
Kota Kemuning.
Tigor yang baru saja menerima telepon dari Tiger agar segera membayar uang keamanan pusat hiburan dan hotel milik Tower Sole propier di gang Kumuh terlihat memendam kemarahannya.
Berulang kali dia mengepalkan tangannya sehingga urat-urat tangannya bertonjolan.
Seumur hidup, dia tidak pernah diancam oleh siapapun. Apalagi oleh pendatang. Sungguh tidak pernah terlintas dibenaknya.
Bagaimanapun, Tigor ini adalah Black Cat yang sangat ditakuti pada zamannya. Tapi sepertinya ada seseorang yang ingin mengungkit-ungkit kemarahannya yang pastinya akan berakibat fatal untuk orang tersebut. Apalagi Tigor ini sudah menerima gemblengan langsung dari maha guru Tengku Mahmud. Sudah pasti dia telah berbeda dari Black Cat yang dulu. Hanya saja, dengan bertambahnya usia, Tigor ini sudah bisa mengendalikan kemarahan. Berbeda jika waktu dia berusia sekitar dua puluh tahun.
Baru saja Tigor hendak berdiri dan keluar dari rumahnya dengan niat merundingkan masalah ini bersama dengan sahabat-sahabatnya, kini niatnya terhalang karena dari arah luar masuk seorang lelaki yang biasa menjadi penjaga kebun bunga di rumah besar miliknya itu.
"Bang. Di luar ada Tuan muda Joe William. Dia baru saja tiba. Sepertinya dia sangat terburu-buru," kata lelaki itu melaporkan.
"Kebetulan sekali," gumam Tigor tampak lega.
Dengan adanya Joe, maka dia tidak perlu pusing lagi. Karena, masalah ini akan segera diputuskan langsung oleh si pemilik perusahaan sendiri.
"Paman. Aku datang!" Kata Joe tersenyum lebar lalu menghempaskan pantatnya di sofa empuk yang terdapat di ruangan itu.
"Apa ada masalah, Joe?" Tanya Tigor begitu pemuda tadi duduk.
"Ya, ada. Masalah selalu ada. Namanya orang hidup. Hanya saja, aku melihat bahwa paman lebih bermasalah lagi," jawab pemuda itu cuek. Lalu, enak saja dia mengambil toples kaca di atas meja tadi, kemudian dengan santai mengunyah kacang yang ada di dalamnya.
Tigor segera melupakan kemarahannya setelah melihat ulah dari Joe ini.
Bagaimana mungkin seorang Tuan muda yang kaya raya bisa mengunyah kacang goreng seperti orang yang belum makan seminggu. Bahkan, Namora pun tidak akan melakukan seperti itu. Hendro lebih parah lagi. Gengsinya mengalahkan isi dompetnya. Tapi Joe ini, berbeda. Dia bahkan sanggup makan di kaki lima. Baginya, asalkan tidak menggangu dan diganggu, semuanya akan sah-sah saja.
Tigor menghempaskan nafasnya sebelum berkata, "tadi Tiger Lee menelepon ku. Dia menagih uang keamanan. Setelah itu, dia juga memberikan ancaman akan menghancurkan pusat hiburan di gang Kumuh andai kita tidak membayar upeti kepadanya. Seumur hidup, aku tidak pernah di ancam. Ketika waktunya tiba, akan ku kunyah jantung Tiger Lee ini mentah-mentah!" Geram Tigor dengan wajah kembali memerah.
"Hahaha. Hanya gang Kumuh. Relakan saja lah, Paman! Ada yang lebih besar lagi dari itu. Sekarang, panggil saja Panjol dan konco-konconya ke sini, Paman!" Pinta Joe yang masih terus memeluk toples dan tidak berhenti mengunyah.
"Untuk apa orang sialan itu dipanggil? Kau ini ada-ada saja. Jangan bilang kalau kau mau menjahili mereka?!" Mungkin karena selalu iseng, sampai-sampai Tigor curiga kalau-kalau Joe ini akan kumat penyakit lamanya.
"Hahaha. Nanti paman akan tau. Panggil saja mereka kemari!" Kata Joe seenaknya.
