Joe William

Joe William
Menjemput Albern



Pada hari yang sama dengan pak Madun yang mengajukan pinjaman di koperasi kampung Kuala Nipah, sore itu di bandara internasional Kuala namu, dua orang anak buah Tigor tampak sedang menunggu kedatangan seorang yang sepertinya sangat istimewa bagi mereka.


Istimewa dikatakan karena, untuk menjemput orang ini saja, hanya ada dua orang saja yang menjemput di bandara, tapi, terhitung hampir lima ratus orang ditempatkan di setiap titik-titik rawan. Dan ini semua atas perintah dari Joe William.


Siapakah orang istimewa ini? Dia adalah Albern Miller. Sepupu Honor Miller yang telah dikhianati dan terbuang dari keluarga Miller.


Dua hari setelah sampainya Honor di Indonesia, Albern Miller pun menyusul. Dan ini juga adalah hasil rundingan antara dirinya dengan Joe.


Joe tau andai Honor mengetahui bahwa Albern akan datang ke Indonesia dan saling bahu membahu untuk menentang dirinya, maka tidak mustahil Honor akan mengirim orang-orangnya untuk mencelakai pemuda itu.


Joe yang tau akan hal ini bukannya merahasiakan keberangkatan Albern dari Macau ke Indonesia. Dia dengan ugal-ugalan malah menyuruh orang-orangnya untuk menyebarkan gosip bahwa Albern akan segera tiba di Indonesia pada hari ini. Tujuannya sederhana saja. Ingin membantai anak buah Honor yang dibantu oleh anak buah Marven yang dikendalikan oleh Irfan.


Semua informasi sudah didapatkan oleh Joe dari Tigor yang juga mendapatkannya dari Karman. Dengan begitu, maka lengkaplah sudah strategi dan taktik yang dipersiapkan oleh Joe untuk memerangkap anak buah Honor Miller.


Sementara itu, tidak jauh dari bandara, satu unit mobil Audi Q3 tampak terparkir di pinggir jalan yang sepi dari area perumahan.


Di dalam mobil tersebut, tampak Joe sedang duduk malas-malasan dengan didampingi oleh seorang lagi pemuda yang sebaya dengannya. Pemuda itu adalah Namora yang terlihat sangat serius memperhatikan ke arah bandara, terutama mobil orang suruhan ayahnya.


"Joe. Kau jangan tidur-tiduran! Perhatikan juga sekeliling mu!" Kata Namora memperingatkan.


"Untuk apa ada kau jika aku juga yang harus memperhatikan. Lakukan tugas mu! Aku mau tidur!" Kata Joe sambil menyetel kursi mobilnya dan menaikkan kakinya didekat kaca mobil.


Bungkam seketika mulut Namora mendapat jawaban dari Joe tadi. Dia menarik nafas sejenak, lalu kembali memperhatikan keadaan di sekitar jalan menuju bandara tersebut.


Beberapa mobil memang tampak berasal dari kota Tasik Putri. Itu dapat terlihat dari plat nomor kendaraan pada kendaraan tersebut.


Namora mulai meremas sisi steering mobil yang dia kendarai bersama dengan Joe tadi. Ada kegeraman dihatinya melihat bahwa saat ini, pihak dari Honor tampak sangat serius untuk mencelakai Albern.


"Sudah ada sepuluh kendaraan yang datang dari kota Tasik Putri!" Kata Joe kemudian.


Namora terheran-heran. "Bagaimana Jin ini bisa tau, padahal matanya terpejam?" Kata Namora dalam hati.


"Berapa harga mobil ini, Namora?" Tanya Joe.


"Menurut Ompung Lalah, harga mobil ini 1 miliar!" Jawab Namora. Tapi dia segera bertanya. "Ada apa? Mengapa kau menanyakan harga mobil ini?"


(Ompung bahasa Batak, \= Kakek dalam bahasa Indonesia)


"Tidak apa-apa. Kemungkinan mobil ini akan rusak berat. Kau keluar! Kita tukar posisi. Biar aku yang bawa!" Kata Joe yang langsung menurunkan kakinya dari dasboard mobil tersebut.


Namora menuruti saja. Dan benar saja, baru saja dia kembali masuk ke mobil dan menduduki kursi tempat Joe tadi, dari arah bandara, kini mobil Ucok dan Jabat yang mendapat tugas menjemput Albern telah melintasi jalan raya sambil diikuti oleh beberapa unit mobil dari belakang.


