
"Ayo dipilih.., dipilih.., dipilih. Murah meriah. Hari ini ada diskon spesial buat semua yang belanja di Tower Mall ini."
Tampak Joe sedang berteriak sambil duduk di dalam troli yang di dorong oleh pak Manager.
Andai yang mendorong troli itu bukan orang yang mereka kenal, kemungkinan para costumer akan menganggap bahwa pemuda remaja itu orang gila.
Tapi karena pemuda yang duduk seperti cacing kepanasan dalam troli yang didorong oleh pak Manager kemudian kepala seluruh staf yaitu Miss Aline juga berjalan di belakangnya membuat mereka bertanya-tanya dalam hati siapa pemuda sinting itu.
"Namora. Masker ku sudah basah. Tolong pintakan masker yang baru kepada mereka-mereka ini!" Kata Joe sambil menunjuk kepada orang-orang berpakaian seragam putih-putih yang ternyata adalah para staf di Tower Mall itu.
"Baik Ketua." Kata Namora lalu menatap ke arah salah seorang dari mereka.
Tak lama kemudian seseorang datang membawakan masker untuk diberikan kepada Joe William.
Joe menerima masker itu lalu meminta beberapa orang untuk melindunginya kemudian dia pun mengganti masker nya dengan yang baru.
"Sudah pak Manager. Aku tau fisik mu tidak lelah. Tapi aku yakin batin mu sangat tertekan. Maafkan aku." Kata Joe lalu turun dari troli itu.
"Tawaran ku tadi masih berlaku sampai pukul delapan malam. Setiap yang berbelanja di atas sepuluh juta rupiah, akan mendapat diskon 20%." Kata Joe lalu menghampiri teman-temannya yang terlihat lebih ke arah pengawal baginya.
"Tiara. Kau adalah gadis yang sangat cantik jika didandani. Aku ingin nanti malam ketika makan malam di Martins Hotel, kau terlihat sangat anggun." Kata Joe membuat wajah Tiara bersemu merah.
Gadis remaja itu hanya bisa menyembunyikan wajahnya di balik punggung Lestari.
"Ayo Tiara. Mengapa malu-malu? Sikat!" Kata Lestari dengan bersemangat.
"Aku tidak bisa. Kau saja." Kata Tiara kepada sahabatnya itu.
"Aku kan udah. Giliran mu."
"Aku malu." Kata Tiara lagi.
"Ayo lah Tiara. Tidak perlu malu. Biasa juga malu-maluin." Kata Joe sambil menarik tangan gadis itu lalu berjalan ke arah Miss Aline.
"Bibi Aline. Katakan kepada ku perhiasan apa yang bagus serta gaun apa yang paling sesuai untuk gadis pemalu ini?" Tanya Joe.
"Tuan muda. Kami memiliki beberapa koleksi gaun buatan Prada. Mungkin sangat cocok dengan sahabat anda ini." Kata Miss Aline lalu melanjutkan. "Mari kita naik ke lantai tujuh!"
Setelah berkata demikian, Miss Aline pun langsung mendahului berjalan di depan lalu diikuti oleh manager bawahannya.
Sampai di lantai tujuh, kini mata mereka sangat dimanjakan dengan berbagai aneka pakaian dari berbagai merek dan bentuk.
Melewati toko Gucci, Joe berhenti sebentar. Dia seperti pernah melihat logo Gucci itu tapi entah di mana
Dia lalu melihat-lihat kearah dirinya sendiri lalu tampaklah di bagian kemejanya itu terdapat tulisan Gucci.
"Tuan muda. Silahkan anda berbelanja. Saya akan memberikan laporan kepada Tuan besar." Kata Manager Aline lalu bergegas menuju lift untuk naik ke lantai atas.
Sampai di lantai atas, Manager wanita setengah baya itu langsung mengeluarkan ponselnya lalu membuat panggilan.
"Hallo Aline. Ada apa?"
Terdengar suara di ujung telepon.
"Tuan besar. Saya ingin melaporkan bahwa masalah Tuan muda sudah selesai. Namun ada yang menjadi kekhawatiran ku?" Kata Aline.
"Katakan apa kekhawatiran mu itu?!"
