Joe William

Joe William
Joe naik Troli



Seorang wanita setengah baya tampak meraih gagang telepon yang berdering dengan bunyi dering yang memenuhi ruang kerjanya itu.


Sambil meneliti beberapa buku laporan, dia menjepit gagang telepon itu diantara dagu dan bagian bawah lehernya sambil berkata. "Hallo. Manager kepala Tower Mall di sini. Apakah ada yang bisa saya bantu?" Tanya Wanita setengah baya itu.


"Aline. Di mana kau saat ini? Apakah kau berada di ruangan kerja mu?"


Terdengar satu suara yang sangat di kenal oleh wanita itu di seberang telepon yang membuat perasaannya menjadi tidak enak.


"Benar Tuan besar. Saya berada di ruangan kerja saya saat ini." Jawab Wanita yang ternyata adalah Manager kepala di Tower Mall itu.


"Aline. Dengarkan aku. Kau pergi turun ke lantai dua. Tepatnya di toko perhiasan Tiffany & Co!"


"Maaf Tuan besar. Ada apakah di lantai dua jika saya boleh tau." Tanya Manager kepala bernama Aline itu.


"Putra ku, Joe William ada di sana. Dia sedang dalam masalah karena menjatuhkan perhiasan kemudian merusak nya. Cepat turun, temui dia dan bereskan masalah. Jika sampai dia marah, bisa hancur toko Tiffany itu." Kata lelaki yang dipanggil Tuan besar itu dengan tegas.


"Apa? Tu-tu-Tuan muda ada di sini? Baiklah Tuan besar. Saya akan segera turun bersama seluruh staf." Kata Aline sedikit ketakutan.


"Cepat selesaikan. Jika sesuatu terjadi dan dia melukai para petugas keamanan, kau akan aku tarik kembali ke Jewel Star untuk menerima hukuman!" Ancam Tuan besar itu.


"Ba-baik Tuan besar." Kata Aline dengan lutut sedikit lemas saat ini.


Setelah panggilan itu berakhir, Aline lalu memanggil seluruh staf lalu bergegas turun ke lantai dua.


Karena mendengar Tuan muda mereka berada di lantai dua, sebagian tampak ketakutan dan tidak sempat lagi menunggu giliran memasuki lift malah memilik mengikuti jalan menurun melalui tangga.


Sementara itu, di toko perhiasan Tiffany & Co, wanita pramuniaga itu mulai berkeringat dingin. Hal ini karena dia melihat bahwa Joe sama sekali tidak memiliki sesuatu yang mengesankan baginya untuk menyelesaikan masalah itu.


Menit-menit berlalu bagai lambat terasa baginya. Yang paling dia khawatirkan saat ini adalah ketika atasannya datang, maka tidak ada yang bisa dia lakukan selain meminta Hendro atau Namora untuk memanggil ayah mereka. Ini karena yang memecahkan peti kaca perhiasan itu adalah sahabat mereka.


Namun belum lagi rencana itu dia lakukan, tiba-tiba dari arah pintu lift yang terbuka, tampak bermunculan orang-orang yang memiliki jabatan tinggi di Tower Mall ini dan segera berjalan menuju ke arah toko di mana Joe dan para sahabatnya sedang berdiri tanpa tau harus berbuat apa.


Belum lagi para pejabat tinggi itu tiba, kini terdengar langkah kaki jika di dengar memiliki jumlah yang ramai.


Kini mereka melihat puluhan bahkan ratusan orang sedang berlomba menuruni tangga dengan nafas memburu dan lidah yang hampir terjulur.


Begitu ratusan orang itu tiba di belakang seorang wanita setengah baya itu, mereka langsung membuat barisan lalu berlutut dengan satu kaki di tekuk.


"Selamat datang di Tower Mall Tuan muda!" Kata mereka serentak.


Sebenarnya mereka tidak tau pasti apakah Tuan muda itu berada di toko itu atau tidaknya, Mana mereka tau. Bertemu saja tidak pernah. Namun karena saking gugupnya, mereka tidak perduli apakah ada atau tidak, pokoknya berlutut saja dulu.


Begitu lah yang ada dalam fikiran mereka saat ini.


Sementara itu, Joe yang ketika di Martins Hotel juga mendapat perlakuan seperti itu kini baru faham dan mulai tersenyum kepada wanita pramuniaga itu.


"Kau tidak perlu takut Nona. Aku akan membayar kalung yang jatuh tadi itu." Kata Joe.


Kini Aline sudah tiba di dalam toko bersama puluhan staf yang memiliki jabatan lebih tinggi termasuk tiga manager yang datang ke Martins Hotel atas permintaan dari Tigor untuk mengantarkan kartu VIP Ekslusif member.


Begitu melihat Joe yang berdiri di samping Lestari serta berhadap-hadapan dengan wanita pramuniaga itu, mereka bertiga segera maju ke depan lalu membungkuk memberi hormat.


"Tuan muda, mengapa tadi tidak datang bersama kami sekalian. Andai saya tahu, saya pasti akan sangat bangga bisa membawa anda ke sini." Kata salah satu dari ketiga orang yang pernah dikerjai oleh Joe ini.


Melihat hal ini, Manager Aline langsung mendatangi sang pramuniaga lalu berkata. "Ambil dan bawa kalung itu ke mari!"


