
"Hait..."
Wuzz...!
"Hoeg..."
Tampak salah seorang dari ketiga lelaki tadi memegangi lehernya yang terkena tebasan senjata di tangan Joe, lalu ambruk.
"Ah. Tidak seru."
"Paman. Lemparkan senjata ditangan mu itu kepada dua ekor monyet ini!" Pinta Joe sambil terus mengitari lawan nya.
"Seperi ini Sean!" Kata Joe lalu kembali melompat dan melayangkan tendangan kakinya yang sangat berbahaya itu.
Plak!
Bugh!
Prak...!
"Uhuk..."
Begitu tendangan kakinya mengenai kantong kemenyan lawan, kini tampak salah satu dari kedua lelaki tadi menggeliat sambil memegangi barang antik warisan leluhur nya.
Slap!
"Hoek!"
Seorang lagi memegangi lehernya yang seperti memakai kalung. Tapi bukan kuning, melainkan merah lalu ambruk mencium aspal.
"Seperti ini Sean!" Kata Joe sambil menarik lelaki yang ditendang oleh Joe tadi kehadapan lelaki bernama Sean itu kemudian,
Saaap!
"Akh..."
Tampak darah memercik ke wajah Sean akibat tebasan dari tangan Joe yang memegang Rencong emas tadi.
"Ampuni aku. Ampuni aku. Aku mengaku salah." Kata Sean sambil membenturkan kepalanya di aspal hingga berdarah.
Joe, anak berusia 17 tahun yang lucu, tengil, kocak, dan seperti orang kurang waras tiba-tiba berubah seperti malaikat maut pencabut nyawa malam ini.
"Kau memang tidak akan aku bunuh. Kau akan kembali untuk membawa berita ke MegaTown. Katakan kepada majikan mu, aku akan memburu serta menguliti tubuh mereka hidup-hidup. Katakan bahwa aku telah di tempa selama dua belas tahun hanya untuk menjadi tukang jagal. Ingat itu Sean. Tukang jagal! Hahahaha..... Hahahaha...." Kata Joe sambil tertawa terbahak-bahak.
Tampak jelas diantara cahaya lampu kendaraan yang memblokir jalan tersebut, pancaran mata Joe berubah menjadi warna merah berkilat-kilat penuh nafsu membunuh.
"Bunuh mereka semuanya. Hanya Sean saja yang boleh hidup untuk menyampaikan berita."
"Huh. Bahagia sekali aku malam ini dapat meminum banyak darah." Kata Joe lalu mencengkram ujung baju bagian belakang leher Sean kemudian menyeretnya secara paksa persis seperti dia ketika kecil dulu menyeret ban mobil sewaktu di latih oleh kakek Malik di Mountain Slope.
"Mengganggu ketenangan Joe, berarti mengantar nyawa. Lain kali pastikan dulu siapa lawan mu!"
Plak.
"Ampuni aku." Rintih Sean ketika ditendang oleh Joe ke arah mobil.
Sementara itu, tampak Tigor yang memakai pakaian hitam dengan topeng kucing nya sedang menyeka mata pedangnya dengan sapu tangan putih yang kini tampak berubah warna menjadi merah.
Dari arah belakang pula, tampak beberapa orang sedang mencampakkan tubuh-tubuh korban mereka ke dalam sebuah parit kemudian melemparkan beberapa tong minyak bensin.
Ketika Ameng menyulut korek api dan melemparkannya ke dalam lobang parit tadi, tak lama berselang, tampak api menyambar dan secepat kilat langsung melahap apa saja yang ada di sekitarnya.
Dalam waktu sekejap, kawasan yang biasanya gelap itu menjadi terang benderang oleh kobaran api.
"Kalian sebagian kendarai mobil sewaan mereka itu lalu kirim kembali ke rental milik Lamhot! Kita kembali ke kota Kemuning dan sebagian membersihkan sisa-sisa darah yang ada di jalan ini." Kata Tigor memerintahkan.
"Ayo. Buka sekatan pada jalan ini. Cepat kembali ke markas sebelum polisi datang!" Kata Andra pula.
Selepas perintah itu dikeluarkan, kini semua orang mulai melakukan gerak cepat. Ada yang berlari menuju mobil untuk mengambil air yang memang telah mereka sediakan. Ada pula yang bertugas membersihkan jalan aspal itu dari genangan darah-darah para pembunuh bayaran yang di kirim dari MegaTown.
Tidak lebih dari sepuluh menit, semuanya sudah beres lalu mereka pun bergerak kembali ke kota Kemuning.
Kini, jalan di sekitar perkebunan kelapa sawit di perbatasan antara kota Kemuning dan kota Batu itu kembali sepi. Hanya ada bau daging panggang yang masih tercium oleh hidung.
...Martins Hotel...
Sebelas orang tampak sedang berjalan menuju lobby hotel. Mereka adalah Joe, yang berjalan paling depan diikuti oleh Tigor, Monang, Andra, Timbul, Ameng, Acong, Thomas, Ucok, Jabat dan Sugeng langsung menuju ke lift kemudian naik ke atas di mana Joe tadi meninggalkan Aline yang di jaga oleh dua puluh orang bawahan Tigor.
