Joe William

Joe William
Tiara dalam masalah



Plak..!


Joe tampak dengan kesal membanting ponsel miliknya di atas meja. Beruntung ponsel miliknya tersebut tidak pecah.


"Benar kata Paman Tigor. Mereka ini memang sangat licin. Berarti memang harus dengan cara Gengster untuk menumpas. Gengster ini," kata Joe dalam hati.


Baru saja dia mendapat panggilan telepon dari Rio yang mengatakan bahwa beberapa pelaku kerusuhan di gang Kumuh yang sempat tertangkap, tidak memberikan keterangan, dan mereka lebih memilih untuk bungkam walau berbagai metode untuk mengorek keterangan telah dilakukan. Hal ini lah yang membuat Joe William merasa marah.


"Sudah cukup main-main nya. Waktunya untuk serius!" Kata Joe lagi. Dia kembali menyambar ponsel miliknya, lalu segera mengirim pesan suara kepada Tigor.


"Paman. Tadi paman Rio mengatakan kepada ku bahwa dia tidak berhasil mengorek keterangan dari orang-orang geng tengkorak. Sekarang, aku menginginkan agar Paman memusatkan perhatian ke Kuala Nipah. Tumpuk orang-orang kita untuk melindungi proyek kita yang berada di sana. Kali ini, semua langkah harus segera di ambil. Aku tidak ingin Keluarga Miller tinggal lebih dari tiga hari lagi di Tasik Putri!"


"Apa rencana mu selanjutnya?" Tanya Tigor dalam pesan balasan.


"Geng Tengkorak malam ini akan musnah. Tapi sebelum malam menjelang, aku ingin tau seperti apa penyelidikan terhadap pabrik milik keluarga Miller itu?" Tanya Joe masih dalam pesan audio.


"Beberapa orang-orang Tiger Syam yang menyamar menjadi anggota kepolisian menemukan sesuatu yang mencurigakan. mereka telah menemukan adanya lorong bawah tanah yang sengaja disamarkan."


"Baiklah. Jangan ganggu lorong itu. Aku pastikan bahwa saat ini mereka sedang mencari cara untuk mengeluarkan barang mereka dalam jumlah yang tidak sedikit. Jaga jarak dan hindari pergerakan yang bisa membuat mereka curiga. Oh ya Paman! Jangan lupa untuk berkoordinasi dengan paman Rio. Jangan sampai barang yang mereka bawa lolos sampai ke tengah laut. Karena, jika mereka berhasil, pengorbanan ku akan sia-sia,"


"Dimengerti!" Jawab Tigor.


Joe kembali mengirim pesan. Tapi, kali ini bukan kepada Tigor. Melainkan kepada organisasi tentara bayaran Tiger Syam.


"Tiger Syam, masuk!"


"Siap menerima perintah!"


"Kalian bersiap sedia! Tunggu perintah dariku. Kuasai area bukit batu dan yang paling utama adalah area kondominium William!"


"Siap Ketua!"


Kondominium William adalah proyek yang didirikan oleh William Group sekitar 60 tahunan yang lalu di bukit batu. Jauh sebelum adanya Future of Company. Bahkan, William Group ketika itu masih dipimpin oleh William King. Oleh karena itulah mengapa bangunan Kondominium itu disebut sebagai Kondominium William.


Kini Joe sudah bersiap untuk keluar dari apartemen miliknya.


Karena Apartemen ini juga terletak di kawasan bukit batu, maka tidak terlalu sulit bagi Joe untuk bergerak sendiri. Dia ingin dengan tangannya sendiri yang akan memeras orang-orang dari geng Tengkorak ini seperti dia memeras kain yang basah.


Setelah mempersiapkan segala sesuatunya, dan tidak lupa menyelipkan rencong emas warisan dari Tengku Mahmud di pinggangnya, Joe pun berniat hendak keluar dari apartemen miliknya. Namun, begitu dia tiba di depan pintu, dia sangat terkejut karena di sana sudah menunggu seorang gadis yang sangat dia kenal.


"Tiara?!" Gumam Joe perlahan.


"Aku mencari mu kemana-mana Joe!" Kata Tiara sedikit mendongak untuk menatap wajah pemuda itu.


"Oh. Ada apakah gerangan? Aku sedang banyak urusan. Kau tunggu saja aku di sini. Aku tidak akan lama," kata Joe yang segera akan berlalu. Namun langkah kakinya terhenti ketika Tiara menarik ujung jaket Hoodie hitam yang dia kenakan.


"Kau akan kemana Joe?" Tanya Tiara.


"Membalas semua yang telah dilakukan oleh kekasih mu itu!" Dingin jawaban yang keluar dari mulut Joe.


