
Saat ini, Jericho yang telah berdiri bersama dengan ke-lima temannya tampak sama sekali tidak bergeming ketika salah satu dari penunggang sepeda motor tersebut kini mulai turun dari motornya.
Sambil menyemburkan anak korek api yang berada di jepitan bibirnya ke arah wajah Jericho, pemuda itu pun kini tersenyum penuh ejekan kepada keenam pemuda yang sejak tadi berdiri menghalangi mereka.
"Ck ck ck..! Belum kapok juga ternyata kalian ini?! Hahaha...!" Kata pemuda itu sambil mendecakkan lidahnya.
"Mau apa kau datang ke kampus kami ini, Dhani? Apa bentrokan kemarin belum cukup? Jika kau ingin tawuran lagi, jangan di sini! Kau boleh menentukan tempatnya dan kami akan datang!" Bentak Jericho karena emosi nya sudah tersulut akibat semburan anak korek api bercampur air yang berbau tidak sedap tadi di wajahnya.
"Hahaha. Masih bernyali..! Ternyata kau masih punya nyali. Mantap brother! Aku suka dengan semangat juang mu. Tapi kau harus ingat! Kali ini lawan mu adalah geng Cobra. Bukan anak-anak Cosmo. Aku menginginkan nyawa mu setelah aku berhasil menarik nyawa Jul dengan paksa!" Ujar pemuda bernama Dhani tadi dengan senyum mengejek.
"Kau..?!"
"Apa? Mau berkelahi di sini? Ayo lah! Nih serang aja kalau kau memang punya nyali,"
"Setan kau..!"
Bugh!
"Argh..!"
Karena tidak bisa lagi mengendalikan emosinya karena nama mendiang sahabatnya dilecehkan, Jericho langsung saja mengirimkan pukulan ke arah wajah Dhani hingga hidung pemuda itu kini mengucurkan darah.
"Bangsat kau! Ayo hajar!" Teriak Dhani kepada orang-orang yang mengikutinya.
Perkelahian antara enam orang anggota J7 dengan Geng Cobra yang berjumlah sekitar lima belas orang itu pun pecah.
Tadinya mereka mengira akan dengan mudah mengintimidasi anak-anak J7 karena mereka hanya berenam. Namun, dari arah belakang datang seseorang mengendarai sepeda motor Yamaha R1 lalu enak saja menabrak sepeda motor mereka yang terparkir di pelataran kampus tersebut.
Dengan tongkat hoki, pemuda yang tidak terlihat wajahnya itu mulai mengamuk dan memukuli mereka tanpa ampun.
Beberapa orang tampak menjerit terkena sabetan alat untuk memukul bola hoki tersebut.
Bugh!
Plak!
Bugh!
"Adaaaaaw...! Setan alas dari mana ini?" Pekik salah seorang yang terkena gebukan tongkat hoki tersebut.
"Hahaha! Lihatlah itu, Tiara! Itu adalah Namora!" Kata Joe menunjuk ke arah pemuda berjaket dan memakai Helm yang kini tampak seperti kesurupan.
"Awas dibelakang mu!" Teriak Jericho kepada penolong mereka. Namun terlambat. Namora kini tersungkur karena di bokong dari belakang menggunakan kayu bulat sepanjang tiga jengkal.
"Wah. Kacau ini. Kau punya uang, Tiara?" Tanya Joe.
"Untuk apa uang?" Tanya gadis itu.
"Kalau ada, sini! Aku mau membeli kuah bakso!"
Sambil menggelengkan kepalanya tanda tidak mengerti, akhirnya Tiara mengeluarkan juga uang seratus ribu rupiah dan memberikannya kepada Joe.
Joe yang menerima uang tersebut lalu segera berlari ke arah kantin dan kembali keluar membawa tong dua liter yang mengepulkan asap.
Tanpa banyak cing-cong lagi, Joe segera menelungkup kan ember berisi kuah bakso yang telah dia campur dengan sambal itu ke arah pemuda yang bernama Dhani tadi. Setelah itu dengan berpura-pura ketakutan, Joe segera bersembunyi di balik punggung Jericho.
"Aaaaaargh. Bangsat! Siapa yang berani melakukan ini hah?" Pekik pemuda itu sambil menggelupur menahan panas sekaligus pedas.
"Mati aku bang. Kau harus membela ku!" Bisik Joe ke telinga Jericho.
"Kalian akan membayar semua ini. Lihat saja nanti!" Ancam mereka lalu segera membantu Dhani untuk berdiri dan membonceng pemuda yang telah sekarat itu untuk meninggalkan kampus Kota Batu tersebut.
*********
Joe yang saat ini berpura-pura ketakutan tampak lari terbirit-birit lalu bersembunyi di dekat pohon bunga.
Namora yang melihat tingkah Joe ini mendadak kebelet pipis. "Kok ada ya manusia yang acting nya sungguh sempurna seperti Joe ini?" Kata Namora dalam hati.
Namora pun segera membuang tongkat hoki di tangannya lalu mengendarai sepeda motor miliknya meninggalkan kampus tersebut tanpa sepatah katapun.
