
Memang sudah menjadi kebiasaan di rumah besar milik Tigor akan mengadakan pertemuan paling tidak satu kali dalam satu bulan. Namun, kali ini sepertinya pertemuan besar segera berlangsung.
Tidak seperti biasa jika Joe berada dalam pertemuan kali ini. Kini, di lantai tiga rumah tersebut terlihat meja panjang dan kursi dalam jumlah yang banyak. Tidak lupa juga di ruangan tersebut terlihat alat pengeras suara. Tapi bedanya, di setiap meja terletak juga earbuds. Mungkin mereka tidak ingin isi dari pertemuan tersebut terdengar sampai ke luar ruangan, walaupun di ruangan tersebut memiliki peredam suara.
Namora, pemuda dingin yang tadinya berangkat dengan sang paman, begitu mengetahui bahwa Joe juga berada dalam pertemuan tersebut segera berdiri di belakang pemuda yang lebih tua dari dirinya sekitar dua tahun itu.
Melihat Namora menghampiri dirinya dan langsung berdiri di belakang, Joe langsung tersenyum, lalu menoleh kebelakang dan berbisik. "Woy. Aku tadi habis makan jengkol. Kalau ada aroma yang tidak sedap, harap kau maklumlah ya!"
Semakin membatu wajah Namora mendengar bisikan dari Joe. Tapi apa daya, dia tidak berani menjawab, karena di sana ada Tigor. Berani menjawab, niscaya dia akan digebuk oleh ayahnya.
Kini, semua orang sudah menempati kursi masing-masing. Kemudian, mereka semua membungkuk kecuali Rio, begitu Joe berjalan dengan didampingi oleh R4 dan Namora.
"Sudah sudah sudah! Duduk saja kalian semua. Jangan bikin aku terlihat seperti anak kurang ajar!" Kata Joe yang langsung menuju ke kursinya.
Setelah Namora menarik kursi yang sedikit berbeda dari kursi yang lainnya untuk Joe, pemuda itu pun segera duduk setelah sebelumnya mengucapkan terimakasih kepada Namora.
"Terimakasih. Dan, mari kita mulai perbincangan dari pertemuan ini. Dasar keluarga Miller. Karena mereka, setiap saat harus mengadakan pertemuan. Sampai-sampai aku sulit membedakan mana wajahku dan mana meja," gerutu Joe yang sekali lagi membuat mereka mengulum senyum.
"Paman Rio. Berita apa yang ingin paman sampaikan. Sebagai anggota kepolisian, terimakasih atas kepercayaan Paman karena mau duduk satu meja dengan kami, yang bisa dikatakan sebagai kelompok abu-abu ini," ujar Joe lagi sambil tersenyum.
"Ah. Kau terlalu merendah Joe. Apapun itu, asalkan dia adalah masyarakat, dan warga negara Indonesia, dia bisa berkontribusi untuk negara. Walaupun kau bukan warga negara, tetapi setidaknya, orang-orang yang kau miliki di sini 90% adalah warga negara Indonesia. Jadi, tidak ada salahnya saling mengandalkan. Jika tidak ada rotan, akar pun jadi. Asalkan manfaatnya sama. Ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh pihak kepolisian, karena kami bertindak sesuai hukum dan undang-undang yang telah ditetapkan oleh negara. Tapi kalian, kalian hanya terikat dengan hukum organisasi. Terkadang, ada hal-hal yang itu benar untuk dilakukan, tapi salah dalam undang-undang. Ini karena, segala sesuatunya memerlukan bukti, saksi serta pengakuan. Berbeda dengan kalian. Jika mengetahui bahwa ada oknum yang bersalah, kalian tidak perlu banyak uneg-uneg. Langsung ditindak," kata Rio dengan basa-basi yang panjang kali lebar dan kali tinggi.
"Aku sepertinya dapat menangkap maksud dari perkataan Paman tadi. Apakah Paman tidak mampu memberantas geng tengkorak karena tidak cukup bukti?" Tanya Joe.
Tigor yang mendengar pertanyaan dari Joe segera memandang bergantian antara Joe dan Rio.
"Hmmm. Apa benar dugaan dari Ketua kami itu, Rio?" Tanya Tigor kemudian.
Rio mengangguk lesu sebelum menjawab.
