Joe William

Joe William
Tiara merajuk



Joe berhenti dari larinya ketika dia tidak mampu mengejar laju becak motor yang membawa Tiara kembali ke Kuala Nipah.


Awalnya Tiara yang merasa galau membutuhkan teman curhat.


Dia yang semalaman susah memejamkan mata, akhirnya memutuskan untuk berangkat keesokan harinya ke rumah sahabatnya, yaitu Lestari. Namun, ketika dia tiba di depan rumah sahabatnya itu, bukan teman curhat yang dia dapat. Malah, rasa sakit hati yang dapatkan.


Dia melihat Joe, pemuda yang dia cintai malah berada dalam pelukan sahabatnya sendiri.


Dengan perasaan yang campur aduk, dia memilih untuk Langsung pulang ke Kuala Nipah daripada mendengarkan penjelasan dari Joe terlebih dahulu.


"Joe. Maafkan aku! Aku tidak menyangka akan jadi begini," Lestari tampak merasa sangat bersalah atas kejadian itu. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa ungkapan rasa terimakasih nya malah menjadi bencana bagi persahabatan mereka. Malah, bisa menghancurkan hubungan Joe dan sahabatnya itu.


"Tidak apa-apa, Lestari! Boleh aku meminta tolong?" Tanya Joe dengan lemas.


"Apa itu, Joe?"


"Tolong tinggalkan aku! Aku butuh sendiri dulu saat ini!"


"Baiklah! Aku tidak akan menggangu mu. Maafkan aku, Joe!" Kata Lestari sebelum dia pergi meninggalkan pemuda itu sendirian.


Sementara itu, Namora dan Roger juga tampak memberi ruang kepada Joe untuk sendirian. Mereka sengaja tidak ingin mengganggu pemuda yang sedang galau itu. Karena, kalau dia marah, bisa babak belur mereka nantinya.


"Paman Roger.., tolong antar Namora pulang. Aku ingin sendirian! Jangan khawatirkan aku! Aku bisa menjaga diri," kata Joe lalu bangkit dari duduknya di tanah kemudian melangkah pergi.


"Anda mau kemana, Ketua?" Tanya Roger.


"Kemana saja. Aku terlalu lelah. Terus waspada! Sewaktu-waktu, aku akan mengumpulkan kalian semua di kota Kemuning!"


Mendengar perkataan dari Joe ini, Roger dan Namora hanya bisa mengangkat pundaknya saja. Mau bagaimana lagi.


"Apa kau yakin ketua akan baik-baik saja, Namora?" Tanya Roger kepada pemuda berwajah dingin itu.


"Aku mengenalnya, Paman. Dia tau apa yang harus dia lakukan. Dia itu sangat cerdas. Tidak ada masalah yang tidak bisa dia bereskan. Maupun itu masalah taktik, atau kekerasan," jawab Namora. Sedikitpun pemuda itu tidak mengkhawatirkan keadaan Joe.


"Kali ini berbeda, Nak. Ini bukan urusan taktik, siasat ataupun kekerasan. Ini adalah urusan perasaan. Joe ini mungkin bisa memenangkan banyak persaingan di dunia bisnis. Namun, untuk urusan wanita, dia baru pemula,"


"Percuma saja, Paman! Kita tidak akan bisa menolong. Malah akan memperkeruh keadaan."


"Baiklah. Apa kau ingin kembali ke kota Kemuning atau ke kota Batu?" Tanya Roger.


"Ke kota Batu saja. Aku tidak ingin merepotkan Paman. Sekalian paman nanti kembali ke Dolok ginjang!"


"Ayo Paman antar!" Ajak Roger.


Kedua lelaki beda usia itu pun meninggalkan pinggir jalan di dekat rumah Lestari setelah Joe tidak lagi terlihat.


*********


Seorang gadis baru saja turun dari becak motor tumpangannya.


Dengan mata sembab, dia langsung berlari meninggalkan sopir becak tersebut setelah terlebih dahulu membayar ongkos.


Sementara itu, gadis yang tidak lain adalah Tiara itu langsung mendorong pintu, kemudian tanpa berkata apa-apa lagi, langsung saja nyelonong masuk ke kamar dan menghempaskan dirinya ke atas ranjang miliknya. Hal ini tentu saja membuat ibunya merasa heran.


