
Di kediaman keluarga Miller, tepat dipinggiran kompleks elite Tasik Putri, saat ini Honor terlihat sedang sibuk mengacak-acak puluhan lembar foto aktifitas para mahasiswa yang melakukan penelitian dan mengambil sampel dari air sungai untuk mereka uji di laboratorium di universitas Kota Batu.
Jelas ini adalah kegiatan yang sangat mengancam bagi keberadaan keluarga Miller di kota Tasik Putri, bahkan di negara ini. Mereka bisa terusir untuk yang kesekian kalinya andai penelitian yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa dari beberapa universitas ini berhasil. Karena, jenis limbah ini adalah jenis yang lain dari yang lainnya. Karena ada ribuan jenis kimia yang terkandung pada limbah tersebut, yang sangat berdampak buruk terhadap lingkungan.
"Aktivitas yang mereka lakukan ini benar-benar mengancam kita. Bagaimana cara kalian mengatasi masalah ini? Mengapa aku baru diberitahu setelah keadaan menjadi genting seperti ini?" Bentak Honor kepada lelaki besar dan berotot. Lelaki itu adalah Bruno, sahabat Douglas yang awal mula dikirim ke negara ini beberapa tahun yang lalu.
"Maafkan kelalaian kami ini, Tuan besar. Tadinya kami mengira bahwa ini hanyalah masalah kecil yang ditimbulkan oleh sekelompok anak-anak. Makanya kami merasa sangat yakin akan dapat mengatasi masalah ini," jawab Bruno tertunduk.
Plak!
Honor membanting lembaran foto tadi di atas meja. Sehingga, ada beberapa diantaranya yang jatuh ke lantai. Termasuk foto Tiara yang benar-benar berada di posisi paling atas.
"Sialan kalian semua! Mereka itu adalah mahasiswa. Kelompok orang-orang yang terpelajar. Salah besar jika kalian menganggap mereka itu adalah kelompok anak-anak. Badan mu saja yang besar. Tapi otak mu kerdil!" Maki Honor yang tiba-tiba terdiam ketika melihat ke arah salah satu foto yang jatuh tadi.
Honor segera menyuruh Bruno untuk mengambil foto tersebut. Padahal posisi foto itu tepat di ujung kakinya.
"Ambil foto itu! Apakah aku harus membungkuk untuk memungutnya?" Bentak Honor ketika melihat Bruno tampak sangat lambat.
Bruno langsung membungkuk dan mengambil foto gadis yang terjatuh di lantai akibat dihempaskan dengan geram oleh Honor tadi, lalu menyerahkannya kepada pemuda sombong tersebut.
Honor merampas beberapa lembar foto tadi dari tangan Bruno.
Dia memperhatikan beberapa foto tadi, lalu mengambil satu dan membuang sisanya sesuka hatinya hingga foto-foto itu kembali berserakan di lantai.
Bruno yang melihat tingkah laku dari tuannya itu hanya bisa tertunduk dengan tangan bersedekap di bagian pahanya.
"Gadis ini. Wajahnya melambangkan ketimuran. Kau tau siapa dia?" Tanya Honor sembari menghadapkan bagian depan pada gambar tadi kepada Bruno.
Bruno spontan menggelengkan kepalanya.
"Apa yang kau ketahui. Susahnya berbicara dengan mu,"
"Ambil foto ini, dan cari tau siapa wanita ini. Yang pastinya, dia adalah salah satu dari mahasiswa yang melakukan penelitian. Sebarkan anak buah mu. Aku beri waktu untuk mu selama tiga hari. Jika tidak berhasil, kau kembali saja ke Victoria peak. Jangan datang lagi ke sini!" Ancam Honor Miller.
"Baik, Tuan besar. Saya akan berusaha!" Jawab Bruno mengangguk patuh.
"Apa maksud mu dengan akan berusaha? Bukan akan. Tapi harus! Mengerti?" Bentak Honor marah.
"I-i-iya, Tuan. Sa-sa-saya mengerti!" Jawab Bruno tergagap karena mendapat bentakan tadi.
"Pergi sekarang!"
"Baik, Tuan!"
Bruno segera bergegas meninggalkan ruangan itu, tanpa menunggu perintah untuk kali ke dua. Baginya, semakin cepat meninggalkan ruangan itu, akan semakin baik, sehingga dia tidak lagi menjadi bulan-bulanan kesombongan Honor.
*********
Gang Kumuh.
Pada hari yang sama, Douglas, yang dikirim oleh Tiger Lee telah tiba bersama dengan sekitar dua puluh orang anak buahnya.
