ini. Ternyata Joe salah dalam melakukan panggilan telepon. Akhirnya, terjadi kesalahpahaman. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan mu. Jaga saja bicara mu! Jangan sampai berita ini menyebar luas!"
"Baiklah. Ya sudah! Sampai ketemu lagi hari Senin!" Ujar Jericho lalu segera kembali bergabung dengan teman-temannya.
Sementara itu, Joe yang mengendarai sepeda motornya laksana kesetanan akhirnya tiba juga di bukit batu.
Tiba di bagian luar apartemen miliknya, dia sudah melihat ribuan orang telah berada di sana dalam berbagai posisi.
Mata tajam Joe dalam melihat dari kaca helm miliknya bahwa di setiap titik, selalu ada lelaki yang bersiap-sedia dengan walkie talky di tangan masing-masing.
"Hmmm. Habis lah aku kali ini," gumam Joe dalam hati. Dia lalu memasuki kawasan bangunan apartemen tersebut lalu buru-buru memarkir sepeda motornya di area parkir. Kemudian pemuda itu setengah berlari menuju lift. Akan tetapi, belum lagi dia sampai di pintu lift, seseorang telah meneriaki dirinya.
Joe berpaling dan kini dia melihat Tigor sedang melangkah kearahnya.
"Paman?!" Sapa Joe.
"Ambil barang-barang yang anda butuhkan, lalu ikut dengan kami ke kota Kemuning! Rombongan dari Metro City, Starhill dan Country home telah tiba di sana. Cepat, dan saya tidak ingin disalahkan lagi!" Kata Tigor dengan nada tegas. Ada tekanan nada geram pada suaranya. Ini karena, selama berada di Indonesia, Joe adalah tanggung jawab Tigor. Wajar saja dia dipertanyakan ketika sesuatu terjadi kepada Joe. Maka, wajar jika dia sangat geram ketika ini.
"Baiklah. Paman tunggu saja di sini!" Kata Joe. Dia segera masuk ke ruang lift untuk naik ke apartemen miliknya untuk mengambil barang-barang yang dia butuhkan.
Lima belas menit kemudian, Joe keluar dari lift dengan menyandang tas ransel usang di pundaknya, kemudian sebuah kotak kecil penuh ukiran diperlukannya. Dia segera menyerahkan tas ransel miliknya kepada Tigor, lalu melangkah mendekati helikopter.
*********
Helikopter yang ditumpangi oleh Joe dan Tigor segera membelah udara untuk berangkat menuju ke kota Kemuning.
Di sepanjang perjalanan, tidak sepatah katapun yang keluar dari mulut Joe. Dia tampak sedang berpikir keras tentang hukuman apa yang bakal dia terima nanti.
Tigor hanya memperhatikan saja tingkah anak muda yang berada di sampingnya itu. Dia sengaja memberi ruang kepada pemuda itu untuk bermain dengan fikirannya sendiri.
Beberapa lama kemudian, akhirnya helikopter yang ditumpangi oleh mereka tiba juga di Rooftop Martins Hotel. Di sana, Joe dapat melihat ribuan orang mengenakan pakaian serba hitam dengan lambang Naga di dada bagian kiri pada baju tersebut.
"Cepat sekali mereka tiba. Ini baru pukul 5 sore. Bagaimana mereka bisa sampai seperti hantu saja?" Tanya Joe dalam hatinya.
Pemuda itu lalu segera mengenakan masker lambang kucing miliknya, kemudian mengeluarkan lencana berlambang naga dan harimau yang tergantung di lehernya.
Ketika orang-orang berpakaian serba hitam itu melihat lambang tersebut, mereka segera membungkuk hormat.
Joe menepuk pundak salah seorang dari mereka, lalu menariknya ke pinggir agar sedikit menjauh dari yang lainnya.
"Katakan kepada ku! Kapan kalian sampai di sini?" Tanya Joe.
"Menjawab anda, Ketua. Kami telah tiba di sini sekitar satu jam yang lalu melalui jalur udara. Diperkirakan, malam ini akan datang gelombang ke dua yang berjumlah mungkin lebih dari seratus ribu orang. Dan mereka adalah orang-orang pilihan yang sangat terlatih," jawab lelaki yang ditanya oleh Joe tadi.
"Ha? Gila. Mengapa bisa begini?" Joe berucap dalam hatinya.
Dia ingin menggaru kepalanya. Namun, hal itu dia tahan karena tidak ingin wibawanya turun didepan para anggota Dragon empire.
Untuk menghilangkan keresahan dihatinya, dia segera bertanya sekali lagi. "Dari cabang mana kau berasal?"
"Menjawab anda sekali lagi, Ketua. Saya beras dari distrik Metro City,"
"Jadi.., apakah Kakek ku telah sampai di sini?" Tanya Joe yang sebisa mungkin menyembunyikan kepanikan dihatinya.
"Benar, Ketua. Sesepuh Drako dan Sesepuh Tuan Syam beserta Tuan besar Jerry William, Nyonya besar Clara, Tuan besar Ivan Patrik beserta Nyonya besar Lorna Warker dan putri mereka, Tuan Gerrard Gordon beserta putrinya. Selain itu, setiap ketua cabang dan ranting juga telah tiba di kota Kemuning ini," jawab lelaki itu.
Mendengar ini, Joe semakin mati kutu saja. Baginya, ketika mendengar keluarga Gordon juga ikut serta, rasanya sudah jatuh tertimpa tangga pula.
"Ya sudah! Kau boleh kembali ketempat mu!" Kata Joe. Dia lalu melangkah menghampiri Tigor dan mengambil tas ransel butut miliknya.
"Ini semua karena kebodohan ku. Jika Talia dan Xenita kemari, tambah runyam lah masalah ku saat ini," kata Joe dalam hati. Ingin dia berteriak sekuat tenaga. Tapi nanti dikira dia orang gila.
Dengan tingkah uring-uringan, Joe memaksakan juga langkah kakinya mendahului Tigor dan yang lainnya.
Di salah satu lorong, empat orang wanita telah menunggunya.
Begitu Joe berada di depannya, salah satu dari wanita itu membungkuk hormat kemudian berkata, "Tuan.., anda telah di tunggu oleh Tuan besar Jerry William,"
"R1. Kau dan ketiga saudara mu tunggu di luar. Jangan masuk jika tidak aku panggil. Mungkin aku akan menerima hukuman. Kau tidak akan tahan melihatnya," kata Joe. Dia meninggalkan ke-empat wanita itu. Baginya, lebih baik melarang keempat gadis itu untuk ikut. Ini karena, gadis itu pasti akan melindungi Joe sesuai dengan sumpah mereka. Andai itu terjadi, bisa kacau balau urusan.
Bersambung...