Joe William

Joe William
30 menit pertama di Villa William



Seorang pemuda berkulit hitam legam tampak berdiri memandangi sebuah Villa mewah yang berdiri angkuh dihadapannya. Villa ini seolah-olah seperti sedang mengejek cara kedatangan pemuda itu.


"Sialan. Apakah ini penjara baru ku?" Pikir pemuda itu dalam hati.


"Joe. Apa lagi yang kau tunggu? Ayo masuk!" Bentak seorang lelaki Tua sambil melangkah mendahului dengan ujung tongkat nya berdetak di lantai setiap kali dia melangkah.


Pemuda itu hanya memperhatikan saja sambil mencibir. Mengeluarkan permen karet dari mulutnya lalu menjentikkan ke arah lelaki tua itu.


Ajaib! Permen karet tadi langsung menempel di rambut putih lelaki tua itu tanpa dia merasakan apapun.


"Hahaha. Lihat saja nanti ketika uyut bersandar. Permen karet itu akan membuat lengket rambutnya. Besok kakek uyut pasti sudah botak." Kata pemuda itu lagi dalam hati.


Baru saja dia ingin melangkah masuk ke dalam Villa itu, tiba-tiba ponselnya berdering.


"Paman Ryan?!" Kata Joe lalu segera menjawab panggilan itu.


"Hallo Paman."


"Joe. Kau di mana saat ini?" Tanya Ryan di seberang sana.


"Di Metro City. Menjalani hukuman." Jawab pemuda berkulit hitam itu singkat.


"Hahaha. Aku kira kau itu kebal hukum. Ternyata kau tidak luput juga dari hukuman." Kata Ryan tertawa.


"Jangan mengejek ku paman. Kalau aku marah, aku bisa kabur biar geger Metro City ini." Jawab Joe sewot.


"Hahaha. Kau jangan suka merajuk. Ayah dan ibu mu bukan orang yang suka merajuk. Kecuali Tuan besar William King." Kata Ryan.


"Oh. Kalau begitu tidak akan merajuk. Daripada disamakan dengan uyut ku itu." Kata Joe bergidik ngeri.


"Paman. Apa ada informasi yang kau dapatkan di sana?" Tanya Joe.


"Joe. Ternyata proyek di sini adalah proyek haram alias ilegal. Banyak orang yang terpaksa harus kehilangan tempat tinggal mereka karena proyek milik keluarga Miller ini. Untuk saat ini, kami sudah memikirkan rencana lebih lanjut untuk mempublikasikan proyek ini ke dunia luar. Ini karena sepertinya ada unsur pembungkaman yang sengaja mereka lakukan. Satu lagi Joe. Ada banyak pihak yang terkait dan terlibat dalam kecurangan proyek ini." Kata Ryan.


"Apa paman yakin bahwa proyek milik keluarga Miller itu adalah proyek ilegal. Paman harus memastikan terlebih dahulu." Kata Joe mulai tertarik.


"Aku tau mana yang resmi dan mana yang ilegal. Saat ini kami sudah mengamankan warga yang melakukan unjuk rasa."


"Banyak yang melakukan unjuk rasa. Tapi mereka sama sekali tidak mendapat dukungan dari pemerintah daerah. Ini yang menguatkan dugaan ku bahwa mereka mungkin telah di suap oleh Adolf Miller ini."


"Lalu, apa rencana paman selanjutnya. Coba katakan! Aku ingin mendengarkan." Kata Joe.


"Begini Joe..,"


Lalu Ryan pun menceritakan semua rencana yang telah mereka buat bersama dengan Arslan dan Riko.


Berulang kali Joe menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan dari Ryan ini.


"Hmmm. Begitu kah? Baiklah Paman. Aku akan mengirim orang-orang dari Metro City ini. Tunggu saja di sana. Sebelumnya, aku juga akan menghubungi paman Daniel. Biar dia yang mengatur dari sini. Selebihnya, tunggu keputusan dari ku!" Kata Joe.


"Baiklah Joe. Kau harus bisa mengatur semuanya. Jangan lupa untuk menghubungi kakek Drako dan Kakek Syam mu. Mereka memiliki sejuta cara untuk membantu kita. Dengan koneksi yang mereka miliki." Kata Ryan.


"Joe mengerti paman. Terimakasih. Mari kita bekerja."


"Baiklah. Mari kita lakukan." Kata Ryan lalu mengakhiri panggilan.


*********


"Heh anak setan! Apa lagi yang kau tunggu di situ? Apakah aku harus menggendong mu masuk ke dalam?"


Bentakan lelaki tua itu mengejutkan Joe yang sedang duduk di taman yang indah terkena pantulan cahaya lampu yang berwarna warni di sekitar halaman depan Villa itu.


"Iya kakek Uyut. Aku masih betah duduk di sini." Jawab Joe. Dia memang sangat enggan untuk memasuki Villa William ini. Entah mengapa ada rasa tidak nyaman berada di Villa ini.


"Mengapa anak itu tidak mau masuk Ayah?" Tanya seorang lelaki berusia 60-an yang datang dari arah belakang lelaki tua itu.


