Joe William

Joe William
Menabrak pohon kelapa



Kita tinggalkan dulu Jerry bersama dengan sahabat-sahabatnya dengan segala rencana yang mereka miliki. Kini mari kita kembali ke Kuala Nipah. Sebuah kampung pinggir laut tempat Joe William menuntut ilmu.


...Kuala Nipah pukul 4 sore....


Ngeeeeng!


Ngeeeeng....!


Tampak satu unit mobil Honda warna silver melaju dengan gear 1 sehingga suara mesin mobil itu seperti akan runtuh saja.


Tampak kini mobil itu melaju dengan gaya Zig-zag membuat bekas ban yang dilalui mobil itu seperti ular kena pukul saja.


"Hati-hati ketua...!" Jerit salah satu dari ke-enam bodyguard itu sambil berlari-lari mengejar mobil tadi.


Baru saja suara pengawal itu hilang, tiba-tiba..,


Booom!


Tampak mobil itu menabrak pohon kelapa membuat bagian depan dari mobil itu penyok.


Ke-enam lelaki bertubuh tegap itu tampak panik lalu segera berlari ke arah mobil yang menabrak pohon kelapa itu.


Bermacam-macam fikiran melintas di benak mereka melihat mobil itu berhenti di sana.


Mereka buru-buru membuka pintu mobil tersebut dan kini tampak seorang pemuda keluar dari dalam mobil tersebut dengan bibir pucat.


"Anda tidak apa-apa ketua?" Tanya mereka dengan panik.


"Huh. Nyaris saja aku mati. Aku kira sudah menginjak pedal rem. Ternyata itu adalah pedal gas." Jawab pemuda yang ternyata Joe adanya.


"Hati-hati Joe. Jangan sampai menabrak." Tegur seorang lelaki tua dari depan rumah panggung berdinding anyaman bambu itu.


"Sudah terjadi kek. Terlambat memberi peringatan." Kata Joe sambil terduduk lemas.


Awalnya tadi Joe dan salah satu dari ke-enam pengawal yang ditugaskan oleh Tigor untuk mengawal pemuda itu sedang belajar mengendarai mobil. Dan Joe tampak sudah mulai menguasai cara-caranya sehingga pengawal itu berani melepaskan Joe untuk belajar sendirian.


Namun entah mengapa, entah lupa atau terlalu bersemangat sehingga dia menabrak pohon kelapa.


Untung kecepatan mobil itu tidak terlalu laju karena memang jalannya adalah jalan berpasir. Andai itu di jalan aspal, kemungkinan Joe sudah babak belur.


"Tidak apa-apa. Mobil rusak. Ini bisa diperbaiki di bengkel. Kalau ketua yang rusak,"


"Kalau aku yang rusak, alamatnya aku tidak laku-laku sama perempuan. Ya kan?" Tanya Joe sudah mulai bisa bercanda.


"Bukan begitu ketua. Jika ketua yang rusak, kami yang mati oleh bang Tigor." Jawab mereka.


"Hahaha. Maaf. Maafkan aku."


"Huh.. kapok aku belajar mengemudi." Kata Joe bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju rumah.


"Belajar jangan kapok. Makanya otak mu itu dibetulkan dulu!" Bentak Tengku Mahmud.


"Ketua. Katanya kalau bisa mengemudi, mau mengajak Tiara jalan-jalan. Baru segitu saja sudah menyerah. Lemah!" Kata pengawal itu mengejek Joe membuat pemuda itu mendidih darah muda nya.


"Kalian menyepelekan aku ya? Baik. Sekarang aku mau mobil mu untuk belajar." Kata Joe membuat pengawal yang mengejek tadi segera menelan ludah nya.


"Boleh ketua. Tapi aku harus ikut di dalam. Bagaimana?" Tanya lelaki itu.


"Aku sebenarnya sudah bisa sendiri. Hanya tadi itu aku terlalu bersemangat. Lihat saja nanti." Kata Joe lalu melangkah menuju jalan besar untuk mengendarai mobil yang terparkir di sana.


Lelaki tadi hanya bisa berdoa dalam hatinya semoga saja Joe tidak menabrak pohon kelapa lagi.


Satu putaran.., dua putaran..., Tiga putaran.


Kini Joe tampak semakin lancar mengendalikan kendaraan roda empat itu.


Dengan senyum bangga, tampak dia keluar dari dalam mobil tersebut. Menoel hidungnya lalu melangkah dengan lenggak-lenggok yang sarat dengan kebanggaan.


"Bagaimana... Bisa kan? Mobil mu saja yang apes. Buktinya aku bisa menggunakan mobil itu." Kata Joe membuat pemilik mobil yang tertabrak di pohon kelapa tadi hanya garu-garu kepala.


