Joe William

Joe William
Pertemuan di Mountain Lotus



...Mountain Lotus....


Tepat di area parkir kantor besar Future of Company, tampak puluhan mobil mewah sedang terparkir di sana dan dapat dipastikan bahwa hari ini akan diadakan Meeting antara seluruh staf dari berbagai cabang perusahaan itu dari beberapa daerah.


Sementara itu, dari mobil Rolls-Royce panjang yang sudah dimodifikasi, tampak beberapa pengawal menurunkan empat kursi roda lalu membuka pintu di mobil mewah tersebut, dan kini tampaklah empat orang lelaki yang sudah sangat tua sekali berjalan menggunakan tongkat lalu duduk di kursi roda masing-masing kemudian di dorong oleh masing-masing empat pengawal menuju ke pintu masuk kantor besar itu.


Tidak sampai di situ saja, dari arau Lotus hotel, tampak rombongan mobil mewah sekitar dua puluh unit saling beriringan memasuki area depan kantor itu dan kini dari dalam berkeluaran lelaki dengan membawa masing-masing tas koper di tangan mereka.


Dari mobil paling depan, tampak empat orang bodyguard dengan tubuh besar dan kekar berjalan tenang ke arah sebuah mobil Buggati Divo kemudian membukakan pintu lalu membungkuk hormat mempersilahkan sepasang pasangan paruh baya untuk keluar dari dalam mobil tersebut.


Beberapa pengawal yang berdiri di depan pintu masuk kantor besar Future of Company itu tampak berlari membawakan payung lalu dengan hormat mempersilahkan pasangan itu berjalan ke arah pintu masuk.


Sepuluh menit berselang, dari arah Lotus Road, tampak empat mobil super sport dengan di kawal lebih dari seratusan mobil Rolls-Royce bergerak perlahan memasuki area depan kantor itu.


Salah satu dari empat mobil sport yaitu Pagani huayra tampak terus melaju memasuki pintu khusus kemudian masuk ke ruangan lift dan terus menuju ke lantai paling atas dari belasan tingkat bangunan kantor tersebut.


Begitu pintu lift terbuka, tampak mobil Pagani huayra itu perlahan keluar melewati ratusan orang yang berbaris sambil membungkuk lalu berhenti tepat di tengah-tengah barisan itu.


Dua orang lelaki yang tepat berada di samping pintu kiri dan kanan mobil itu dengan hormat membukakan pintu dan kini tampaklah seorang lelaki berusia hampir 45 tahun keluar dari kendaraan super sport itu lalu berdiri memperhatikan sekelilingnya.


Tampak wanita pasangannya melangkah mendekat lalu merapikan jas serta dasi yang dikenakan oleh lelaki paruh baya itu.


"Selamat datang Tuan besar!" Kata para lelaki yang membentuk dua barisan itu menyambut kedatangan lelaki dan wanita tadi.


"Black. Apakah yang lain sudah tiba?" Tanya lelaki itu.


"Menjawab anda Tuan besar. Saat ini, Empat naga ompong sudah tiba. Begitu juga dengan Tuan besar Ivan Patrik dan Nona besar Lorna Walker l bersama dengan putri mereka Xenita Patrik. Juga ada Tuan Jackson dan Tuan Kenny William. Ada Mr.Brylee selaku pemegang kuasa hukum perusahaan, ada Tuan Barry, Tuan Richard, Tuan Tom selaku Manager umum di seluruh hotel dan restoran milik Future of Company, ada Miss Olive selaku manager kepala di Jewel Star, Tuan Isa, Tuan Ricardo, Ronal, Austin dan ada ramai lagi yang hadir termasuk mertua dari Tuan Ivan Patrik yaitu Tuan Samson Walker." Jawab lelaki bernama Black itu.


"Hmmm... Bagus! Sekarang kalian boleh kembali ke posisi masing-masing!" Kata lelaki yang disebut Tuan besar itu.


"Melaksanakan perintah!" Kata Black lalu mengomandoi barisan lelaki yang layaknya seperti tentara itu untuk membubarkan diri lalu mengisi tempat-tempat yang mereka perkirakan bisa dengan mudah untuk mengawasi keadaan.


*********


Ruang rapat umum FOC


Layaknya seperti rapat dalam parlemen, kini tampak sebuah meja besar bundar yang dikelilingi oleh hampir seratusan kursi lengkap dengan pengeras suara di masing-masing bagian yang ada kursinya.


Sementara itu, di atas layaknya seperti sebuah panggung, terdapat empat buah kursi yang kini sudah diduduki oleh empat orang lelaki tua yang tampak sangat tenang. Padahal siapa tau sebelum ruangan itu terisi, mereka sudah saling sikut duluan.


Begitu seorang lelaki yang disebut sebagai Tuan besar tadi memasuki ruangan rapat itu, semua orang kini tampak berdiri dan membungkuk hormat kecuali keempat lelaki tua itu.


"Lihat cucu kita Leon. Semakin dewasa, dia tampak semaki waras." Kata lelaki tua disebelahnya.


"Hahaha. Dia memang mewarisi sifat mu. Kau kan memang sialan." Timpal lelaki tua yang bernama Leon itu.


