Joe William

Joe William
Sekali lagi Dhani dihajar oleh Joe



Setelah selesai menikmati makan malam yang romantis bersama dengan Tiara, akhirnya Joe dan Tiara dijemput oleh Ucok dan Jabat.


Kini Manager Restoran tersebut baru tau siapa Joe adanya. Ini karena, sekelas Ucok dan Jabat saja terlihat sangat menghormati pemuda itu.


Sebelum benar-benar memasuki mobil, Joe sempat memberi isyarat kepada sang manager dengan melintangkan jari telunjuknya di bibir dan membuat gestur agar sang manager menjahit bibirnya. Ini adalah petanda bahwa Joe tidak ingin sang Manager berkoar-koar bahwa dia pernah bertemu dengan Joe.


Menyadari ulah dari Joe ini, Ucok segera menghampiri sang Manager, lalu menepuk pundaknya sembari berkata, "jaga bicaramu Ndo! Jangan sampai kau terlepas kata. Anggap saja kau tidak pernah bertemu dengan Tuan muda William!"


"Aku mengerti, Bang!" Ujar sang Manager setengah membungkuk.


Sang Manager baru masuk kembali ke dalam restoran setelah Ucok dan Jabat pergi meninggalkan area parkir di restoran tersebut membawa Joe dan Tiara.


"Ketua. Saya mendengar dari Namora bahwa anda akan melakukan Touring dengan anak-anak geng sepeda motor. Apakah anda akan membawa Vespa butut anda itu?" Tanya Jabat setengah tertawa.


"Hahaha. Untung paman ingatkan. Jika tidak, maka aku akan sangat kalang-kabut mempersiapkan segala sesuatunya. Aku bahkan belum memikirkan sepeda motor apa yang akan aku gunakan," jawab Joe.


"Itu masalah kecil, Ketua! Pak Lalah yang sudah mengetahui semuanya telah menyiapkan satu sepeda motor BMW 1000RR untuk anda. Kalau berbicara tentang automotif, Pak Lalah adalah Rajanya di empat kota ini. Lamhot telah mempersiapkan semuanya. Mungkin, tadi sore sepeda motor itu telah tiba di bukit batu," kata Jabat lagi membuat Joe terheran-heran.


"Sebegitu cepat kah kabar itu berhembus sampai ke Dolok ginjang?" Tanya Joe heran.


"Apa yang anda heran 'kan, Ketua? Kami di sini selalu memperhatikan tindak-tanduk anda. Bahkan, ketika seekor nyamuk hinggap di kulit anda pun, kami akan mengetahuinya!"


Terbelalak mata Joe mendengar kata-kata dari Ucok tadi. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa dirinya selalu dibuntuti oleh orang-orang bawahan dari Tigor.


"Kalian terlalu berlebih-lebihan, Paman!" Keluh Joe yang merasa tidak nyaman.


"Ini adalah perintah dari Tuan besar Jerry William! Kami lebih mematuhi Tuan besar daripada mematuhi anda," kata Jabat tertawa membuat Joe merasakan kepalanya mendadak gatal.


"Anda harus hati-hati, Ketua! Anda sedang menjalani penyamaran agar identitas anda tidak diketahui. Oleh karena itu, kami hanya bisa memantau dari kejauhan. Tidak ingin terlalu menonjol. Hanya saja, anda harus tau bahwa anak si Panjol sedang merencanakan sesuatu untuk merusak touring anda dan teman-teman geng motor lainnya. Itu adalah masalah anak-anak muda. Kami tidak akan ikut campur. Hanya saja, kami perlu memberitahu kepada anda agar anda selalu waspada, dan bisa mengantisipasinya!" Kata Ucok.


"Baiklah, Paman! Sebelum mereka melakukan hal-hal yang merugikan, malam ini juga aku akan menyerang mereka berdua dengan Namora. Pokoknya, kaki anak Panjol itu harus lumpuh sekali lagi!" Kata Joe sambil tersenyum jahat.


"Boleh kami menonton pertunjukan itu?" Tanya Jabat sangat tertarik.


"Hahaha. Boleh. Atau, antarkan aku pusat hiburan yang dikelola oleh Panjol itu! Di sana markas mereka," kata Joe.


"Baiklah. Sepertinya kami akan mendapatkan tontonan gratis!" Kata Ucok sambil tersenyum riang.


"Kau jangan tunggu saja di sini ya sayang! Tidak lama. Setelah kakinya patah, aku akan segera kembali!" Ujar Joe kepada Tiara.


**********


Jam ketika ini menunjukkan hampir pukul 12 tengah malam, ketika mobil BMW yang dikendarai oleh Ucok, Jabat, Joe dan Tiara berhenti tepat di depan sebuah club' malam pinggiran kota batu tersebut.


