
Pemuda berkulit hitam itu tampak dengan lincah memanjat dinding beton pagar si salah satu Villa kelas satu di bukit Metro ini.
Dengan satu tangan memeluk peti berukir itu, sedangkan satu tangan nya lagi tampak menjangkau salah satu dari barisan besi runcing di atas tembok itu lalu seperti alap-alap melayang turun ke bawah tepat di seberang tembok.
Tiba di luar pagar, dia segera mengeluarkan ponselnya, mencari nomor di ponsel itu lalu melakukan panggilan.
Beberapa lama menunggu akhirnya panggilan itu di jawab juga.
"Hallo Tuan muda. Apakah ada perintah yang lain yang anda ingin agar saya kerjakan?" Terdengar satu suara di seberang sana.
"Senior Black. Di mana Anda saat ini berada?"
"Tuan muda. Saya saat ini baru saja memasuki jalan ke Villa Klasik. Ada apa kah?" Tanya orang yang bernama Black itu.
"Tunda dulu perjalanan mu! Kembali ke bukit Metro dan jemput aku! Aku sudah kabur dari Villa milik kakek uyut ku." Kata pemuda itu.
"Hah? Mengapa anda kabur, Tuan muda? Ba-baiklah. Saya akan segera kembali ke bukit Metro." Kata Black.
"Cepatlah, Senior. Mereka saat ini sedang mencari ku."
"Baiklah. Nanti anda kirim lokasi anda berada melalui WhatsApp. Saya akan mengikuti petunjuknya." Kata Black lalu segera mengakhiri panggilan itu.
Setelah panggilan itu berakhir pemuda berkulit hitam itu pun segera membuka aplikasi WhatsApp lalu menekan di bagian 'bagikan lokasi saat ini'. Setelah itu dia segera menekan tombol silent di ponselnya kemudian bersembunyi di balik tembok tersebut menunggu kedatangan Black.
Sementara itu, di seberang tembok, tampak lima orang pengawal dibantu dengan beberapa orang lainnya kini seperti orang kebingungan mencari di mana keberadaan Joe yang merajuk dan pergi meninggalkan Villa tadi dengan cara yang sangat misterius.
Beberapa kali mereka memanggil nama Joe ataupun Tuan muda. Namun, tetap saja tidak ada jawaban. Hal ini membuat mereka mulai frustasi.
"Kemana menghilangnya Tuan muda ini?" Kata mereka sambil terduduk lesu.
"Entahlah. Aku juga pusing. Baru satu hari di sini. Tapi sudah membuat onar saja. Akhirnya, kita juga yang susah." Keluh salah seorang pula diantara mereka.
"Bagaimana? Apakah kalian menemukan keberadaan Tuan muda kalian?" Tanya Tuan besar William.
"Tidak Tuan besar. Tuan muda seperti di telan bumi saja." Jawab mereka.
"Kurang ajar betul anak ini. Aku harus memberitahu kepada Jerry bahwa putranya membangkang lalu kabur dari Villa." Kata Tuan William kembali memasuki Villa.
Di waktu yang sama dengan masuknya Tuan William ke dalam Villa, satu unit mobil Volkswagen hitam berhenti di samping tembok.
Setelah beberapa saat menunggu, tampak seorang pemuda berkulit hitam muncul dari dalam parit saluran air kemudian bergegas naik.
Seorang lelaki berkulit hitam, namun tak se-hitam pemuda tadi keluar lalu membukakan pintu untuk pemuda itu.
"Silahkan Tuan muda." Kata lelaki itu mempersilahkan.
"Terimakasih Senior. Huh... Untung aku bisa mencari gara-gara agar aku memiliki alasan untuk kabur."
"Ayo kita lekas berangkat. Masalah di Garden Hill harus segera kita selesaikan." Kata pemuda itu.
"Baik Tuan muda." Jawab lelaki setengah baya berkulit hitam itu lalu segera memasuki mobilnya.
*********
Tiga orang lelaki setengah baya tampak sedang berdiri di salah satu bangunan yang belum selesai dikerjakan.
Ketiga lelaki itu tampak mengenakan helm proyek warna kuning serta memakai Safety Vest tampak sedang serius membahas sesuatu.