"Cucu ku yang tidak sinting seperti cucu mu. Lihatlah! Dia sangat karismatik."


"Benar katamu bocah bandel. Ivan memang sangat karismatik. Tapi cucu kami sangat diplomatik." Kata Leon pula.


"Alah. Pokoknya ada tik tik nya. Sudah lah!" Jawab William King.


"Heh Jasson. Mana cucu mu mengapa tidak masuk?" Tanya Tuan Aaron.


"Mungkin dia bersama dengan Clara. Biarkan saja dia bergosip. Lagi pula sudah ada Samson di sini." Jawab Jasson kepala keluarga Walker.


Tak lama setelah itu, tampak Tuan Patrik mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan kepada William King sambil berkata., "Eh. Apa kalian ada membaca berita tentang kejadian di Tower Mall anak perusahaan Jewel Star di kota Kemuning?" Tanya lelaki tua itu.


"Iya. Benar kata Aaron. Aku juga ada membaca berita tentang seorang anak yang membuat kekacauan di Tower Mall." Kata Tuan Walker pula.


"Mengapa? Aku malah baru mendengar dari kalian." Kata Tuan Smith sambil melihat ke arah layar ponsel milik Tuan Patrik.


Di sana dia melihat sebuah gambar seorang anak muda memakai masker sedang duduk di dalam sebuah troli dan didorong oleh seorang lelaki berpakaian putih layaknya seorang manager sambil diiringi oleh banyak staf di belakangnya.


"Foto gila apa lagi ini?" Tanya William King sambil merampas ponsel dari tangan Tuan Patrik.


"Jika aku perhatikan kelakuan anak lelaki dalam gambar ini, aku teringat seperti apa kau waktu muda dulu, King!" Kata Tuan Walker.


"Ya. Bocah sok jenius ini dulu kelakuannya memang seperti setan. Apa kau ingat ketika dulu kita datang ke kantor ayah ku. Kau seharian hanya naik eskalator dan tertawa-tawa seperti monyet baru lepas dari kandang." Kata Tuan Walker.


"Ah. Kau selalu saja mengingat itu. Daripada kau. Diam saja seperti monyet kena siram air. Dikasih roti satu bungkus langsung dia di balik kursi." Balas William King kepada sahabatnya itu.


"Apa lagi ini si Leon. Sok suci. Jaga gaya dan image terus menerus. Ditawari makan malah menolak. Akhirnya kelaparan dan menyusahkan kita."


"Hah... Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu."


"Benar kata mu Jasson. Waktu memang terlalu cepat meninggalkan kita. Kita terlalu sibuk mengejar dunia sampai lupa bahwa begitu banyak moment berharga yang terlewatkan begitu saja." Kata Tuan Patrik.


"Waktu tidak akan bisa kembali. Sesuatu yang sangat jauh itu adalah masa lalu. Selaju apapun kendaraan kita, kita tidak akan bisa sampai lagi ke masa itu. Sebaliknya masa depan. Walaupun merangkak, kita pasti akan sampai juga. Dan pada titik akhir dari hidup ini adalah kematian. Itu pasti. Hutang yang paling menakutkan bagi mereka yang tidak memiliki cukup bekal adalah kematian. Kita tidak akan bisa menghindari takdir yang satu ini." Kata Tuan Leon.


"Makanya di sisa usia ini, kita jangan lagi memikirkan apa itu dunia. Jangan di kejar karena salah satu dari kita pasti akan meninggalkannya."


"Sebuah filsafat hidup mengapa Tuhan memberikan rambut putih di kepala ini. Itu artinya agar kita harus berbenah diri dan memutihkan masa lalu kita yang hitam. Masih ada waktu. daripada kita mengejar dunia, lebih baik tumpukan perhatian untuk saling berbagi. Bukankah hidup ini akan indah." Kata Tuan Patrik.


"Bukankah tujuan kita mengadakan pertemuan ini untuk saling berbagi. Berbagi tanggung jawab melindungi negara ini dari invasi Arold Holding Company yang sudah mulai bercokol di MegaTown." Kata William King.


"Benar kata mu. Kita akan lihat apa isi dari rapat gabungan ini. Aku yakin Jerry William, Ivan Patrik, Ryan Morgan, Riko Obery dan Daniel memiliki jalan keluar dari masalah besar ini."


"Tapi bagaimana dengan gambar pada ponsel mu itu? Siapa anak muda bermasker itu?" Tanya Tuan Smith.


"Nanti kita tanyakan kepada Jerry. Aku menduga bahwa anak ini adalah cicit kalian. Menilik dari tingkahnya, anak ini tidak jauh berbeda dengan dirimu, King!" Jawab Tuan Patrik.


"Sialan kau. Apa kau kira hanya aku saja yang seperti itu? Lalu bagaimana dengan gelar mu si bocah bandel itu?" Tanya William King sambil melotot.


"Hahaha. Benar juga kata mu."


"Ayo berhenti. Rapat akan di mulai." Kata Tuan Leon Smith sambil melintangkan jari telunjuk nya di depan bibir.