"Ketua."
"Ketua. Anda sudah kembali." Tanya para mengawal yang saat ini sedang berdiri di depan pintu kamar.
"Bagaimana dengan Bibi ku? Apakah dia ada di dalam?" Tanya Joe.
"Menjawab anda, Ketua. Miss Aline ada di dalam dan dari tadi sangat mencemaskan keadaan anda." Jawab salah seorang dari pengawal itu.
"Oh. Mencemaskan aku? Haha. Iya juga. Aku memang harus di cemaskan." Kata Joe sambil melirik ke arah Tigor dan yang lainnya dengan mereka pun membalas lirikan Joe ini dengan senyuman.
Tok tok tok!
"Bibi. Aku kembali." Kata Joe sambil mengetuk pintu.
"Joe. Kau sudah kembali?"
Terdengar suara seorang wanita setengah baya dari dalam kamar lalu tak lama setelah itu pintu kamar pun terbuka.
"Ini tas mu Bibi. Semuanya tidak ada yang kurang." Kata Joe sambil menyerahkan kembali handbag wanita itu yang tadi dia sita.
"Itu tidak perlu. Yang penting kau selamat. Bagaimana dengan orang-orang yang memburu dirimu itu?" Tanya Aline sambil memegangi pipi Joe.
"Mereka berhasil kami kecoh. Lalu tersesat. Iya kan paman?!" Kata Joe sambil melirik ke arah Tigor.
"Benar Miss Aline. Mungkin kini mereka tersesat di perkebunan kelapa sawit perbatasan." Kata Tigor pula berbohong.
"Joe. Kau harus cepat kembali ke Starhill. Di sini terlalu bahaya bagi mu. Jika kau tidak ingin kembali, maka setidaknya kau harus di kawal paling sedikit lima puluh orang." Kata Miss Aline mengungkapkan kekhawatirannya.
"Dikawal enam orang saja aku kelabakan. Apa lagi dikawal lima puluh orang. Bisa mati berdiri aku." Kata Joe sambil tersenyum kecut.
"Heh Joe. Dengarkan nasehat Bibi. Mereka tersesat? Mustahil mereka tidak bisa menemukan jalan untuk kembali. Setelah esok, mereka pasti akan mengincar dirimu lagi. Jangan membantah. Kau harus di kawal." Kata Miss Aline masih tetap kukuh dengan pendiriannya.
"Miss Aline. Anda tidak perlu khawatir. Masalah Tuan muda kita ini, biar menjadi tanggung jawab saya untuk menjaganya." Kata Tigor.
"Apa nya yang perlu di jaga? Justru tadi dia yang menjaga kami. Sialan aku tidak menyangka kalau anak ini memiliki kekejaman melebihi diriku ketika masih muda dulu." Kata Tigor dalam hati.
"Oh iya iya iya. Aku percayakan keselamatan Anak ku ini kepada anda Pak Tigor." Kata Miss Aline dengan wajah tampak menunjukkan kelegaan.
"Bibi, kau harus kembali ke rumah mu. Paman-paman ku ini akan mengantarkan mu pulang. Aku mau istirahat dulu. Nanti jika aku rindu, aku akan datang ke Tower Mall untuk sekedar naik Troli." Kata Joe sambil tersenyum.
"Kau sama saja seperti ayah mu. Tapi kau ini lebih sialan lagi." Kata Aline membuat Joe tersedak menahan tawa.
"Ya sudah. Bibi pulang dulu. Kau jangan berkeliaran di luar. Tinggal saja di kamar ini. Jangan kemana-mana tanpa pengawal. Ingat itu!" Kata Miss Aline sambil mendelikkan matanya.
"Joe, mendengar perkataan Bibi." Kata pemuda itu sambil membungkuk hormat.
"Paman, antar kan Bibi ku ini ke Tower Apartemen dengan selamat ya." Kata Joe.
"Siap Ketua." Kata mereka dengan hormat lalu mempersilahkan Miss Aline untuk berjalan mendahului.
Kini tinggallah Joe termangu sendirian lalu mengeluarkan Rencong emas pemberian Tengku Mahmud dari balik pinggangnya.
"Benar-benar mengerikan senjata ini. Mendadak nafsu membunuh ku nyaris tidak dapat dikendalikan." Kata Joe sambil menyimpan kembali Rencong itu ke dalam peti kayu berukir dengan perasaan yang sangat sulit untuk dijelaskan.
Kini dia segera membuka jaket Hoodie miliknya sekaligus masker yang dia kenakan tadi.
Kini dia bergegas menuju ke kursi dekat jendela lalu segera memandang ke bawah.
"Andai gedung-gedung tinggi berada di kota Kemuning ini, pasti akan lebih indah sekali jika di lihat pada malam hari." Gumam Joe dalam hatinya.
Dia terus saja seperti itu sambil memikirkan kejadian yang baru saja dia alami tadi.
"Mengapa aku bisa seperti lupa diri?" Katanya dalam hati.
Lama dia berfikir namun tidak dapat menemukan jawabannya. Setelah bosan, dia pun lalu merebahkan dirinya untuk segera tidur agar besok lebih kuat lagi menghadapi kenyataan hidup.