Begitu Namora selesai memasang sabuk pengamannya, Joe segera melecut kecepatan mobil tersebut yang langsung melompat seperti seekor kuda yang kebelet buang hajat.


"Kirim pesan untuk menunggu di perbatasan tanjung karang dan Kota Kemuning!" Kata Joe memerintahkan.


Namora segera mengirimkan pesan melalui group WhatsApp yang langsung dibalas oleh mereka dengan tanda siap!


"Paman Ucok! Gas full rem sikit! Hahaha!" Kata Joe melalui intercom yang dia pakai.


Tidak ada jawaban dari Ucok. Melainkan, suara berderum dari kenalpot mobilnya yang mengeluarkan suara bising disertai melesatnya mobil yang dibuntuti oleh belasan mobil dibelakangnya tersebut.


Di dalam, Albern terlihat heran dengan perubahan dari sikap orang yang menjemputnya tadi. Dengan sedikit sungkan, dia pun bertanya, "ada apa Tuan Ucok? Sepertinya ada sesuatu yang membuat anda harus menambah kecepatan mobil ini?"


"Ada tikus yang ingin mencari mampus. Kita akan menjebak mereka di perbatasan!" Jawab Ucok sambil sesekali melirik antara Jabat dan kaca spion.


Mendengar jawaban ini, tau lah Albern bahwa mereka sedang dibuntuti. Ini pasti ada hubungannya dengan obrolan antara dirinya dan Joe melalui telepon beberapa hari yang lalu.


"Ternyata Honor ini masih belum puas juga setelah membunuh Ayah ku. Sekarang, dia ingin mencelakai aku juga. Kelak, ditangan ku ini lah nyawamu berakhir!" Gumam Albern dalam hatinya. Dia masih ingat dengan perlakuan Ayah dari Honor yaitu Adolf Miller yang sifatnya sangat keji dan itu dia wariskan kepada Honor putranya.


Honor yang sangat tamak dan rakus ini sebelas dua belas dengan ayahnya. Tidak pernah mau disalahkan, selalu ingin menang sendiri dan selalu ingin menjadi yang paling berkuasa.


Sementara itu, jabat tampak tenang-tenang saja. Sama sekali tidak menganggap bahwa orang-orang yang membuntuti mereka adalah ancaman yang sangat berbahaya.


"Kita hanya bertiga. Sedangkan mereka terlalu ramai. Apakah kita mampu meloloskan diri dari mereka, Tuan?" Tanya Albern ragu.


"Hahaha. Apa yang anda khawatirkan, Tuan Albern? Tidak ada yang perlu anda khawatirkan. Ini negara kami. Mereka, termasuk anda hanyalah tamu. Anda tau jika tamu yang datang itu tidak sopan? Maka, sang pemilik rumah berhak untuk mengusirnya. Mereka ingin bermain dengan kami yang sudah lama tidak bergelimang darah. Terakhir kali tangan ku ini berlumuran darah sekitar dua tahun yang lalu di perbatasan kota Batu. Dan itu juga adalah ulah dari keluarga Miller. Maaf, tapi bukan Miller anda!" Kata Jabat.


"Maksud Tuan, apakah ketika mereka mengutus Sean?"


"Benar. Jika dulu target mereka adalah ketua kami, sekarang, target mereka adalah anda. Keselamatan anda adalah tanggung jawab kami. Anda tidak perlu khawatir. Lihat mobil yang paling belakang itu! Itu adalah mobil yang dikendarai Joe dan Namora!" Jawab Jabat sambil melirik ke arah kaca spion.


"Ya. Saya melihatnya. Aku sempat mengira bahwa Joe hanya mengutus Tuan berdua saja. Ternyata dia menyembunyikan diri!" Kata Albern yang merasa terhormat karena sebenarnya Joe juga turut menjemput kedatangannya walau tidak secara langsung.


"Joe William itu orang yang setia kawan. Bersahabat dengannya adalah keberuntungan bagi anda, jika tidak bisa dikatakan berkah. Dia pasti akan membantu anda dengan kekuatan yang dia miliki!"


"Ya. Aku juga berharap begitu, Tuan Jabat!" Harap Albern penuh harap.


Bersambung...


Like, Vote dan Komentar positif dari para pembaca adalah mood booster buat ku!