Joe William

Joe William
Berbalas pantun



"kakek Jeff, masuk!"


"Kakek Jeff. Jika kakek membaca pesan ini, segera hubungi aku!"


Terlihat anak muda sedang duduk di kursi co-driver sambil menahan ngantuk. Di sebelahnya, tampak lelaki setengah baya sedang fokus mengemudikan mobil Daihatsu seperti mobil pengantar jenazah itu.


Terlihat ringkih dan oleng mobil itu ketika melewati jalan lintas tanjung karang menuju Kuala Nipah. Namun jangan ditanya kecepatan kendaraan ini.


Akan tetapi, biar seberapa cepat pun kendaraan yang dikendarai oleh Tigor dan Joe ini, namun tetap saja ban di belakang tetap saja tidak mampu melomba ban yang di depan.


"Paman. Kira-kira pukul berapa lah kita sampai di Kuala Nipah?" Tanya Joe sambil menggeliat meregangkan otot-otot nya.


"Jika tidak ada halangan, mungkin pukul delapan pagi kita sudah sampai. Mengapa ketua?" Tanya Tigor pula.


"Kira-kira, kakek Tengku Mahmud marah apa tidak ya kalau kita mengunjunginya? Kan aku sudah dilarang untuk kembali." Tanya Joe sedikit ragu-ragu.


"Entahlah ketua. Kalau dia nanti marah, siap-siap saja menerima hukuman." Jawab Tigor yang memang sejak tadi juga khawatir diberi stempel cap kerang oleh Tengku Mahmud.


"Kalau nanti kena semprot sama kakek guru, paman diam saja! Biarkan Joe yang akan menghadapinya." Kata Joe penuh percaya diri. Padahal perutnya merasa mulas begitu membayangkan ketika nanti Tengku Mahmud mengamuk.


Orang tua itu memang sangat aneh dan terkesan angin-anginan. Namun walaupun begitu, orang-orang yang tinggal di Kuala Nipah sangat menghormati lelaki tua itu.


Ketika mereka terdiam dengan fikiran masing-masing, tiba-tiba saja telepon seluler milik Joe berdering.


"Kakek Jeff." Gumam Joe lalu segera menjawab panggilan itu.


"Kek." Kata Joe begitu menjawab panggilan.


"Tuan muda. Ada apa Anda menyuruh saya menelepon Anda?" Tanya kakek Jeff di seberang sana.


"Kek. Aku mau pulang ke Starhill dalam waktu sesingkat-singkatnya. Aku ingin kakek menyiapkan speed boat untuk ku. Aku tidak bisa lewat depan. Ini karena aku membawa senjata tajam." Kata Joe.


"Tuan muda!. Jika anda kembali ke Starhill tanpa melalui proses dari petugas imigrasi, aku khawatir Visa anda akan dalam masalah. Lagi pula mengapa begitu terburu-buru?" Tanya Kakek Jeff.


"Begini kakek Jeff." Kata Joe sambil menceritakan semua isi percakapan antara Joe dan Lilian beberapa waktu tadi secara detil tanpa di kurang ataupun ditambahkan.


"Kurang ajar. Berani sekali mereka!" Kata Jeff dengan nada marah.


"Kakek. Harap jangan mengambil tindakan apa-apa! Aku memiliki rencana ku sendiri. Ketika semuanya sudah dipersiapkan, aku akan membuat mereka membayar mahal. Dengan tangan ku sendiri." Kata Joe.


"Tuan muda. Dengarkan saran dari kakek mu ini! Aku akan datang ke Kuala Nipah. Aku akan tiba dalam waktu 24 jam dari sekarang. Namun bukan untuk membawa anda kembali dengan cara gelap seperti maling. Anda harus tetap berangkat melalui jalan resmi. Aku akan datang hanya untuk mengambil barang-barang milik anda saja. Lalu kita bertemu di Starhill." Kata Jeff.


"Tidak. Jangan kembali ke Starhill. Juga rahasiakan kepulangan ku. Ingat kek. Hanya kakek saja yang tau bahwa aku akan kembali. Sebaiknya, jika kakek tiba lebih dulu, tunggu aku di Mountain Slope. Aku ingin mengunjungi sahabat ku." Kata Joe.


