
Sudah tiga hari Tiara tidak datang ke kampus. Hal ini tentu saja membuat para mahasiswa yang tergabung dalam penyelidikan terhadap limbah pabrik di dekat jembatan Tasik Putri menjadi bertanya-tanya.
Bagaimana mereka bisa melaporkan pabrik tersebut dan menyeretnya ke jalur hukum jika sampel penelitian berada di tangan Tiara.
Namun, penantian mereka sepertinya tidak lebih dari tiga hari. Karena, satu unit mobil Honda jazz berwarna merah memasuki pelataran kampus.
Ramai diantara mereka yang bertanya-tanya, mobil siapakah itu. Mengingat, tidak ada mahasiswa di kampus ini yang mengendarai mobil Honda jazz berwarna merah menyala.
Dalam pertanyaan hati mereka tentang siapa yang mengendarai mobil tadi, kini mereka semua sama-sama terbelalak melihat siapa yang turun dari mobil tersebut. Dan, ternyata orangnya adalah Tiara. Hanya saja, perubahan gadis ini sungguh sangat drastis. Di mulai dari pakaian, sampai ke perhiasan terlihat memiliki harga yang tidak murah. Tiara juga tampak cuek melewati anak-anak J7 yang masih tidak percaya dengan penampilan baru gadis itu.
"Ada apa dengan Tiara? Mengapa dia begitu berbeda? Apakah ayahnya menang togel?" Tanya Jaiz becanda.
"Husy! Jaga bicaramu, Jaiz! Orang tua Tiara itu taat ibadah. Mana mungkin dia membeli togel," sergah Juned pula.
"Tiara!" Seru Jericho kepada gadis itu.
Tiara hanya menoleh sejenak, lalu dia segera berlalu.
"Aneh. Apa sebenarnya yang terjadi dengan Tiara ya? Apakah dia mendadak jadi sombong?" Tanya Jericho kepada kawan-kawannya.
"Entahlah. Mana aku tau. Nanti kita tanyakan kepadanya. Sekarang, ayo kita ke kelas dulu!" Ajak James kepada kelima sahabatnya.
Mereka lalu segera berlalu dari tempat itu sambil diperhatikan oleh dua orang pemuda yang duduk agak jauh dari tongkrongan anak-anak J7 tadi.
"Ada yang tidak beres, Joe!" Kata seorang pemuda berwajah dingin yang berdiri di samping pemuda bernama Joe tadi.
"Sudahlah! Aku tidak punya banyak waktu mengurusi hal-hal yang terlalu remeh. Tiara memang sudah jauh berubah. Buat apa mengurusi dia? Kepala ku hanya satu. Jika semua harus aku fikirkan dalam satu waktu, bisa gila aku,"
"Kau yakin tidak ingin mencari tau? Kau bisa tambah gila jika nantinya dia semakin jauh darimu,"
"Tumben kau bijak, Namora? Apakah Xenita Patrik yang mengajarimu?" Tanya Joe kepada sahabatnya itu.
Mendengar Joe menyebutkan nama Xenita, pemuda bernama Namora tadi mendadak pucat. Kerongkongannya juga terlihat turun naik.
"Mengapa? Kau takut dengan Xenita? Aku heran dengan mu. Apa kau normal?" Tanya Joe mengejek.
"Aku masih normal. Panjang ceritanya. Nanti kalau ada waktu, akan ada kisah ku tersendiri," kata Namora pula.
"Aku akan mencari tau, apa penyebab dari perubahan sikap Tiara ini. Apa kau setuju?" Tanya Namora kepada Joe.
Joe mengangguk lemah. Dia dapat merasakan perubahan gadis itu yang membuat dadanya mendadak sesak. Hanya saja, ego darah mudanya yang membuat dia juga harus mempertahankan gengsinya. Padahal, dia juga tidak akan mampu terlalu lama berselisih paham dengan Tiara. Terlalu banyak kenangan manis bersama dengan gadis itu yang tidak dapat dinilai dengan apapun.
"Kalau kau tidak keberatan," kata Joe lemah.
Namora faham perasaan sahabat sekaligus atasannya itu. Walau bagaimanapun, dia juga dulu pernah merasakan bagaimana rasanya mencintai, dan pernah juga merasakan takut kehilangan.
