
Seorang pemuda berusia sekitar 20 tahun tampak melotot di memandangi layar ponselnya.
Entah apa yang dia pikirkan saat ini. Namun sangat jelas bahwa ada kemarahan, kekecewaan serta rasa terkejut dari paras wajah bengis itu.
"Panggil Tuan Paul kemari!" Bentak pemuda itu dengan lantang sambil membuang ponsel di tangannya itu ke arah kursi.
Tak lama berselang, tampak seorang lelaki botak seperti seorang dosen memasuki ruangan itu bersama seorang pengawal yang tadi di suruh oleh pemuda itu memanggil Tuan Paul.
"Anda memanggil saya Tuan muda Honor?" Tanya lelaki 60-an itu.
"Kau sudah membaca berita pagi ini Paul?" Tanya Pemuda itu tanpa sedikitpun berlaku sopan kepada lelaki yang pantasnya adalah sebaya dengan ayahnya itu.
"Tidak Tuan muda. Ada berita apa pagi ini?" Tanya Tuan Paul.
"Kita terkecoh lagi. Gagal lagi lalu kalah lagi. Kau terlalu asyik membahas perencanaan tanpa dibarengi dengan pergerakan. Kau lihat bahwa kita sudah di tikung oleh Future of Company!" Bentak pemuda itu.
"Maksud anda Tuan muda?" Tanya Tuan Paul sambil mengerutkan keningnya.
"Garden Company telah mengikat kesepakatan kerjasama dengan Perusahaan Future of Company. Kau baca sendiri berita itu. Sialan!" Maki pemuda itu lalu menghempaskan tubuhnya di kursi.
Mendengar perkataan dari anak majikannya itu, Tuan Paul pun langsung mengeluarkan ponselnya lalu mencari berita tentang perusahaan Garden Company.
Benar saja. Kini di halaman utama di platform media yang mengeluarkan pemberitaan terpercaya mengeluarkan berita kali ini tentang kesepakatan kerjasama senilai USD 350 juta dalam proyek pembangunan restoran, lapangan golf, renovasi Garden Villa dan lain sebagainya. Hal ini sungguh membuat Tuan Paul jadi terkejut.
"Sudah kau baca?" Tanya Honor Miller.
"Ini. Ini..,"
"Itulah kelambanan mu. Sekarang bagaimana kita bisa memasuki Garden Hill jika sudah begini ceritanya?" Bentak Honor Miller kepada Tuan Paul.
"Tuan muda. Masih belum terlambat. Mereka hanya mendirikan restoran dan lapangan golf. Kita masih bisa mengusahakan agar proyek kita bisa berdiri di sana. Aku sendiri akan melobi pemerintah setempat untuk meluluskan proposal kita dalam berinvestasi di sana. Anda tenang saja." Kata Tuan Paul membujuk anak majikannya itu agar tidak terlalu pusing memikirkan kerja sama antara Future of Company dengan Garden Company ini.
"Rencana apa lagi yang kau miliki. Dari dulu hanya rencana.., rencana dan rencana saja. Aku ingin praktek langsung bukan teori!"
"Siap Tuan muda."
"Pergi! Selesaikan apa yang kau rencanakan. Aku tidak ingin gagal lagi."
"Baik Tuan muda." Kata Tuan Paul lalu segera akan keluar dari ruangan itu. Namun sebelum dia keluar meninggalkan ruangan itu, kembali Honor Miller memanggilnya.
"Paul. Bagaimana dengan orang-orang yang kau kirim ke kota Kemuning? Apakah sudah ada kabar?"
"Belum Tuan muda. Mereka masih melakukan penjajakan dan mengumpulkan semua informasi. Jika semuanya sudah terkumpul, barulah mereka bisa mengambil tindakan."
"Ya sudah. Pergi sana selesaikan urusan mu."
"Saya Tuan muda." Kata Paul lalu segera berlalu meninggalkan ruangan itu dengan wajah merah padam.
"Selama aku mengikuti Jerry William, belum pernah aku diperlakukan seperti hamba begini. Baru kali ini aku diperlakukan seperti seorang budak Belian." Kata Tuan Paul dalam hati sambil mengepalkan tinjunya kuat-kuat.
*********
Pada siang itu, beberapa pemuda dan pemudi tampak sedang duduk di pinggir pantai menikmati ombak yang saling berkejaran seperti berlomba-lomba untuk memukul pasir di pinggiran pantai.
Di sana tampak Joe William, Tiara, Xenita, Namora, Hendro, Udin, Lia dan Putri juga Lestari yang baru saja tiba tadi pagi. Kesembilan muda mudi itu tampak sedang asyik bersama-sama memandangi ombak.
"Ketua. Apa kau menginginkan sesuatu? Saya akan ambilkan untuk anda." Tanya Namora. Anak muda ini sulit sekali untuk tersenyum. Nama suaranya pun terkesan sangat dingin dan kaku.
"Aku tidak. Coba kau tanyakan kepada Xenita!" Kata Joe. Dia sengaja menyuruh Namora mendekati gadis itu agar mereka bisa akrab.
"Saya takut Ketua." Kata Namora.
