
Kita tinggalkan dulu Joe William yang akan di bawa oleh kedua kakek uyut nya ke Metro City.
Kini mari kita beralih ke Garden Hill. Dimana, Ryan, Riko dan Arslan sudah memulai pekerjaan mereka sebagai peninjau proyek yang saat ini sedang dijalankan oleh perusahaan Regnar.
Hari pertama memulai pekerjaan itu saja sudah sangat aneh. Banyak kejadian-kejadian yang tidak mereka duga sebelumnya telah tampak dengan nyata serta sangat gamblang. Tentu hal ini membuat Arslan dan Riko segera menemui Ryan di ruang kerja sementaranya itu.
Tok tok tok!
"Ryan. Apakah kau ada di dalam?" Tanya Arslan.
"Masuk saja kak! Pintu itu tidak di kunci." Jawab Ryan dari dalam.
"Tutup rapat-rapat pintunya Riko! Aku tidak ingin ada yang mendengar apa yang akan kita bicarakan ini." Kata Arslan menyuruh kepada Riko agar tidak lupa menutup serta mengunci pintu itu.
"Baik Kak." Kata Riko. Lalu mereka pun segera duduk di kursi depan meja kerja Ryan.
"Bagaimana Kak? Apakah kalian ada menemukan keanehan dalam proyek ini?" Tanya Ryan.
"Ryan. Ini proyek neraka. Aku dapat merasakan bahwa proyek ini jelas proyek ilegal." Kata Arslan.
"Benar Ryan. Kau bayangkan saja ya! Kami baru saja tiba di lokasi proyek, tapi sudah di sambut dengan lemparan batu dari masyarakat. Bahkan anak umur lima tahun pun berani ikut melempar kami." Kata Riko menambahkan.
"Aku juga merasakan bahwa proyek ini memang proyek ilegal. Entah bagaimana cara mereka mendapatkan proyek ini." Kata Ryan sambil melihat peta proyek milik Arold Holding Company di Garden Hill bagian Timur ini.
"Kau lihat di peta ini Ryan. Di sini semua telah di pasang pagar seng berlapis kawat berduri yang dialiri arus listrik berkekuatan rendah. Sementara di dalam pagar ini, ada kebun. Ada ladang, peternakan sapi dan rumah-rumah penduduk." Kata Arslan sambil membuat lingkaran dengan pulpen tepat di kertas yang terdapat peta lapangan proyek milik keluarga Miller ini.
"Pasti ada kerja sama antara Arold Holding Company ini dengan pemerintah setempat. Jika tidak, mana mungkin mereka begitu berani." Kata Riko pula.
"Sayang Daniel tidak di sini. Jika kita berempat, pasti ini lebih mudah untuk dikerjakan." Kata Ryan.
"Kita tidak bisa mengharapkan terlalu banyak. Mungkin Tuan muda sudah memikirkan semuanya. Makanya dia tidak memasukkan Daniel ke dalam kelompok kita. Kau bayangkan saja jika kita ber-empat semuanya ada di sini!. Kemungkinan mereka akan curiga." Kata Arslan.
"Melihat kejadian tadi, aku ada idea untuk membuat semua mata tertuju ke proyek ini." Kata Riko.
"Apa itu Riko?" Tanya Ryan.
"Begini!" Kata Riko sambil membisikkan sesuatu kepada kedua sahabatnya itu.
"Nah ini baru betul. Aku juga sudah memikirkan hal seperti itu. Namun karena aku tidak melihat langsung ke lapangan, makanya aku belum bisa membuat keputusan. Kalian berdua kan sudah tau. Mari kita atur rencana sesuai dengan perkembangan yang terjadi saat ini." Kata Ryan pula.
"Tidak ada hitam di atas putih. Hanya perjanjian lisan. Apa kau kira mereka tidak menggali lubang kuburan mereka sendiri?!" Kata Riko sambil tersenyum jahat.
"Aku tau apa yang mereka mau. Mari kita kerjakan!" Kata Arslan pula.
"Kak. Beri tanda kepada kelompok dari Dragon Empire yang berada di pihak kita, dan di pihak satunya lagi." Kata Ryan.
"Kau tenang saja. Buatlah seolah-olah semuanya wajar!"
"Mari Riko! Persiapkan alat-alat mu. Kita pukul semua orang-orang yang melakukan unjuk rasa itu!" Kata Arslan lalu melangkah mendahului Riko keluar dari ruang kerja Ryan.
*********
Di luar pagar seng berlapis kawat berduri tepatnya di area proyek milik Arold Holding Company, terlihat banyak perkemahan. Itu adalah milik warga yang tanah mereka di garap serta rumah mereka di gusur oleh orang-orang bayaran dari Arold Holding Company.
Setiap ada yang keluar dari pintu bagian barat ini, maka bersiaplah untuk menerima hujan batu yang dilempar oleh warga yang merasa sangat dirugikan dengan berdirinya proyek ini.
Tidak ada para staf ataupun anggota kerja lainnya yang berani keluar dari pintu ini. Kecuali para preman dan orang-orang upahan dari keluarga Miller yaitu pemilik perusahaan Arold Holding Company. Tapi, sore ini berbeda. Tampak dua orang lelaki setengah baya memakai helm proyek warna kuning keluar dari pagar itu bersama dengan ratusan orang berbadan tegap langsung menyerang orang-orang yang mendirikan kemah di samping pagar seng itu.
Mereka melakukan semuanya dengan sangat brutal. Menghancurkan kemah-kemah dan bahkan ada yang mereka bakar.
