
"Gaes! Sepertinya kampus kita akan kedatangan mahasiswa baru!"
"Oh ya? Kalau aku boleh tau, siapa ya kira-kira?" Tanya salah satu mahasiswi merasa penasaran.
"Menurut yang aku dengar, kampus kita akan kedatangan dua orang mahasiswa baru. Mahasiswa yang pertama aku rasa kalian pasti sudah tidak asing lagi!"
"Siapa sih? Ayo dong jangan bikin kita penasaran!" Pinta mereka tidak sabaran.
"Namora!"
"Hah? Di tampan dingin itu? Eh tunggu! Bukankah Namora kabarnya melanjutkan kuliahnya di luar negri? Lah kok?"
"Mungkin dia tidak betah di sana. Maklumlah! Namora kan anak orang kaya. Kapan saja dia mau pindah, ya pindah aja. Lagipula, apa kalian tidak senang dengan kehadiran Namora di sini? Kalau aku sih jujur saja, bahwa aku sangat tertarik sekaligus penasaran dengan Namora si dingin itu,"
"Kau suka sama orang yang salah! Seharusnya kau melihat siapa kita dan siapa Namora itu. Dia tidak akan melihat ke arah kita. Bahkan dengan sebelah mata sekalipun. Levelnya udah beda!" Kata seorang gadis yang sebenarnya cukup cantik.
"Tapi aku percaya. Mana mungkin ada yang tidak tertarik dengan ku. Buktinya, anak-anak J7 rata-rata tertarik dengan ku!"
"Eh Mira. Bicara tentang anak-anak J7, sepertinya mereka akan mendapat saingan nih dengan masuknya Namora ke sini. Tapi, aku dengar bahwa mereka telah kehilangan salah satu dari mereka. Kabarnya, telah terjadi bentrok antara geng mereka dengan geng motor yang mengakibatkan si Jul tewas. Hanya saja, mereka merahasiakannya dan mencoba menutupinya. Apa kalian tidak lihat wajah mereka kini seperti dirundung kesedihan?"
"J7 sebenarnya sangat baik. Hanya kita saja yang merasa minder dengan mereka. Selama ada mereka, barulah kampus kita ini disegani oleh mahasiswa dari kampus lain. Andai saja mereka tidak ada, pasti kita akan di bully terus oleh anak-anak dari geng Cobra,"
"Sssst. Mereka datang. Kalian jangan membahas lagi tentang mereka. Atau, kalian akan menyesal nantinya!"
Benar saja. Kini dari arah kampus, datang enam orang pemuda tampan dan tampak sangat trendy melewati para gadis yang sedang ngerumpi tadi.
Begitu keenam pemuda itu melewati mereka, para gadis tampak sangat histeris dan mulai memasang angan-angan semoga saja salah satu dari ke-enam pemuda itu ada yang melirik ke arah mereka. Namun, angan-angan mereka tetaplah sekedar angan-angan belaka. Karena, tidak satupun dari ke-enam pemuda itu yang melirik ke arah mereka.
Di kantin kampus, tampak enam pemuda yang berwajah lesu tersebut duduk mengelilingi meja.
Setelah makanan yang mereka pesan datang, tidak seorangpun dari mereka yang memakan, makanan tersebut. Mereka hanya diam saja menatapi kepulan asap pada makanan yang masih panas tersebut.
Lama juga mereka terdiam seperti itu sampai salah satu dari mereka membuka suara. "Ayo dimakan! Mau sampai kapan kita bersedih terus seperti ini? Kepergian Jul memang sangat menyedihkan. Tapi, walau bagaimanapun, kita harus tetap melanjutkan hidup kita!"
"Jeremi! Kau saja yang makan! Aku sama sekali tidak tertarik!" Kata seorang pemuda kepada pemuda yang berbicara tadi.
"Jaiz. Jika tidak makan, lalu untuk apa kau memesan makanan ini? Mubazir tau?!"