"Takut?" Tanya Joe sambil menatap lucu ke arah pemuda itu.
"Oh. Kau takut dengan wanita? Buang saja telor mu atau jadikan untuk umpan hiu!" Kata Joe membuat wajah Namora menjadi merah padam.
"Namora. Aku ingin kelapa muda. Apakah boleh?" Kata Xenita memulai. Hal ini dia lakukan karena tertarik dengan pemuda ini yang terkesan dingin dan pemalu.
"Ayo Namora! Apa kau mendengar permintaan Xenita?" Tanya Joe William kepada Namora yang masih tertunduk.
"Baik Ketua. Saya akan mencarikan kelapa muda untuk Xenita." Kata Namora lalu bergegas pergi.
Tak lama kemudian dari arah belakang rumah Tiara, tampak Namora menenteng beberapa butir buah kelapa.
Kini tampak baju kemeja nya yang putih berubah menjadi warna hijau pertanda bahwa dia baru saja selesai memanjat pohon kelapa itu.
Selesai mengupas buah kelapa itu kini dengan tangan gemetaran dan wajah merah padam, Namora akhirnya menghampiri Xenita.
"Ini kelapa muda yang anda inginkan Nona." Kata Namora. Mulutnya berbicara seperti itu namun matanya hanya memandang pasir di ujung sendalnya.
"Terimakasih Namora." Kata Xenita.
Karena mengetahui bahwa pemuda ini tampak sangat pemalu, Xenita langsung mengambil kelapa itu sekaligus memegang tangan Namora yang masih juga memegangi kelapa tadi membuat tubuh Namora mendadak panas dingin.
"Kena kau Namora." Pikir Xenita dalam hati.
Dia memang sengaja ingin menggoda pemuda itu atau sengaja ingin menilai sebatas mana keluguan Namora ini. Hal ini karena dia merasa heran bagaimana di jaman modern seperti sekarang ini masih ada seorang pemuda yang begitu lugu dan sangat ketakutan ketika berhadapan dengan seorang wanita. Dan Namora ini terbukti sangat ketakutan sekali.
"Namora! Hei. Kau kenapa?" Tanya Joe melihat lutut Namora tidak berhenti bergetar.
"A-aku.., aku tid-tidak apa-apa ketua. Aku pergi dulu menemui ayah ku." Kata Namora bergegas meninggalkan mereka.
"Kau apakan dia Xenita?" Tanya Joe setelah Namora berlalu.
"Bukan aku tapi dia yang terlalu ketakutan." Jawab Xenita.
"Kak Joe. Aku menilai bahwa Namora ini tipe lelaki yang sudah langka di dunia ini. Aku tertarik kepadanya."
"Oh ya? Bukankah tadi kau mengatakan bahwa kita sudah dijodohkan?" Tanya Joe berpura-pura kaget untuk mengetahui tanggapan dari gadis yang terlihat sangat centil ini.
"Perjodohan? Hahaha. Kita ini hidup di jaman apa kak? Sudah tidak jaman lagi perjodohan. Lagi pula kau kan sudah punya Tiara." Jawab Xenita membuat Tiara hanya tersenyum sumbing mendengar dialog antara Joe dan Xenita.
"Aku kalau bisa ingin punya tiga atau empat pendamping. Tiara, Lestari, Kau dan aku akan mencari seorang lagi." Kata Joe.
"Sialan. Itu yang membuat nilai plus dari seorang Namora jika dibandingkan dengan mu." Kata Xenita sambil melemparkan kulit kelapa ke arah Joe.
Sementara itu, Tiara dan Lestari hanya mendelikkan mata mereka melihat ke arah Joe yang sama sekali tidak terlalu ambil pusing dengan apa yang baru saja dia ucapkan.
"Kau Lia dan Putri. Jika aku mencari pendamping yang ke empat apakah kalian akan bersaing untuk mendapatkan ku?" Tanya Joe sambil tertawa.
"Pret. Aku lebih memilih menjadi perawan tua." Jawab Lia membuat Joe kembali tertawa terpingkal-pingkal.
"Kak Joe. Tidak terasa kami sudah dua hari di sini. Sore nanti aku dengar bahwa paman akan kembali ke Starhill. Apakah kau akan ikut pulang?" Tanya Xenita kepada Joe William.
"Tidak. Aku butuh waktu untuk menetapkan hatiku untuk meninggalkan Kuala Nipah ini. Tunggu sedikit tenang baru aku akan pulang. Kalian bisa pulang duluan. Aku akan pulang ke Starhill secara diam-diam supaya tidak menarik perhatian." Jawab Joe.
"Apakah kau bisa mengajak Namora untuk ikut?" Tanya Xenita.
"Dia belum lulus. Kelak aku akan mengajaknya untuk kuliah di Starhill atau Garden Hill. Kau sabar saja setahun lagi."
"Kalau begitu kami juga mau ke sana Joe. Apakah boleh?" Tanya Udin.
"Boleh. Kenapa tidak?" Jawab Joe dengan mantap.
"Ok. Kau tunggu saja. Kemungkinan kami akan sampai di sana tidak lama lagi." Jawab Putra dari Jabat ini.