
"Kak.., ada apa dengan Joe. Mengapa dia tiba-tiba muncul, lalu mau-mau saja dipukuli tanpa perlawanan seperti itu?"
Dua orang lelaki tampak sedang memperhatikan ke arah perkelahian tak seimbang diantara kedua pemuda di dekat pantai.
Kriiiing..!
Kriiiing..!
"Sebentar, Riko! Aku harus menjawab panggilan ini terlebih dahulu!" Kata lelaki yang dipanggil dengan sebutan Kak tadi.
"Hallo!"
"Tuan Arslan. Ini saya Sugeng, bawahan Tigor."
"Oh. Iya iya iya. Saya ingat!" Jawab lelaki yang ternyata Arslan itu.
"Tuan Arslan.., Bang Tigor berpesan bahwa kita tidak boleh mengambil resiko terhadap keselamatan ketua. Segeralah bertindak walau apapun yang terjadi!"
"Ada apa sebenarnya? Mengapa Joe seperti berada di bawah tekanan?"
"Begini ceritanya, Tuan!" Kata Sugeng yang langsung menceritakan tentang teman wanita Joe bernama Tiara yang saat ini berada dalam tawanan Honor Miller. Karena itulah Joe memilih mengalah dan tidak memberikan perlawanan.
"Hmmm. Masuk akal juga kata Tuan Tigor ini. Kita memang tidak boleh mengambil resiko. Bagaimanapun, keselamatan Tuan muda kami adalah prioritas utama," jawab Arslan pula. Mana mungkin cara berpikirnya sama dengan Joe. Joe memang mengkhawatirkan keselamatan Tiara. Tapi jika terjadi apa-apa dengannya, maka semua orang akan menanggung akibatnya.
Berfikir sampai di situ, Arslan segera mengambil tindakan. "Herey. Lakukan serangan sekarang!" Katanya kepada seorang lelaki kaku berbadan tegap yang tampak sedang tiarap.
Herey, Black dan Leo hanya mengacungkan jempol nya saja. Lalu...,
Ckrek!
Dor!
Sebutir timah panas melesat laju meninggalkan moncong senjata sniper dan tepat menghantam kening seorang lelaki sedikit botak.
Byur...!
Korban pertama kini jatuh mengawali pembantaian yang sebentar lagi akan terjadi.
Tampak air laut di pelabuhan itu berubah menjadi merah, lalu terbawa oleh ombak.
"Kim!" Jerit Zacky melihat tubuh lelaki itu mengambang di air laut.
Kejadian itu bukan hanya mengejutkan orang-orang dari keluarga Miller saja.
Joe dan Honor yang sedang baku hantam pun menjadi kaget. Hal ini membuat Honor segera melarikan diri ke arah kapal, sebelum menendang perut Joe.
Hal yang sama juga terjadi kepada orang-orang yang berada di mobil yang sedang mengangkut barang-barang dari pabrik yang berada di dekat jembatan Tasik Putri. Begitu mendengar suara tembakan tadi, mereka yang berjumlah lebih dari seratus orang segera bertiarap di dekat mobil masing-masing dengan setiap orang memegang pistol.
Baku tembak pun kini terjadi di pagi buta itu, dengan beberapa unit kapal di pelabuhan itu, serta deretan mobil-mobil yang baru tiba tadi menjadi pusat sasaran. Kehancuran bekas terjangan peluru jelas kelihatan di sana sini. Bahkan, banyak kaca baik itu kaca mobil, maupun kaca di bagian depan kapal menjadi hancur berantakan.
"Hentikan serangan!" Teriak Herey kepada anak buahnya.
Baginya, percuma saja melakukan serangan jika semua musuh bersembunyi di bagian kapal.
Suara tembakan sesekali masih terdengar dari arah kapal. Namun, tidak sekalipun di balas oleh orang-orang baik itu dari Dragon Empire, maupun dari anggota tentara bayaran Tiger Syam. Namun, seperti itu hanya sesaat. Karena, dari dalam air, tepatnya di bagian belakang kapal, bermunculan kepala-kepala orang yang menggunakan alat pernapasan.
Setelah melepaskan tabung oksigen, mereka berubah seperti cicak yang sedang merayap di dinding kapal tersebut lalu melompat masuk ke bagian buritan kapal.
Jumlah mereka tidaklah ramai. Paling hanya sekitar dua atau tiga puluh orang saja. Namun jangan dikira dari jumlah. Karena, mereka ini adalah tentara bayaran khusus bintang tiga yang sangat terlatih. Level mereka hanya satu tingkat di bawah level Herey, Black dan Leo.
