Joe William

Joe William
Kabar dari Tigor tentang Tengku Mahmud



Dua orang pemuda berjalan menapaki bahu jalan dengan keadaan nyaris seperti gelandangan.


Seorang pemuda memakai pakaian lusuh berambut zig-zag tampak menyandang tas ransel yang sudah memudar warnanya. Disampingnya, berjalan seorang pemuda berwajah dingin dengan gaya rambut belah tengah dan sedikit pirang itu juga tidak kalah dekil nya berbanding temannya yang satu lagi.


Siapa mereka ini?


Kedua pemuda itu adalah Joe William dan Namora Habonaran.


Mereka baru saja dari Villa milik Jerry William di pertengahan antara Lotus Mansion dan Hotel teratai di Starhill.


Setelah menceritakan semuanya kepada sang Ayah tentang semua yang mereka alami selama sebulan di Quantum City, kini mereka pun melanjutkan pengembaraan mereka mencari kota lain yang bisa mereka singgahi dan yang tidak satupun orang dapat mengenali mereka.


"Kemana kita akan pergi, Ketua? Maksud saya, Joe Arvan?!" Tanya Namora.


"Entahlah. Aku juga masih belum memikirkan kemana kita akan pergi. Starhill, Metro City, Hillstreet, Country home, dan Garden Hill itu benar-benar tidak mungkin. Apalagi Quantum City. Nanti kita fikirkan terlebih dahulu," kata Joe sambil terus melangkah.


"Didepan sana ada restoran. Bagaimana jika kita singgah dulu di sana?" Usul Namora.


"Ayo lah!" Kata Joe menyetujui ajakan sahabatnya itu.


Belum lagi mereka tiba di restoran, kini ponsel milik Joe pun berdering.


Joe bergegas mengeluarkan ponselnya lalu segera melihat ke layar ponsel.


"Paman Tigor?" Tanya Joe dalam hati dengan heran.


"Ada apa dia menghubungiku? Apakah ada sesuatu yang penting?'


"Siapa yang menelepon Anda?" Tanya Namora yang heran melihat kerutan di dahi Joe.


"Ayah mu yang menelepon ku," jawab Joe singkat lalu segera mengusap layar untuk menjawab panggilan tersebut.


"Hallo, Paman Tigor!"


"Ketua. Dimana anda saat ini?" Tanya sang penelepon yang tidak lain adalah Tigor.


"Aku saat ini masih di sekitar Starhill. Namora juga ada bersama dengan ku saat ini. Apakah ada sesuatu yang penting, Paman?" Tanya Joe.


"Ketua. Saya hanya ingin memberitahu kepada anda bahwa saya sudah selesai disiksa oleh Tengku Mahmud. Mungkin tiga atau empat hari lagi dia akan segera meninggalkan kampung Kuala Nipah ini!"


"Apa? Kakek Tengku akan meninggalkan kampung Kuala Nipah? Mengapa begitu, Paman?" Tanya Joe terkejut.


"Begini, Ketua! Kakek Tengku telah memprediksi bahwa akan ada banyak bentrokan yang akan menyebabkan Kuala Nipah ini tergenang oleh darah. Beliau sudah terlalu tua untuk ikut campur dalam urusan duniawi yang tidak akan pernah ada ujungnya. Jadi, beliau memilih meninggalkan kampung Kuala Nipah ini dan kembali ke kampung kelahirannya yaitu Deli Serdang atau apa namanya. Saya lupa,"


"Wah. Kalau begitu aku akan segera berangkat ke Indonesia. Tolong rahasiakan kedatangan ku ke sana. Saat ini, aku sedang dipantau oleh orang-orang dari keluarga Miller. Jangan juga beritahu kepada Tiara tentang kedatangan ku ini. Aku khawatir musuh akan memanfaatkan dirinya untuk membuatku lemah," kata Joe meminta agar kedatangan dirinya ke Indonesia jangan sampai diketahui oleh orang lain.


"Baiklah ketua. Aku tau bahwa musuh kita yang satu ini memang sangat licik. Berulang kali mereka ingin menyuap kepolisian kota batu agar Marven segera dibebaskan. Beruntung Rio masih bisa mencegahnya,"


"Hmmm... Sepertinya mereka sudah tidak sabaran ingin membalas kekalahan mereka yang dulu. Baiklah, Paman. Aku akan segera kembali ke Lotus Villa.


Tut tut tut...! Panggilan telepon seluler itupun berakhir.


