
Irfan benar-benar di buat pusing atas beberapa masalah yang akhir-akhir ini terjadi.
Setelah kembali dari villa milik mendiang Birong di bukit batu - Kota Batu, dia yang memiliki rencana lain ingin langsung bertindak untuk mengawasi Marven agar tidak dicelakai oleh Butet.
Tujuannya tersebut bukanlah karena ingin melindungi Marven atas dasar hubungan persaudaraan. Melainkan, demi menjaga agar 30% saham yang berada di tangan Marven tidak jatuh ke tangan Butet setelah kematiannya. Bagaimanapun, dia yang harus memiliki 30% saham tersebut. Itulah tujuan utamanya. Namun, sampai saat ini dia benar-benar dipusingkan oleh hilangnya orang-orang kepercayaannya seperti Panjol, Mokmok dan Ganjang.
Itu baru tiga orang kepercayaannya. Belum lagi berita menghilangkannya Ferdy juga mau tidak mau harus menyita pikirannya juga. Bagaimana mungkin seorang polisi bisa menghilang begitu saja.
Tiba di kawasan Kompleks elite Tasik Putri, dia juga tidak menemukan Marven di sana. Dia yang telah memindahkan istrinya entah di mana, kini hanya melihat ibu nya Marven yaitu Venia yang tinggal sendirian di rumah besar tersebut.
"Kemana perginya semua orang? Panjol, Mokmok dan Ganjang menghilang. Ferdy menghilang. Sekarang Marven dan ajudannya juga menghilang. Ada apa semua ini?" Pikirnya dalam hati.
Saat ini, hanya ada satu nama yang terlintas dalam benak Irfan. Yaitu, menemui Dhani anak Panjol. Mungkin pemuda itu tau di mana ayahnya berada.
Berfikir sampai di situ, Irfan segera menginjak pedal gas dan melaju ke arah kota batu, dimana Panjol membuka usaha dengan mendirikan pusat hiburan di sana.
Sementara itu, berita tentang hilangnya Ferdy juga sampai pada telinga keluarga Miller.
Baik Honor, Zacky, dan terlebih lagi Tiger Lee juga turut memperbincangkan hangat di kalangan pendatang asing kurang ajar tersebut.
Tiger Lee. Yang telah lama merasakan keanehan tentang kekuatan yang dimiliki oleh Joe William ini benar-benar tidak merasakan ketenangan dihatinya. Dia meragukan apakah Joe William ini benar-benar lemah seperti yang mereka gambarkan? Rasanya tentu tidak. Karena, Joe ini jelas bisa berbuat sesuka hatinya. Jika dia mengatakan menginginkan Ferdy, tidak perduli orang itu adalah anggota senior di kepolisian, pasti dia akan mendapatkan apa yang sudah menjadi targetnya. Dan ini jelas dia ketahui dari ucapan penuh ancaman dari Tigor beberapa hari yang lalu dalam pertemuan mereka di salah satu restoran di Tasik Putri ini.
Sebenarnya, Tiger sudah lama ingin mengorek informasi dari Albern tentang gambaran seperti apa kekuatan yang dimiliki oleh Joe William. Tapi, bukannya mendapat bocoran, Albern malah mengajaknya untuk meninggalkan Honor dan bergabung dengannya bagi merebut hak sebagai kepala keluarga Miller. Jelas saja Tiger menolak walau dalam hatinya tidak sepenuhnya menolak. Karena, walau bagaimanapun, Albern juga memiliki hak yang sama dengan Honor atas kursi kepala keluarga Miller.
"Paman. Apa yang terlihat tidak sama dengan yang sesungguhnya. Aku sarankan, berdiri lah di sisi ku! Jangan melawan arus agar tidak hanyut. Kau akan kelelahan. Kau hanya sendirian. Sedangkan Joe memiliki hampir segalanya. Kau tidak akan mampu. Kau ingin mengharapkan Zacky yang rakus itu? Liem yang gendut dan Kim si lintah darat itu? Hahaha. Jangan berkaca di air yang keruh, Paman! Apa lagi Kakek Cheung. Tidak ada yang bisa dia lakukan. Power nya telah lama terkikis usia. Berdiri di barisan ku agar aku bisa meminta kepada Joe supaya kau tidak diapa-apakan!" Begitulah nasehat Albern ketika mereka bertemu beberapa hari yang lalu di kota Kemuning tanpa sepengetahuan Honor.
*********
Setelah beberapa jam berkendara, akhirnya Irfan sampai juga di Kota Batu.
Begitu tiba di depan pusat hiburan yang dikelola oleh anak Panjol, dia segera memarkir mobilnya sembari memperhatikan di sekitar bagian depan pusat hiburan itu.
Ketika sudah berada di luar, ada perasaan asing yang dia rasakan. Ini karena, banyak wajah-wajah yang tak ramah mulai terlihat.
"Masa bodoh lah!" Gumam Irfan dalam hati. Dia terus saja berjalan memasuki pusat hiburan tersebut dan duduk di kursi tepat di depan bar.
Begitu melihat siapa yang datang, wanita penjaga bar itu pun segera menuangkan sampanye yang langsung ditenggak oleh Irfan sampai kandas.
"Hei. Panggilkan Dhani! Aku ingin bertemu dengannya!" Kata Irfan dengan wajah memerah akibat pengaruh alkohol yang dia minum tadi.
"Maaf Bang Irfan. Sudah dua hari ini Dhani tidak datang. Boss pun tidak juga datang. Bahkan sudah empat hari!" Jelas penjaga bar tadi merujuk kepada Panjol.
"Aneh. Kemana semua orang? Nomornya juga tidak aktif," kata Irfan dalam hati. Kini dia benar-benar dihadapkan dengan dilema. Padahal, dia tidak tau bahwa keluarga Panjol saat ini berada dalam pengawasan orang-orang yang dikirim oleh Tigor. Bahkan keluarga Mokmok dan keluarga Ganjang juga berada dalam pengawasan orang-orang dari Dragon Empire.
"Ya sudah. Kalau nanti salah satu dari mereka datang kemari, suruh mereka untuk segera menghubungi aku!" Kata Irfan sebelum berlalu pergi.
"Baik bang!" Jawab wanita penjaga bar tadi dengan sopan.
Begitu Irfan keluar dari pusat hiburan tersebut, dia pun kini tidak tau lagi harus kemana mencari keberadaan kaki tangannya. Kini dia benar-benar merasa buntu dan tidak tau harus berbuat apa.
Selesai baca wajib like.
Bersambung...