
Kesepakatan telah di ambil dan kini masing-masing diantara mereka mulai keluar dari ruangan rapat tersebut.
Kini Jerry berinisiatif mendorong kursi roda untuk Tuan Smith. Sedangkan Kenny mendorong kursi roda untuk Tuan William.
Sama dengan mereka berdua, Samson dan Ivan juga mendorong kepala keluarga masing-masing.
"Ayo kita ke restoran teratai! Aku sudah rindu untuk menikmati makan malam dengan kalian. Sekalian kita mengenang masa-masa waktu kita kuliah dulu." Ajak Jerry.
"Benar Jerry. Aku juga rindu masa-masa itu. Kebetulan Kevin dan David sudah tiba di Hillstreet. Mereka akan bergabung dengan kita nanti bersama Adele dan Lira." Kata Ivan.
"Hmmm. Mereka memberitahu dirimu tapi tidak dengan ku." Kata Jerry merajuk.
"Hahaha. Katanya ingin memberikan kejutan." Jawab Ivan.
Sementara Kenny hanya tersenyum saja mendengar perbincangan dua sahabat yang sudah lama tidak bertemu itu.
"Sepupu. Mengapa kau tidak membawa serta istri dan anak mu seperti Ivan?" Tanya Jerry.
"Aku sengaja tidak membawa mereka karena putri ku sedang berada di rumah neneknya bersama istri ku. Biarlah mereka di sana.
"Bagaimana jika kita balapan mendorong kursi roda ini?" Tanya Jerry kepada Ivan.
"Ayo! Aku setuju dengan usul mu itu. Yang kalah harus mentraktir. Bagaimana?" Tanya Ivan sangat antusias.
"Ok. Siapa takut." Jawab Jerry sambil mengambil ancang-ancang untuk memulai balapan.
"Dasar setan kalian ini. Apakah kau ingin melihat kami cepat mati hah?" Bentak Tuan Patrik membuat Jerry dan Ivan kaget setengah mati.
"Cucu sialan kalian bertiga ini. Tau begini tadi lebih baik aku didorong oleh pengawal." Kata Tuan William pula.
Jelas saja orang tua itu mengamuk. Ini karena diri mereka akan jadi ajang balap kursi roda oleh ketiga cucu mereka itu. Sementara Samson hanya tertawa cekikikan saja melihat ketiga lelaki setengah baya itu dibentak habis-habisan oleh ketiga naga ompong ini.
"Ampun kek. Kami hanya berencana. Tuhan lah yang menentukan." Jawab Jerry setengah mati agar tidak tertawa.
"Berhenti sebentar!" Kata Tuan Smith memerintahkan.
Jerry dan Ivan yang tidak tau maksud dari orang tua ini hanya menurut saja. Tapi mereka mendadak terkejut ketika ketiga lelaki tua itu berbalik dan..,
Keletuk!
Terdengar bunyi kepala di jitak tiga kali berturut-turut di susul pekikan dari Jerry, Kenny dan Ivan.
Ternyata kegesitan ketiga naga ompong ini masih lumayan juga. Mereka bertiga sama-sama berbalik lalu menjitak kepala ketiga cucu mereka itu dengan ujung tongkat masing-masing.
"Sakit?" Tanya Tuan Smith.
"Iya kek. Sakit." Jawab Jerry sambil mengusap-usap kepalanya.
"Makanya jangan permainkan orang tua." Kata mereka bertiga.
Jerry, Ivan dan Kenny hanya saling pandang lalu segera mendorong kembali kursi roda itu menuju mobil Rolls-Royce yang terparkir di depan dengan beberapa pengawal berdiri di sana.
"Bawa ketiga naga tanpa gigi ini ke restoran teratai!" Kata Jerry yang kembali membuat sumpah serapah berhamburan dari bibir keempat naga ompong itu.
"Ampun kek." Kata Jerry lalu ngacir menuju ke dalam untuk menjemput Clara yang sedang ngerumpi bersama Lorna serta putri Ivan bernama Xenita.
"Ini Putri mu Van?" Tanya Jerry ketika melihat seorang anak gadis berusia empat belas tahun memiliki sepasang mata biru dan rambut tidak terlalu pirang.
"Iya. Inilah hasil lembur ku selama ini dengan Lorna. Dan rencana nya aku ingin menambah satu lagi. Kalau bisa laki-laki." Kata Ivan pula.
"Siapa nama mu anak manis?" Tanya Jerry sambil mencubit hidung mancung gadis kecil itu.
"Nama saya Xenita, Paman." Jawab sang gadis malu-malu.
"Anak ini lebih mirip dengan mu daripada Lorna." Kata Jerry.
"Dia ada di Indonesia. Berguru di sana ilmu tahan lapar." Jawab Jerry.
"Kau jangan terlalu keras terhadap calon menantu ku itu Jerry. Jika terjadi apa-apa dengannya, awas kau aku kerjakan." Ancam Ivan.