"Dia bukan kekasih ku! Aku dan orang tua ku diancam. Jika tidak begitu, maka semua penduduk Kuala Nipah akan di usir dan harta mereka akan di sita," kata Tiara. Gadis itu lalu menceritakan semuanya kepada Joe tanpa ada yang ditambah-tambahi, ataupun dikurangi.


"Harusnya kau lebih jujur dan terbuka kepadaku. Tapi tidak apa-apa. Aku tetap berterimakasih kepada mu. Dengan begitu, aku memiliki alasan untuk menyerang balik. Mereka sudah mengusik ku terlalu banyak. Aku akan mengambil beberapa dari mereka. Paling tidak, keluarga Miller hanya akan tinggal nama,"


"Itulah sulitnya berbicara dengan perempuan. Sudahlah! Aku tidak punya banyak waktu untuk berdebat. Jika ingin berdebat, kau cari saja forum sendiri!"


"Joe. Aku ikut!"


Tiara langsung berlari mengejar pemuda itu yang hampir sampai di pintu lift.


Tepat ketika Joe memasuki ruangan lift, Tiara juga menyeruak masuk dan berdiri di samping pemuda itu.


"Tiara. Sekali ini dengarkan kata-kata ku! Jangan ikuti aku! Karena ini sangat berbahaya. Berulang kali aku katakan bahwa aku tidak ingin kau terseret ke dalam masalah ku. Kau mengerti?" Kata Joe yang tidak suka diikuti oleh gadis itu.


"Aku tidak memaksa untuk ikut. Hanya saja, kau harus tau bahwa aku telah terseret ke dalam masalah mu. Mungkin ini takdir ku. Tapi, sekali lagi tolong mengerti bahwa aku terpaksa. Aku juga memiliki dendam kepada Honor. Dia telah melecehkan aku dengan memaksaku untuk meneguk minuman keras," kata Tiara yang mulai terisak.


"Apa? Demi Tuhan. Aku akan mematahkan tangan orang yang berani menyentuh mu!" Geram betul hati pemuda itu mendengar pengaduan dari Tiara. Walaupun hubungan mereka saat ini sedang tidak bisa dikatakan baik, tapi Tiara ini masih memiliki ruang khusus di hati Joe. Oleh karena itu, menghina Tiara, berarti menginjak-injak harga dirinya sebanyak sepuluh kali lipat.


Tiba di bawah, mereka tidak berbicara apa-apa lagi. Mereka berdua sibuk dengan urusan hati mereka masing-masing.


Saat ini, Joe sudah mengenakan masker hitam lambang kucing miliknya, dan berjalan menuju ke arah mobil Audi miliknya yang telah penyok di beberapa bagian.


Sebelum pergi, dia masih sempat berpesan kepada Tiara agar kembali saja ke rumah kontrakan, atau langsung saja ke Kuala Nipah. Dia melarang gadis itu untuk membuntuti dirinya. Karena ini akan sangat berbahaya, selain akan menghambat ruang gerak baginya.


Setelah melambaikan tangannya, Joe pun segera meninggalkan gadis itu dan langsung mengarah ke bagian lain dari bukit batu ini. Namun, tanpa disadari, ada sepasang mata penuh amarah yang menyaksikan kejadian itu dari dalam mobil Mercedes Benz hitam yang terparkir di persimpangan jalan.


Begitu Tiara hendak menuju ke mobilnya, satu suara telah menegurnya dengan keras.


"Tiara!"


Tiara kaget bukan main. Karena dia mengenal nada dan suara itu. Dan pemilik dari suara itu tidak lain adalah Honor Miller.


"Begini cara mu, Tiara?"


Tiara terkejut bukan main ketika seorang pemuda keluar dari mobil dengan wajah merah padam.


Plak!


"Aw...," Pekik Tiara mendapat tamparan dari pemuda berwajah sombong yang baru saja keluar dari mobil setelah habis membentak dirinya tadi.


"Aku salah menilai wanita murah seperti mu. Aku sengaja mengikuti mu dari universitas Kota Batu. Ternyata kau menemui seorang lelaki. Katakan siapa orang itu, Tiara!" Bentak Honor dengan menggelegar.


"Jawab Tiara! Atau kau akan aku siksa!"


Tidak ada jawaban dari Tiara. Melainkan, hanya tangisannya saja yang pecah.


"Sekarang ikut aku! Dasar wanita sialan. Aku telah habis banyak, tapi kau malah bermain di belakang ku!"


Brugh...


"Aw...!" Pekik Tiara ketika Honor dengan paksa mendorong tubuhnya ke dalam mobil.


Honor membanting pintu dengan keras, lalu dia pun memasuki mobil Mercedes miliknya, kemudian tancap gas menuju ke kota Tasik Putri dengan membawa Tiara bersama dengannya.


Bersambung...