"Begitu juga boleh." Jawab Jeff.


"Satu hal lagi kek. Aku ingin menangkap anggota gadungan yang menggunakan nama organisasi Dragon Empire ini. Kirim orang-orang kita ke Garden Hill. Hanya ada satu saja cara. Yaitu, cukup perhatikan saja siapa-siapa yang datang bersama dengan Charles, Milner dan Mario ke rumah paman Riot. Kumpulkan bukti sebanyak-banyaknya. Aku gatal ingin menyiksa orang ini." Kata Joe.


"Baiklah Tuan muda. Aku tau apa yang harus aku lakukan. Aku akan mengatur semuanya sebelum berangkat. Satu jam dari sekarang aku akan berangkat ke Country home lalu segera meluncur ke Kuala Nipah." Kata Jeff.


"Baiklah kek. Kalau begitu, anda silahkan lakukan. Aku akhiri dulu panggilan ini." Kata Joe lalu segera mengakhiri panggilan.


...*********...


...KUALA NIPAH...


"Kupu-kupu terbang melayang,


Hinggap di cabang si pohon Buloh.


Ku rindu-rindu orang yang ku sayang.


Apakah akan semakin jauh."


*


"Pucuk di cinta ulam pun tiba


Sambal kelapa perencah udang.


Umur tak siapa bisa menerka,


Andai tak jumpa, usahlah di kenang."


*


"Raja mangkat di atas katil,


Pangeran bertahta menebar jasa.


Jika pemimpin tak bisa adil,


Alamat negri akan binasa."


Tampak seorang lelaki tua duduk merenung di teras rumah sambil menimbang-nimbang beberapa kulit kerang di atas telapak tangannya.


Sejak tadi pandangan matanya tidak lepas dari menatapi debur ombak di pinggir pantai sambil melantunkan pantun yang tak tau arah juntrungannya itu.


Dari sudut ekor matanya, dia melihat dua orang lelaki beda usia sedang berjalan beriringan dengan lelaki yang lebih tua menyandang sebuah tas ransel, dan lelaki yang masih muda tampak memeluk sebuah peti kayu berukir di dalam pelukannya.


Belum lagi kedua lelaki tadi tiba di halaman rumah panggung berdinding anyaman bambu dengan lantai terbuat dari belahan papan Nibung itu, tiba-tiba saja dua butir kulit kerang meluncur ke arah mereka membuat kedua orang yang baru sampai tadi menjadi kelabakan menghindari lemparan kulit kerang itu.


"Awas Paman!" Kata pemuda tadi memperingatkan lalu membanting diri tiarap di tanah berpasir itu.


"Dasar anak jin iprit. Aku sudah melarang mu kembali. Mengapa kau datang lagi heh?" Bentak lelaki tua itu sambil mencak-mencak.


"Sana gunung di sini gunung.


Di tengah-tengah ya gunung juga.


Kakek bingung cucu pun bingung.


Ya sudah lah. Sama-sama bingung aja kita."


Terdengar balasan pantun dari pemuda itu sambil menirukan jurus-jurus dari sang kakek yang sedang mencak-mencak itu.


Wuzz!


"Hiaaat!"


Tampak pemuda itu menghindar dari lemparan kulit kerang tadi.


"Dasar anak jin iprit. Sana gunung di sini gunung lalu di tengah-tengah ada gunung juga. Apa kau kira dunia ini hanya sebatas gunung saja hah? Kesini kau! Pantun mu itu sama sekali bukan pantun yang bagus." Bentak lelaki tua tadi.


"Kek. Aku masih ada satu pantun lagi yang belum aku keluarkan. Coba kakek nilai ya!" Kata pemuda itu sambil mengatur jarak dari lelaki tua tadi sambil diperhatikan oleh lelaki setengah baya yang sejak tadi menahan tawa.


"Jalan-jalan ke kota Kemuning.


