
Joe, yang kini sudah tersulut emosinya kini mengepalkan tinju. Ketiga tinju nya terkepal, bersembulan urat-urat pada tangan yang sudah biasa terlatih itu.
Tiara, gadis yang tau betul kepada siapa Joe ini berguru segera menggenggam tangan pemuda itu dengan harapan agar dia tidak terbawa emosi.
Perlahan namun pasti, ketegangan di dalam diri Joe mengendur juga.
Sementara itu, dari arah depan tampak enam orang lelaki yang juga berbadan tegap kelihatan seperti tergopoh-gopoh menghampiri toko di mana Joe saat ini terlibat masalah dengan Roger.
Plak!
"Bangsat kau Roger! Berlutut kata ku!"
Kini, salah seorang dari ke-enam lelaki itu menendang betis Roger membuat dia jatuh dengan lutut mencium lantai.
"Maaf jika kami terlambat ketua!" Kata mereka.
"Jika kau tidak cepat datang, aku pastikan orang sombong ini mati." Kata Joe dengan geram lalu menarik tangan Tiara dan Lestari untuk berlalu meninggalkan tempat itu.
Kini tinggallah Roger bersama beberapa orang anak buahnya saling pandang dengan enam orang lelaki yang bertugas sebagai pengawal Joe yang baru tiba tadi.
"Celaka kau Roger. Jika dia mengadukan semua ini kepada bang Tigor, kau bisa mati!"
Wajah Roger saat ini benar-benar pucat seperti mayat.
Kini benarlah dugaannya bahwa lencana yang tergantung di leher pemuda itu adalah lambang ketua organisasi terbesar yang sejak tujuh belas tahun yang lalu berhasil menghancurkan kota batu dan kota Tasik Putri ini.
"Ameng. Bagaimana ini?" Kata Roger dengan wajah seperti kebelet buang air besar dan kecil secara bersamaan.
"Bagaimana apanya? Aku tidak tau jika bang Tigor mengetahui ini, dia pasti akan membuat mu menderita." Kata lelaki bernama Ameng itu lalu menambahkan. "Kau tau siapa anak itu, dari mana asalnya, dan siapa gurunya?"
"Anak itu bernama Joe William anak dari Jerry William penguasa Metro City, Starhill dan kota-kota lainnya. Dia juga berguru dengan maha guru Tengku Mahmud. Kau tau andai orang tua angin-anginan itu tau hah? Jangankan kita. Bang Tigor pun kencing di celana jika orang tua itu sudah marah. Apa lagi kau ini." Bentak Ameng.
"Apa yang harus aku lakukan Meng? Mati aku jika begini. Kalau sampai Lalah tau, lebih mati lagi." Kata Roger mulai memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Masalah mu harus kau selesaikan sendiri. Jika ketua kita itu senang, maka aku rasa masalah ini akan beres sampai di sini. Tapi andai dia tidak menerima kata maaf dari mu, maka persiapkanlah dirimu menerima hukuman sesuai ketentuan dalam organisasi." Kata Ameng lalu mengajak kelima orang lainnya untuk segera mengikuti Joe William.
"Pak, tolong lampu itu dikemas. Aku menginginkan lampu itu sekarang." Kata Roger.
Dia kini berharap bahwa andai dia memberikan lampu itu kepada Joe, dan bisa meminta maaf, maka masalahnya akan selesai sampai di sini. Tapi andai tidak, maka dia hanya bisa pasrah saja.
Ketika ini, Ameng dan kelima anak buahnya sudah berhasil menyusul Joe yang tampak berdiri di samping mobil yang terparkir.
Tampak raut wajahnya sudah sangat jelek karena moodnya sudah rusak akibat kejadian tadi.
"Ketua. Apakah anda masih mau melihat-lihat lagi?" Tanya Ameng begitu dia tiba di samping pemuda itu.
"Pulang sekarang! Mood ku sudah rusak." Kata Joe.
"Baik ketua." Kata Ameng lalu membukanya pintu untuk ketiga muda-mudi itu.
Tak lama setelah itu, iringan enam mobil pun meninggalkan kota Tasik Putri untuk kembali ke kampung Kuala Nipah.
Sepuluh menit berselang sejak mereka meninggalkan kota Tasik Putri, tampak Roger seperti orang linglung mencari ke sana ke mari namun tidak menemukan keberadaan Joe William yang dibuatnya kesal tadi.
"Huh... Celaka sekali aku." Kata Roger sambil mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Ameng.
Namun sampai puluhan kali dia membuat panggilan, Ameng tetap tidak menjawab panggilan itu.