Sepertinya, suasana yang masih sedikit gelap itu semakin mempermudah pergerakan mereka. Karena, tidak satupun yang menyadari kehadiran mereka.
Suasana yang tadinya sempat kacau-balau itu seketika menjadi hening. Hening yang bagaikan boom waktu yang kapan saja bisa meledak.
Benar saja. Suasana hening itu kini berubah menjadi hingar-bingar ketika orang-orang yang telah menaiki kapal dari dalam air tadi mulai menyiramkan peluru mereka ke arah bagian dalam kapal.
Jerit dan pekik pun kini mulai terdengar dari mereka yang meregang nyawa tertembus peluru.
Tidak sampai di situ, kini, terlihat puluhan kapal pesiar berukuran sedang melesat laju dari arah tengah laut, dan setelah mendekat, dari salah satu kapal itu meluncur sebuah roket yang memang sengaja ditembakkan ke bagian kapal yang paling pinggir.
Boom!
Duaaar..!
Tampak air laut bergelombang akibat goncangan kapal yang ditabrak oleh roket tadi. Bukan hanya satu Roket saja. Melainkan ada tiga yang ditembakkan ke arah kapal tadi membuat kapal itu kini oleng lalu karam.
Dari berbagai arah, kini bermunculan orang-orang dari Dragon Empire dan Tiger Syam dalam jumlah yang tidak terhitung.
"Oh Tuhan ku. Kekuatan seperti apa ini?" Tanya seorang lelaki paruh baya yang menyaksikan kejadian itu dari kejauhan. Disampingnya, berdiri seorang pemuda yang masih belum berusia 25 tahun. Orang itu adalah Tiger Lee dan Albern.
"Aku sudah memberi peringatan kepada mu, Paman. Beruntung kau segera meninggalkan Honor. Jika tidak, kau pasti tidak akan selamat!" Kata Albern tersenyum kecut.
Sementara itu, pertempuran tetap berlanjut dimana kekuatan Honor Miller kini bagaikan sebutir gula yang dikerubungi oleh ribuan semut. Kemanapun mereka lari, di situ ada musuh.
Kini, sebagian dari mereka ada yang telah menyerah. Karena, percuma saja memberikan perlawanan, andai yang mereka dapat tetap kekalahan.
"Kita bertemu lagi, Zacky! Kemana anak sombong itu bersembunyi?" Tanya seorang lelaki berbadan tegap penuh otot.
"Kau... Bukankah kau adalah Leo?" Tanya Zacky heran.
"Ya. Aku adalah Leo," jawab lelaki itu.
"Kau.., berarti selama ini kau telah menipu kami?"
"Hahaha. Aku tidak menipu siapapun. Tuan mu merekrut ku tanpa bertanya ini dan itu. Dia terlalu bernafsu ingin menghancurkan keluarga William. Padahal keluarga William itu adalah majikan kami. Aku adalah tentara bayaran dari organisasi Tiger Syam. Sekarang, aku ingin menjajal mulut besar mu itu. Persiapkan dirimu!"
"Bajingan kau Leo!"
"Hiaaaaaat...!"
Wuzzz...!
"Eits..," kata Leo menghindari terkaman dari Zacky.
Bugh..!
Begitu terkamannya tidak menemukan sasaran, Zacky pun memutar badan dengan niat untuk melakukan hal yang sama. Namun, Leo sudah terlebih dahulu mengirimkan tendangan yang tepat mengenai ulu hatinya.
"Hoek!"
Seketika itu juga Zacky muntah darah akibat tendangan dari sepatu yang di bagian ujungnya terdapat ladam besi.
"Hanya segini, Zacky? Mulut besar mu tidak sepadan dengan tenaga mu! Kau terima ini!"
Prak!
"Ngek! Arrrrrgh...,"
Tendangan yang dikirimkan oleh Leo, bersarang dengan telak dibawah dagu Zacky. Tendangan keras itu seketika membuat rahangnya patah.
Sejenak Zacky kelojotan di pasir pantai Kuala Nipah itu.
"Aku memberimu kematian yang cepat agar kau tidak mengalami penderitaan!" Kata Leo yang langsung menghentakkan kakinya di atas kepala Zacky, membuat kepala itu terbenam di pasir pantai.
Sejenak tubuh Zacky berkelojotan, lalu diam tak bergerak-gerak lagi.
Kini, mayat terlihat bergeletakan di mana-mana. Bau anyir darah dan aroma asap misiu memenuhi udara pagi di pinggir pantai tersebut.