"Ba-baik Manager kepala." Kata wanita itu lalu mengambil kalung tersebut.


"Aku menginginkan kalung itu. Jangan di perbaiki apa lagi di tukar." Kata Joe menegur membuat Aline tidak berani lagi berlama-lama memegang kalung tersebut.


Atas serangkaian peristiwa yang dia alami dalam sehari ini, membuat Joe sedikit faham siapa dirinya kini.


"Aku ingin belanja yang banyak di sini. Apakah itu boleh?" Tanya Joe.


"Boleh Tuan muda. Anda bebas melakukan aktivitas berbelanja apa saja di sini."


"Kalau aku pecahkan lagi peti kaca yang itu, apa boleh juga?" Tanya Joe sambil menunjuk ke arah untaian kalung berlian yang pastinya lebih mahal dari kalung yang tadi.


Sambil menelan ludah, sang manager yang pernah berjoget atas perintah Joe ini hanya bisa mengangguk dengan ekspresi wajah memucat.


"Hahaha. Anda tidak perlu tegang begitu. Aku bukan orang yang suka membuat kekacauan." Kata Joe sambil menepuk pundak Manager lelaki yang usianya mungkin sebaya dengan Jerry William.


Kini Joe menatap ke arah gadis pramuniaga tadi, menatapnya dengan tatapan lucu lalu menjentikkan jari telunjuknya memberi isyarat agar wanita itu datang.


"Maafkan saya Tuan muda. Saya tidak tahu bahwa anda..,"


"Sudah lah. Aku tidak suka dengan adegan yang terlalu dramatis seperti ini. Sejak di hotel aku sudah terlalu banyak mendengar perkataan membosankan seperti ini." Kata Joe sambil mengambil kalung itu.


Dia tau sebagian mungkin tulus. Tapi sebagian lagi pastilah hanya penjilat.


Walau tengil dan terkesan seperti orang yang masa bodoh, tapi Joe tidaklah bodoh. Dia adalah anak yang cerdas. Hanya saja kecerdasan itu tertutupi oleh tingkah nya yang memang tidak pernah serius dan terkesan kurang waras persis seperti kedua guru nya.


Joe kini melangkah ke arah Lestari lalu berkata. "Kau suka kalung ini kan? Ini aku berikan sebagai kenang-kenangan. Aku tidak lama lagi di sini. Tamat SMA ini, aku sudah akan kembali ke negara ku." Kata Joe sambil memakaikan kalung itu di leher Lestari.


Kesempatan ini tidak ingin dilewatkan begitu saja. Walau pergantian kejadian membuat dirinya dan Tiara sampai saat ini masih sulit mencerna siapa Joe ini sebenarnya dan seberkuasa apakah Joe ini, namun dia tetap menikmati Aroma harum tubuh Joe.


"Lestari. Jangan terbawa perasaan." Bisik Joe yang mendadak tengil nya keluar membuat Lestari seketika tersadar.


Ibarat terbang, anak gadis itu terhempas kembali ke bumi.


Lestari hanya bisa tertunduk menyembunyikan semburat merah di wajahnya akibat salah tingkah tadi.


Di usia-usia tujuh belas tahun adalah usia yang sangat manis bagi seorang gadis dan pemuda seperti mereka.


Di usia yang masih putih bersih inilah yang sangat sulit untuk di lupakan ketika kita tua nanti.


"Aku mau berbelanja sesuka hati ku. Apakah boleh?" Tanya Joe sambil menatap wajah Aline.


"Boleh Tuan muda. Ini kartu Diamond ekslusif anda." Kata Manager Aline menyerahkan sekeping kartu yang sangat cantik kepada Joe.


"Tiara dan kalian semua. Sesuai janji ku, ayo kita belanja. Kalian temani kami. Bawa keranjang atau troli di tangan kalian dan ikuti siapa saja di antara kami." Kata Joe kepada para Manager itu.


Mereka kini saling pandang. Namun tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti keinginan Tuan muda itu jika masih ingin memastikan dapur mereka tetap ngebul.


Sekali lagi Namora tidak bisa menahan senyum yang terkesan sangat kaku itu.


Dia tidak menyangka mengapa ada Tuan muda yang sangat urakan dan terkesan bertindak sesuka hatinya saja seperti ini.


Sementara itu, Joe sudah duduk di dalam troli yang di dorong oleh salah seorang dari manager itu. Tingkah nya ini mau tak mau membuat semua orang merasa lucu.


Mana ada Tuan muda yang tidak memperhatikan image nya seperti Joe ini.


"Kau tidak ingin mencoba Tiara? Masuk lah kedalam troli itu. Seru." Kata Joe sambil tertawa.


"Ayo pak manager. Bawa aku keliling toko itu." Kata Joe.


"Baik Tuan muda." Kata sang Manager sambil mendorong troli yang dinaiki oleh Joe tadi.


"Kau lihat Joe itu Din. Bisa muntah darah nanti pak Manager itu dikerjai olehnya." Bisik Hendro.


"Hahaha. Makanya kau harus mengatur jarak dengannya. Jangan sampai nanti malah kau yang di suruh mendorong troli itu." Kata Udin lalu bergegas mengejar Joe yang sudah jauh bersama pak Manager yang mendorong dirinya di dalam troli itu.