Menjelang senja, setelah puas belajar mengemudi, kini Joe tampak sedang duduk ngangkang di belakang rumah.


Kini dia tampak sedang serius membersihkan ikan untuk makan malam mereka berdua dengan kakek Tengku Mahmud.


"Kek. Malam ini, aku libur dulu belajar ya." Kata Joe kepada Tengku Mahmud yang duduk di tangga belakang.


"Mau kemana kau?" Tanya orang tua itu.


"Aku mau ke rumah Tiara. Boleh kan kek?" Tanya pemuda itu penuh harap.


"Boleh. Tapi kau tidak boleh pulang melebihi pukul sepuluh malam." Kata Tengku Mahmud memberi izin.


Dia sengaja memberi izin kepada anak itu atas berbagai pertimbangan. Karena baginya, tidak mungkin Joe ini terlalu di tekan untuk terus-menerus belajar. Sesekali biarlah dia bermain bersama pemuda yang lainnya.


"Terimakasih kek. Aku tidak akan pulang melebihi pukul sepuluh." Kata Joe.


Dia lalu bergegas mencuci ikan tersebut, memberinya garam lalu di goreng.


Teng!


"Hait..!" Kata Joe menghindar dari percikan minya goreng.


Kini tampak Joe berlindung di balik talam besar untuk menghindari dirinya dari percikan minyak goreng tersebut.


"Kau ini mau menggoreng ikan atau mau berperang? Aku lihat dapur ini seperti kapal pecah oleh mu." Tegur sang kakek.


"Susah kek. Ikan ini meletup ketika di goreng. Besok di kukus saja. Kan minyak goreng sedang mahal." Kata Joe.


"Joe.., Joe! Katakan saja jika kau tidak pandai. Jangan karena kau yang tidak pandai menari, di kata lantai yang terjungkit." Kata lelaki tua itu berpribahasa.


"Kek."


"Hmmm..." Jawab lelaki tua itu.


"Bulan depan aku genap tujuh belas tahun. Kadang aku iri sama mereka. Mereka selalu merayakan hari ulang tahun. Sementara aku sekali pun tidak pernah." Kata Joe sedikit sedih.


"Besok kalau pas hari ulang tahun mu, kita akan rayakan di sini. Kau mau hadiah apa?" Tanya lelaki tua itu.


"Aku tidak ingin hadiah. Aku ingin berdoa saja semoga kakek tetap sehat. Agar kelak ketika aku rindu, aku bisa datang ke sini kapan saja." Jawab Joe membuat hati lelaki tua itu terharu.


"Tumben kau waras kali ini?"


"Hehehe. Aku ini sebenarnya waras kek. Hanya saja, tingkat kewarasan ku berada pada tahap di bawah rata-rata." Jawab Joe sesuka hatinya.


"Kau ini. Sudah besar panjang seperti ini masih saja bertingkah seperti anak-anak. Sebenarnya kapan kau akan dewasa?" Tanya Tengku Mahmud.


"Tidak perlu memaksakan diri menjadi dewasa kalau begini saja aku bahagia." Jawab Joe.


"Kau itu memang ada saja jawabannya. Bikin aku emosi saja."


"Jangan emosi kek. Kemarin ada yang mati mendadak karena emosi."


"Kau mendoakan aku supaya cepat mati hah? Dasar anak Jin iprit." Kata Tengku Mahmud sambil mencak-mencak.


"Ampun kek. Ini kuali panas ini kek. Jangan sampai bertambah jumlah ikan gara-gara salah satu dari kita masuk ke dalam kuali ini." Kata Joe sambil berlindung di balik talam yang dia jadikan persis seperti perisai itu.


"Terserah kau lah. Sebelum semuanya beres, kau tidak boleh pergi ke rumah Tiara. Ingat itu!" Kata Tengku Mahmud memberi ancaman kemudian melangkah menuju teras depan.


Lelaki tua itu tampak mengambil beberapa lembar sirih kemudian menumbuk sirih itu sampai ***** lalu memakannya. Hal ini dia lakukan karena memang dirinya sudah tidak memiliki satu pun gigi yang tersisa.


Ketika Joe sudah selesai dengan pekerjaannya, dia lalu melompat dari tangga dan segera berlari menuju rumah Tiara.


"Anak Jin iprit. mengapa kau tidak makan terlebih dahulu?" Tanya Tengku Mahmud.


"Nanti saja kek. Aku belum lapar." Jawab Joe lalu menghilang di balik tikungan.


Tengku Mahmud hanya menggelengkan kepalanya saja melihat ulah dari Joe William ini.