Mereka memang sengaja dikirim untuk melindungi Marven dari buruan orang-orang geng tengkorak.
Memang, saat ini Marven masih aman. Ini karena beberapa orang anggota dari geng tersebut sedang menghadapi hukuman dari pihak kepolisian, sehingga mereka saat ini tidak berani untuk memburu Marven karena merasa selalu di intai oleh aparat kepolisian. Namun, itu pasti tidak akan lama.
Bagi mereka, Marven adalah kambing hitam yang sangat berguna untuk menalangi mereka andai suatu saat borok mereka di kota Tasik Putri ini terbongkar.
Selain itu, mereka akan mengiming-imingi kelompok geng Tengkorak dengan uang agar mau bekerja di bawah mereka.
Sebagai orang lokal, tentu tenaga dan pengetahuan mereka sangat dibutuhkan. Bahkan, untuk menambah kekuatan yang telah ada.
Saat itu, Marven yang bersembunyi di Gang Kumuh atas saran dari Karman, kaget ketika menerima kedatangan Douglas. Karena, tidak ada yang tau tempat persembunyiannya selain dirinya dan Karman.
Tok tok tok..!
Terdengar suara pintu diketuk dari luar yang membuat Marven terkejut.
Dia segera melirik ke arah kamera pengintai, dan dapat mengetahui ada sekitar 20 orang berdiri di depan pintu.
"Bangsat ini. Andai dia ingin memburu ku juga, aku pasti akan membunuh setidaknya satu peluru, satu orang," kata Marven dalam hati, sambil menyiapkan pistolnya, dan terus memandang tajam ke arah layar Doorcam.
Tok tok tok..! "Tuan Marven. Apakah anda ada di dalam? Saya adalah Douglas. Utusan dari Honor Miller. Jika anda ada di dalam, segeralah buka pintu. Ada hal-hal yang ingin saya bicarakan dengan anda," ujar lelaki yang mengaku bernama Douglas tadi.
Tidak ada jawaban, selain pintu yang mulai terbuka.
Begitu pintu terbuka, kedatangan Douglas langsung disambut dengan todongan pistol yang menempel di keningnya.
"Apa maksud anda, Tuan Marven?" Tanya Douglas sambil mengangkat kedua tangannya.
"Katakan kepadaku. Apa maksud kedatangan kalian kemari? Apakah kalian juga yang membunuh Irfan?" Tanya Marven.
"Anda pasti tau bahwa kami tidak akan mengotori tangan kami untuk nyawa Irfan. Lagi pula, apa untungnya bagi kami?" Jawab Douglas.
"Masuk!" Suruh Marven sambil masih memegang pistol miliknya.
"Tuan Marven. Apakah anda tau kemana menghilangkannya istri anda?"
"Apa maksud mu dengan menanyakan istri ku?"
"Hahaha. Anda terlalu naif, Tuan. Anda lupa siapa istri anda. Dia tidak akan kembali lagi kepada anda. Karena, saat ini dia telah menyusun kekuatan, dan mengumpulkan seluruh anggota geng Tengkorak. Setidaknya, itu yang kami ketahui sebelum Irfan terbunuh," lalu Douglas menceritakan semuanya kepada Marven. Mulai dari Butet menghilang, kemudian permintaan bantuan oleh Irfan untuk melindungi Marven demi 30% saham yang dia miliki, sampailah kepada terbunuhnya Irfan karena ketahuan mengkhianati geng Tengkorak yang sebelumnya sempat bekerjasama dengannya.
Mendengar penjelasan ini, Marven awalnya tidak percaya begitu saja. Tapi, setelah dipikir-pikir, ada kebenarannya juga dari apa yang disampaikan oleh Douglas tadi.
Butet ini adalah satu-satunya keturunan Birong yang tersisa. Karena Butet adalah anak Togar, dan Togar adalah adik kandung Birong. Berarti, sebagai ahli waris dari banyaknya aset yang dimiliki oleh mendiang Birong, bukanlah hal yang sulit baginya untuk kembali mengumpulkan orang-orang dari geng Tengkorak yang selama ini bercerai berai.
Satu kebodohan yang dia rasa adalah, betapa dia telah dipermainkan oleh Butet selama ini.
Dia percaya bahwa Butet keguguran, padahal menurut Tigor, anak yang dikandung oleh Butet memang sengaja digugurkan.
Kesimpulan yang didapat oleh Marven adalah, berarti Butet ingin menguasai perusahaan Martins Group.
Demi aset miliknya, Butet berusaha untuk bersandiwara, selama ini. Celaka sungguh.
Bersambung...
Like itu gratis! Jadi, jangan lupa ya!