Joe William

Joe William
Aksi pertama Joe menelan korban



Ketiga orang yang sejak tadi hanya diam saja menjadi terkejut ketika temannya yang mencoba memberikan tamparan ke arah kepala Joe tadi berteriak kesakitan sambil memegangi tangannya yang sudah bengkok.


"Kurang ajar!" Kata lelaki yang satunya lagi lalu bergerak untuk menyerang Joe. Namun, baru satu langkah dia bergerak, sebutir bola besi dengan telak telah menghantam mata kirinya hingga mengeluarkan darah.


"Mata ku. Mataku buta. Mataku!" Kata lelaki itu panik sambil mendekap matanya dengan tangan.


Tampak darah segar terus menetes diantara sela-sela jari lelaki tadi.


Dia saat ini sama sekali tidak memperdulikan lagi lawannya. Dia hanya bisa jatuh terduduk di samping pintu besar Kryptonite Club' itu sambil terus meraung-raung seperti beruang terluka.


Tanpa menunggu lagi, Joe langsung mengirimkan tendangan kilat kearah salah satu dari dua lelaki yang mematung seperti tergamam dengan kejadian yang begitu cepat.


Begitu tendangan kaki kanan Joe hinggap dengan telak dibagian samping leher lelaki yang tampak linglung itu, seketika itu juga terdengar bunyi bergedebuk laksana sekarung beras.


Bugh!


"Ngek!"


Lelaki itu telah hilang kesadarannya alias pingsan.


Tidak sampai sepuluh menit, telah tiga orang lelaki berbadan tegap yang tumbang ditangan Joe. Hal ini membuat seorang lagi langsung tersadar dan dengan cepat membalikkan badannya kemudian lari pontang-panting ke dalam bangunan itu.


Joe tidak lagi menunggu serangan. Dia segera mencabut Rencong pusaka pemberian dari kakek Tengku Mahmud sembari berkata, "sudah lama kau tidak mandi darah. Ayo nikmati darah segar!" Kata Joe sambil terus melewati lorong menuju ke sebuah aula dimana di sana dia melihat puluhan lelaki sedang menikmati pesta di lantai dasar bangunan club' itu.


"Itu dia orangnya. Itu dia!" Tunjuk lelaki yang tadi sempat melarikan diri.


Melihat wajah lelaki itu, Joe pun teringat bahwa sepuluh orang dari mereka adalah orang-orang yang telah mengeroyok dirinya dan kedua sahabatnya semalam.


"Apa kau masih mengenal ku?" Tanya Joe sambil membuka masker bergambar kucing hitam yang dia kenakan, kemudian cepat-cepat mengenakannya kembali.


"Kurang ajar. Bosan hidup kau rupanya."


"Serang!" Kata lelaki itu sambil melemparkan kursi yang dia duduki ke arah Joe.


Joe hanya menghindari dengan sedikit berkelit. Lalu, dia pun kehilangan kesadarannya ketika Rencong yang berada digenggaman tangannya bergerak kesana-kemari.


Seperti dibetot kekuatan besar yang sangat sulit untuk dia kendalikan, Joe hanya mengikuti saja kemana arah Rencong tersebut menarik tangannya.


Cras!


"Arrrgh...!"


Satu orang tumbang sambil memegangi lehernya. Namun anehnya, tidak setetes darah pun yang keluar dari bekas tebasan Rencong pusaka tersebut.


"Mati kalian semua!" Kata Joe dengan mata yang tiba-tiba seperti menyala dan kembali berkelebat menyerang.


Wuzzz!


Beeet!


Seeeet!


"Maaaak... Mati anak mu Mak!" Teriak seorang lelaki yang tertancap rencong di dadanya.


Tidak sampai 20 menit, tidak seorang pun yang selamat di ruangan itu.


Dengan tangan gemetaran, Joe kembali memasukkan rencong pusaka nya ke dalam sarungnya lalu segera berlari meninggalkan ruangan itu ketika dia mendengar suara gaduh dari lantai dua.


"Celaka kalau aku masih di sini sedangkan mereka terlalu ramai," kata Joe dalam hati.


Sebelum benar-benar meninggalkan bangunan itu, dia berhenti di dekat seorang lelaki yang tadi dia patahkan tangannya.


"Sampaikan kepada majikan mu! Lain kali, hati-hati dalam memilih lawan!" Kata Joe lalu segera berlari cepat dibalik gang kemudian berbelok ke kanan dimana Eagle sedang menunggunya.


