
Pada pagi yang sama, Tiara yang memang tidak mengetahui apa-apa tentang gejolak di dunia bisnis ketika ini, tetap mengikuti mata kuliah di kampus.
Walaupun banyak tatap mata yang seperti tidak senang dengan dirinya, namun itu semua tidak menyurutkan semangat nya untuk terus belajar.
Setelah kelasnya usai, dia yang merasa perlu untuk mencari keberadaan Joe bagi meluruskan kesalahpahaman diantara mereka mulai mencari keberadaan kekasihnya itu.
Sudah banyak orang yang dia tanyai, namun tidak ada yang mengetahui dimana keberadaan Joe.
Tiara yang merasa harus menjelaskan segalanya kepada Joe akhirnya memberanikan diri untuk bertanya kepada Namora. Dia tau bahwa Namora saat ini mungkin sangat membencinya. Tapi apa boleh buat. Urusan hanya antara dirinya dengan Joe. Namora sama sekali tidak punya hak untuk ikut campur. Begitulah yang ada dalam fikirannya saat ini.
Seperti biasa. Namora yang memang akan selalu duduk sendirian dan tidak suka berada diantara kumpulan mahasiswa yang lainnya merasa tidak senang ketika Tiara menghampiri dirinya.
Dia berusaha untuk mencari tempat duduk yang lain dan tidak sudi melihat wajah Tiara. Namun sebelum dia pergi, Tiara sudah keburu memanggil namanya.
"Tunggu, Namora!" Teriak Tiara dan berlari-lari kecil mengejar pemuda itu.
Namora menghela nafas. Ada riak muak di wajah pemuda itu.
"Kau mau apa?" Tanya nya kemudian.
"Namora. Aku perlu bertemu dengan Joe. Apakah kau tau dia di mana saat ini?" Tanya gadis itu.
"Untuk apa? Jangan seret aku kedalam masalah kalian. Aku tidak punya waktu!" Elak Namora. Kali ini dia benar-benar meninggalkan gadis itu.
Melihat Namora pergi, Tiara tidak membiarkannya begitu saja. Dia pun kembali mengejar pemuda itu.
"Tolonglah aku, Namora! Beritahu di mana Joe saat ini. Aku harus menjelaskan kepadanya bahwa semuanya tidak seperti yang dia bayangkan. Aku benar-benar terpaksa. Jika aku tidak menjelaskan kepada Joe, kemungkinan dia akan terus-terusan menyalahkan aku," kata gadis itu memohon.
"Kamu seharusnya berkaca, Tiara! Joe jelas-jelas sudah memergoki dirimu berdua dengan Honor. Itu sudah sangat jelas. Andai itu adalah Joe, apa kau akan memberikan kesempatan kepada sahabat ku itu untuk menjelaskan ketika kau cemburu kepadanya? Dan, aku beritahu kepada mu satu hal. Karena dirimu, restoran milik Joe, pusat hiburan dan hotel yang berada di gang Kumuh hancur. Kau harus bangga dong!" Kata Namora tersenyum mengejek. Tiara jelas tau arti dari senyuman itu. Itu adalah senyuman sinis yang memojokkan dirinya.
"Namora. Urusan ini adalah antara aku dan Joe. Kau boleh marah. Tetapi ingat batas-batas mu! Kita hanya berteman. Sama seperti kau dan Joe, aku juga adalah sahabat mu. Jika kau tidak mau memberitahu keberadaan Joe, maka jangan terlalu kasar. Kau tidak punya hak untuk itu!" Maki Tiara. Dia lalu segera meninggalkan Namora dengan kesal.
Namora hanya mengangkat pundaknya melihat Tiara yang mulai kesal. Baginya, dia tidak perduli gadis itu mau kesal atau tidak. Yang jelas, dia tidak ingin diganggu. Tanpa berteman dengan siapapun, baginya itu lebih baik. Apa lagi hanya Tiara. Gadis itu sungguh memuakkan baginya.
*********
Siang itu, keadaan di Manor milik keluarga Miller mulai dilanda kepanikan.
Dikatakan panik karena, beberapa perusahaan mulai memutuskan hubungan kerjasama dengan Arold Holding Company. Bahkan, beberapa investor pun kini mulai menarik minat mereka untuk berinvestasi di perusahaan tersebut.
Terhitung sejak pagi tadi, dimulainya serangan oleh Future of Company, nilai harga saham di perusahaan itu mengalami penurunan sebesar 25%. Dan ini dijangkakan tidak akan berhenti sampai di situ saja.
Hal ini tentu saja membuat beberapa diantara mereka mulai menjual saham mereka dan melepaskan diri dari perusahaan yang telah dicap sebagai perusahaan tempat berkumpulnya para Mafia dan Gengster karena kekacauan yang mereka timbulkan di gang Kumuh.