Tigor tidak bisa menolak lagi. Baginya, terserah saja lah. Panjol mau diapakan oleh Joe pun, dia tidak akan rugi.
Tigor segera meraih ponselnya, lalu mengirim pesan suara kepada Ameng untuk membawa Panjol dan konco-konconya ke rumah miliknya di perumahan elite kota Kemuning ini.
*********
Tiga orang lelaki tanpa jari kelingking berjalan berbaris seperti itik pulang kandang sambil digiring oleh dua orang lelaki memasuki ruangan tengah lantai bawah rumah besar milik Tigor.
Di sana, mereka sama sekali tidak dipersilahkan untuk duduk. Mereka hanya dibiarkan berdiri saja, walaupun kedua orang yang menggiring mereka tadi sudah duduk di sofa yang sama dimana Tigor dan Joe duduk.
Ketiga orang itu adalah Panjol, Mokmok dan Ganjang. Sementara dua orang yang menggiring mereka adalah Ameng dan Andra.
"Kami telah membawa manusia tak tahu diri ini, ketua. Apakah anda ingin bersenang-senang dengan mengkebiri mereka?" Tanya Ameng menahan tawa.
"Eh.., jangan begitu, Paman! Jangan membuat mereka takut. Aku hanya ingin memberikan kesempatan terakhir kepada mereka," kata Joe sambil membetulkan posisi duduknya.
"Kesempatan terakhir seperti apa maksud anda, Ketua?" Tanya Andra penasaran.
"Pak Panjol, pak Mokmok dan pak Ganjang. Apa kalian ingin dibebaskan?" Tanya Joe yang mulai serius.
"Tolong bebaskan kami! Kami berjanji tidak akan melakukan tindakan bodoh lagi," kata Panjol memelas. Ada secercah harapan dari sorot matanya. Walaupun dia tidak yakin bahwa itu akan mudah.
"Paman. Di dalam flashdisk ini ada sesuatu yang bersifat informasi. Kita bersama bisa mendengarkan rekaman di dalamnya. Setelah itu, kalian akan tau untuk apa aku membebaskan ketiga orang ini," kata Joe sambil memberikan sesuatu benda berukuran kecil kepada Tigor.
Tigor menerima pemberian dari Joe tadi, dan langsung mengambil laptop miliknya, kemudian memasang benda tersebut.
Semua orang yang berada di ruangan itu kini mendengarkan dengan cermat isi percakapan yang berhasil direkam oleh orang-orang suruhan Joe dari organisasi Tiger Syam.
"Sudah mengerti kan, apa maksud ku?" Tanya Joe tersenyum lebar.
Tigor, Ameng dan Andra saling pandang, lalu mengangguk ke arah Joe.
"Kalian bertiga. Aku ada misi untuk kalian. Kesetiaan kalian tergantung dari keberhasilan misi kalian ini. Aku masih menyekap Keluarga kalian. Hanya dengan cara itu saja aku bisa mengikat kalian. Maaf! Kali ini aku tidak akan sungkan lagi. Kelicikan akan aku balas dengan kelicikan, dan kekerasan akan aku balas dengan kekerasan. Kalian menabur, kalian pula yang akan menuai.
"Aku melepaskan kalian untuk berada di sisi Marven! Laporkan segalanya kepada ku, atau kepada Paman Tigor! Jika kalian tidak melapor dalam dua hari, maka aku akan memotong satu dari jari tangan anak mu! Jangan anggap bahwa aku tidak tega. Aku bahkan jauh lebih tega dari setan!" Ancam Joe kepada Panjol, Mokmok dan Ganjang.
"Kami akan memberikan laporan. Kami bersumpah demi apa saja. Asalkan, jangan kau apa-apakan anak kami!" Jawab Panjol ketakutan.
"Apa menurut mu aku ini keterlaluan? Kalian yang melampaui batas. Maka, aku menghukum sesuai dengan apa yang kalian lakukan. Sekarang, pergi kalian!" Kata Joe menyuruh ketiga orang itu untuk pergi kembali ke kota Batu.
"Bagaimana cara kami untuk mendekati Marven? Bukankah Irfan telah terbunuh?" Tanya Mokmok ragu.