"Ada apa, Joe?" Tanya Namora.


"Kakek Tengku Mahmud ingin meninggalkan kampung Kuala Nipah. Kita harus segera berangkat ke Indonesia."


"Hah? Kakek Buyut mau meninggalkan Kuala Nipah?" Tanya Namora kaget.


"Begitulah!" Jawab Joe sembari mengirim pesan agar Black segera menjemputnya.


Selang lima belas menit, satu unit mobil Volkswagen berhenti di depan restoran.


Seorang lelaki paruh baya keluar lalu membukakan pintu untuk Joe.


Setelah kedua pemuda itu masuk, mobil Volkswagen tadi langsung berangkat menuju Lotus Road dan terus meluncur dengan kecepatan tinggi ke arah Lotus Mansion kemudian berbelok menuju satu-satunya Villa yang berada di sana.


*********


"Ayah. Joe akan berangkat ke Indonesia bersama dengan Namora," kata Joe begitu dia berada di satu ruangan bersama dengan Ayahnya dan juga Ibunya.


"Mengapa begitu terburu-buru? Apakah proyek Tower Sole propier mu di Tasik Putri mengalami masalah?" Tanya Jerry William yaitu Ayah dari Joe William.


"Bukan, Ayah. Joe akan ke Kuala Nipah. Kakek Tengku Mahmud akan meninggalkan kampung tersebut dan kembali ke Deli Serdang. Joe khawatir tidak akan sempat lagi untuk bertemu dengan dirinya di lain waktu. Apakah Ayah mengizinkan Joe untuk berangkat ke Indonesia?"


"Tentu saja Ayah mengizinkan. Tapi ingat! Kau jangan membuat masalah di sana! Ayah tidak ingin perusahaan Future of Company mendapatkan cap sebagai perusahaan yang suka menindas perusahaan yang kecil. Ingat itu baik-baik!" Kata Jerry memperingatkan kepada Joe. Ini karena, baru saja Ryan atas nama FOC membantai perusahaan keluarga Clifford di Quantum City.


"Joe kali ini tidak akan membawa nama keluarga William, tidak akan membawa organisasi Dragon Empire maupun Tiger Syam. Joe akan mandiri sendiri dan berusaha untuk menjadi seorang yang memulai sesuatunya dari bawah," kata Joe menjelaskan kepada ayahnya bahwa dia tidak akan menjual nama besar keluarga, maupun organisasi demi kepentingannya sendiri.


"Jadilah lelaki yang jantan! FOC tidak selamanya bisa berada dibelakang mu. Kau memiliki Tower Sole propier. Jadi, kembangkan perusahaan mu dan mulailah belajar menjadi besar!"


"Joe patuh!"


"Bagus! Sekarang, kau boleh berangkat. Kau mempunyai beberapa hari lagi menurut perhitungan dari paman Tigor mu. Tapi, jangan menunda. Gurumu akan kecewa mendapatkan murid yang tidak berbakti. Tunjukkan bakti mu! Barulah kau bisa dikatakan murid yang baik,"


"Joe pamit, Ayah. Ibu.., Joe pamit dulu!" Kata Pemuda itu sambil membungkuk dan meraih tangan kedua orangtuanya silih berganti, lalu menciumnya.


"Ibu. Joe pamit. Tidak tau entah berapa tahun baru kembali. Karena, Joe punya waktu satu tahun setengah lagi untuk menuntaskan dendam keluarga yang tidak ada ujungnya ini. Entah Joe atau mereka yang akan kalah. Yang jelas, sesuatu yang menunggu Joe di depan akan sangat berdarah-darah. Itu sangat menyenangkan!" Kata Joe bersemangat.


"Tidak salah jika beberapa gelar disematkan kepada mu. Mulai dari anak setan, anak hantu sampai ke anak Jin. Tapi, ibu bangga memiliki seorang anak yang memiliki semangat dan keberanian laksana ksatria. Berangkatlah! Ibu akan mengiringi langkah mu dengan doa!"


"Terimakasih, Ibu. Jika begitu, Joe pamit!"


Joe langsung membalikan badannya menuju ke kamar miliknya. Kemudian dia keluar dengan membawa satu tas ransel yang sudah sangat tua sekali kemudian menyandang 'kan tas ransel tersebut di punggungnya.


Kedua orangtuanya hanya menghela nafas saja melihat tingkah putra mereka itu.


Bersambung...