Joe William

Joe William
Tigor mengantar Joe ke Kuala Nipah



Entah sudah berapa kali pemuda itu mondar mandir di dalam kamar hotel itu.


Sejak tadi terlihat pancaran matanya tersirat nafsu membunuh yang tinggi.


Tak lama kemudian terdengar ponsel miliknya berdering menandakan adanya pesan yang masuk.


Dengan cekatan pemuda itu menyambar ponselnya di atas tempat tidur lalu membuka kunci di layar ponsel itu sambil dengan kakinya, dia menyingkirkan sebuah kursi yang terjatuh akibat amukan dari luapan rasa emosinya yang tak terkendali.


Antara Joe William, Harvey dan Lilian sudah terjalin persahabatan sejak mereka masih duduk di sekolah dasar. Susah dan senang selalu mereka jalani bersama.


Walaupun banyak yang mem-bully Joe, menghina bahkan dikatakan anak orang hutan oleh Charles, Milner dan Jimbo, namun Harvey dan Lilian tidak pernah meninggalkan dirinya bahkan tetap bersahabat dengan tulus.


Kini, bagaimana dia tidak merasa marah jika salah satu dari sahabatnya itu ditindas oleh orang yang selama ini selalu menindas dirinya. Dan tidak hanya sampai di situ saja. Orang yang menindas sahabatnya itu malah menggunakan nama besar perusahaan milik ayahnya serta anggota dari organisasi yang dia ketuai. Benar-benar mencari mampus.


"Ketua. Ada apa Anda begitu terburu-buru pulang ke Kuala Nipah? Apakah ketua mendapat kabar yang tidak baik dari Kakek maha guru?" Tanya satu suara di pesan WhatsApp.


"Tidak paman. Bukan itu. Saat ini aku mendapat kabar dari Mountain slope bahwa sahabat ku sedang dalam masalah. Aku harus segera kembali. Aku ingin kembali secara gelap melalui jalan laut. Ini karena aku membawa dua bilah senjata tajam. Aku khawatir jika tidak dapat lolos di ruang pemeriksaan." Jawab Joe lalu segera mengirim balasan pesan suara tersebut.


"Baiklah Ketua. Kami akan segera ke Martins Hotel sekarang." Jawabnya.


"Kami? Tidak! Hanya kita berdua saja paman. Aku tidak ingin menjadi pusat perhatian. Dan, bawa mobil Biasa saja. Aku akan menunggu paman di sini." Kata Joe lalu melemparkan ponselnya kembali di atas ranjang.


Sambil membungkuk, Joe menarik meja yang tadi dia tendang lalu meletakkan sebuah peti yang terbuat dari kayu penuh ukiran itu di atasnya.


Dengan tangan bergetar dia membuka penutup peti kecil itu lalu mengeluarkan dua bilah pisau dan memperhatikan kedua benda pusaka tersebut.


Lama dia memperhatikan Rencong yang diwariskan oleh Kakek Tengku Mahmud itu kepadanya.


"Rencong ini. Oh Tuhan. Mengerikan sekali. Andai tidak terlalu mendesak, aku tidak akan menggunakan senjata ini. Ih... Takut." Kata Joe dalam hati lalu meletakkan kembali Rencong emas itu di atas meja.


Kini perhatiannya tertuju pada sebilah belati bergagang kepala ular kobra itu. Menatapnya dengan tatapan penuh kerinduan lalu mencium sarung pisau itu.


"Kakek Uyut. Aku sudah selesai di sini. Kau sudah tidak memiliki hutang janji lagi. Aku harap semoga kau beristirahat dengan tenang di sana. Di sisi Tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang." Kata Joe dalam hati.


Tidak terasa air mata nya menetes juga ketika membayangkan betapa dulu dia sering membangkang, melawan perintah dan selalu kabur ketika di suruh latihan.


Pernah sekali karena ulahnya yang sering kabur ketika di suruh latihan, dia sampai di cegat di tengah jalan oleh Charles, Milner dan Jimbo lalu dirinya di keroyok oleh ketika bocah itu.


Kini sepuluh tahun berlalu dari peristiwa pengeroyokan itu. Namun rasa jengkel di hati Joe masih tetap ada. Dan kini Charles dan Milner malah ingin mengungkit lagi kisah lama dengan menekan sahabatnya. Bukankah itu sama saja dengan menyiram air cuka di atas lukanya yang masih belum sembuh.


"Kau akan membayar semua ini Charles dan Milner. Kau pasti akan membayarnya. Tunggu saja kedatangan kakek moyang mu ini ke Garden Hill." Kata Joe lalu kembali mengamuk seperti orang gila sehingga kamar itu saat ini persis seperti kapal pecah.


*********


Satu unit mobil Daihatsu dengan model seperti mobil pengantar jenazah berhenti tepat di depan Martins Hotel.