Dari dalam mobil BMW hitam itu, keluar seorang pemuda mengenakan Jaket Hoodie, mengenakan masker berlambang kucing. Sosok serba hitam itu tampak tenang menutup kembali pintu mobil yang terparkir di area sepi dan kembali bergerak ketika sosok hitam itu berjalan kearah club' malam tersebut.


Di salah satu ruangan, tampak sekitar sepuluh orang pemuda termasuk Dhani yang baru saja sembuh dari cedera yang diakibatkan oleh ulah Joe. Tampak juga di sana ada Marcus yang tidak banyak bicara.


Saat ini, Marcus hanya menjadi pendengar yang budiman bagi setiap rencana jahat yang di susun oleh Dhani. Dia bermaksud, setelah pertemuan ini bubar, barulah dia akan melaporkan semuanya kepada Joe.


Hanya saja, sebelum hal itu terlaksana, tiba-tiba dari arah samping tampak pintu ruangan itu melayang secara mendadak seperti diseruduk banteng.


Brak!


"Heh. Apa itu?" Seru mereka kaget.


Di ambang pintu, tampak tiga orang lelaki sudah sekarat tergeletak di lantai sambil memegangi kantong kemenyan masing-masing. Hanya ada satu orang yang berdiri. Dia adalah Joe yang saat ini berpenampilan serba hitam.


"Rencana apa lagi yang akan kau susun untuk mengganggu anak-anak J7?" Dingin suara itu membuat Dhani setengah mati menahan kaget.


"Bangsat ini! Apakah dia punya Indra ke sembilan? Mengapa kau selalu seperti hantu, hah?" Keras suara Dhani antara kaget bercampur jengkel.


"Bangsat kau anak tak tau di untung. Sekarang, apapun yang terjadi, maka terjadilah!" Kata Dhani yang langsung melemparkan botol bir ke arah Joe.


"Uts..!" Joe menghindari lemparan itu dengan sedikit berkelit. Tapi, sambil berkelit, dia masih sempat menjentikkan bola besi yang tepat menghantam pelipis kiri Dhani.


Wuzzz!


"Adddaaaaw..!" Teriak pemuda yang berdiri pun masih sedikit pincang itu.


Melihat ketua mereka dicederai oleh Joe, delapan orang lainnya segera menyerang Joe secara bersamaan. Hanya Marcus yang tampak serba salah.


Barulah dia ikut-ikutan menyerang ketika Joe memberikan isyarat kepadanya. Maka, perkelahian yang tidak seimbang itupun terjadi antara Joe melawan musuh yang berjumlah delapan setengah orang itu. Ini karena, Marcus tidak bersungguh-sungguh. Jadi, dia dihitung setengah saja!


Plak!


"Aduh Mak!"


Bugh!


"Wadaaaaw!"


Bugh!


"Ngek!"


Tiga orang sudah tergeletak sambil memegangi barang antik miliknya masing-masing.


"Hayo kau!" Kata Joe sambil mengacah-acah enam orang lagi yang terlihat ragu untuk melanjutkan serangan.


"Sini kuping mu ini!" Kata Joe sambil menjewer telinga milik Dhani.


"Lain kali, jangan nakal sama kakek mu iniiii....!" Kata Joe dengan geram sambil memelintir telinga Dhani.


"Adaw. Ampun...! Heh ampun bangsat!" Teriak Dhani meringis kesakitan.


"Apa katamu tadi? Bangsat?" Tanya Joe sambil mempererat jewerannya.


"Iya. Iya iya iya! Cucu mengaku salah! Ampun kek!" Tidak ada pilihan bagi Dhani. Daripada telinga miliknya jadi memble, lebih baik dia menurut saja.


"Aku tidak mau tau. Kalau ada nanti gangguan yang kami dapatkan saat melakukan touring nanti, berarti itu ulah dari mu. Kau siap-siap saja menerima hukuman dari kakek mu ini!" Ancam Joe.


"Edan! Enak saja congor mu itu. Bagaimana jika itu bukan ulah dari orang-orang ku?" Bentak Dhani berang.


"Aku tidak mau tau. Karena, yang aku tau, kau yang terlalu bersemangat ingin mencelakai kami. Pokoknya aku akan menuduh mu jika terjadi gangguan dalam kelompok kami," ujar Joe ingin menang sendiri.


"Sialan! Iya. Aku akan menjamin bahwa kalian akan aman-aman saja!" Dhani mengalah karena tidak ingin lebih tersiksa lagi oleh Joe.


"Bagus! Obati luka di pelipis mu itu! Kakek pergi dulu!" Kata Joe lalu melangkah dengan santai meninggalkan ruangan itu.


Sampai di luar, dia segera menyelinap menuju gang yang sedikit gelap dimana Ucok dan Jabat serta Tiara menunggunya.


"Bagaimana, Ketua?" Tanya Jabat.


"Alah. Masalah tahi burung!" Jawab Joe.


"Hahaha..!" Suara tawa mereka pecah juga diiringi deru suara mesin kendaran meninggalkan kawasan tersebut.


Bersambung...