"Masih belum ada kabar dari Black tentang bala bantuan yang akan di kirim ke Garden Hill bagian Timur ini." Kata salah seorang dari mereka sambil memandang jauh ke ujung pagar sana.
"Bersabarlah Riko. Saat ini pun kita tidak tau entah hukuman apa yang diterima oleh Joe." Kata Salah seorang lagi.
"Entahlah. Kadang aku bingung dengan keluarga William ini. Menjatuhkan hukuman tidak lihat-lihat keadaan." Kata Riko lagi.
"Hahaha. Kau ini lucu. Keadaan seperti apa? Justru karena salah faham lah makanya hukuman itu jatuh."
"Kak. Sebaiknya doakan saja semoga anak itu mendapatkan jalan keluar. Aku yakin dia tidak akan menyerah. Anak itu lebih licik dari siapapun. Tunggu saja. Sebentar lagi kita akan mendapat kabar."
Benar saja. Baru saja mereka membahas tentang Joe William yang mempunyai banyak akal, salah satu telepon seluler milik mereka pun berdering.
"Nah. Apa ku bilang. Dia sudah menelepon."
"Hallo Tuan muda."
"Paman Ryan. Aku benci dengan sebutan celaka itu. Mulai sekarang nama ku Joe Iprit." Sergah suara dari seberang sana.
"Hahaha. Tidak baik seperti itu Joe. Sandingkan nama kita dengan nama yang baik. Seperti Jibril, Malik, atau Izro'il. Bukan Iprit. Iprit ini kan keturunan Iblis. Tidak baik." Kata Ryan pula.
"Baiklah. Oh ya paman. Di sini aku memberitahu kepada kalian bahwa aku sudah mengirimkan orang-orang Dragon Empire bagian Metro City ke Garden Hill. Sisanya kalian biasa atur."
"Paman Daniel juga berada di antara mereka. Puluhan Wartawan dari berbagai Media juga telah ikut dalam rombongan ini. Ingatlah untuk tidak melibatkan orang-orang kampung. Mereka hanya boleh berada di kawasan setelah semuanya beres."
"Baiklah Joe. Lalu, kau mau kemana setelah ini?" Tanya Ryan.
"Aku harus menjalani lagi hukuman ku. Tapi bukan di Villa William. Melainkan di Villa milik kakek Smith. Nanti malam usahakan jangan telepon aku. Karena mereka akan mengadakan pesta dan akan banyak tamu. Aku khawatir jika salah satu dari Paman menelepon ku, sandiwara kita akan terbongkar."
"Bukankah kau sudah kabur dari Villa William. Mengapa tidak langsung kembali saja ke Starhill?" Tanya Ryan.
"Tidak bisa. Kakek Uyut ku mengadu kepada Ayah yang tidak-tidak. Makanya Ayah langsung menelepon ku dan memarahi aku. Keputusannya bulat. Bahwa aku tidak boleh kembali ke Starhill sebelum mendapat izin dari salah seorang kakek Uyut ku ini. Huh. Sial sekali nasib ku."
Terdengar keluhan bernama frustasi di seberang sana.
"Sabar lah Joe. Kau memiliki banyak akal. Kau pasti bisa mengatasinya."
"Baiklah Paman. Aku tidak punya banyak waktu. Saat ini aku di Villa Klasik milik kakek Drako ku. Sebentar lagi kakek uyut Smith akan menjemput. Ingatlah untuk membersihkan mereka yang ada di sana. Beri tanda anak buah paman agar tidak salah orang. Kuburkan secara massal seperti yang paman lakukan kemarin itu!" Kata Joe berpesan.
"Kau jangan khawatir Joe. Kak Arslan dan Riko adalah ahlinya dalam hal ini. Baiklah. Kami akan mengatur segala sesuatunya. Kau jalani saja masa hukuman mu dengan tenang." Kata Ryan.
Bagaimana mau tenang? Mana ada orang yang di hukum akan menerima dengan tenang. Setidaknya itu juga yang dirasakan oleh Joe saat ini. Karena hukuman ini, segala rencananya berantakan.
Walaupun tidak bisa dikatakan gagal, tapi karena hukuman ini berdampak dan cukup menghambat segala rencana yang telah mereka susun.