
"Uyut, bolehkah aku keluar sebentar?" Tanya Joe setelah Uyut dan Cicit itu saling melepaskan pelukan mereka.
"Mau kemana kau Joe?" Tanya Tuan Smith.
"Ke rumah keluarga Regnar. Aku akan melabrak mereka. Eh bukan. Hehehe. Tidak melabrak. Aku hanya ingin memberi peringatan kepada mereka agar tidak terlalu jauh melakukan penentangan terhadap keluarga kita. Aku hanya khawatir tidak mampu menjaga amarah jika dia terus saja mencari gara-gara dengan kita. Karena, saat ini aku masih menghormati paman Kenny. Masih memberi wajah kepadanya. Tapi jangan katakan bahwa aku tidak bisa kejam." Kata Joe sambil memapah kakek uyutnya itu untuk duduk.
"Memang keluarga Regnar ini selalu bertolakbelakang dengan keluarga William. Terlebih setelah Kenny gagal menjadi kepala keluarga. Sementara itu, Kenny sendiri juga tau kapasitas dirinya yang kurang kompeten dibandingkan dengan Ayahmu. Dulu, jika ayah mu tidak cepat ditemukan, sudah pasti perusahaan William Group hancur sehancur hancurnya. Beruntung kakek segera mengutus Tuan Syam untuk melacak keberadaan Ayah mu."
"Andai dulu Drako berhasil dengan misi nya mengungkap identitas ayah mu setelah dua puluh lima tahun, kemungkinan perusahaan itu tidak akan tertolong lagi dengan banyaknya hutang di mana-mana. Tapi dasar Diana. Dia yang salah, malah dia yang sakit hati." Kata Tuan Smith sambil merenung jauh.
"Kek. Boleh kan kalau aku pergi ke rumah mereka? Sebelum aku menjatuhkan tangan kasar, ada baiknya aku memberi peringatan dulu kepada mereka."
"Pergilah! Bawa para pengawal di Villa ini untuk menemani mu!" Perintah Tuan Smith.
"Jangan kek. Nanti mereka malah berprasangka buruk terhadap ku. Aku cukup dengan 4R dan Senior Black saja." Kata Joe.
"Baiklah! Kau jangan lama-lama perginya!"
"Terimakasih kek. Joe permisi dulu." Kata pemuda hitam legam itu sambil mengeluarkan ponselnya.
"Senior Black. Di mana Anda saat ini? Jika anda berada di sekitar Metro City, maka silahkan datang ke Villa Smith!" Kata Joe mengirim pesan suara.
"Tuan muda, saat ini saya berada di hotel mutiara. Anda bisa menunggu saya di sana. Dalam lima belas menit saya akan sampai." Kata balasan dari Black.
"Kau gunakan saja mobil Rolls-Royce milik ku. Itu demi kelancaran berkendara. Tidak satupun polisi di negara ini yang berani menghentikan mobil milik ku jika sudah melaju di jalan raya." Kata Tuan Smith dengan bangganya.
"Baik kek. Terimakasih." Kata Joe sambil membungkuk hormat.
"R1. Masukkan troli milik ku ke dalam mobil!" Pinta Joe kepada salah satu dari empat pengawal wanita miliknya.
"Akan saya lakukan Tuan."
"Maaf Tuan. Troli ini tidak muat dimasukkan ke dalam mobil milik Tuan besar. Bagaimana ini?" Tanya Sang pengawal.
"Ini lah masalahnya. Besok akan aku tempah sebuah troli yang bisa di lipat dan memakai mesin. Biar mudah di bawa kemana-mana. Sekarang, kau ikat troli itu di belakang mobil! Bikin seperti gerobak gandeng!" Kata Joe membuat Tuan Smith berulang kali menampar jidatnya sendiri.
"Joe! Mobil itu mobil mewah. Seluruh orang-orang di kota ini tau kalau itu adalah mobil milik ku. Aku ini adalah Tuan besar di sini. Salah satu dari empat naga perkasa. Apa yang akan dikatakan oleh orang ketika mobil ku malah menarik troli di sepanjang jalan raya nanti hah?" Bentak Tuan besar Smith.
Pucat juga Joe mendapat bentakan dari Tuan besar Smith. Ini karena kakek uyutnya sebelah nenek ini sangat jarang memarahinya.
"Mobil sport kau malah tidak mau. Malah suka nya sama Troli. Otak mu itu sudah senget. Pergi ke kamar mandi sana! Cuci pakai deterjen."
"Sudah sudah sudah! Ayo cepat kalian singkirkan troli itu. Nanti orang tua itu semakin marah. Bisa gawat. Cepat singkirkan!" Kata Joe sambil mendorong pundak R1 yang juga mendadak bengong mendapat bentakan dari Tuan besar Smith tadi.
Tak lama setelah troli itu di singkirkan dari mobil Rolls-Royce panjang yang sudah dimodifikasi itu, kini dari arah depan pagar tampak mobil Volkswagen hitam berhenti dan dari dalam tampak keluar seorang lelaki setengah baya berkulit hitam menghampiri penjaga gerbang.
Setelah lelaki itu masuk, kini tampak dia berbicara sejenak dengan Joe, lalu membungkuk hormat kepada Tuan besar Smith.