Dari dalam kendaraan yang sekarat itu, keluar seorang lelaki setengah baya yang di kenal sebagai pemilik Martins Hotel, Yayasan Martin, serta restoran dan pusat hiburan terbesar di kota ini.


Orang-orang mengenalnya dengan nama Tigor.


Ketika Tigor memasuki lobby hotel tersebut, beberapa orang yang bertugas malam itu seperti tidak percaya melihat bos mereka tiba dengan mobil sekarat.


Berulang-ulang kali mereka menatap antara Tigor dan mobil yang ada di depan hotel itu.


"Bang. Apa yang terjadi dengan mu?" Tanya para pengawal keamanan dan dua orang wanita muda resepsionis.


"Tidak apa-apa. Oh ya? Apakah kalian ada melihat Ketua kita turun dari lantai atas?" Tanya Tigor.


"Tidak ada bang. Tapi aku mendengar sepertinya ketua sedang mengamuk. Aku mendengar tadi dia sedang menelepon seseorang. Lalu setelah itu, terdengar dia membanting meja dan kursi. Kami ketakutan dan langsung lari ke bawah." Jawab anak buah Tigor yang memang sengaja ditempatkan untuk menjaga keamanan di hotel miliknya ini.


"Siap bang!" Jawab mereka bersamaan sambil memperhatikan Tigor yang berjalan cepat menuju lift.


Tigor terus saja berjalan dengan cepat lalu berhenti di salah satu kamar kemudian mengetuk pintu.


Tok tok tok!


"Apakah anda ada di dalam, Ketua?" Tanya Tigor.


Sebagai jawaban, pintu kamar itu terbuka lalu tampak seraut wajah yang sangat kusut menyambut kedatangan nya.


"Ada apa dengan anda Ketua?" Tanya Tigor heran.


Jelas saja dia merasa heran. Ini karena selama dia mengenal Joe, tidak pernah pemuda itu se-kusut ini. Joe yang dia kenal sangat ceria, tengil dan jarang serius.


Hal yang paling mengherankan lagi ketika Tigor melangkah memasuki kamar itu. Keadaan kamar itu benar-benar centang perenang dengan beberapa kursi ada yang terbalik. Layar televisi retak, meja hancur dan banyak lagi kerusakan yang lainnya.


"Apakah anda baik-baik saja Ketua?" Tanya Tigor lagi.


"Maafkan aku paman. Aku tadi tidak bisa mengendalikan kemarahan." Kata Joe.


"Ada apa sebenarnya ketua?" Tanya Tigor penasaran.


"Ada yang ingin coba bermain-main dengan menggunakan nama besar perusahaan milik Ayah ku. Mereka juga menggunakan orang-orang dalam organisasi untuk menindas orang lain. Dan yang lebih parahnya lagi, orang yang mereka tindas itu adalah sahabat masa kecil ku. Tidak dapat aku maafkan." Kata Joe sambil mengepalkan tangannya.


"Percuma anda marah-marah ketua. Ini hanya benda mati. Simpan kemarahan anda lalu lampiaskan ketika tiba pada waktunya." Kata Tigor menasehati.


"Benar kata mu itu Paman. Maafkan aku. Oh ya. Apakah kita bisa berangkat sekarang?" Tanya Joe.


"Silahkan. Mobil butut pengantar jenazah ku sudah siap."


"Pengantar jenazah?" Tanya Joe heran.


"Ya. Bukankah ketua ingin agar kita tidak menjadi bahan perhatian?" Tanya Tigor.


"Hahaha. Iya juga. Ayo lah." Kata Joe yang mulai dapat mengerdilkan sedikit kemarahannya.


Tigor langsung menyambar tas ransel milik ketuanya itu sedangkan Joe berjalan di depan dengan memeluk peti kayu berukir peninggalan mendiang kakek Malik.


Tiba di bawah, Joe langsung tidak dapat menahan tawa ketika melihat mobil yang akan mereka gunakan berangkat ke Kuala Nipah itu.


"Paman yakin kita bisa sampai dengan mobil ini?" Tanya Joe.


"Bah. Jangan sepele, Ketua. Walaupun body mobil ini sekarat, tapi mesinnya baru. Percuma kita punya Lalah sang raja selundupan dari Dolok ginjang." Kata Tigor.


"Mari ketua. Bukankah Anda buru-buru?"


"Terimakasih paman. Aku telah banyak menyusahkan dirimu selama berada di sini." Kata Joe dengan wajah tidak enak.


"Ah. Bicara apa anda ini, Ketua. Jika bicara tentang menyusahkan, aku lebih sering menyusahkan Ayah anda. Itu biasa. Sudah menjadi tugas kewajiban." Kata Tigor sambil tersenyum.


Mereka lalu berangkat menggunakan mobil sekarat itu menuju ke kampung pinggir laut bernama Kuala Nipah di tengah malam buta itu.


SELESAI BACA, WAJIB LIKE! HEHEHE


BERSAMBUNG...