"Aku sudah lama tidak berhubungan dengan Paman Sugeng. Apakah dia masih berada di Kuala Nipah?" Tanya Joe kepada Namora.
"Masih. Dia juga sangat sibuk. Akhir-akhir ini, banyak terjadi kekacauan di proyek milik mu di Kuala Nipah," jawab Namora.
"Keluarga Miller ini. Membuat ku menjadi semakin bernafsu untuk menghisap darah nya," kata Joe dalam hati.
Dia tidak berbicara sepatah katapun lagi. Bahkan dia tidak terlalu perduli dengan langkah kakinya yang berjalan meninggalkan Namora.
Namora memperhatikan saja kepergian Joe. Dia tau bahwa Joe ini sedang berada dalam dilema. Maka dari itu, dia ingin memberi ruang kepada sahabatnya itu untuk sendiri.
*********
Seorang gadis tampak dicegat oleh beberapa orang mahasiswa dan mahasiswi tepat di area parkir kampus.
Gadis yang di cegat itu tidak lain adalah Tiara. Sementara yang mencegatnya adalah anak-anak J7 dan beberapa orang lainnya yang tergabung dalam kelompok mereka ketika menyelidiki pabrik milik keluarga Miller didekat jembatan Tasik Putri.
Berbagai pertanyaan dilontarkan dari mereka kemana Tiara pergi selama tiga hari ini. Lalu, kemana pula hasil penelitian yang mereka lakukan. Adapula pertanyaan apakah Tiara sudah menyerahkan bukti tersebut ke kantor polisi Kota Batu?
Awalnya Tiara tidak ingin menggubris pertanyaan dari mereka. Ini karena, dia ingat pesan dari ayahnya, dan tekanan dari Honor yang mengancam akan mengusir orang-orang yang berhutang di koperasi miliknya.
Sumpah demi apa saja, ketika itu Tiara menolak untuk dekat dengan Honor. Tapi, begitu dia melihat kehidupan orang-orang di kampungnya, akhirnya dia mengalah juga, dan mau memberikan kesempatan untuk Honor mendekati dirinya.
Memang, selama tiga hari ini, dia sangat dimanja oleh Honor. Apa saja yang dia inginkan, semuanya terpenuhi. Termasuk pakaian mahal, perhiasan, bahkan mobil. Dan yang paling tidak dia duga adalah, semua hutang keluarganya dianggap lunas oleh Honor. Tapi dengan syarat, bahwa Tiara harus menjadi kekasihnya. Jika tidak, maka ancaman dari Honor masih tetap berlaku.
"Tiara. Mengapa kau hanya diam saja? Apakah kau berubah menjadi sombong hanya karena kau sekarang sudah punya mobil?" Tanya salah seorang dari mahasiswa itu kepada Tiara.
Ingin rasanya Tiara menjerit dan menangis sejadi-jadinya. Tapi, apakah itu dapat merubah segalanya?
Dengan menguatkan hatinya, Tiara akhirnya bersuara juga. "Lupakan tentang hasil dari penyelidikan itu. Ketahuilah bahwa penduduk Kuala Nipah terancam kehilangan segalanya hanya karena ulah kita. Satu lagi! Kalian jauhi aku. Atau kalian akan susah sendiri nantinya. Aku sekarang bukanlah Tiara yang dulu. Sebaiknya, kalian jaga jarak!" Kata Tiara memberi peringatan. Dia langsung mendorong Jaiz ke samping, lalu membuka pintu mobilnya, kemudian tancap gas meninggalkan sekumpulan mahasiswa itu dengan tanda tanya besar di kepala mereka masing-masing.
"Ada apa dengan Tiara?"
"Iya. Ada apa dengan dia? Tidak ada angin, tidak ada hujan. Mengapa dia seperti itu?"
"Aneh sekali rasanya?"
Ribut-ribut diantara mereka pun terjadi.
Manalah mereka tau kalau Tiara dan keluarganya sudah mendapat ancaman dari Honor Miller. Jika mereka tau, maka sudah pasti mereka tidak akan bertanya dalam hati mereka. Dan Tiara juga memang tidak ingin menceritakan masalahnya. Dia takut jika masalah itu sampai ke telinga Joe, sudah pasti keributan besar akan terjadi. Karena, dia sangat hafal dengan sifat Joe. Tampak tengil, namun jika sudah marah, semuanya akan dia ratakan.
Bersambung...