
Dari dalam Villa mewah itu, kini tampak Jerry keluar tergopoh-gopoh menyambut kedatangan sang kakek.
Melihat dari cara keempat lelaki tua ini datang, didapat dipastikan bahwa kedatangannya kali ini bukan karena ingin melepaskan rindu, temu kangen atau lain sebagainya. Namun, ini pasti menyangkut tentang putra satu-satunya itu yang mungkin telah membuat keempat naga tanpa gigi ini merasa harus keluar sarang bagi menyiasatinya.
Dengan membungkuk hormat Jerry langsung berkata.
"Selamat datang ke Villa Mountain Lotus dan salam untuk kakek berempat." Kata Jerry masih tetap membungkuk hormat.
"Ah lupakan segala peradatan. Kami datang kemari karena ingin melihat Putra mu. Mana dia?" Tanya Tuan William.
"Ada. Dia ada di dalam. Mari silahkan masuk dulu ke dalam!" Ajak Jerry sambil menggandeng tangan kedua kakeknya tersebut.
Mereka lalu masuk ke dalam Villa milik Jerry itu sambil diikuti oleh Kenny, Ivan, David dan Kevin.
"Silahkan duduk kek. Sebentar lagi Clara akan menyiapkan minuman untuk kakek berempat." Kata Jerry.
"Kakek berempat saja? Apakah kami tidak?" Tanya Ivan.
"Hahaha. Maaf aku lupa. Kalian kan bisa ambil sendiri. Anggap saja ini villa kalian sendiri." Kata Jerry dengan tawanya yang terbahak-bahak.
"Jerry. Kau tau bahwa kedatangan kami kemari ingin bertemu dengan Putra mu. Sekarang kau suruh dia menghadap. Aku ingin melihat seperti apa anak setan yang menggemparkan dunia bisnis akhir-akhir ini!" Kata Tuan Smith.
Saat itu, Joe yang bersembunyi di balik sofa mulai ketakutan mendengar kakek Uyut nya itu memang benar-benar datang hanya untuk melihat dan menemui dirinya di Mountain Lotus ini.
"Black. Apakah kau melihat Joe?" Tanya Jerry sambil menatap wajah Black dengan ekspresi yang tak seperti biasanya.
"Em. Itu. Eh ini. Eh," jawab Black tergagap.
"Ada apa dengan kalian semua? Apakah sekembalinya anak setan itu membuat kalian jadi mendadak gagu seperti ini?" Tanya Tuan William.
"Ayo katakan Black! Di mana Joe saat ini berada?" Tanya Jerry sekali lagi.
"Maaf Tuan besar. Saya tidak tau di mana saat ini Tuan muda berada." Kata Black berbohong. Bibirnya mengatakan tidak tau. Tapi jari telunjuknya menunjuk ke arah belakang sofa yang mereka duduki itu.
Jerry mengerti maksud Black ini dan hanya tersenyum saja.
Menunggu sekitar lima menit, barulah dia berdiri dan langsung saja menjenguk kan kepalanya ke arah belakang sofa.
"Kena kau Joe!" Bentak Jerry membuat anak muda itu seketika mendadak pucat. Namun karena dia saat ini menjadi hitam, pucat atau tidaknya hanya Author saja yang tau.
"Aish... Senior Black. Kau sengaja kan memberitahu tempat persembunyian ku?" Kata Joe sambil beringsut bangun karena tadi posisinya sedang tiarap.
Duaaar!
Bagai disambar geledek.
Keempat orang tua itu sungguh sangat terkejut melihat tampang Joe yang hitam legam itu. Mereka sama sekali tidak menduga bahwa anak muda yang mereka kira pelayan tadi ternyata adalah cicit sah dan calon kepala keluarga di keluarga besar yang kaya raya milik William itu.
"Ini?" Kata Tuan Smith sambil melongo menatap wajah Jerry.
Kebetulan ketika itu Clara juga baru saja sampai dengan membawa nampan berisi minuman. Untuk menghormati keempat naga ompong itu, dia sengaja tidak menyuruh pelayan. Melainkan menghidangkan sendiri minuman untuk mereka yang datang dari Metro City itu.
