Joe William

Joe William
Diana tiba di Mountain Lotus



Mountain Lotus


Pemandangan tak biasa tampak terlihat dengan jelas di depan bangunan besar tujuh lantai tersebut.


Sepertinya akan ada rapat akbar yang akan di gelar hari ini.


Ya. Hal ini jelas sangat terlihat karena di area parkir depan markas besar perusahaan Future of Company ini penuh sesak dengan ratusan mobil mewah.


Sejak tadi pagi, Joe yang memang telah tiba di Starhill langsung mengatakan kepada Ayahnya yaitu Jerry William bahwa tugasnya telah selesai dan kini dia tidak lagi terbebani oleh keberadaan keluarga Miller di MegaTown.


Joe, dengan dibantu oleh segenap jajaran baik itu dari perusahaan Future of Company ataupun dari organisasi Dragon Empire berhasil dengan gilang-gemilang mengusir keluarga Miller keluar dari negara ini. Bahkan lebih sadis daripada cara yang sama sekitar lima atau enam puluh tahun yang lalu ketika empat naga dari Metro City berhasil mengusir perusahaan Arold Holding Company yang diketuai oleh Arold Miller yaitu Kakek dari Adolf dan Rudolf Miller.


Setelah selesai mengadakan rapat akbar itu, dan mengembalikan posisi masing-masing dari mereka yang pernah dipecat oleh Joe kecuali Moreno, kini waktunya Joe menunggu kedatangan tiga orang yang sangat dinantikan itu.


Saat ini di ruangan rapat, walaupun para jajaran staf perusahaan telah membubarkan diri, namun Joe yang didampingi oleh Ayah dan Ibunya, juga ada Jackson William, Kenny William, Ryan, Riko, Arslan, Daniel, Black, Herey, Charles dan Milner, masih juga belum beranjak dari tempat itu.


Mereka saat ini sedang menunggu Drako dan Tuan Syam menjemput Tuan Paul, kemudian menunggu salah seorang anggota dari organisasi Dragon Empire yang ditugaskan untuk menjemput Regnar bersaudara.


Walaupun seluruh jajaran staf sudah keluar dari ruangan rapat itu, namun mereka masih belum membubarkan diri dan sedang menunggu apa yang akan dilakukan oleh Jerry dan Putranya kepada ketiga orang yang saat ini sedang mereka tunggu kedatangannya itu


Saat ini kurang dari pukul empat sore ketika sebuah helikopter mendarat dengan mulus di atas tingkat paling atas di bangunan kantor besar perusahaan tersebut.


Dari dalam tampak dua orang lelaki tua namun tampak masih kekar mengapit seorang lelaki yang seusia dengan mereka yang memiliki badan gemuk dan berkepala botak. Lelaki botak ini adalah Tuan Paul.


Mereka bertiga langsung turun menggunakan Lift ke lantai bawah untuk menemui Tuan besar mereka yang telah lama menunggu sejak tadi


Tiga puluh menit berselang, kini dari arah Lotus Road, tampak satu unit mobil Mercedes melaju dengan kecepatan tinggi dan berhenti tepat di depan pintu masuk kantor tersebut.


Dari dalam kini terlihat Frank dan Diana yang berpenampilan sangat menggelikan hati itu terlihat seperti orang linglung karena tidak tau harus berbuat apa.


"Silahkan ikut saya, Tuan Frank!" Kata lelaki yang mendapatkan tugas untuk menjemput mereka itu.


Tanpa banyak membantah, Diana dan Frank langsung mengikuti lelaki tadi yang tampak mengetuk pintu salah satu ruangan di kantor itu.


Tok tok tok!


Terdengar suara perintah dari dalam.


Setelah pintu di buka, kini lelaki tadi mempersilahkan Frank dan Diana untuk segera memasuki ruangan itu.


Begitu kedua orang tua itu tiba di dalam, dia segera terkejut karena semua orang yang dia kenal berada di dalam ruangan itu. Termasuk Putranya Kenny dan mantan suaminya yaitu Jackson.


Melihat kedua orang tua itu memasuki ruangan, Jerry, Kenny, Clara dan Joe langsung menyambut kedatangan mereka dan mempersilahkan mereka untuk duduk di kursi yang telah disediakan.


"Bibi Diana.., Paman Frank, silahkan duduk!" Kata Jerry sambil menarik dua buah kursi.


Kini Diana Dan Frank langsung saja duduk dan saling berhadapan dengan Tuan Paul yang tampak salah tingkah.


"Ayah, Kakek Jackson dan Paman Kenny, izinkan saya berbicara." Kata Joe lalu bangkit berdiri kemudian menghampiri ketiga orang tua yaitu Tuan Paul, Frank dan Diana Regnar.


"Bagaimana rasanya tiga hari ini? Apakah Tuan Paul, Kakek Frank dan Oma Diana baik-baik saja?" Tanya Joe sambil terus berdiri.


"Kami baik-baik saja. Ya sangat baik." Jawab Tuan Paul ketakutan.


"Santai saja dan tidak perlu takut. Kendurkan ketegangan di wajah kalian. Aku di sini bukan untuk menyakiti kalian."


"Di sini aku ingin bertanya tentang penderitaan yang kalian hadapi selama tiga hari ini. Apakah menurut kalian, aku ini jahat?" Tanya Joe.


Bungkam. Tidak ada sepatah katapun jawaban yang keluar dari mulut mereka.


"Aku sangat heran dengan kalian bertiga ini. Sudah berusia Tua, tapi ambisinya seolah-olah kalian akan hidup selama-lamanya di dunia ini. Maaf jika aku tidak sopan. Tapi sikap sopan ku untuk orang-orang yang layak menerimanya."


"Tuan Paul. Anda sudah mendapatkan hukuman dari ayah ku sekitar dua puluh tahun yang lalu. Anda bukannya bertaubat, malah semakin menjadi-jadi."


"Anda bahkan sengaja mengirim orang untuk membunuh ku. Dan itu aku rasakan sungguh keterlaluan." Kata Joe sambil menarik nafas sejenak.


"Begitu juga dengan Oma Diana."


"Anda ini dari puluhan tahun yang lalu telah membuat keluarga ku nyaris bangkrut. Anda terus saja berusaha untuk membuat keluarga ku hancur. Memulai penghianatan dengan bergabung dengan orang-orang yang memusuhi perusahaan ayah ku. Sekarang aku ingin bertanya kepada kalian. Apa yang kalian dapatkan dari usaha kalian ini?" Tanya Joe sambil menatap tajam ke arah Ketiga orang itu.