Joe William

Joe William
Marven tiba di kompleks elite



Beberapa jam setelah menempuh perjalanan dari kota batu ke Tasik Putri, akhirnya rombongan yang dipimpin oleh Irfan untuk menjemput Marven pun tiba juga di komplek elit Tasik Putri.


Begitu Marven keluar dari dalam mobil, seorang wanita tua dengan rambut yang telah memutih semuanya dengan langkah gemetaran langsung menyongsong Marven yang juga berjalan menuju ke pintu rumah besar layaknya istana tersebut.


Sambil menangis, Marven langsung berlutut dihadapan wanita tua tadi dan langsung menciumi kaki wanita tersebut.


"Aku kembali, Bu!"


"Anak ku Marven! Kau tentu sangat menderita!" Kata wanita tua itu.


Marven memang anak tunggal dari perselingkuhan dirinya dengan Beni yang tidak diketahui oleh Martin.


Sebagai anak tunggal, tentu Marven sangat dimanja oleh Martin dan Venia. Bahkan, di gadang-gadang sebagai penerus dari Martin. (Untuk selengkapnya, silahkan baca novel berjudul Black Cat)


"Aku tidak apa-apa Bu. Penderitaan yang aku alami akan menjadi pemantik semangatku untuk membalas dendam. Aku tidak akan membiarkan mereka hidup tenang! Justru yang aku khawatirkan adalah keadaan Ibu dan Butet. Bagaimana keadaan kalian semenjak aku berada di dalam tahanan?" Tanya Marven sambil terus berlutut.


"Mari masuk dulu!" Ajak wanita tua itu sambil menarik pundak anaknya agar berdiri.


Mereka lalu memasuki rumah besar namun kosong tersebut.


Berada di dalam, Marven mulai menelusuri ruangan di rumah besar itu dengan matanya.


Rumah ini tidak jauh berubah dari dua puluh tahun yang lalu. Bedanya adalah, jika dulu banyak perabotan yang serba Lux, kini semuanya tampak kosong melompong.


Wanita tua yang tau maksud dari tatapan Marven segera berkata sambil mengusap pundak anaknya itu. "Semuanya sudah habis terjual untuk membiayai perobatan ibu dan juga istri mu. Baru kurang dalam setahun ini keluarga kita kembali bangkit. Beruntung kami masih memiliki Irfan. Jika tidak, mungkin kami sudah menjadi penghuni kaki lima,"


"Semua ini karena Tigor. Jika bukan karena dia, geng kucing hitam tidak akan terpecah. Ini semua adalah kesalahan Martin. Dia memungut anjing jalanan untuk duduk di kursi empuk dalam organisasi. Dia bahkan mengangkat Tigor menjadi anak angkat dan bersaing dengan ku. Andai Tigor tidak masuk ke dalam organisasi kucing hitam, sudah pasti kehancuran keluarga dan organisasi ini tidak akan terjadi. Gara-gara dia, semuanya hancur. Bahkan Monang yang menjadi kacung ku pun berani membelot."


"Tigor sekarang hidup enak di kota Kemuning. Martins Hotel, Yayasan Martins, bahkan seluruh aset dan properti milik Martin yang berada di kota Kemuning dikelola dan menjadi miliknya. Ini semua karena Pak Burhan. Dia yang memegang surat wasiat sebelum kau membunuh Martin. Kini, dia berada di kota Kemuning. Kau harus menemui Burhan itu untuk menuntut hak kepemilikan beberapa aset milik Martin di Gang Kumuh!" Kata wanita tua itu.


"Baiklah Bu. Saat ini aku telah bebas. Aku tidak boleh terlalu berkeliaran. Ini karena, aparat kepolisian masih melakukan penyelidikan terhadap tindak-tanduk ku. Terlebih lagi AKBP Rio Habonaran. Dia adalah adik kandung Tigor. Tapi aku akan mencari cara untuk memaksa Burhan agar menyerahkan surat-surat kepemilikan perusahaan milik mendiang Martin yang berada di Gang Kumuh. Sedangkan yang berada di kota Tasik Putri ini, surat-surat kepemilikan memang berada di tangan ku dan tersimpan di tempat rahasia. Beruntung aku seperti memiliki firasat bahwa sesuatu akan terjadi. Jadi, aku segera menyimpannya di tempat rahasia," kata Marven yang langsung berjalan ke arah bingkai foto yang terpajang di ruangan itu.


Tiba di depan bingkai foto milik mendiang Martin dengan ibunya, dia lalu melepaskan bingkai tersebut dan menekan satu tombol sehingga dinding ruangan yang sama rata itu bergeser membentuk satu lubang kecil. Dari lubang kecil itu, Marven masukkan tangannya dan kini di tangannya telah tergenggam sebuah kunci.