Ke-empat naga ompong itu berganti-gantian menatap wajah Jerry, wajah Clara lalu menatap wajah Joe dalam-dalam.
"Apa kau tidak salah Jerry?" Tanya Tuan Walker.
Mendengar pertanyaan ini, Jerry hanya bisa garu-garu kepala saja tanpa dapat menemukan alasan yang tepat untuk menjelaskan kepada keempat lelaki tua itu tentang keadaan putranya ini.
"Mengapa kalian semua diam?" Bentak Tuan William.
"Kakek. Bolehkah Clara yang menjelaskan?" Tanya Clara.
"Baiklah. Katakan apa yang kau ketahui Clara?!" Kata Tuan Smith.
"Begini Kek. Joe ini kan berguru di Kuala Nipah. Ternyata gurunya di sana itu sangat menyayangi Joe ini. Jadi, sang guru dengan sengaja mengubah penampilan Joe untuk menutupi identitasnya." Kata Clara.
"Tidak masuk akal. Untuk menutupi identitasnya? Lalu jika ingin menutupi identitasnya, mengapa anak setan ini membuat onar?"
Joe yang saat ini masih gugup segera mendekat. Dan benar saja seperti yang dia duga. Begitu dekat, telinganya langsung di jewer oleh Tuan William.
"Kau ini benar-benar membuat gempar dunia bisnis. Apa benar kau ini adalah putra Jerry? Apakah kau bukan penjahat yang sengaja di utus oleh pihak musuh hah?"
"Ampun Yut. Jika Uyut tidak percaya, mengapa kita tidak melakukan test DNA saja?!" Kata Joe sambil menunjukkan barisan giginya yang putih. Dan memang itu saja putih yang tersisa.
"Itu tidak perlu. Jerry lebih berhak untuk melakukan uji test DNA itu terhadap dirimu. Yang mau aku tanyakan adalah, apa maksud mu kembali ke Starhill ini lalu membuat onar hah?" Hardik Tuan William.
"Bukan membuat onar kek. Mereka memang pantas mendapatkan hukuman dari ku. Biar menjadi pelajaran bagi siapa saja yang tidak mendisiplinkan diri di dalam perusahaan." Jawab Joe.
"Oh. Pandai kau menjawab ya. Apa kau tau bahwa Ryan, Riko dan Arslan itu telah bentak berjasa terhadap perusahaan dan juga terhadap ayah mu hah?" Tanya Tuan William lagi
"Paman Ryan, Riko dan Arslan memnag berjasa terhadap perusahaan dan Ayah. Tetapi bukan terhadap saya kek. Mungkin Ayah terlalu memberi muka kepada mereka. Itulah sebabnya dua orang keponakan berbuat sesuka hatinya menjual nama besar perusahaan untuk memeras orang lain serta menjual nama organisasi untuk menindas. Kalau aku berbuat salah, yang kakek salahkan adalah Ayah ku. Lalu jika kedua keponakan nya itu yang melakukan kesalahan, siapa yang harus bertanggung jawab?"
"Jika bukan karena paman Ryan yang mengajak mereka berdua untuk bekerja di dalam perusahaan, tentunya mereka tidak akan bekerja di perusahaan Future of Company. Apakah aku salah menjatuhkan hukuman kepada mereka ini? Terlebih lagi paman Arslan dan Paman Riko. Merekrut orang-orang yang tidak kompeten ke dalam organisasi." Jawab Joe.
"Kau bisa menegur mereka ini dengan cara yang lebih yang lembut. Bukan malah memecatnya. Sekarang kau lihat bahwa mereka sudah bergabung dengan keluarga Miller. Aku tidak bisa membayangkan akan jadi apa perusahaan ini jika mereka berkhianat. Ini semua gara-gara dirimu yang bodoh itu!" Bentak Tuan William yang tampak sangat marah kepada Joe.
