
"Waaaaw.... Megah dan mewah sekali si sini. Semuanya ada."
Tampak tiga orang diantara keenam muda-mudi itu ternganga dan nyaris tidak bisa mengatupkan bibir begitu tiba di lantai dasar Tower Mall ini.
Bagi Joe, Tiara dan Lestari, ini adalah pertama kalinya bagi mereka menginjakkan kaki di pusat perbelanjaan modern nan megah seperti ini.
Tower Mall yang di bangun oleh Future of Company memang mengusung konsep seperti bangunan-bangunan pusat perbelanjaan bergaya Eropa yang memadukan gaya klasik dan modern.
Joe, salah satu diantaranya tampak nyaris tidak berkedip melihat seluruh isi dari lantai dasar Tower Mall ini.
Ini dapat di maklumi.
Selain dia memang dipersiapkan untuk mengemban beban yang cukup berat yang membuat dia harus tinggal di pedalaman bersama dengan Kakek Malik, ternyata pindah ke Kuala Nipah pun tidak membuat Joe bisa bernafas lega. Baru kali ini juga lah dia mendapat izin dari Tengku Mahmud. Itupun karena Tigor bebas dari penjara.
"Ketua, apakah anda ingin melihat-lihat ke lantai dua dan seterusnya?" Tanya Namora dengan hormat walau terasa kaku.
"Boleh lah!" Jawab Joe singkat.
"Silahkan ketua!" Kata Namora mempersilahkan Joe untuk naik ke lantai dua menggunakan eskalator.
"Bagaimana ini? Aku tidak pernah menaiki tangga hidup ini." Bisik Joe kepada Tiara.
"Ternyata kau lebih parah dari aku." Jawab Tiara sambil tertawa.
Rupanya apa yang dibisikkan oleh kedua orang ini menjadi perhatian oleh Namora.
Namora pun yang sangat jarang tersenyum menjadi tersenyum juga lalu meminta Udin dan Hendro untuk mendahului sebagai contoh.
"Ayo ketua!" Kata Namora.
Begitu mereka menginjak eskalator itu, mendadak bibir Joe menjadi pucat. Terasa gamang juga dia walaupun hal itu tidaklah membahayakan.
"Sini ku pegang tangan mu. Mungkin kau gugup." Kata Joe beralasan dengan memegang tangan Tiara. Padahal yang gugup itu sebenarnya dirinya.
Tiara hanya tersenyum saja walaupun dia tau itu hanyalah alasan Joe saja yang berlagak layaknya seorang Hero padahal Zero.
"Bagaimana? Sudah tidak gugup lagi kan?" Tanya Joe sambil menoel hidungnya dengan tangan sebelah lagi.
"Joe. Apa kau tidak khawatir jika hidung mu nantinya akan miring?" Tanya Tiara.
"Hahaha. Hidung ku ini sudah nyaman di toel." Jawab Joe.
Kini keempat pemuda-pemudi itu sudah berada di lantai dua dan langsung menyusul Udin dan Hendro yang sudah mendahului tadi sebagai contoh menggunakan eskalator atas permintaan dari Namora.
Kini mereka sudah berada di depan sederet toko yang menjual berbagai jenis perhiasan dengan berbagai Merek di mulai dari Buccellati, Piaget sampai Tiffany yang pastinya tidak akan mampu dibeli oleh orang kelas rendahan.
Joe tidak pernah tertarik dengan yang begituan. Namun berbeda dengan Lestari yang mengikuti perkembangan fashion melalui platform online maupun televisi yang menyiarkan acara-acara showbiz dan lain sebagainya.
Begitu tiba di depan Toko, matanya nyaris tidak bisa berkedip. Andai tidak cepat menutup mulutnya, niscaya air liurnya menetes ketika itu juga.
"Kau kenapa Lestari? Apakah kau masuk angin?" Tanya Joe yang benar-benar tidak peka terhadap selera seorang wanita.
"Ha? Oh.., eh. Tidak kok." Jawab Lestari tergagap-gagap.
"Maaf adik-adik. Apakah ada yang bisa kami bantu?" Tanya salah seorang pramuniaga kepada keenam muda-mudi itu.
"Wah Anda baik sekali Nona. Aku sedang berfikir bantuan apa yang bisa saya minta kepada anda." Jawab Joe yang langsung menjawab dengan segala ketengilan yang dia miliki.
Mendengar jawaban dari Joe ini, sang pramuniaga tadi sontak mengerutkan keningnya.
Dia sangat ingin melihat-lihat perhiasan yang hanya bisa dia lihat di TV itu secara langsung walaupun Tiara berulang kali memberi isyarat agar mereka segera meninggalkan toko itu.
"Maaf adik-adik. Apakah kalian bisa menunjukkan kartu VIP member kalian?" Tanya Sang pramuniaga tadi.
