Joe William

Joe William
Makan malam yang sangat romantis



Di pintu masuk restoran, Joe yang tidak ingin mendapat hinaan yang nantinya bisa merusak moodnya segera menunjukkan kartu Diamond eksklusif member nya kepada sang manager di restoran yang sukses membuat manager restoran tersebut kaget setengah mati.


Selama ini, hanya platinum member saja yang pernah datang ke restoran yang baru saja berdiri sekitar lima bulan ini. Itupun hanya Tigor saja. Kini, seorang pemuda yang terlihat tidak begitu menonjol, tiba-tiba saja datang dan menyodorkan kartu Diamond VIP eksklusif kepadanya.


"Siapa sebenarnya pemuda ini?" Pikir sang manager dalam hatinya.


"Pak. Apakah anda sudah puas memegang kartu itu?" Tanya Joe menyadarkan keterkejutan sang Manager.


"Oh.., eh. Maaf Tuan muda," kata sang Manager tersentak dengan teguran Joe tadi.


"Anda harus mengantar semua yang saya inginkan di Diamond box! Sudah lima bulan restoran ini berdiri, baru kali ini saya ada waktu mengunjunginya!" Kata Joe yang juga menyerahkan sekeping lagi kartu BlackGold Citibank miliknya kepada sang Manager.


Kali ini, sang Manager menggigil ketakutan. Memang dia pernah mendengar bahwa pemilik dari perusahaan Tower Sole propier masih sangat belia. Tapi dia tidak menyangka bahwa pemuda yang tampak biasa-biasa saja itu adalah pemiliknya.


Setelah Joe pergi meninggalkan sang Manager yang masih shock itu, si Manager pun langsung meraih gagang telepon. Kali ini tujuannya adalah Tigor.


"Hallo!" Terdengar suara sapaan dari seberang sana.


"Bang Tigor. Iya aku bang. Ando! Manager di Tower Restauran!" Kata sang manager.


"Ada apa kau menelepon ku Ndo?"


"Bang. Saat ini Tower Restauran kedatangan tamu. Dia seorang pemuda yang masih belia. Berdandan urakan dan tampak tengil. Tapi di tangannya ada kartu Diamond VIP eksklusif."


"Layani pemuda itu dengan baik, jika kau masih sayang dengan Periuk nasi mu!" Kata Tigor tegas. Dia langsung teringat bahwa sore tadi memang Joe ada meneleponnya menanyakan apakah orang-orangnya ada di kota Batu. Mungkin, Joe ingin mengunjungi Tower Restauran.


"Ba-ba-baik, Bang!" Kata sang Manager ketakutan. Kini jelaslah baginya siapa pemuda urakan dan tengil itu. Ternyata dia adalah Tuan muda dari keluarga William.


Dengan sikap tergopoh-gopoh, sang manager pun langsung memberi perintah kepada para chef dan pelayanan di restoran itu untuk naik ke lantai paling atas dan menyiapkan masakan khas dan paling istimewa di restoran itu.


"Woi cepat kalian! Lembek kali jalan kau itu. Cepat lah sedikit!" Bentak sang Manager kepada pelayan yang langsung tergagap. Karena, tidak biasanya Manager Ando ini bersikap seperti kambing kebakaran jenggot seperti saat ini.


"Siap apanya pak Manager?" Tanya salah seorang dari pelayanan yang tampak kebingungan.


"Malaikat maut ada di Diamond box! Cepat kalian naik ke lantai atas dan layani dia!"


"Ha? Malaikat maut? Pak..?! Apakah bapak sehat?" Tanya pelayanan itu.


"Sontoloyo kau! Cepat lah! Apakah kau mendadak menjadi bodoh?" Sergah sang Manager yang tidak sabaran melihat gerak lambat dari pelayan itu.


"Ba-ba-baik. Baiklah pak!"


Para koki dan pelayanan langsung berhamburan menuju ke lantai atas. Ada diantara mereka, ada yang nyaris bertabrakan karena terlalu terburu-buru. Padahal, mereka tidak tau apa sebenarnya yang terjadi. Mereka hanya latah ketika melihat Manager Ando seperti cacing kepanasan.


*********


Sementara itu di lantai atas, Joe dan Tiara sudah duduk berduaan dan saling berhadapan di sebuah meja makan yang sangat imut. Cahaya yang redup dari beberapa batang lilin di meja itu menyemarakkan lagi suasana romantis.


Ketika Joe berlutut seperti itu, entah dari mana datangnya, tiba-tiba muncul dua orang lelaki tua sambil memainkan biola.