Sementara itu, Ameng yang mengemudikan kendaraan nya dengan kecepatan Tinggi mana sempat untuk menjawab panggilan itu.
*********
Mobil yang membawa Joe, dan Tiara akhirnya sampai juga di Kuala Nipah setelah terlebih dahulu mengantarkan Lestari di kampung Indra sakti.
Tampak riak malas terlihat jelas di raut wajah Joe.
"Terimakasih. Paman." Kata Joe yang langsung berjalan diikuti oleh Tiara.
"Joe. Ada apa dengan mu? Kau masih jengkel ya dengan kejadian tadi?" Tanya Tiara sambil mensejajarkan langkah dengan pemuda itu.
"Tidak. Aku hanya kesal tidak bisa memberikan lampu itu kepada mu. Sudah lah jangan di bahas lagi!" Kata Joe sambil terus saja melangkah menuju rumah Tiara.
"Bibi. Kami sudah kembali. Aku datang mengantarkan Tiara." Kata Joe.
"Wah mengapa kalian cepat sekali pulangnya?" Tanya Ibu Tiara.
"Tidak apa-apa Bi. Aku pamit dulu. Nanti kalau aku terlambat, kakek akan marah. Kalau dia marah, pasti aku tidur di luar malam ini." Kata Joe.
"Oh ya sudah. Hati-hati di jalan. Jalan ke rumah mu gelap."
"Iya Bi. Terimakasih." Kata Joe lalu segera melangkah meninggalkan rumah Tiara tersebut.
Joe terus saja melangkah menuju ke rumah tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan lagi.
Dia terus saja berjalan sambil diperhatikan oleh Ameng yang kini tampak sedang menjawab telepon dari seseorang.
"Halo Roger."
"Meng. Di mana kau sekarang?" Tanya si penelepon yang ternyata adalah Roger itu.
"Aku baru saja tiba di Kuala Nipah mengantar Ketua. Ada apa lagi kau?" Tanya Ameng seperti tidak senang.
"Meng. Aku merasa tidak enak hati malam ini. Aku bermaksud untuk menyerahkan lampu antik ini kepada ketua sebagai tanda permintaan maaf ku." Kata Roger.
"Terserah kau lah. Aku tidak mau ikut campur dalam masalah kau ini. Kau yang bermasalah, maka kau selesaikan saja sendiri." Kata Ameng.
"Meng. Tolong bantu aku sekali ini Meng." Kata Roger memohon.
"Kau datang saja ke sini sekarang. Sudah. Jangan banyak permintaan lagi." Kata Ameng lalu mengakhiri panggilan.
Hampir satu jam berselang, kini tampak tiga unit mobil berjalan perlahan menuju dimana Ameng dan anak buahnya memarkir kendaraan mereka.
Kini dari empat unit mobil itu, tampak sekitar delapan orang lelaki keluar lalu menghampiri mobil milik Ameng.
"Meng. Tolong bantu aku kali ini Meng! Jika kau tidak membantu ku, maka mati lah aku kali ini." Kata Roger begitu dia tiba di dekat Ameng.
"Bantuan yang seperti apa yang kau inginkan?" Tanya Ameng dengan cuek.
"Tolong katakan kepada ketua bahwa aku telah sampai di Kuala Nipah ini dan ingin memberikan lampu antik ini kepadanya sebagai tanda permintaan maaf dari ku." Kata Roger.
"Gila kau. Sudah pukul berapa ini. Jika nanti dia semakin marah karena merasa terganggu, maka itu akan semakin mengeruhkan keadaan." Bentak Ameng yang sejak semula memang tidak menyukai Roger ini.
"Dia yang berbuat salah, masa iya aku yang sibuk." Kata Ameng mengutuk di dalam hatinya.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Tanya Roger yang sudah terlihat seperti kehabisan akal.
"Kau tunggu lah sampai besok. Berdiri saja dengan tulus di depan rumah Tengku Mahmud. Mudah-mudahan dengan usaha mu ini, Ketua akan memaafkan mu."
"Begitu ya?"
"Ayo tunggu apa lagi?! Pergi berdiri di halaman rumah Tengku Mahmud. Kemudian esok pagi, ketika ketua sudah bangun, kau langsung meminta maaf. Mudah-mudahan dia mau memaafkan." Kata Ameng pula.
"Baiklah. Aku akan melakukan seperti yang kau katakan." Kata Roger lalu bersama dengan anak buahnya, dia pun berdiri di depan rumah Tengku Mahmud sampai pagi dengan harapan, agar Joe mau memaafkan dirinya.