"Kek. Kami berangkat dulu. Senior Black tau jalan menuju rumah milik keluarga Regnar itu. Aku tidak perlu pakai sopir." Kata Joe.
"Pergilah. Ingat untuk menjaga sikap mu nanti di sana. Jangan terlalu kasar kepada keluarga itu. Bagaimanapun, itu adalah ibu kandung paman mu sendiri." Kata Tuan Smith berpesan.
"Saya mengerti kek. Semoga saja nanti mereka tidak terlalu memprovokasi diriku." Kata Joe lalu melangkah mendekati mobil.
"Huh. Panjang sekali mobil ini. Ada mejanya di dalam." Kata Joe sambil berdecak kagum.
"Mobil ini adalah mobil Rolls-Royce edisi khusus. Hanya ada empat unit di negara ini. Salah satunya adalah Tuan besar Smith. Mobil berlapis emas seperti ini, orang lain tidak akan mampu memiliki. Saya juga merasa entah mimpi apa tadi malam bisa masuk ke dalam mobil ini." Kata Black.
"Oh. Jadi yang kuning-kuning itu emas?. Aku pikir hanya biar terlihat norak saja. Pantas kakek ku tidak mengijinkan aku menderek troli ku di belakang mobil ini." Kata Joe sambil duduk.
"Apa?"
Tampak mulut Black ternganga lebar mendengar perkataan Joe barusan.
"Menderek troli dengan mobil mewah seperti ini. Yang benar saja?" Kata Black dalam hati.
"Semua sudah masuk. Ayo kita berangkat!" Kata Joe memberi perintah.
"Baik Tuan muda!"
Lalu kendaraan mewah itu pun berangkat meninggalkan Villa milik keluarga Smith di bukit Metro ini menuju ke arah perumahan elite di bagian lain dari Metro City ini.
Belum ada sepuluh menit Joe, Black dan keempat pengawal nya pergi, kini dari arah yang berlawanan tampak iring-iringan mobil mewah memasuki pekarangan Villa itu dan berhenti di area parkir.
Seorang lelaki tua yang mereka kenal dengan sebutan William King tampak turun dengan di bantu oleh beberapa pengawal.
"Mana Tuan mu? Katakan kepadanya bahwa aku telah datang ke Villa busuk miliknya ini. Cepat!" Kata lelaki tua itu membuat pengawal itu ketakutan dan bergegas memberitahu kepada pelayan di Villa itu untuk memberitahu kepada Tuan Samuel bahwa William King sudah tiba.
Tak lama setelah itu, tampak lelaki tua turun dari lantai dua dan tergopoh-gopoh menemui tamu yang tidak di undang itu.
"Silahkan masuk Tuan besar William! Tuan besar saya sedang menunggu anda di atas." Kata kepala pelayan itu.
"Hmmm... Baiklah." Kata Tuan besar William lalu mengikuti lelaki tua itu ke lantai atas.
"Leon. Mana anak itu? Aku akan menghukum nya. Enak saja main kabur setelah acara pesta di hotel mutiara berantakan gara-gara ulahnya." Kata Tuan William begitu dia tiba di ruangan dimana Tuan Smith sedang duduk.
"Mau apa kau menghukum anak itu? Ini Villa ku. Aku lah tuan rumah di sini. Kata-kata ku adalah hukum di sini. Enak saja mau menghukum sembarangan." Kata Tuan Smith tidak kalah sengitnya.
"Kau memang begitu. Selalu saja bertentangan dengan ku. Apa kau tidak melihat masa depan cerah berada di hadapan? Ini semua karena kau terlalu membela anak itu. Kacau semua usaha ku."
"Belajarlah dari pengalaman masa lalu King! Di mana kau gagal karena ingin menjodohkan Jerry dengan wanita pilihan mu. Gara-gara perbuatan mu itu, hampir saja dia mati di bunuh oleh Ramendra. Kau ini benar-benar tidak ada jera nya."
"Anak itu harus di ikat, Leon! Jika tidak, dia pasti akan membuat kekacauan yang lebih parah lagi. Hanya dengan menjodohkan nya dengan Talia itu, baru dia bisa berfikir dewasa sedikit. Dia harus tau dan kau juga! Baru berapa hari di sini, segala bentuk kekacauan sudah dia lakukan. Mau ditaruh di mana wajah tua ku ini?"
"Kekacauan? Kekacauan seperti apa yang kau maksud, King?" Tanya Tuan Smith.
"Kau masih bertanya. Apakah kau membutakan mata atas kelakuan cicit kita itu?"
"Kau ternyata belum tau. Baiklah! Kau jangan segera pulang dulu ke Villa reyot milik mu. Akan ada beberapa orang yang akan tiba di sini nanti. Setelah itu, kau jangan pula mengaku-ngaku bahwa anak itu adalah cicit mu. Kita akan lihat nanti seperti apa wajah kulit badak mu itu ketika merasa bangga." Kata Tuan Leon Smith sambil mencibir.
"Apa maksud mu hah?"
"Kau duduk, minum dan bersantai dulu! Nanti semuanya akan terjawab. Saat ini anak itu sedang berangkat menuju ke rumah keluarga Regnar. Dia akan memberikan ultimatum terakhir kepada Diana dan Frank. Kau tunggu saja. Tidak akan lama lagi akan ada orang yang datang ke Villa ini." Kata Tuan Smith sambil menghirup minuman nya.