
Di sela-sela nafas yang memburu serta keringat yang bercucuran, Joe kini memberanikan diri untuk bertanya kepada kakek Tengku Mahmud tentang rencana mengunjungi kota Kemuning besok lusa sekaligus alasannya bahwa dia sengaja untuk mewakili Ayahnya bagi menghadiri pesta penyambutan kebebasan Tigor dari penjara.
Baginya, lebih baik sekarang saja memberi tahu kepada Tengku Mahmud apakah dia diizinkan atau tidak.
Andai diizinkan, dia akan berangkat besok lusa walau tanpa Tiara. Namun jika tidak diizinkan, dia akan segera memberitahukan kepada Ayahnya bahwa dia tidak diperbolehkan mengunjungi kota Kemuning karena tidak mendapat izin dari guru nya.
"Joe. Sebenarnya ada hubungan apa antara Ayah mu dengan Tigor itu?" Tanya Tengku Mahmud tanpa memberitahu bahwa Tigor itu adalah cucu nya.
"Begini Kek. Ayah ku tadi siang menelepon bahwa dia meminta aku untuk mewakilinya menghadiri pesta penyambutan kebebasan orang bernama Tigor ini. Katanya, Tigor itu adalah sahabatnya." Jawab Joe William sambil terus berjalan menggendong Tengku Mahmud yang duduk di dalam tong drum yang dia sandang.
"Hmmm... Andai aku perbolehkan, siapa nanti teman mu berangkat ke sana? Kau tau kalau kota Kemuning itu tidak dekat. Jika dari Tasik Putri, maka perjalanan ke kota itu memakan waktu sepuluh jam. Jika kau mengambil jalan pintas dari Tanjung karang, maka perjalanan akan memakan waktu selama tujuh jam. Apa menurutmu itu dekat?" Tanya lelaki tua itu.
"Tapi kek. Jika aku tidak berangkat ke sana, nanti orang yang bernama Tigor itu akan kecewa kepada Ayah ku. Mereka kan sahabat."
"Anak goblok. Aku tidak mengatakan kau tidak boleh pergi. Yang aku tanyakan, siapa nanti kawan mu ke sana?" Bentak Tengku Mahmud sambil mencak-mencak di atas gendongan Joe William membuat anak remaja itu menyeringai kesakitan karena tali sandang yang digunakan sebagai pengikat tong drum itu menggesek kulit pundaknya.
"Tiara kek." Jawab Joe seenaknya.
"Hah.. apa katamu? Tiara? Hei Joe. Dia itu anak gadis orang. Enak saja kau mau membawa anak gadis orang pergi jauh-jauh begitu." Kejut Tengku Mahmud.
Mungkin karena terlalu terkejut sampai dia menggelinjang di dalam tong drum itu membuat lobang tempat mengikat tali itu koyak yang membuat drum itu lepas lalu jatuh bersamaan dengan Tengku Mahmud.
Kedebug..
"Adaaaaw... Pinggang ku. Patah pinggang ku. Hei anak goblok. Kau sengaja ya?" Bentak kakek Mahmud sambil terlentang di pasir pantai itu.
"Itu lah kakek. Penyakit dicari sendiri. Lalu menyalahkan orang lain." Kata Joe yang juga jatuh terduduk akibat tarikan tali sebelah lagi di pundak kirinya.
Perlahan-lahan Tengku Mahmud bangkit dan meludah ke sana ke mari karena mulutnya dimasuki oleh pasir.
"Heh anak goblok. Tadi Tiara katamu kan? Apa kau sudah meminta izin dari orang tuanya?" Tanya Tengku Mahmud.
"Bagaimana aku mau minta izin. Kan sedang menjalani hukuman." Jawab Joe dengan kesal.
Lama-lama kesal juga dia karena hukuman ini, dia batal meminta izin kepada orang tua Tiara tentang rencananya untuk mengajak gadis itu berangkat bersama ke kota Kemuning.
"Jika kau ingin mengajak gadis itu, ajak orang tua nya sekalian." Usul Tengku Mahmud kepada muridnya itu.
"Begitu juga boleh kek. Tapi, mengapa kakek tidak mau ikut? Ayo lah kek sesekali kita melihat kota. Jangan di sini terus. Lama-lama jadi hantu laut nanti kakek." Kata Joe sambil becanda.
"Dasar anak jin iprit. Berani kau menyumpahi aku jadi hantu laut hah?" Bentak Tengku Mahmud lalu bangkit berdiri dan menyerang Joe dengan serangan kilat.
"Heit..."
"Ciaaaat..."