"Ayah terlalu kasar. Mana ada anak muda yang baru saja tiba di tempat asing seperti ini yang suka dikasari." Kata Lelaki yang baru tiba tadi.


"Kau urus lah cucuk mu itu. Aku mau mandi dulu." Kata Tuan besar William lalu segera berjalan kembali memasuki Villa mewah itu.


"Hai Joe. Apakah kau suka dengan taman di halaman Villa ini?" Tanya lelaki tadi.


Pemuda yang di tanya itu tidak langsung menjawab. Dia hanya memperhatikan saja lelaki itu dari atas sampai ke bawah.


"Oh. Ya tentu kau tidak mengenal ku. Aku ini adalah kakek ke-dua. Adik dari mendiang kakek kandung mu yaitu Wilson William. Nama ku Jackson William ayah dari paman mu yang bernama Kenny." Kata lelaki bernama Jackson itu.


"Oh. Maafkan Joe ya kakek. Joe tidak mengenal kakek. Terima salam hormat dari Joe." Kata anak itu bangkit berdiri lalu membungkuk hormat.


"Hahaha. Lupakan saja. Oh ya. Kakek dulu ingat ketika kau lahir, kulitmu sangat putih bersih. Lalu sekarang mengapa bisa jadi hitam legam seperti ini?" Tanya Sang kakek.


"Ceritanya panjang kek." Kata Joe lalu menceritakan semuanya yang dilakukan oleh Tengku Mahmud kepadanya."


"Begitu ternyata. Jika begitu, kau harus bisa memanfaatkan perubahan pada dirimu ini untuk mengelabui musuh. Aku dapat menangkap maksud dari guru mu itu."


"Astaga. Ternyata aku sudah salah menilai kakek guru ku." Kata Joe berpura-pura tidak tau maksud Tengku Mahmud mengubah penampilannya itu.


"Hey... Mengapa dengan rambut ku ini?"


Terdengar suara dari dalam seperti sedang panik membuat obrolan antara kakek dan cucu itu terhenti.


"Ini pasti karena anak setan itu. Bawa dia masuk!" Perintah suara dari dalam.


Beberapa pelayan tampak sibuk mengekori lelaki tua yang seperti kalang-kabut di dalam Villa itu.


"Hahaha. Permen karet mujarab. Besok kakek uyut ku pasti botak." Kata Joe dalam hati.


"Ayo Joe kita masuk dulu. Oh ya. Apa yang kau lakukan terhadap kakek Uyut mu itu?" Tanya Jackson.


"Mana lah Joe tau, Kek?! Mengapa dia menyalahkan Joe?" Tanya pemuda itu heran.


"Joe. Kau apakan rambut ku hah? Mengapa bisa ada permen karet di sini?" Tanya Tuan William sambil mencak-mencak.


"Uh. Mana Joe tau. Kakek mungkin sundul sana sundul sini. Makanya permen karet itu bisa nempel di rambut kakek Uyut." Kata Joe sambil menahan tawa.


"Anak setan. Apa kau kira aku ini pemain bola yang suka sundul sana sundul sini hah?" Tanya Tuan William sengit.


"Jadi, kakek menuduh Joe yang melakukan?"


"Siapa lagi? Kalau begini, besok aku akan mengirim mu ke Villa Smith. Jangan di sini. Aku tidak mau kau berada di sini. Kau dideportasi ke Villa Smith!" Kata Tuan William sambil mencak-mencak.


"Aku bukan tahanan internasional pakai acara deportasi segala. Kalau tidak suka, malam ini juga aku kembali ke Starhill. Kakek punya tiga cucu yang lain dari paman Kenny. Kehilangan aku seorang tentu tidak akan merugikan bagi anda." Kata Joe mulai marah.


"Kau berani melawan ku hah?" Tanya Tuan William naik sinting lalu segera ingin mengetuk kepala Joe dengan unung tongkatnya.


"Bergerak, maka aku cabut rencong ini!" Kata Joe mengancam.


Mendadak Tuan William menjadi pucat pasi melihat rencong emas yang tergenggam erat di tangan Joe ini. Dia masih sangat-sangat trauma dengan kejadian siang tadi di Starhill.


"Ya sudah. Sesuka mu saja lah."


"Panggil tukang cukur. Rambut ini tidak bisa di sisir lagi. Cepaaaat!" Bentak Tuan besar William membuat para pelayan lintang-pukang pontang-panting ketakutan.


"Baru satu orang Joe saja sudah begini. Apa lagi jika di tambah dengan putra dan putri Kenny. Bisa mati berdiri Ayah." Kata Jackson.


"Tutup mulut mu itu. Sekarang bawa anak setan itu ke kamarnya!" Perintah dari kakek uyut nya itu.


"Mari Joe. Kau harus istirahat. Perjalanan mu tentu melelahkan." Kata Jackson sambil menarik tangan pemuda itu untuk naik ke lantai tiga tepatnya kamar milik ayahnya dulu ketika berkunjung ke Villa William ini.


BERSAMBUNG...