Mendengar ini, Namora langsung mengeluarkan kartu platinum member nya kepada sang pramuniaga membuat wanita itu sedikit kaget juga lalu bertanya apa hubungan Namora dengan Tigor.
Begitu mendengar pertanyaan ini, Namora langsung menjawab bahwa dia adalah anak sulung dari Tigor Habonaran.
Mereka berenam lalu memasuki toko yang lumayan besar itu sambil melihat-lihat ke semua barang perhiasan yang dipamerkan.
Puas melihat-lihat, Tiara yang tidak terlalu berminat mulai menarik tangan Lestari untuk segera meninggalkan toko itu.
Lestari yang kaget di tarik seperti itu langsung menyambar tangan Joe membuat Joe yang tidak tau langsung berbalik dan dengan gerakan refleks, tangan kanannya menyamplok salah satu peti kaca yang berisi perhiasan hingga terjatuh berderai di lantai.
"Maaf. Maafkan aku yang tidak sengaja." Kata Tiara mulai ketakutan.
Dia sadar karena ulahnya tadi, kini pasti mereka dalam masalah.
"Ada apa?" Tanya Namora yang mendengar suara sesuatu yang jatuh tadi.
"Aku tidak sengaja menyenggol kotak perhiasan itu lalu terjatuh dan pecah. Mungkin sudah rusak isi dalamnya." Jawab Joe tanpa melibatkan kedua gadis itu.
Namora, yang tau bahwa itu adalah perbuatan Joe hanya tenang-tenang saja dan menyingkir sedikit kebelakang.
Hal berbeda kini tampak pada wajah sang pramuniaga tadi.
Begitu dia melihat salah satu dari kotak perhiasan yang mahal itu terjatuh di lantai lalu pecah, wajahnya mendadak pucat pasi.
Lama dia baru bisa menguasai keadaan lalu langsung mendamprat ke arah Joe.
"Adik-adik. Aku telah mengizinkan kalian untuk melihat-lihat perhiasan di toko ini. Tapi kalian malah membuat aku menjadi terancam di pecat. Sekarang, siapa yang akan bertanggung jawab atas masalah ini. Apa kalian tau bahwa ini adalah perhiasan yang mahal dan hanya ada beberapa saja di dunia?" Tanya wanita pramuniaga itu dengan wajah pucat karena ketakutan.
Keributan pun mulai terjadi yang memicu beberapa Security dan petugas keamanan lainnya berdatangan. Namun karena melihat di sana ada Namora, Udin dan Hendro, mereka agak mengendurkan sedikit ketegangan di wajah mereka.
Ketika keadaan sudah semakin runyam, Joe langsung bertanya kepada wanita pramuniaga itu berapa harga kalung yang telah rusak oleh ketidaksengajaan nya itu.
"Adik. Kalau kau yakin untuk mengganti rugi, maka saya akan menelepon manager saya untuk menanyakan berapa ongkos perbaikan untuk kalung ini." Kata wanita itu.
"Kalung ini tidak rusak. Yang rusak hanya peti kacanya saja. Baiklah. Aku tidak ingin banyak bicara karena aku sudah pusing dengan suara teriakan mu itu. Sekarang, aku ingin bertanya. Berapa harga dari kalung ini!" Tanya Joe.
Jika itu hanya Joe saja, kemungkinan terbesar adalah dia sudah digebuki atas perkataan yang tidak masuk akal dari dirinya itu. Namun karena di sana juga ada putra dari Tigor, Andra dan Jabat, maka mereka mau tidak mau harus percaya bahwa masalah ini pasti akan selesai. Setidaknya, ketiga ayah dari tiga orang pemuda itu akan bisa mengatasi masalah ini.
"Adik. Aku akan mengatakan kepadamu bahwa harga dari kalung ini senilai Dua juta Dollar Amerika atau setara dengan dua puluh sembilan miliar rupiah." Jawab pramuniaga itu.
"Hmmm..." Kata Joe lalu mengeluarkan ponselnya.
Dia tidak ingin meminta bantuan kepada siapapun. Hanya ingin bertanya kepada Ayah nya apakah kartu kredit yang dia miliki memiliki uang yang cukup untuk membayar kalung yang dia jatuhkan tanpa sengaja itu.
"Hallo Joe. Mengapa menelepon?" Tanya satu suara di seberang sana.
"Ayah. Aku telah merusak sebuah kalung di toko Tiffany & Co. Mereka mengatakan bahwa harga kalung ini senilai Dua juta Dollar. Apakah kartu kredit yang diberikan oleh kakek Jeff kepada ku bisa digunakan untuk membayar kalung ini?" Tanya Joe kepada Ayahnya.
"Joe. Katakan di mana kau saat ini?!"
"Aku berada di toko perhiasan Tiffany & Co tepat di lantai dua Tower Mall." Jawab Joe.
"Kau tunggu di sana. Ayah akan menghubungi seorang sahabat." Jawab sang Ayah lalu mengakhiri panggilan telepon itu.