Kini, baik itu dari arah pelabuhan, maupun dari bagian mobil pengangkut barang, tidak ada satupun yang masih hidup. Kalaupun ada, kemungkinan terbesarnya tidak akan selamat karena beratnya cedera tembak yang mereka derita.
"Cari Honor! Periksa di setiap kapal!" Perintah Joe kepada orang-orangnya.
"Kau mencari ku, Joe? Aku di sini!" Terdengar satu suara dari arah kapal. Lalu, setelah itu, seorang pemuda naik kebagian geladak kapal, sambil menyeret seorang wanita. Tampak sepucuk pistol menempel pada leher gadis itu.
"Lepaskan gadis itu, Honor! Kita bisa bertarung secara ksatria!" Geram betul hati Joe melihat kepengecutan Honor ini.
"Hahaha. Kau menginginkan gadis ini? Aku ingin berbisnis dengan mu. Mau atau tidak, maka kau harus mau! Jika tidak, sekali aku menarik pelatuk, Dor..., Mati kekasihmu ini!" Teriak Honor mengancam.
"Jangan dengarkan Manusia gila ini, Joe. Biarkan aku mati. Walaupun aku mati, kau juga tidak akan selamat, Honor bajingan!" Jerit Tiara.
"Diam lah kau gadis ******! Aku tidak sedang bicara kepada mu!" Bentak Honor. Lalu dia melanjutkan. "Bagaimana dengan tawaranku Joe?"
"Katakan apa mau mu!" Seru Joe. Dia harus menerima persyaratan dari Honor agar Tiara bisa selamat.
"Bagus! Aku ingin menukar gadis mu ini dengan jaminan. Kau harus memerintahkan kepada orang-orang mu untuk membiarkan aku pergi. Sebagai imbalannya, aku melepaskan Tiara. Bagaimana?" Tanya Honor membuat tawaran.
"Apakah kata-kata mu bisa dipercaya?" Tanya Joe.
"Puih! Pertanyaan sampah. Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Jika kau setuju, aku akan melepaskan gadis mu ini. Bagaimana?"
"Baiklah. Aku setuju. Aku menjamin bahwa orang-orang ku tidak akan melukaimu. Kau boleh pergi dari tempat ini tanpa ada gangguan sedikitpun dari orang-orang ku!" Jawab Joe bersungguh-sungguh. Baginya, dia bisa memburu Honor setelah ini. Tapi, jika Tiara celaka ditangan pemuda itu, itu akan menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya.
"Apakah kata-kata mu itu bisa dipegang?" Tanya Honor pula.
"Dengarkan wahai orang-orang Dragon Empire! Tidak ada yang boleh mengusik Honor. Biarkan dia pergi meninggalkan Kuala Nipah ini!"
"Siap Ketua!" Suara mereka bergema memenuhi angkasa di pagi hari itu.
"Hahaha. Aku pegang kata-kata mu! Ini gadis mu! Silahkan kau ambil!" Kata Honor sembari mendorong tubuh Tiara ke arah pantai, membuat gadis itu jatuh tersungkur.
"Tiaraaaa!" Teriak Joe sambil berlari untuk membantu gadis itu.
"Kau tidak apa-apa, sayang?" Tanya Joe sambil membersihkan pasir pada wajah gadis itu. Dia segera memeluk dan membawa Tiara untuk menjauh dari Honor.
"Terimakasih Joe! Sampai bertemu lagi!"
Dor..!
Dor..!
Dor..!
Baru saja Honor akan berbalik untuk menuju ke kapal, tiba-tiba terdengar suara tembakan tiga kali berturut-turut diikuti ambruknya tubuh Honor di pasir.
"Kau.., kau ingkar janji Joe!" Kata Honor sambil menunjuk ke arah Joe.
"Aku tidak ingkar janji! Siapa yang melakukan ini?" Teriak Joe dengan kesal.
Joe juga kaget bukan main. Mana ada orang-orangnya yang berani melanggar perintahnya.
"Aku yang melakukannya, Joe!" Terdengar jawaban dari seorang pemuda yang sebaya dengan Honor. Wajah mereka juga sangat mirip.
"Albern!" Gumam Joe dan Honor bersamaan.
"Ya. Aku bukanlah anak buah mu. Aku bukan dari organisasi Tiger Syam, juga bukan dari organisasi Dragon Empire. Jadi, tidak ada larangan untukku bukan?" Tanya Albern dengan senyum penuh arti.