"Tiara. Kau tau bahwa aku tidak pandai merangkai kata-kata yang indah. Kau juga tau bahwa aku tidaklah seromantis para pujangga. Aku tidak pandai merayu, tidak pula pandai bermanis bibir. Saat ini, apa yang terucap dari bibirku, itulah yang ada dalam hatiku.


Telah lama aku menantikan saat-saat seperti ini. Tanpa ada pengawal, tanpa takut kau berada dalam bahaya. Kini, hanya ada kau dan aku. Di satu tempat yang tidak ada orang lain selain kita berdua. Upst! Maaf. Sepertinya aku salah. Bapak-bapak yang main biola itu juga adalah manusia,"


"Bangsat! Gagal sudah romantisnya!" Maki Joe dalam hati. Tapi dia buru-buru serius. Seperti tidak merasa bersalah, dia enak saja melanjutkan kata-katanya.


"Tiara. Sudah aku katakan bahwa aku bukanlah seorang sastrawan yang pandai merangkai kata. Terbukti bahwa tadi aku nyaris tidak menganggap bahwa bapak-bapak itu adalah manusia juga. Yang sama seperti kita. Hehehe... Tapi, apalah arti ucapan belaka tanpa perbuatan? Aku bukanlah orang yang pandai berteori. Karena, terkadang cinta itu terlalu sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Cinta itu tanpa alasan. Cukuplah hati mu saja yang merasakan apakah aku mencintaimu dengan tulus, atau hanya bualan belaka.


"Tiara.., sudikah dirimu menjadi kekasih hatiku?" Tanya Joe sambil menggenggam erat tangan gadis itu dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya, masih memegang kotak kecil berwarna merah hati tersebut.


Suara alunan biola dari dua orang lelaki tua itu terus mendayu-dayu menusuk ke relung hati kedua insan yang sedang dimabuk cinta itu. Hanya saja, sampai sejauh ini, Tiara masih tetap diam. Sepertinya, dia sangat shock. Bukan berarti dia tidak mencintai Joe. Hanya saja, mungkin inilah kali pertama baginya dan juga bagi Joe melalui moments seperti ini. Maka, wajar saja jika dia sangat gugup dan tak mampu berkata apa-apa.


"Kata Kakek Tengku Mahmud, kalau wanita itu diam, itu tandanya dia tidak menolak!" Kata Joe memecah kebekuan itu.


Dia lalu membuka kotak kecil yang berada ditangannya, kemudian meraih tangan kiri gadis itu. Setelah itu, tampak Joe memasukkan cincin platinum dengan butiran permata di atasnya ke jari manis gadis itu.


Tiara menutup mulutnya dengan tangan kanan. Nyaris saja dia tersedak karena tidak menyangka bahwa Joe yang sejak sore tadi sangat menjengkelkan, tiba-tiba berubah menjadi Arjuna.


"Hentikan Drama terharu mu itu!" Kata Joe lalu mendorong kening Tiara dengan ujung jari telunjuknya.


"Iiiih...!" Hanya itu kata yang keluar dari mulut Tiara.


"Maafkan aku sayang. Aku sebenarnya sangat ingin melihatmu bahagia. Bahagia saat bersama ku. Aku janji akan menjagamu, menyayangimu, membahagiakanmu sebatas mampu ku sebagai manusia biasa. Apapun keadaannya, aku berharap agar kau tidak meninggalkan aku!" Kata Joe sambil menuntun gadis itu berdiri. Lalu, dengan penuh kasih sayang, dia memeluk gadis itu dengan penuh kelembutan.


"Apa kau tidak menyesal nantinya? Bagaimanapun, aku hanya gadis biasa. Anak dari seorang nelayan. Apa mungkin seekor burung pungguk layak bersanding dengan seekor merak kayangan?"


"Sssst..! Hidup kita, kita yang menentukan. Selagi kau mengatakan iya, maka itu sudah cukup menjadi alasan buatku untuk mempertahankan diri mu!"


"Kau sudah siap?"


"Aku bahkan lebih dari siap!" Jawab Joe tegas.


"Aku menerima mu!" Bisik Tiara pelan ke telinga Joe.


Sambar geledek! Joe benar-benar terkejut sekaligus senang dengan jawaban dari Tiara.


Dia segera berlari ke pinggiran dan berdiri di tempat yang mirip dengan balkon sambil berteriak. "Woooy kota Tasik Putri!!! Aku sudah resmi menjadi kekasih Tiaraaaaa.....!!!"


"Sudah! Jangan gila. Nanti kita di usir dari sini!" Cegah gadis itu. Dia khawatir bahwa Joe akan lebih gila lagi. Dan itu akan merepotkan.


Bersambung...