"Dengan kunci ini, kita akan mengoperasikan kembali restoran Samporna, pusat hiburan Dunia Gemerlap malam, Martins Hotel kota Tasik Putri, serta beberapa perusahaan lainnya secara penuh tanpa lari dari pajak."


"Irfan! Segera kumpulkan orang-orang kita yang tersisa. Katakan kepada mereka bahwa Marven sudah bebas! Kini saatnya bagi kita untuk menghidupkan kembali organisasi geng kucing hitam yang telah lama mati suri!"


"Baik bang! Aku akan mengirimkan undangan kepada mereka. Besok sore kita akan melakukan pertemuan di restoran Samporna. Abang beristirahat lah dahulu. Bersihkan dirimu yang tampak sangat dekil itu!" Jawab Irfan lalu segera pergi meninggalkan ruangan tersebut.


"Bu. Aku izin untuk membersihkan diri!" Pinta Marven dengan sangat hormat.


"Pergilah, Nak!"


"Oh ya Bu. Di mana Butet? Aku tidak melihatnya?!"


"Istri mu sering sakit-sakitan. Saat ini dia sedang terbaring di kamarnya!"


"Aku harus menemuinya. Kasihan dia jadi ikut menderita,"


"Temui lah istri mu. Ibu akan memasak makanan kesukaan mu bersama dengan Debora," kata wanita tua itu. Setelah berkata demikian, dia segera melangkah meninggalkan ruangan itu menuju ke bagian dapur.


Menatap di cermin, dia sempat terkejut melihat pantulan wajahnya pada cermin tersebut.


Sedikitpun tidak ada sisa ketampanan masa mudanya dulu. Padahal, dulu dia adalah antara pemuda yang tampan. Tidak jauh kalah dengan Tigor, Ronggur maupun Roger. Tapi kini, dengan kumis, cambang dan jenggot yang tak terurus bahkan sudah banyak yang memutih, seolah-olah ketampanannya hilang tak berbekas.


Geram dengan apa yang dia lihat di cermin kaca tadi, dia segera meninju kaca tersebut hingga retak dan pecah dengan noda darah berada di sana.


Puas dengan kelakuannya itu, dia segera membalut tangannya dan keluar dari kamar mandi untuk menemui istrinya.


Setelah mendorong pintu kamar, kini dia melihat sesosok tubuh sedang terbaring di atas ranjang.


Tampak garis-garis penderitaan terpampang pada raut wajahnya.


Dengan tangan bergetar, Marven membelai rambut wanita paruh baya yang juga wajahnya lebih tua dari usia sebenarnya.


"Sayang. Aku kembali!" Pelan bisik Marven ke telinga wanita yang sedang berbaring itu.


Wanita yang terbaring yang tidak lain adalah Butet perlahan membuka matanya.


Lama wanita itu menatap dengan nanar ketika dia mencoba menebak siapa sebenarnya lelaki yang wajahnya banyak ditumbuhi bulu tersebut.


"Kau kah itu, Marven?" Terdengar suara lirih yang keluar dari mulut wanita itu.


"Iya. Ini aku. Aku, Marven!"


"Marven?!" Mendadak suara tangis wanita itu pecah begitu dia tau siapa yang sedang berdiri sedikit membungkuk sambil membelai rambutnya tadi.


Seketika itu juga mereka langsung berpelukan dan saling menumpahkan kerinduan.


"Anak kita. Aku tidak bisa menjaganya. Dia terlahir sebelum waktunya. Aku keguguran!" Ratap Butet dengan Isak tangis semakin keras.


"Bukan salah mu. Aku tidak menyalahkan dirimu atas kematian anak kita. Semua ini karena ulah Tigor! Dia akan membayar semuanya!" Pujuk Marven yang masih terus memeluk wanita itu.


"Aku ingin bangkit. Aku ingin duduk. Bantu aku!" Pinta Butet.


Marven dengan lembut membantu wanita itu untuk duduk di samping tempat tidurnya.


"Sayang. Kau harus cepat sembuh. Ada banyak hal yang harus kita lakukan. Termasuk membangun kembali perusahaan kita. Apa kau tidak ingin membangkitkan kembali geng Tengkorak dan Kucing hitam? Sudah waktunya untuk membalas dendam kepada mereka yang berhutang kepada kita!"


Mendengar bisikan dari sang Suami, semangat wanita itu seperti bangkit kembali. Dari duduk, dia kini langsung berdiri.


"Aku hanya ingin kematian Rio. Didepan mataku sendiri dia tega menembak paman ku, Birong. Aku juga ingin nyawa Tigor. Karena, dialah yang membunuh Ayah ku di perbatasan kota Kemuning dan kota Batu!"


"Makanya kau harus segera sembuh. Kita akan menyusun kembali kekuatan kita,"


"Ya. Aku pasti akan sembuh!" Balas Butet dengan sorot mata cekung penuh dengan api dendam.


Bersambung...