"Benar Bang. Mereka tidak mau mengakui dari komplotan mana mereka berasal, walaupun sudah berbagai metode yang kami lakukan untuk mengorek keterangan. Maka dari itulah mengapa aku katakan bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh pihak kepolisian, walaupun kami mengetahui dari mana mereka berasal. Ini karena, tidak cukupnya bukti yang bisa memberatkan mereka di mata hukum,"
Walaupun sudah hancur lebur, namun mereka bisa bangkit kembali, dan membentuk kekuatan baru. Andai pemberantasan terhadap geng Tengkorak ini masih menggunakan cara yang sama, sepertinya itu hanya bersifat sementara. Karena mereka pasti akan bangkit lagi. Bahkan bisa lebih berbahaya.
"Aku juga buntu bang. Tidak mungkin aku menggunakan hukum rimba. Nanti apa kata mereka tentang aparat kepolisian yang main tangkap sembarangan saja tanpa bukti yang kuat," keluh Rio yang tampak frustasi.
"Rio! Sekali ini, tutup matamu. Kami tidak meminta kepadamu untuk mengkhianati seragam yang kau kenakan. Kami hanya meminta agar kau menutup mata untuk kasus ini. Serahkan kepada kami. Mereka tidak bisa ditangkap. Mereka harus dikubur! Sekarang, kau bisa bekerjasama dengan kami. Kami akan menggulung mereka semua dalam sekali gebrakan. Ingat! Mereka tidak bisa ditangkap dan dipenjarakan. Kali ini, mereka harus benar-benar musnah! Aku menduga bahwa mereka akan menjual jasa mereka kepada keluarga Miller. Aku sangat yakin 100%," kata Tigor dengan keyakinan tinggi.
Rio mengangguk pelan mendengar permintaan dari Abang kandungnya itu. Dia tau bahwa hanya itulah satu-satunya cara untuk menuntaskan serangkaian kasus yang ditimbulkan semenjak keluarga Miller datang ke negara ini.
"Mafia harus diberantas dengan cara mafia pula. Ya.., aku mungkin terikat dengan undang-undang dan hukum. Baiklah! Aku akan menutup mata untuk hal ini. Segera usir mereka dari negara ini. Aku tidak tau entah sudah berapa banyak pejabat yang telah mereka suap. Polisi saja tidak akan bisa menangani mereka," Rio akhirnya setuju juga dengan gagasan dari Tigor. Hal ini tentu saja membuat semua orang yang berada di ruangan itu menarik nafas lega.
Memang tidak sulit untuk menggulung keluarga Miller ini. Hanya saja, jika ingin melakukanya dengan mulus tanpa cacat, maka Joe harus melibatkan banyak pihak.
Joe tau bahwa untuk saat ini para. Mahasiswa sedang menyelidiki limbah pabrik yang membuat banyak ikan di Kuala Nipah lari ke tengah.
Joe juga tau bahwa masyarakat Kuala Nipah saat ini sedang tercekik dengan hutang berbunga besar. Dan itu juga karena ulah dari keluarga Miller.
Saat ini, Joe sedang mengembangkan tempat rekreasi di Kuala Nipah. Lambat laun, proyeknya tersebut pasti akan berbenturan dengan proyek milik keluarga Miller. Di sini perang yang sesungguhnya akan terjadi.
Keluarga Miller boleh saja merasa berada di atas angin untuk saat ini. Tapi itu tidak akan lama. Karena, saat ini saja, seluruh anggota dari Dragon Empire dan Tiger Syam sudah berkumpul di serata tempat antara Tanjung Karang, sampai ke Dolok ginjang dalam puluhan gelombang.
Tidak ada yang menyadari jika dua organisasi yang sangat ditakuti ini telah datang dengan cara berangsur-angsur.
"Satu masalah sudah menemukan kata sepakat. Kini, aku ingin mendengar informasi dari Paman Sugeng! Aku ingin tau, apakah kekhawatiran ku terhadap koperasi simpan pinjam Kuala Nipah itu terbukti atau tidak?" Tanya Joe.
Memang, beberapa bulan yang lalu, Joe sempat mengutarakan kekhawatirannya terhadap koperasi tersebut, yang awal berdirinya sangat dielu-elukan oleh masyarakat Kampung Kuala Nipah.
Bersambung...