"Ayo cepat, Eagle! Mereka sedang mengejar ku!" Kata Joe memerintahkan agar Eagle segera mengemudikan kendaraan mereka untuk segera meninggalkan tempat itu.


Mendengar bahwa ada yang mengejar mereka, tanpa ba bi bu lagi, Eagle yang sudah gemetaran langsung tancap gas menuju Quantum entertainment.


*********


Highland Park


Tepat sekitar pukul 11 malam, mobil yang dikendarai oleh Eagle dan Joe pun akhirnya tiba juga di Highland Park.


Ternyata di sana telah menunggu beberapa orang termasuk Tuan Baron, Xavier dan Herey.


Kecuali Herey, yang lain tampak jelas di wajah mereka terpancar raut kekhawatiran.


Bagaimana tidak khawatir? Keselamatan Joe berada dalam tanggung jawab mereka.


Tuan besar mereka, yaitu Jerry William telah mengamanahkan bahwa Joe harus dijaga oleh mereka. Sedangkan di sini, Joe sama sekali tidak suka untuk di kawal. Hal ini lah yang membuat Tuan Baron seperti menggenggam bara api di tangannya.


Kekhawatiran di wajah Tuan Baron berangsur sirna ketika Eagle membuka pintu mobil di bagian penumpang, dan tampak Joe keluar dengan wajah berkeringat.


Baru beberapa langkah Joe meninggalkan mobil, dari arah dalam, keluar empat orang gadis cantik sambil membawakan sapu tangan.


Ketika keempat gadis itu tiba di depan Joe, mereka langsung membungkuk hormat lalu menyeka keringat di dahi dan wajah Joe dengan lembut dan penuh perhatian.


"Bagaimana, Ketua?" Tanya Herey begitu Joe telah berada di depannya.


"Mereka terlalu ramai. Aku tidak sanggup menyingkirkan mereka semua. Namun, untuk sebuah kolam, mereka telah ku aduk dan mungkin sebagian telah mabuk," jawab Joe sambil memberikan sapu tangan kembali kepada pemiliknya.


"Apakah anda membunuh, Ketua?" Tanya Herey.


"Lebih dua puluh orang yang menjadi korban ku,"


"Tuan muda. Apakah anda membunuh ke-dua puluh orang itu sendirian?" Tanya Tuan Baron tidak percaya.


"Jika kau pernah mendengar cerita tantang orang-orang yang dikirim oleh keluarga Miller ke Indonesia untuk membunuh ku dan mereka pulang tinggal nama, dan mati tanpa kubur, maka kau tidak perlu heran. Aku hanya butuh kata alasan. Jika alasan ku cukup, mencabut nyawa orang bukan hal yang sulit bagiku," kata Joe.


Merinding juga buku roma Tuan Baron dan Xavier mendengar perkataan Joe ini.


"Ternyata kabar itu bukan isapan jempol belaka," pikirnya dalam hati.


"Mulai saat ini, jangan ada pergerakan dulu. Selagi mereka tidak mengusik orang-orang yang terdekat dengan ku, maka aku tidak ingin membuat masalah. Tugas orang-orang Tiger Syam di Highland Park ini untuk sementara adalah berlatih, menjaga keamanan dan mempelajari keadaan. Kapan waktunya tiba, langsung bergerak. Tentunya Paman Herey tau maksud ku, bukan?" Tanya Joe.


"Saya tau, Ketua. Anda tidak perlu khawatir. Urusan seperti ini adalah makanan ringan bagi kami. Clifford terlalu kecil," katanya sambil tersenyum meremehkan.


"R4! Siapkan kamar untuk ku. Aku akan beristirahat di sini. Besok mungkin aku akan mendapat hukuman dari kepala asrama. Pasti besok entah tugas apa yang akan dia timpakan kepada ku," kata Joe seperti mengeluh.


"Jika begitu, saya akan memberikan peringatan kepada kepala asrama itu, Tuan muda," kata Tuan Baron.


Spontan Joe melambaikan tangannya.


"Jangan, Tuan Baron!. Masalah itu biarkan saja berlalu secara alami. Di sini aku adalah Tuan muda. Di kampus aku adalah mahasiswa. Jangan dicampur adukkan!" Kata Joe menolak bantuan dari Tuan Baron.


"Bagaimana baiknya menurut anda saja lah!" Kata Tuan Baron pasrah.


Bersambung...