Joe William

Joe William
Tiara tidak diizinkan pergi



Selesai sholat subuh, Tiara yang tidak ingin membuang-buang waktu lagi segera berpamitan kepada ibunya. Karena Ayahnya saat ini sedang melaut dan baru akan kembali dua hari lagi, maka dia sedikit memiliki kebebasan untuk pergi. Karena, jika ada sang ayah, tidak mungkin gadis itu diizinkan pergi walaupun ke rumah Lestari disaat matahari belum terbit begini.


"Bu. Tiara akan ke rumah Lestari. Boleh ya Bu?!" Rengek sang gadis.


"Ada apa dengan otak anak gadis ibu ini? Bertandang ke rumah orang subuh-subuh. Jangan pergi!" Larang sang Ibu.


"Tolong lah Bu. Ada hal yang sangat penting yang harus Tiara selesaikan. Mungkin Lestari bisa membantu,"


"Pasti urusan Joe itu kan? Hmmm..., Kau ini. Bagus anak itu menunggu mu sampai tertidur di bawah jendela, tapi kau cuek-cuek bebek. Sekarang, kau kelabakan. Jangan pergi! Jika pergi subuh-subuh begini, maka jangan pulang lagi! Ibu akan mengadukan semuanya kepada ayah mu jika dia pulang besok!" Ancam sang Ibu yang membuat Tiara ketakutan.


"Tapi Bu. Tiara merasa sangat bersalah kepada Joe. Bagaimana jika dia masuk angin? Setidaknya, jika Tiara menemukannya, Tiara bisa membelikan Tolak angin atau Antangin JRG untuknya," kata gadis itu setengah merengek.


"Tolak angin.., tolak angin. Mengapa kau tidak membelikan keluarga kita Tolak miskin? Setidaknya kita tidak terlalu melarat seperti ini," omel sang ibu.


Berkudis juga telinga Tiara mendengarkan ocehan dari sang Ibu. Namun, dia tidak berani melanggar perkataan dari sang Ibu. Bagaimanapun, hubungan antara kekasih bisa saja berubah jadi mantan. Namun, yang namanya orang yang melahirkan kita, selamanya tidak akan pernah menjadi mantan ibu.


Dalam hati, Tiara berharap semoga saja Joe akan datang lagi ke kampung Kuala Nipah untuk menemuinya. Ketika itu terjadi, maka dia akan mempercayai Joe.


Sementara itu, Joe yang telah pergi meninggalkan kampung Kuala Nipah, kini telah keluar dari perkampungan itu dan kini dia telah sampai di kawasan perkebunan kelapa.


Sejenak dia terduduk di bagian bonggol pohon kelapa yang miring sambil memperhatikan keadaan dirinya.


"Jika itulah bukan Tiara, sumpah demi apapun aku tidak sudi seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi.., walaupun harus meredah badai, aku tetap akan melakukannya dengan sukarela," kata Joe dalam hati.


Setelah puas melamun, kini Joe kembali melanjutkan perjalanannya.


"Tak apalah aku jalan kaki. Hitung-hitung sambil berolahraga," tandasnya lalu segera mengayunkan langkahnya.


Baginya, lebih baik dia cepat-cepat melanjutkan perjalanan daripada nanti dirinya akan di tuduh sebagai pencuri kelapa.


*********


Seorang pemuda berwajah tampan namun angkuh tampak sedang duduk di kursi ekslusif. Di belakangnya tampak tiga orang lelaki berdiri layaknya sebagai pengawal bagi pemuda yang duduk bagaikan seorang pangeran tersebut.


Dua orang wanita muda berpakaian hitam seksi tampak melenggang mendekati kursi dimana pemuda itu tampak sedang duduk sambil menikmati sampanye.


Rona merah di wajah pemuda itu seakan menambah ketampanannya. Namun, di sisi lain juga menambah keangkuhan di wajahnya.


"Tuan Honor. Apakah anda betah sendirian? Atau, apakah anda ingin agar kami menemani anda?" Tanya salah satu dari kedua wanita itu.


"Menjauh dari ku!" Pinta pemuda itu singkat.


"Baiklah, Tuan!" Kata wanita itu lalu segera berlalu meninggalkan tempat duduk pemuda itu.


Yang


"Sampai kapan kau akan seperti itu, Honor?" Tanya salah satu dari tiga orang lelaki yang berdiri di belakangnya.


"Aku tidak bisa, Paman Lee. Aku tidak ingin fokus ku terganggu dengan kehadiran gadis itu. Mereka memang cantik. Tapi sangat berbahaya. Dan aku, aku tidak ingin mencari penyakit," tegas pemuda itu.


"Lalu, wanita yang seperti apa yang bisa mengetuk pintu hatimu?" Tanya Tiger Lee lagi.


Honor hanya mengangkat pundaknya. "Setidaknya, bukan gadis sampah yang bekerja di tempat sialan seperti ini," jawab Honor sambil bangkit berdiri. Dia lalu memasukkan dua tangannya ke dalam saku celana kemudian melangkah santai meninggalkan kursi tempatnya duduk tadi.


"Mau kemana kita, Tuan?" Tanya Zacky.


"Di sini sudah terlalu brisik. Suara musik mulai mengusik gendang telinga ku. Kita kembali saja!" Jawab Honor.


Mereka berempat lalu segera menuju ke area parkir. Lalu, salah seorang dari ketiga lelaki tadi membukakan pintu mobil untuk Honor dan tak lama setelah itu mesin mobil pun menyala dan mobil pun bergerak menuju ke Victoria peak.