Joe William

Joe William
Membahas hari ulangtahun Joe William



...KOTA KEMUNING....


Berita tentang Roger yang mendapat hukuman dari Joe akhirnya merebak dari mulai Dolok ginjang sampai ke Tanjung karang.


Hampir semua dari anggota senior seperti Poltak, Lalah, Tigor dan yang lainnya mengutuk keras kelakuan Roger ini dan berinisiatif untuk mengadili menantu Lalah ini.


Lalah, yang mengetahui tentang masalah ini langsung datang ke kota Kemuning untuk hadir dalam memberikan hukuman terhadap menantunya itu.


Andai Ameng tidak menjelaskan bahwa Joe sudah memaafkan Roger, sudah pasti Roger akan di buang ke tanjung karang selama enam bulan sebagai buruh bangunan.


Ameng, walaupun tidak menyukai tindakan yang dilakukan oleh Roger ini, namun tetap berlaku jujur bahwa, Joe William selaku ketua dari seluruh yang ada dalam organisasi Dragon Empire memang telah memaafkan Roger sekaligus memberi hukuman yang sepadan untuk suami dari Wulan itu.


Kesaksian dari Ameng ini lah yang menyebabkan Lalah, Poltak dan Tigor urung memberikan hukuman kepada Roger.


Bagi Lalah sendiri, jangankan menantu. Andai anak kandungnya pun, jika sudah menyinggung yang namanya ketua, harus mendapat hukuman.


...***...


Perbincangan antara Lalah, Tigor, Poltak, empat Mister dadakan yaitu Andra, Ameng, Acong, Timbul serta sahabat-sahabatnya masa kecil Tigor yaitu Ucok, Thomas, Jabat dan Sugeng kini mulai merambat ke arah kehidupan pribadi Joe William.


"Aku ada mendengar dari pembicaraan ketua bersama maha guru Tengku Mahmud bahwa ketua mengadu kepada beliau jika selama usianya enam belas tahun, tidak pernah sekalipun dia merayakan ulang tahun nya." Kata Ameng membuka percakapan.


"Ha? Apa kau yakin tidak salah dengan Meng?" Tanya Acong yang merasa heran.


Wajar saja lelaki setengah baya itu merasa heran.


Joe ini kan putra satu-satunya dari seorang yang sangat berkuasa, kaya raya, serta memiliki puluhan perusahaan di banyak negara. Mustahil Joe William anak satu-satunya sampai semiris itu kehidupan nya sampai-sampai ulang tahun nya pun tidak pernah dirayakan.


"Aku masih belum pekak dan tuli Cong. Aku dengar sendiri ketua mengungkapkan perasaannya kepada maha guru. Aku sendiri pun hampir menangis mendengar nya." Kata Ameng pula.


"Aneh. Aku nyaris tidak dapat mempercayai yang kau katakan ini Meng." Kata Andra pula.


"Andra. Jika kau mengukur sesuatunya dengan Hendro putra mu, Hendro sama sekali tidak pernah merasakan penderitaan. Dia tidak pernah berpisah dengan mu lebih dari satu bulan. Berbeda dengan ketua. Yang aku dengar, Dia sudah diadopsi oleh kakek angkat ibunya ketika masih berumur satu tahun. Kau bayangkan saja betapa seorang Tuan muda calon pewaris tunggal dari kerajaan bisnis Ayah nya diadopsi di tempat terpencil. Jika itu Hendro, kau bayangkan sendiri saja lah!" Kata Ameng.


"Sebenarnya sangat masuk akal apa yang dikatakan oleh Ameng itu. Apa kau tidak lihat ketika dia pertama kali tiba di sini? Dia seperti orang bodoh pada mulanya. Namun ketua kita ini sangat pintar. Dia bisa menguasai suasana serta menutupi keterkejutannya dengan tingkah konyolnya. Aku menduga bahwa sifat konyolnya ini hanyalah sesuatu yang dia sengaja untuk menutupi kelebihannya." Kata Tigor.


Berhenti sejenak seperti sedang mengingat-ingat sesuatu, lalu Tigor melanjutkan.


"Kakek Tengku Mahmud ketika masih muda adalah orang yang suka mengembara. Tujuannya mengembara adalah untuk mencari lawan bertarung. Hanya beberapa orang saja yang bisa bertahan ketika melawan dirinya dalam perkelahian. Salah satunya adalah Malik. Jika ketua ini di didik langsung oleh kakek Malik itu, kemudian di tambah pula di didik oleh kakek Tengku Mahmud ku, dapat kau bayangkan seberapa hebatnya ketua kita ini. Namora, sama sekali tidak ada seujung kuku nya." Kata Tigor lagi.


"Aku rasa bahwa Tuan besar memiliki misi terselubung kepada putranya itu. Dia sengaja untuk mendidik anaknya menjadi anak yang bersahaja, rendah hati, dan memiliki kemampuan yang tinggi. Anak ku saja, baru sebulan lagi Ulang tahun, sudah minta hadiah ini dan itu. Sungguh jauh api dari panggang." Kata Andra mendadak merasa malu karena terlalu memanjakan anaknya.


"Ya. Aku juga berpikiran sama dengan mu. Namun yang namanya seorang anak, dia juga berhak untuk bahagia. Janganlah terlalu seperti itu. Cara Tuan besar ini aku tidak terlalu setuju. Habis masa-masa remajanya hanya untuk berlatih jasmani maupun rohani. Lalu kapan dia bisa menikmati masa remaja?"


"Lalu bagaimana ini. Apa kau memiliki solusi Cong?" Tanya Ameng.


"Solusinya adalah, telusuri kapan hari dan tanggal lahirnya ketua. Kemudian, mari kita rayakan. Apa susahnya?"Jawab Acong.