Tidak terkecuali Jericho, Jaiz, James dan yang lainnya. Mereka juga saat ini mengagumi sekaligus khawatir terhadap keselamatan Joe.
"Berani juga mahasiswa baru yang cupu itu!" Kata Jufran berbisik ke telinga Jericho.
"Ya. Dia mungkin ingin membantu kita. Itu lebih baik daripada mereka yang hanya menonton saja tanpa mau membantu kita. Walaupun dia terlihat culun, jiwa persahabatannya terasa sangat kental. Tapi, aku malah mengkhawatirkan keselamatan anak baru itu," balas Jericho yang merasa khawatir bahwa kedepannya mungkin Joe ini akan menjadi sasaran gangguan dari anak-anak geng Cobra.
"Lalu menurutmu bagaimana?" Tanya Juned.
"Lihat saja nanti. Tapi jika aku ada, aku akan berusaha membantu anak baru itu," kata Jericho.
Mereka lalu membubarkan diri untuk segera kembali ke rumah masing-masing.
Kini, Joe yang tadi berpura-pura ketakutan dan bersembunyi di rerumpunan bunga berjalan pelan menuju sepeda motor Vespa antiknya dan mendorong sepeda butut tersebut keluar meninggalkan kampus tersebut.
"Heh teman-teman! Lihatlah anak baru itu. Dia sungguh sangat menderita sekali,"
"Jika kau ingin membantunya, silahkan. Bukankah dia tadi telah membantu anggota J7 yang digandrungi oleh gadis-gadis di kampus ini?"
"Hahaha. Lain kali aja ye! Aku gak punya waktu untuk membantunya mendorong sepeda motor sekarat itu,"
"Eh lihat siapa yang berjalan kearahnya itu?"
"Bukankah itu adalah Tiara? Hahaha. Mahasiswi miskin dan mahasiswa cupu. Sungguh sangat klop!"
Mereka lalu tertawa cekikikan melihat Tiara yang membantu Joe mendorong sepeda motor Vespa antiknya tersebut.
"Joe. Di mana kau tinggal?" Tanya Tiara.
"Aku menyewa apartemen di bukit batu. Kau?" Kata Joe balik bertanya.
"Aku menyewa kamar bersama dengan teman-teman yang lain,"
"Oh gitu. Apakah kau ingin tinggal serumah dengan ku?" Tanya Joe sambil mengedip-ngedipkan matanya.
"Dasar mesum! Apa kau kira aku ini wanita murahan?" Dengan sengit Tiara menjawab tawaran dari Joe tadi.
"Wanita mahalan itu seperti apa?" Tanya Joe becanda.
"Sialan. Aku dorong Vespa butut mu ini jika masih tetap mengoceh tak karuan!"
"Jangan! Iya aku akan diam saja," kata Joe ketakutan.
Mereka berdua kini telah tiba di salah satu bengkel dan Joe berniat meninggalkan sepeda motornya di tempat itu dan akan menjemputnya besok.
Mereka berdua kini berjalan beriringan meninggalkan bengkel tersebut setelah mengatakan kepada sang montir bahwa dia akan menjemput sepeda motor itu besok.
"Tiara. Apa rumah kontrakan mu masih jauh?" Tanya Joe kepada gadis itu. Dia kasihan juga melihat keringat sudah mulai menetes dari dahi gadis itu.
"Masih jauh. Tapi tidak apa. Aku biasa kok jalan kaki," jawab gadis itu.
"Minggu depan aku akan membelikan mu sepeda motor. Saat ini kita jalan kaki saja ya. Aku tidak membawa uang tunai. Sedangkan kartu kredit ku sama sekali tidak bisa di pakai untuk transaksi rendah," kata Joe merasa bersalah kepada gadisnya itu. Joe melihat ada kertas koran di pinggir jalan. Dia lalu mengambil kertas tersebut lalu melindungi Tiara dari sengatan matahari.
"Terimakasih Joe!" Kata Tiara merasa terharu.
"Aku tidak bisa melihat gadis ku mengalami kesulitan. Aku akan mengutuki diriku sendiri jika kau mengalami kesusahan saat berada di samping ku,"
"Biasa aja lah Joe! Aku sudah terbiasa," kata gadis itu menenangkan pemuda yang berada di sampingnya.
Mereka berdua kini semakin jauh berjalan. Dan ketika mereka hampir tiba di tikungan yang akan menuju ke rumah kontrakan Tiara, tiba-tiba satu suara membentak mereka dari belakang.
"Hei. Itu dia bangsatnya! Kejar dan jangan sampai lolos!"
Mendengar bentakan itu, Joe segera menoleh ke arah suara tadi. Dan alangkah terkejutnya dia ketika dibelakangnya tampak lebih dari dua puluh unit sepeda motor dengan masing-masing membawa pentungan mengarah ke arahnya.
"Lari Tiara!" Kata Joe. Dia membuang kertas koran yang berada di tangannya lalu segera menarik tangan gadis itu untuk segera kabur.
Bersambung...