"Katakan saja bahwa kalian sebenarnya tidak setuju dengan idea Irfan. Lalu, katakan juga bahwa Butet saat ini sedang bersembunyi di bangunan Kondominium William Group, Marven akan mempercayai kalian," kata Joe pula.
"Darimana anda tau bahwa Butet bersembunyi di kondominium bukit batu?" Tanya Tigor penasaran.
"Paman Rio yang memberitahukan kepada ku," jawab Joe dengan santai.
"Dasar anak itu," keluh Tigor merasa iri karena dia tidak diberitahu.
"Hahaha. Paman iri ya? Sudahlah. Sama saja. Kalau paman mengetahui, sudah jelas paman akan menggeruduk mereka. Bisa kacau rencana ku," kata Joe sambil tertawa.
"Lalu, bagaimana dengan masalah dengan Tiger Lee tadi?"
"Ssssst...!" Joe segera mengedipkan sebelah matanya agar Tigor berhenti bertanya.
Dia lalu memandang ke arah Panjol, lalu berkata. "Apakah belum jelas apa yang aku katakan tadi? Apakah kalian benar-benar ingin aku kebiri? Jika iya, aku dengan senang hati akan mengupas tel*r kalian!" Bentak Joe membuat ketiga orang itu ketakutan.
"Ba-ba-baik. Kami akan pergi!" Kata Mokmok yang langsung menarik tangan Panjol.
"Ayo cepat kita pergi," anaknya yang langsung diikuti oleh kedua orang lainnya.
Setelah ketiga orang itu angkat kaki, Joe segera menggeser duduknya. "Biarkan saja Paman. Saat ini saham dan perusahaan mereka sedang mendapat serangan dari berbagai penjuru. Future of Company, Patrik Group, Walker Group dan beberapa perusahaan lain telah berhasil mempengaruhi sekutu mereka untuk menghentikan kerjasama. Bahkan, beberapa diantaranya telah membentuk aliansi anti Arold Holding Company. Di sini, produk ikan sarden mereka ditolak diberbagai kota. Semakin ditolak, semakin cepat borok mereka tentang produksi obat-obatan terlarang bisa terbongkar. Kita akan lihat sejauh mana mereka bisa bertahan. Dugaan ku adalah, andalan mereka adalah, mengirim barang-barang terlarang itu ke Hongkong. Pinta kepada partner bisnis paman di Hongkong untuk memutuskan hubungan dengan mereka. Mereka akan segera terjepit. Apalah arti pusat hiburan di gang Kumuh bagiku?" Kata Joe pula.
"Masalah itu anda tidak perlu khawatir. Saat ini mister Ming Kang Khang telah menyatakan tidak akan menerima barang haram itu lagi dari keluarga Miller," jawab Tigor pula.
"Bagus! Semakin dekat mereka menuju kehancuran," ujar Joe puas.
"Setelah ini, kemana anda akan pergi?" Tanya Tigor.
"Tidur. Aku lelah!" Kata Joe lalu segera berdiri dari duduknya.
"Anda akan kemana, Ketua?" Tanya Ameng heran begitu melihat Joe enak saja ngeloyor pergi.
"Biarkan dia. Lama-lama di sini, kacang goreng ku bisa habis," kata Tigor merasa lucu.
Mendengar umpatan dari Tigor tadi, Joe segera berbalik dan menuju ke arah meja. Lalu, enak saja dia mengambil toples berisi kacang tadi, kemudian keluar menuju dimana mobilnya terparkir.
Kini, tinggallah Tigor, Ameng dan Andra saling pandang melihat ulah dari Joe tadi.
"Dasar anak rakus," maki Tigor jengkel.
Andra dan Ameng hanya bisa mengangkat pundaknya sambil terkekeh.
"Kami keluar dulu bang! Kau harus giat berusaha agar Namora dapat adik baru!" Goda Ameng yang langsung kabur ketika melihat Tigor akan melemparkannya dengan sesuatu yang ada di meja.
"Lari Ndro!" Kata Ameng sambil tertawa terbahak-bahak.
Bersambung...