"Kek. Aku adalah Tuan muda di keluarga besar William ini. Aku juga adalah calon kepala keluarga. Keputusan yang telah aku ambil tidak dapat aku tarik. Lagi pula, disinilah aku ingin menguji mentalitas seseorang. Jika orang itu setia, dia tidak akan meludahi bekas tempat makannya. Namun jika moral nya tidak ada, maka percuma saja mereka masih tetap berada di dalam perusahaan. Akan menjadi duri dalam daging nantinya." Kata Joe pula menjawab.
"Kau lihat anak mu ini Jerry! Sangat keras kepala sekali. Aku akan menghukum mu. Berlutut sekarang!" Pinta Tuan William.
Joe tau bahwa dia pasti akan menerima hukum dan tidak dapat menghindari hukuman yang akan diberikan oleh Uyutnya itu. Saat ini yang bisa dia lakukan adalah melapisi dirinya dengan tenaga dalam yang dia pelajari dari kedua gurunya dan mulai pasrah menerima hukuman.
"Masih kecil sudah berani keras kepala hah?"
Plak!
Bugh!
"Berani menentang kata-kata ku. Sudah berani menjawab!"
Bugh!
Jerry dan Clara yang mengerti sedikit apa itu tenaga dalam walaupun tidak sempat mempelajarinya hanya tersenyum saja melihat Tuan William hanya dipermainkan saja oleh Joe yang telah melapisi dirinya dengan hawa murni itu.
Berbeda dengan Jerry dan Clara yang tampak tenang-tenang saja. Tuan Smith malah mendorong tubuh Joe untuk menghindari dari terus dipukul oleh Tuan William.
"Sudah King! Itu sudah cukup. Apa kau mau membunuh anak itu?" Tanya Tuan Smith.
"Minggir Leon! Anak ini terlalu keras kepada dan berani sungguh menjawab semua perkataan ku. Harus dijatuhi hukuman." Bentak Tuan William.
"Hahaha. Picik sekali kau ini King. Kau lupa seperti apa kau dulu ketika masih muda. Kau selalu mengatakan bahwa anak ini adalah anak setan. Kalau begitu, nama keluarga siapa yang dia sandang dibelakang namanya? William kan? Berarti kau itu induk nya setan! Kau harus banyak-banyak berkaca. Jika kau kencing berdiri, keturunan mu akan kencing estafet." Kata Tuan Smith pula.
Bagi Tuan Smith, posisinya tetap sama. Tuan William tidak akan merasa rugi andai Joe cedera. Karena anak Kenny juga ada untuk menggantikan. Namun lain halnya bagi dirinya. Jika Joe cedera, maka dia akan merasa rugi. Ini karena, hanya Joe lah keturunan yang dia miliki dari Jerry karena Jerry ini adalah putra dari mendiang putrinya yaitu Elena Smith yang menikah dengan Wilson William sehingga lahirlah Jerry ini.
"Kau akan mendapat hukuman dari ku. Kau harus ikut dengan ku ke Metro City. Kau harus di kawal agar tidak membuat onar lagi." Kata Tuan William.
"Tapi Yut. Aku masih memiliki beberapa urusan yang harus aku kerjakan." Kata Joe berusaha menghindar.
"Tidak bisa. Pokoknya kau harus ikut ke Villa Smith atau Villa William di Bukit Metro!" Kata Tuan William tetap kukuh pada pendiriannya.
"Ya sudah kalau begitu." Kata Joe.
"Lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan di sana. Kalian harus aku bikin makan hati." Kata Joe dalam hati. Kemudian Joe menghampiri Black dan berkata. "Senior, belikan aku permen karet dalam jumlah yang lumayan." Kata Joe sambil berbisik.
"Untuk apa Tuan muda?" Tanya Black.
"Kita masih punya banyak urusan. Aku butuh permen karet itu untuk membungkam sistem keamanan di Villa milik Uyut ku nanti." Kata Joe.
"Apa yang kalian bisik-bisikan itu hah?" Bentak Tuan William.
"Tidak apa-apa Yut. Aku hanya meminta kepada Senior Black agar dia membelikan aku permen karet." Jawab Joe sambil tersenyum.
"Baiklah Tuan muda. Saya pergi dulu." Kata Black lalu meminta diri kepada semua orang yang berada di ruangan itu dan segera melangkah keluar.