"Anak itu berbeda Van. Semua tabiat kakek nya, uyut nya dan sifat ku, semuanya ada pada anak itu. Aku khawatir Xenita akan makan hati oleh tingkah konyol nya." Kata Jerry.
"Mengapa bisa begitu ya?" Kata Ivan sambil bertindak layaknya sedang berfikir.
"Mana aku tau. Tapi lebih baik dia seperti itu. Itu sangat berguna untuk menutupi jati dirinya dan kemampuan yang dia miliki. Kau tau bahwa anak itu serba melebihi aku. Nantilah setelah dia kembali, kau akan melihat sendiri tingkahnya."
"Kak. Sebulan lagi Ulang tahun Joe. Sudah enam belas kali dia ulang tahun tanpa perayaan. Aku tidak tega juga. Mendidik pun mendidik. Tapi itu sudah keterlaluan." Kata Clara dengan wajah asam.
Jerry merenung sejenak lalu berkata. "Biarkan dia di sana. Jangan di ganggu. Saat ini dia sedang fokus berlatih ilmu pengobatan yang ditinggalkan oleh kakek Malik dengan bimbingan Tengku Mahmud. Jangan di rusak konsentrasi anak itu. Aku janji pada ulang tahunnya yang ke delapan Belas nanti, kita akan merayakannya." Kata Jerry berjanji.
Mendengar jawaban ini, Clara hanya bisa menarik nafas dan tertunduk saja. Dia tidak mau berkata-kata lagi yang akhirnya pasti Jerry juga yang menang.
"Van. Tinggalkan saja mobil mu di sini. Kita akan mengendarai mobil keluarga. Ayo cepat! Nanti empat kakek ompong itu memarahi kita." Kata Jerry.
"Ok ayolah. Asal jangan di pukul lagi dengan ujung tongkat." Kata Ivan yang masih merasakan rasa sakit akibat dipukul oleh Tuan Patrik dengan ujung tongkat nya.
Mereka berdua baru saja keluar, Tiba-tiba dari depan kini terlihat dua unit mobil BMW dan Mercedez Benz melaju dengan perlahan kemudian berhenti di depan mereka.
"Sana gunung di sini gunung. Di tengah-tengah..., Em...,"
"Hentikan pantun sialan mu yang tanpa akhir yang membahagiakan itu."
Terdengar satu suara teguran dari mobil BMW yang baru saja berhenti tadi.
"Kau David. Aihs.... Aku sedang berfikir lanjutan dari pantun ku tadi. Kau merusak semuanya!" Bentak lelaki berwajah imut yang baru saja keluar dari mobil Mercedez Benz miliknya.
"Hahaha. Kalian ini selalu saja berkelahi jika sudah bersama." Kata Ivan sambil menepuk pundak lelaki bernama David itu.
"Bagaimana kabar mu Kevin?" Tanya Jerry kepada lelaki yang sebaya dengannya yang berpantun tadi.
"Kabar ku baik Tuan besar. Bagaimana dengan anda?" Tanya Kevin.
"Kabar ku ya seperti yang kau lihat ini lah. Mana Lira istri mu?"
"Ada Tuan besar. Dia ada di dalam mobil. Katanya dia tidak mau keluar karena mabuk perjalanan. Dia sedang hamil anak ke empat kami." Jawab Kevin membuat Jerry tercengang. Sementara Ivan hanya tertawa saja.
"Anak ke empat? Berarti?"
"Benar ketua. Kevin ini hanya orang nya saja yang kecil. Tapi anaknya susun paku." Kata David membuat mereka kembali tertawa.
"Kau ini David. Ah sudahlah. Mengaku saja bahwa kau memang tidak memiliki kemampuan menjinakkan kuda binal." Kata Kevin dengan kesal.
"Hahaha. Sudahlah. Oh ya. Bagaimana dengan perjalanan kalian kemari?" Tanya Jerry.
"Lumayan lancar Tuan."
"Oh ya. Apakah akan ada acara malam ini?" Tanya Kevin.
"Menurut mu. Acara apa yang bagus?" Kata Jerry kembali bertanya.
"Bagaimana jika kita mengadakan reuni mendadak. Aku sudah lama tidak bertemu dengan Ryan, Riko, Daniel, Herman, kak Arslan, Herey dan Black."
"Baiklah. Ayo kita berbagi tugas. Kau hubungi Herman dan Rindy, sedangkan David menghubungi Herey dan Joanna. Kalau Ryan, Riko dan Daniel, tidak perlu. Mereka selalu ada bersama ku." Kata Jerry membagi-bagi tugas.
"Siap Tuan besar!" Kata Kevin bersemangat.
Setelah dia selesai dengan mengajak Herman dan Rindy, mereka pun langsung memasuki mobil dan berangkat menuju restoran teratai di kawasan Mountain Lotus ini.