Singgah sebentar membeli buah duku, cempedak, salak, durian, rambutan, mangga..,"


"Dasar anak goblok. Jin iprit! Pantun macam apa itu. Kemari kataku!" Bentak lelaki tua itu memotong pantun yang sama sekali tidak tau ujung dan pangkalnya itu.


"Hehehe. Iya kek. Ini aku datang." Kata Joe sambil mendekat lalu mengulurkan kepalanya sedikit miring.


"Mengapa kau seperti orang teleng begitu hah?" Tanya Kakek itu.


"Loh. Apakah kakek tidak ingin menjewer kuping ku?"


"Oh. Jadi kau mau di jewer. Sini!" Bentak lelaki tua itu.


"Menyesal aku begini tadi." Kata pemuda itu menyesali tindakannya menyerahkan kupingnya.


"Mengapa kau datang lagi ke sini hah anak jin ipriiiiit?" Kata lelaki tau itu sambil menjewer telinga anak itu.


"Aku mau pulang kampung kek. Makanya singgah dulu ke sini untuk berpamitan."


"Joe. Kapan kau akan pulang?" Tanya nya lagi.


"Besok kek. Aku akan pulang besok. Karena ada masalah di dalam perusahaan." Kata Joe juga menceritakan semua kejadian yang menimpa diri sahabatnya bernama Lilian itu.


"Apakah ada yang memperhatikan kedatangan kalian ke sini?"


"Tidak kek. Kami ke sini dengan mobil pengangkut jenazah." Jawab Joe apa adanya.


"Hmmm... Ketahuilah Joe. Bukan kakek melarang mu datang kemari. Namun, kau harus tau bahwa saat ini keadaan tidak memungkinkan. Kau itu sekarang jadi incaran banyak orang. Tapi untung kau datang ke sini. Kakek akan mengubah penampilan mu." Kata Lelaki tua itu.


"Terserah kakek saja lah. Kalau bisa seperti penampilan artis ya kek. Minimal artis Hindustan lah." Kata Joe sambil tertawa.


"Diam kau. Itu urusan ku. Sekarang pergi kau ambil air lalu masukkan ke dalam periuk besar yang ada di belakang rumah sana! Cari kayu bakar lalu rebus air hingga mendidih." Perintah sang kakek.


"Apa boleh aku meluruskan kaki ku sebentar kek? Aku ini penat." Kata Joe mengeluh.


"Apa kau ingin kening mu itu memiliki cap gambar kulit kerang?" Tanya sang kakek.


"Iya iya iya. Aduh. Baru saja sampai. Sudah di suruh angkat air." Kata Joe merengut.


"Anak jin. Ku sumbat mulut mu dengan kulit kerang ini!" Bentak si kakek.


"Ampun kek ampun. Iya aku pergi sekarang." Kata Joe sambil lari ke belakang rumah untuk mengambil ember sepuluh liter lalu segera ke tangki air untuk mengambil air bersih karena setiap sumur di kampung Kuala Nipah ini air nya memang jernih. Tapi mengandung zat garam yang sangat tinggi.


"Kau Tigor. Sini naik. Apakah kau juga akan ikut mengantar anak itu sampai di negara nya?" Tanya si kakek.


"Tidak kek. Aku kan banyak urusan di sini. Apa lagi sebentar lagi Marven akan bebas. Makin banyak lah kerjaan ku." Jawab Tigor.


"Hmmm. Setelah Joe berangkat kembali ke negaranya, kau harus sudah mulai belajar di sini. Perang besar akan tercipta di Kuala Nipah ini. Ingat itu!" Kata sang kakek memprediksi bahwa akan ada badai besar di Kuala Nipah ini.


"Maksud kakek Tengku?"


"Itu hanya prediksi ku saja. Di mana pun tempat nya, ada baiknya kau mempersiapkan diri. Perut mu sudah semakin buncit. Pergerakan mu sudah sangat lambat. Jika kau tidak segera berlatih, kau tidak akan bisa membantu anak jin iprit itu menghadapi musuh nya."


"Aku mengerti kek. Aku janji akan giat berlatih." Kata Tigor.


"Hmmm... Bagus!"


BERSAMBUNG...