"Aku benci sama kamu, Joe!" Rintih Tiara sambil memukul bantal.


Sejenak dia menghentikan tangisnya. Dia beringsut bangkit lalu menggapai sesuatu yang terletak di meja kecil yang berada di dekat tempat tidurnya yang ternyata adalah bingkai foto.


Di dalam bingkai foto tersebut, terlihat foto seorang pemuda tampan sedang duduk di tunggul kayu pinggir pantai sambil tersenyum.


Prang...!


Terdengar suara kaca dibanting ke lantai.


Kini tampak bingkai foto tersebut berantakan di lantai.


Tiara membungkuk mengambil lembaran foto tersebut dengan niat ingin merobeknya. Namun belum lagi dia melaksanakan niatnya, tangannya dipegang dengan lembut oleh seorang wanita paruh baya yang ternyata adalah ibunya.


"Ternyata anak ibu sudah gadis sekarang?!" Kata wanita itu sambil tersenyum.


"I-i-ibu?!" Tiara tampak tergagap. Dia merasa sangat malu sekali ketika pandangan mereka saling bertemu.


"Mengapa, Anakku?" Tanya sang ibu sambil Mandang ke arah foto yang berada di tangan Tiara. "Bukankah itu adalah Joe? Mengapa kau begitu marah terhadap pemuda itu? Bukankah kalian bersahabat baik?"


"Baik apanya? Dia itu adalah orang brengsek! Aku sangat membencinya, Bu!"


"Benci?"


"Ma-mak-maksud Tiara, maksud Tiara..,"


"Anak gadis ibu terlihat sangat gugup. Apakah kau memiliki hubungan khusus dengan anak orang kaya itu?" Tanya sang ibu sambil membelai rambut putrinya.


"Ah. Dia sangat menyebalkan! Pertama dia mengatakan alasan yang tidak masuk akal kepada ku. Setelah itu, aku malah melihatnya berpelukan dengan Lestari," ujar Tiara mengadukan semuanya kepada sang Ibu.


"Terkadang, mata ini bisa saja menipu. Mengapa kau tidak meminta penjelasan kepada Joe dan Lestari?"


"Aku tidak butuh penjelasan. Semuanya sudah sangat jelas,"


"Seperti yang Ibu katakan tadi. Seringkali mata ini menipu pemiliknya. Kau berteman baik dengan Lestari sejak kecil. Keluarga mereka juga masih terhitung bersaudara dengan keluarga kita. Apa kau yakin bahwa Lestari seperti itu?"


"Mungkin aku salah. Tapi tetap saja aku kesal dengan Joe. Dia sudah menyakiti hatiku dua kali. Tiara tidak mau tau. Pokoknya aku tidak mau lagi bertemu dengannya. Merasa sok ganteng. Benci!"


"Hahaha. Dasar anak ingusan. Pergi mandi sana! Lihat wajah mu itu. Sama seperti jeruk purut busuk!" Kata sang Ibu lalu melenggang keluar meninggalkan kamar sang Putri nya semata wayang itu.


"Ibuuuu. Baru saja kemarin mengatakan bahwa aku cantik. Sekarang sudah beda lagi ceritanya."


"Mandi kataku! Setelah itu, bantuin ibu menjemur ikan asin. Kau tidak akan kenyang dengan rasa sakit hati mu itu! Jika memang dia benar-benar merasa tidak bersalah, dia pasti akan datang ke rumah ini untuk meluruskan masalah kalian," kata sang ibu.


"Biarkan saja dia datang. Aku tidak akan mau bertemu dengannya. Lama dia pergi, tidak ada kabar. Aku setiap hari menunggu kabar dari dirinya. Sekalinya dia kembali ke kampung ini, malah bikin sakit hati saja. Kalau dia ingin bertemu, bertemu saja dengan hantu laut!" Kata Tiara sambil mencapai handuk lalu bergegas menuju ke kamar mandi. Dia perlu mengguyur tubuhnya dengan air, agar bisa sedikit mendinginkan isi kepalanya yang saat ini sedang mendidih.


Bersambung...