"Em... Aku ingat sekarang." Kata Tigor seperti mengingat sesuatu.


"Apa yang kau ingat bang?" Tanya Timbul yang sejak tadi hanya menjadi pendengar setia saja.


"Aku ingat. Hari pertama aku menelepon Tuan Arslan untuk meminta bantuan, hari yang sama. Ya. Bukankah hari itu Tuan Arslan mengatakan bahwa mereka sedang berada di rumah sakit karena istri dari Tuan besar Jerry sedang melahirkan?!" Jawab Tigor.


Kini tampak kecerahan pada wajahnya ketika dia ingat meminta bantuan kepada Arslan untuk menyerang geng tengkorak dan geng kucing hitam.


"Tiga hari sebelum pernikahan mu Gor!" Kata Andra pula.


"Benar. Aku menikah tanggal 15 Mei. 15, 14, 13. Berarti tanggal 13 Mei." Kata Tigor sangat bersemangat.


"Tiga belas Mei. Tiga belas. Angka yang lumayan sadis." Kata Andra.


"Tunggu dulu. Aku masih sangsi." Kata Ameng.


"Apa lagi yang kau sangsikan Meng?" Tanya Andra merasa heran.


"Begini. Jika Tuan besar saja tidak mau merayakan hari ulang tahun putranya, lalu apakah kita akan merayakannya? Apakah itu tidak terlalu lancang dan berlebihan?" Tanya Ameng sambil mengutarakan kekhawatiran nya.


"Benar juga. Apakah kita harus bertanya dan meminta izin kepada Tuan besar?"


"Sebaiknya iya. Tapi usahakan agar ketua tidak mengetahui hal ini. Jika dia tahu, maka sudah bukan kejutan lagi namanya." Kata Ameng pula.


Tanpa menunggu banyak cing Cong lagi, Tigor pun langsung mengeluarkan ponselnya kemudian membuat panggilan internasional.


Beberapa detik menunggu, panggilan itu pun akhirnya terhubung.


"Hallo Gor!" Sapa suara di seberang sana dengan ramah.


"Maaf Tuan besar jika mengganggu anda. Apakah anda sedang sibuk hari ini?" Tanya Tigor.


"Hahaha. Kebetulan sudah tidak lagi. Oh ya. Ada apa kau menelepon ku?"


"Begini Tuan besar. Saya ada mendengar keluhan dari ketua kepada kelak Tengku Mahmud bahwa dia seumur hidupnya tidak pernah merayakan hari ulang tahun."


"Maksud saya begini Tuan. Kami di sini ingin membuat acara perayaan hari ulang tahun untuk ketua Joe William. Namun kami masih ragu. Oleh karena itu, saya berinisiatif untuk meminta izin kepada Tuan. Bagaimana Tuan?" Tanya Tigor.


Seseorang di seberang sana tidak langsung memberi jawaban. Sebaliknya hanya tarikan nafas berat yang terdengar.


"Tuan. Apakah anda mendengar saya?" Tanya Tigor.


"Ya. Aku mendengar." Jawab Tuan besar itu.


"Memang aku mengaku salah karena terlalu menekan putra ku itu. Begini saja Gor. Kau atur lah acara yang menurut mu tidak mewah, tidak meriah namun berkesan. Aku tidak ingin nanti dia menjadi anak manja. Aku ingin apapun yang ingin dia capai, selalu melalui usaha keras dari dirinya sendiri. Jadi, berikan sesuatu yang alakadarnya saja. Kau mengerti?" Tanya si Tuan besar.


"Saya mengerti Tuan besar. Baiklah. Izin sudah saya dapatkan. Maka, saya akan mengatur segala persiapan dulu. Tidak ada pesta besar. Hanya sedikit kejutan untuk menyenangkan hatinya." Kata Tigor.


"Semua aku serahkan kepada mu. Kau kan juga memiliki putra. Anggap dia adalah putra mu juga."


"Ah. Itu terlalu tinggi Tuan. Saya tidak berani." Kata Tigor.


"Tidak apa-apa. Dia bukan hanya putra ku sendiri. Dia adalah putra Dragon Empire, Putra Future of Company dan putra kita bersama. Aku yakin tidak akan ada yang mampu mencelakainya. Tapi yang aku takut, dia yang akan mencelakai orang lain. Itu bahaya."


"Siap Tuan. Saya akan memperhatikan kekhawatiran anda ini." Kata Tigor.


"Baiklah Gor. Lakukan sesuatu yang menurut mu baik. Ingat untuk tidak membiarkan siapapun merekam atau mengambil gambar Joe itu. Jika terpaksa dan tidak bisa dihindarkan, sebaiknya suruh dia memakai masker! Aku akhiri dulu ya." Kata Tuan besar itu kemudian langsung mengakhiri panggilan.


"Bagaimana bang?" Tanya mereka sambil mendekat.


"Sip lah. Izin sudah dapat. Mari kita siapkan segala sesuatunya. Tinggal beberapa hari saja lagi." Kata Tigor sambil tersenyum.


"Ok."


"Kau Roger. Jika ingin memberikan kesan baik kepada ketua, maka sekarang lah saatnya." Kata Ameng.


"Aku akan memberikan lampu yang dia inginkan itu. Aku tahu dia suka dengan lampu itu. Kemungkinan karena marah, dia menolak." Kata Roger.


"Ok. Ayo bubar dan lakukan kerja kalian masing-masing. Seminggu sebelum acara, kita berkumpul lagi dan mempersiapkan segala sesuatunya." Kata Tigor membubarkan pertemuan itu.


BERSAMBUNG...