"Huhhhf. Kau benar, Jericho! Hanya saja, sampai saat ini aku masih belum menemukan seseorang yang pas. Yang memiliki hati yang sangat kering seperti Jul. Yang pemberani. Yang memiliki visi dan misi yang benar-benar bisa diterima oleh semua anak-anak. Untuk sementara, kita lupakan saja dulu soal balas dendam. Aku telah meminta kepada kakak ku untuk menyelidiki orang-orang geng Cobra. Mereka bukan makanan kita. Ada sebuah kekuatan di belakang mereka. Mereka ini juga adalah mahasiswa yang memiliki begitu besar pengaruh di universitas Teladan. Sangat sulit untuk mengusik mereka ketika ini. Tapi kalian tenang saja! Aku mendengar bahwa Namora akan menjadi bagian dari kampus ini. Kita lihat saja apa yang bisa dia berikan kepada universitas ini!"
Baru saja mereka menceritakan orang yang bernama Namora tadi, kini dari arah gerbang kampus tampak sebuah sepeda motor Yamaha R1 menderu memasuki pelataran kampus lalu berhenti di area parkir khusus untuk sepeda motor.
Dari sepeda motor tersebut, kini tampak seorang pemuda berwajah dingin dan angker berdiri sembari membuka helmet miliknya, dan dengan acuh menggantungkan helm tersebut di bagian samping motor miliknya.
Bisik-bisik pun terjadi diantara para mahasiswa dan mahasiswi yang menyaksikan langsung pemuda yang baru saja memarkir kendaraan roda dua tersebut.
"Lihat itu, Mira! Waaaah... Tambah lama semakin menggemaskan saja!" Kata seorang gadis sambil mendekap kedua tangannya di depan dada.
Memang Namora ini bisa dikatakan mahasiswa baru di kampus kota Batu ini. Namun, sebagian besar mahasiswa dan mahasiswi di sini adalah sahabatnya ketika di sekolah menengah atas dulu. Bahkan, Namora ini antara pemuda yang sangat disegani. Bukan hanya karena Ayahnya adalah seorang pengusaha kaya dan pamannya adalah seorang pegawai kepolisian, lebih dari itu, Namora ini adalah orang yang berhati dingin. Jika dia katakan hajar, maka hajar. Jika dia katakan pukul, maka sebelum perkataan pukul tersebut selesai, tinjunya sudah maju duluan. Itulah yang membuat dirinya menjadi pemuda yang cukup diperhitungkan. Tidak ada yang berani mencari gara-gara dengan pemuda yang tidak pernah tersenyum itu.
Pernah satu ketika dulu sekolah mengadakan turnamen pencak silat antar sekolah SMA se-kabupaten. Ketika itu Namora adalah peserta yang tidak diunggulkan. Tapi apa yang terjadi? Lawannya dibuat babak belur sampai makan pun harus bubur. Dan sekolah mereka menjadi pemenang dalam turnamen tersebut.
Setelah memperhatikan ke sekelilingnya, Namora pun akhirnya melangkah meninggalkan area parkir tersebut dengan maksud untuk langsung menemui presiden persatuan seluruh mahasiswa di kota batu ini. Namun, belum lagi dia jauh melangkah, seseorang di kejauhan tampak sedang terengah-engah mendorong sepeda motor Vespa miliknya yang mungkin mogok di tengah jalan. Dan setelah diperhatikan, ternyata orang itu adalah Joe William.
Sambil menggelengkan kepalanya, Namora pun meninggalkan area parkir itu tanpa mempedulikan Joe William yang saat itu tampak sangat kelelahan.
Bayangkan saja sepeda motor Vespa itu tidak ringan. Dan itu mungkin dia dorong bahkan dari luar kampus.
Ketika sampai di area parkir, Joe tidak langsung berjalan menuju ke kelas atau kantin. Dia malah terduduk menjelepok di dekat tempat berbentuk halte dengan nafas terengah-engah.
Bisik-bisik kembali terjadi diantara mahasiswa dan mahasiswi yang melihat kejadian itu.
"Apakah dia itu mahasiswa baru di kampus kita ini?"
"Jika tidak, maka siapa lagi?"
"Coba kau lihat penampilan anak baru itu! Masha-Allah sekali."
"Hahaha. Tadinya aku berfikir bahwa anak baru itu akan datang dengan mobil sport. Eh nyatanya, jauh panggang dari api. Ya sudahlah! Ayo kita pergi! Saya kecewa, Pemirsa!" Kata gadis itu dengan diikuti oleh gelak tawa dari yang lainnya.
Bersambung...