"Begini Tuan Besar. Tuan muda memberikan diskon 20% sampai pukul delapan malam ini. Dia juga memborong banyak sekali barang bersama teman-temannya. Aku khawatir jika tidak dihentikan, Tower Mall akan mengalami kerugian bulan ini." Kata Aline mengadukan semuanya kepada lelaki yang dipanggil Tuan besar itu.
Begitu mendengar ini, lututnya langsung lemas dan tidak berani lagi membuka mulut.
"Terus awasi dia, tapi jangan larang. Aku tau baru kali ini dia bisa bebas melakukan apa saja. Biarkan sesekali dia berbuat sesuka hatinya."
"Baik Tuan besar. Saya akan melakukan perintah anda." Kata Manager Aline dengan wajah pucat seperti tidak memiliki darah.
*********
Saat ini Joe benar-benar kelelahan abis keliling di mall yang memiliki tujuh belas lantai itu. Belum ada seperempatnya yang dia kelilingi, dia sudah kehabisan tenaga.
"Aduh aku cape. Ayo kita pulang." Kata Joe sambil terduduk di atas keranjang berisi barang-barang belanjanya.
"Sudah gila kau Joe. Barang-barang yang kau duduki itu nilainya puluhan juta rupiah." Kata Tiara berbisik ke telinga Joe.
"Ha? Begitu kah?" Kata Joe tercengang lalu buru-buru bangkit.
"Aku tidak tau."
"Kita ini seperti belanja di pasar mini saja. Pake-pake keranjang." Kata Udin tertawa melihat di tangan mereka masing-masing.
"Panggil mereka Namora! Mereka sudah terlalu enak. Kerja di dalam ruangan yang memiliki AC. Tidak pernah cape. Sesekali aku siksa para manager ini biar dia tau bagaimana rasanya menggendong Tengku Mahmud." Kata Joe kepada putra Tigor itu.
"Baik Ketua." Kata Namora lalu segera melambaikan tangannya.
Saat itu tepat Manager Aline menghampiri mereka.
Dengan wajah masih pucat, sang Manager itu pun langsung menghampiri Joe lalu bertanya.
"Tuan muda. Apakah ada sesuatu yang bisa kami lakukan?"
"Oh. Miss Aline. Anda akhirnya datang lagi. Aku tidak bisa berjalan. Sungguh sangat melelahkan. Aku ingin seseorang menggendong ku lalu mengantar kami ke Martins Hotel." Kata Joe.
"Baik Tuan muda. Saya akan memanggil pengawal." Jawab Aline.
"Bukan pengawal. Aku ingin para manager bawahan mu!" Kata Joe yang memang ingin menyiksa para manager itu.
"Baiklah Tuan muda."
Sebentar kemudian lelaki yang mendorong Joe di dalam Troli tadi datang lagi menghampiri pemuda tengil itu dengan wajah yang sangat tertekan.
"Hallo pak. Sudah pukul tujuh sekarang. Aku ingin kembali ke Martins Hotel. Tolong uruskan semuanya untuk ku." Kata Joe sambil enak saja kembali menaiki troli dan menyuruh salah satu dari mereka untuk mendorong nya.
"Miss Aline. Anda atur semua belanjaan kami itu. Antar ke Martins Hotel!" Kata Joe lalu enak saja dia memeragakan seperti orang yang lagi nyetir.
"Ngeeeeng.... Ngeeeeng....! Ayo pak lebih cepat lagi!" Kata Joe.
Kecuali Namora, semua sahabat nya yang berjalan di belakang tidak tahan untuk tidak memegang perut mereka.
Ulah dari Joe ini berkali-kali membuat mereka tersedak.
Nyaris putus nafas pak Manager itu mendorong troli yang di duduki oleh Joe itu menuju kamar lift.
Setelah itu, mereka langsung menuju ke ruang parkir bawah tanah dan mempersilahkan Joe dan yang lainnya untuk masuk.
Tak lama kemudian, rombongan staf itu pun berangkat untuk mengantar tuan muda yang koplak itu menuju ke Martins Hotel.
Baru beberapa jam saja Joe berkunjung, mereka sudah sangat tersiksa. Apa lagi kalau Joe ini bertahan selama sebulan. Mungkin banyak staf yang akan mengundurkan diri.