Tampak Joe pontang panting menghindari serangan itu. Namun begitu, satu pun pukulan yang dilepaskan oleh Tengku Mahmud tidak mengenai sasaran.
"Sekarang keluarkan jurus jari hantu mu itu!" Perintah Tengku Mahmud sambil menyambar beberapa kulit kerang.
"Lihat serangan!" Kata Tengku Mahmud memperingatkan.
Wuz...
Wuz..!
Traaak!
Terdengar dua benda beradu lalu hancur berkeping-keping jatuh ke atas pasir pantai itu.
Melihat ini, Joe langsung berlari menghampiri pohon kelapa lalu segera mengambil beberapa batang lidi kemudian bersiap-siap menunggu serangan.
Wuz..!
Tampak sebuah kulit kerang melesat dengan kecepatan tinggi mengarah ke arah kepala Joe. Namun anak itu tidak tinggal diam. Dia langsung membalas dengan meluncurkan lidi kelapa yang ada ditangannya dan,
Wuzz ..
Kini tampak lidi kelapa itu menembus kulit kerang dan melesat menuju ke arah Tengku Mahmud.
"Kek.... Menghindar!" Teriak Joe.
Terlambat. Tengku Mahmud sudah ambruk duluan.
"Kakek...!" Jerit Joe lalu berlari menghampiri lelaki tua itu.
"Kek. Aku tidak sengaja. Bangun kek. Kek... Jangan mati!" Kata Joe mulai menangis.
Dia sangat menyesal tadi mengapa dia mengeluarkan jurus jarum perak nya.
Andai hanya lemparan jurus jari hantu, kemungkinan tidak sampai sebegitu parah.
"Kek. Bangun kek! Jangan mati kek! Aku tidak mau kehilangan kedua kalinya." Kata Joe sambil mengguncang-guncang tubuh Tengku Mahmud.
"Dasar anak goblok. Apa kau kira semudah itu bisa melukai ku?" Kata Tengku Mahmud tiba-tiba membuka matanya lalu tertawa terbahak-bahak.
"Nih makan lidi kelapa mu itu!" Kata Tengku Mahmud sambil memberikan lidi kelapa yang terjepit diantara jari telunjuk dan jari tengah nya kepada Joe William.
"Hehe... Hehehe... Hampir saja jadi hantu laut." Kata Joe tertawa sambil terguling-guling di pasir.
Andai ada yang melihat, sudah tentu orang akan mengira bahwa kakek dan cucu itu sama-sama tidak waras.
"Anak kurang ajar. Aku tau tidak mudah lagi untuk menyerang mu. Sekarang, aku perintahkan serahkan kuping mu secara sukarela!" Kata Tengku Mahmud membentak.
"Kan kan kan. Selalu saja begitu. Kalau mampu, mengapa tidak melakukannya sendiri?" Tantang Joe.
"Anak jin iprit. Kemari kataku!" Bentak orang tua itu yang mulai hilang kesabaran.
"Iya. Ini kuping ku kek!" Kata Joe mendekat lalu pasrah jika kupingnya akan di jewer oleh kakek Tengku Mahmud.
Namun yang tidak disangka oleh Joe adalah, Tengku Mahmud malah mengusap kepala anak remaja itu lalu menoel hidung Joe yang seperti biasa sering dia lakukan.
"Tidak jadi di jewer kek?" Tanya Joe mulai membuka perkara baru.
"Oh. Kau menantang ku ya. Baiklah. Sini telinga mu!" Kata Tengku Mahmud sambil mengulurkan tangannya.
"Sudah tidak berlaku lagi kek." Kata Joe lalu lari pontang panting meninggalkan lelaki tua itu.
Sejenak dia berhenti lalu kembali lagi untuk mengambil tong drum yang sudah rusak tadi. Lalu kemudian lari lagi meninggalkan Tengku Mahmud yang hanya menggeleng kepala saja melihat ulah dari Joe William itu.
"Anak ini. Jika aku tadi tidak mengeluarkan tenaga, kemungkinan besar batang leher ku yang tertembus oleh lidi kelapa yang dilemparkan nya tadi."
"Hmmm... Semoga saja dia tidak mudah menurunkan tangan kasar kepada orang lain. Jika tidak, dia akan banyak mengakhiri nyawa orang lain. Uang dia punya. Kekuasaan dia punya. Kepandaian juga melebihi diriku. Semoga saja aku tidak salah mendidik murid." Kata Tengku Mahmud membatin dalam hati.
Lalu orang tua itu melangkah cepat untuk mengejar Joe William yang sudah jauh di ujung sana berlari sesekali mencebur kedalam air laut yang berombak itu.