"Kemana Honor ini?" Tanya Tiger Lee yang tampak gelisah. Sejak tadi dia mondar-mandir di ruangan tengah Manor milik keluarga Miller itu persis seperti setrika.
Zacky yang tau kekhawatiran Tiger Lee ini pun menjawab. "Brother Lee. Aku melihat bahwa Tuan besar tadi pergi. Ketika aku tanya, dia menjawab untuk menjemput Tiara di universitas Kota Batu!" Jawab Zacky.
Jawaban ini tentu saja membuat Tiger Lee menjadi sangat geram.
"Beginilah kalau anak terlalu dimanja. Dia tidak tau cara bekerja. Yang dia tau hanya bersenang-senang. Perusahaan ini lama kelamaan bisa bangkrut jika Honor ini terus seperti ini. Yang ada di otaknya hanya bersenang-senang. Celaka sungguh kalau begini terus!" Maki Tiger Lee.
Jelas saja dia khawatir. Ini karena, sejak tadi telepon di Manor itu terus menerus berdering. Belum selesai dia menjawab telepon yang ini, telepon yang itu sudah berdering. Dan isi dari obrolan si penelepon hanya satu, yaitu keluhan terhadap perusahaan yang kini nilai pasarnya terus merosot.
"Sejak awal aku sudah mewanti-wanti. Jika seperti ini terus, perusahaan pasti akan hancur. Beginilah jika jabatan tidak dipegang oleh orang yang semestinya. Honor jelas tidak memiliki kelayakan untuk memegang kendali di perusahaan," omel Tiger Lee panjang pendek.
"Mengapa tidak kau telepon saja ke nomor ponselnya?" Tanya Zacky yang sejak tadi hanya diam saja melihat Tiger terus mengomel.
"Berdering tapi tak dijawab. Sialan sungguh!' maki Tiger Lee. Puas mondar-mandir dan mengomel, dia segera terduduk di atas sofa.
"Buah memang tidak jauh jatuh dari pohonnya. Celaka bagi Kak Adolf Miller memiliki seorang anak lelaki yang tidak kompeten!"
"Lalu bagaimana sekarang?" Tanya Zacky.
Kriiiing...!
Kriiiing..!
Belum lagi Tiger Lee menjawab pertanyaan dari Zacky, kini telepon kembali berdering.
Tiger dan Zacky saling pandang. Lalu.., "kau saja yang menjawab telepon itu! Aku sudah lelah!" Kata Tiger Lee. Terlihat bahwa dirinya saat ini mendapat tekanan yang tidak ringan.
Zacky tidak membantah. Dia segera berjalan menuju dimana pesawat telepon terletak, lalu menjawab panggilan tersebut.
"Hallo..!"
"Hallo Tuan besar!"
"Ini Zacky. Ada apa?" Tanya Zacky.
"Tuan Zacky. Saya adalah manager di pabrik dekat jembatan Tasik Putri. Saya ingin melaporkan bahwa saat ini pihak kepolisian sedang melakukan investigasi. Beberapa perwakilan rakyat serta pejabat yang tidak sempat kita suap juga berada di sini!" Kata sang Manager melaporkan.
"Apa? Celaka. Kau usahakan untuk mengulur-ulur waktu. Pastikan bahwa mereka tidak menemukan jalan menuju ke ruangan bawah tanah!" Kata Zacky dengan panik.
"Baik Tuan!" Jawab sang Manager yang langsung mengakhiri panggilan.
"Ada apa?" Tanya Tiger Lee.
"Celaka. Pihak petugas kepolisian bersama dengan tokoh masyarakat dan ahli dewan perwakilan rakyat sedang melakukan peninjauan terhadap pabrik ikan sarden di dekat jembatan. Aku sudah menyuruh manager tersebut untuk mengatasinya,"
"Hmmm. Makin runyam urusan," keluh Tiger Lee.
"Masalah itu tidak usah terlalu dipikirkan. Kita bisa saja lepas tangan. Masih ada Marven yang akan menjadi kambing hitam. Sebaiknya, kita mulai mempersiapkan diri untuk memindahkan seluruh alat-alat dan barang-barang yang telah siap di produksi. Pabrik itu bukan apa-apa. Tapi, jika barang di ruangan bawah tanah dapat diendus oleh pihak aparat kepolisian, maka kita akan jatuh miskin!" Kata Zacky memperingatkan.
"Ayo!" Kata Tiger Lee. Dia segera mencabut pistol di pinggangnya, menghitung sisa peluru, lalu segera menyelipkannya kembali sebelum berangkat bersama dengan Zacky.
Bersambung...