Perbuatan mereka ini sungguh sangat tidak berprikemanusiaan. Namun begitu, walaupun tindakan mereka ini sangat brutal, akan tetapi tidak satupun dari warga yang kocar-kacir itu mengalami cedera.
"Riko! Perintahkan anak buah mu untuk menangkap mereka semua! Lalu Kuring mereka di salah satu rumah kosong di sana itu!"
"Baik Kak Arslan!"
"Hey kalian semua. Tangkap mereka. Jangan biarkan mereka lolos. Bawa paksa mereka ke dalam rumah kosong itu!" Kata Riko pula.
Mereka semua lalu segera menangkap para warga yang berkemah itu sambil diperhatikan oleh beberapa warga lainnya yang harta benda mereka tidak di garap.
"Aneh sekali Kak. Mengapa tidak ada satupun wartawan dari media-media baik itu koran ataupun televisi?" Tanya Riko.
"Sssst...! Riko. Ada berapa orang anak buah dari keluarga Miller yang berjaga di dalam pagar itu?" Tanya Arslan.
"Lumayan kak. Mereka berjumlah sekitar dua puluh orang. Mengapa kak?" Tanya Riko penasaran.
"Mereka ini bisa menjadi penghambat rencana kita." Kata Arslan. Tampak matanya sangat liar memperhatikan.
"Lalu?" Tanya Riko.
"Apa lagi? Bunuh saja mereka itu semuanya. Suruh mesin ekskavator mengorek lobang besar. Lalu kubur secara massal. Kan memang tidak ada apa-apa?! Wartawan tidak ada. Polisi juga tidak ada. Selesaikan saja!" Kata Arslan.
Sambil tersenyum dengan sangat jahat, Riko lalu mengangguk kemudian mengumpulkan semua anak buahnya yang menggiring warga tadi ke kawasan tanah lapang sebelum nanti akan di masukkan ke dalam rumah kosong di area dalam pagar proyek itu.
"Jika Adolf nanti bertanya kemana semua anak buahnya, apa yang harus kita jawab kak?" Tanya Riko.
"Masabodo lah. Kita juga tidak tau seberapa lama bisa bertahan di sini. Namun target ku tidak lebih dari satu Minggu proyek ini harus sudah di segel oleh pemerintah pusat." Kata Arslan.
"Ayo lah Kak. Apa tangan mu tidak gatal?" Tanya Riko.
"Hehehe. Gatal juga sedikit." Jawabnya sambil meremas jari-jemari tangannya sambil mengeluarkan suara berkeretakan.
"Kalian semua tunggu di sini. Tidak ada yang boleh kabur. Jika kabur, ku bunuh kalian!" Kata Riko mengancam para warga yang sudah mereka tawan itu.
"Ayo kita dekati mereka." Kata Arslan.
"Mari silahkan kak."
Tampak wajah Riko tidak berhenti menyunggingkan senyum yang sangat manis melihat beberapa anak buah mereka mendekati orang yang menjaga pagar itu yang berjumlah sekitar 20 orang.
"Hey bung. Boleh pinjam korek apinya?" Kata Arslan menyapa.
"Apakah kalian adalah orang-orangnya Arslan yang baru direkrut oleh Tuan besar?" Tanya salah seorang dari mereka.
"Ah. Benar sekali Bung." Jawab Arslan.
"Sialan kalian ini. Kalian baru saja bergabung dengan perusahaan. Kalian malah dibayar puluhan juta Dollar. Tapi untuk membeli korek api saja kalian semua tidak sanggup. Pergi mati saja kalian!" Bentak penjaga pintu pagar itu.
"Anda yakin tidak ingin meminjamkan korek api kepada kami bung?"
"Persetan dengan kalian."
Tampak lelaki tadi sangat marah kepada Arslan. Hal ini dapat dimaklumi oleh Arslan dan Riko. Itu karena mereka orang lama di sini. Namun tidak di bayar seperti bayaran yang di dapat oleh orang-orang Arslan dan Riko. Han inilah yang memicu rasa cemburu di hati mereka.
"Bunuh mereka semua!" Kata Arslan memberikan perintah.
"Hey apa-apaan kalian ini hah?"
"Serang!"
Bugh!
"Hoegh..!"
Ting Ting Ting!
Prak!
"Argh...! Celaka kalian semua!"
Suara dentingan besi beradu dengan ditingkahi jeritan-jeritan dari mereka mulai terdengar dari mulut mereka yang berkelahi.
Namun sekuat apapun mereka berteriak, tidak juga dapat mengirim suara ke kawasan yang sudah tampak berdiri beberapa kerangka pondasi bangunan serta mengalahkan suara mesin yang terus menderu dari alat-alat berat di lokasi proyek yang berjarak hampir empat ratus meter dari tempat pembantaian ini.
Kini dua puluh orang yang bertugas menjaga pintu pagar bagian barat itu tampak sudah mandi darah dihajar oleh orang-orang Dragon Empire yang memang sengaja dibawa oleh Arslan dari Starhill.
"Sudah beres. Salah satu dari kalian pergi ke lokasi para pekerja sana. Bawa kemari satu alat ekskavator dan korek lobang di sini. Kuburkan semuanya dalam satu lobang." Kata Riko sambil berjalan menuju ke arah ratusan warga yang tadi mereka tangkap.
"Apa maksud dari semua ini?" Tanya mereka melihat kejadian itu dengan tatapan penuh ketidakpercayaan.
"Kalian ikut saja. Nanti akan kami jelaskan!" Kata Riko lalu mengajak mereka semua untuk memasuki rumah kosong yang belum dirobohkan itu.