"Honor. Itu diluar kesepakatan kita!" Kata Joe yang langsung membawa Tiara menjauh.
"Am.., ampuni aku, Albern!" Ratap Honor. Darah kini mulai mengalir dari kedua betisnya yang tertembak.
"Ampun katamu? Bagaimana ketika kau membunuh ayah ku?" Kau bahkan tidak memberikan pengampunan,"
"Paman Lee. Tolong aku! Aku adalah kepala keluarga Miller. Mengapa kau mengkhianati ku?"
Tiger Lee menggigit bibirnya, lelaki itu lalu membuang wajahnya. Terlihat dua garis air mengalir dari kedua matanya.
"Maafkan aku, Paman! Hutang emas bayar emas. Hutang darah balas darah. Hutang nyawa, maka nyawa pula tebusannya!" Kata Albern sambil mengacungkan pistol ke arah kepala Honor.
"Albern...,"
Dor!
Belum sempat Honor menyelesaikan kata-katanya, Albern sudah terlebih dahulu menarik pelatuk pada pistolnya.
Tampak bekas berlubang di kening Honor yang tergeletak tanpa nyawa di pantai itu dengan mata melotot.
Joe yang menyaksikan dari jarak yang sedikit jauh hanya bisa menarik nafas panjang.
"Segera kosongkan tempat ini!" Perintah Joe kepada semua orang yang berada di tempat itu.
"Siap Ketua!"
"Kini, masing-masing orang mulai bergerak meninggalkan kawasan pantai tersebut.
Kini, Joe dapat melihat sosok hitam bertopeng kucing berjalan bergandengan tangan dengan seorang pemuda. Digenggaman tangan sosok serba hitam itu, tergenggam sebilah pedang tipis yang lentur. Namun, pedang itu telah berubah warna kemerahan.
Joe tersenyum kepada sosok serba hitam itu. Kini, Joe segera mengeluarkan ponselnya, lalu menekan tombol panggil.
"Hallo Joe!"
"Paman, Rio. Semuanya sudah beres. Paman silahkan datang, dan ini akan menjadi prestasi terbesar dalam karir Paman!" Kata Joe sambil tersenyum.
"Aku sudah berada di sekitar sini. Kalian segeralah menyingkir!" Kata Rio pula.
"Siap Komandan!" Kata Joe sambil tertawa.
"Ayo sayang. Kau pasti sangat lelah. Mari aku antar pulang!" Ajak Joe kepada Tiara.
"Gendong!" Kata gadis itu dengan manja.
"Tumben manja!" Kata Joe sambil mencubit hidung gadis itu.
Tak lama, Joe pun pergi meninggalkan kawasan pantai tersebut sambil menggendong Tiara di bagian belakang tubuhnya. Seketika kenangan-kenangan manis kebersamaan mereka dulu terlintas dalam pikiran masing-masing.
"Kau sayang kepada ku Joe?" Tanya Tiara.
"Tentu saja aku sayang. Jika tidak, mana mungkin aku sudi menjadi bulan-bulanan Honor!" Jawab Joe pula.
"Walaupun aku telah banyak melakukan kesalahan kepadamu?" Tanya gadis itu lagi.
"Coba katakan kepadaku, siapa orang yang tidak pernah berbuat kesalahan?" Tanya Joe sambil membetulkan posisi Tiara pada punggungnya.
"Emmm.., hehehe..!" Tiara hanya bisa tertawa saja. Gadis itu lalu menyandarkan kepalanya di pundak Joe.
"Kau harus segera istirahat! Lusa, keluarga besar ku akan tiba di kota Kemuning! Ibu ku sepertinya sangat merindukanmu. Kita akan menemuinya lusa di kota Kemuning!" Kata Joe menceritakan perihal rencana kedatangan orang tuanya ke kota Kemuning.
"He'em. Jemput aku ya. Aku akan menunggumu!"
"Pasti sayang. Kita akan bersama-sama menemui orang tua ku,"
Tanpa terasa, kini mereka telah tiba di depan rumah pak Madun.
Setelah berbasa-basi sejenak,. Joe pun akhirnya pamit untuk mengistirahatkan tubuh dan mengendorkan otot-otot tubuhnya yang terasa sangat menegang. Menegang entah karena kejadian pertempuran tadi, atau karena bagian depan tubuh Tiara yang menempel erat dipunggung nya.
Sementara itu, pihak kepolisian pimpinan AKBP Rio Habonaran, tampak sedang melakukan pembersihan di pinggir pantai Kuala Nipah.
Bersambung...