
"Ayah. Malam ini juga aku harus berangkat ke Garden Hill."
Seorang pemuda berkulit hitam kusam tampak menghempaskan tubuhnya di sofa empuk di Villa besar milik Tuan besar dari keluarga William itu.
Sementara itu, lelaki setengah baya tampak saling bertukar pandang dengan sang istri begitu mendengar kata yang diucapkan oleh putranya barusan.
"Mengapa terlalu buru-buru Joe? Bukankah acara peresmian kantor besar perusahaan itu baru akan diadakan besok malam?!"
"Memang benar, Ayah. Namun, ada hal yang harus aku kerjakan di sana. Aku ingin besok pagi setelah tiba di Garden Hill, aku ingin melihat seperti apa Villa ku yang dikerjakan oleh Moreno. Aku ingin menyalahkan dia atas renovasi Villa milik ku itu. Ini lah langkah utama yang harus aku lakukan untuk membuatnya mabuk darat." Kata Joe Willaim.
"Kau tidak lelah Joe?" Tanya wanita setengah baya itu menatap kearah sang putra dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Lelah Bu. Namanya juga manusia. Tapi Joe punya obatnya. Berkat kitab pengobatan yang ditinggalkan oleh Kakek uyut yang telah Joe pelajari atas bimbingan dari Tengku Mahmud, Joe sudah bisa membuat obat sendiri sebagai penambah suplemen. Sebelum berangkat ke kembali ke Starhill, Joe sudah menyiapkan beberapa butir dan itu cukup memiliki kesan bagi stamina." Kata Joe.
"Ya sudah. Terserah kau saja lah. Ayah akan mengutus beberapa anak buah untuk menemani mu." Kata sang Ayah.
"Tidak Ayah. Hanya seorang saja sebagai sopir sekaligus penunjuk jalan." Kata Joe.
"Black akan menemani mu ke Garden Hill malam ini." Kata Jerry.
"Benar Ayah? Terimakasih!" Kata Joe dengan senyuman lebar mengembang diwajahnya.
Baru saja Joe akan bangkit berdiri, tiba-tiba ponsel milik Jerry berdering menandakan bahwa seseorang ada menelepon ke nomor nya.
"Tigor?" Kata Jerry bergumam membuat Joe membatalkan niatnya meninggalkan ruangan itu.
"Hallo Gor." Kata Jerry setelah menjawab panggilan itu.
"Tuan besar. Apakah Ketua ada di sana sekarang?" Tanya suara lelaki di seberang sana.
"Oh ada. Apakah kau ingin berbicara dengannya?" Tanya Jerry.
"Saya rasa tidak perlu Tuan. Hanya saja, kakek Tengku ada berpesan bahwa selama tiga bulan ini, Joe dilarang untuk mengenakan Jaket Hoodie serta masker nya. Karena tujuan kakek Tengku mengubah penampilan Joe adalah atas alasan tersebut. Dia tidak perlu khawatir orang-orang akan mengenali dirinya. Karena kulitnya yang hitam itu sudah cukup untuk menyamarkan identitasnya." Kata Tigor menyampaikan pesan dari maha guru Tengku Mahmud itu.
"Hmmm... Ok Gor. Nanti akan aku sampaikan kepada Joe pesan dari Guru nya itu." Kata Jerry.
"Baiklah Tuan. Saya tidak boleh lama-lama menelepon. Karena saat ini saya juga sedang menjalani penyiksaan seperti yang dirasakan oleh Joe dalam tiga tahun ini." Kata Tigor.
"Penyiksaan? Apa maksudnya Gor?" Tanya Jerry yang kurang mengerti.
"Saya saat ini sedang menjalani latihan ulang untuk mengembalikan ketangkasan yang sudah hilang karena terlalu lama mendekam di dalam penjara."
"Oh. Baiklah. Tolong sampaikan salam hormat ku kepada maha guru Tengku Mahmud!" Kata Jerry berpesan.
"Akan saya sampaikan!" Kata Tigor lalu mengakhiri panggilan.
"Ada apa Ayah?" Tanya Joe penasaran.
"Kakek guru mu melarang mu untuk memakai masker dan jaket Hoodie mu itu."
"Ha? Mengapa dia melarang ku? Kalau aku tidak memakai jaket Hoodie ku ini, pastilah kulit gosong ku ini akan menjadi bahan tertawaan." Kata Joe seperti mau menangis.
"Mungkin inilah alasan mengapa dia merubah penampilan mu. Itu supaya tidak ada yang percaya bahwa kau adalah Tuan muda dari keluarga William." Kata Jerry.
"Baiklah Ayah. Tapi untuk acara besok malam, aku masih harus terus memakai Jaket Hoodie dan masker ku ini. Karena ini sudah menjadi identitas bagi ku." Kata Joe berusaha menghindar.
"Kau tau apa itu guru? Jangan bantah perkataan dari kedua orang tua. Jangan bantah perintah dari guru. Kau turuti saja apa yang dia perintahkan. Jika malu, maka jangan keluar rumah sampai tiga bulan ini." Kata Jerry dengan tegas.
"Direndahkan kalau kau tidak memiliki apa-apa. Tapi ketika mereka tau status mu sebagai Tuan muda, mereka akan menjilat. Wajah tampan percuma jika tidak berduit. Orang tidak akan kenyang hanya dengan tampang tampan mu. Sekarang segera bersiap. Ayah akan memanggil Black untuk menemani mu." Kata Jerry memerintahkan.
"Joe menuruti perintah dari kakek Guru dan Ayah." Kata Joe sambil membungkuk hormat.
*********
Jerry William ditemani oleh Clara tampak membimbing Joe menuju garasi mobil dengan diikuti oleh Black dari belakang.
Sambil tersenyum kepada pemuda yang berpenampilan seperti gelandang itu, Jerry tampak menekan tombol remote control dan beberapa detik kemudian tampak pintu garasi itu terbuka. Di dalam Garasi tersebut yang pertama terlihat oleh Joe adalah mobil Volvo butut yang sangat melegenda. Ini adalah mobil pertama yang dimiliki oleh Jerry setelah bertemu dan mengetahui identitas aslinya sebagai seorang tuan muda beberapa puluh tahun yang lalu.
Sementara itu ada mobil BMW sport, juga ada Lamborghini SIAN. Mobil ini pernah di hina oleh Clara sebagai mobil murah karena hanya memiliki dua pintu.
Di samping Lamborghini SIAN itu, ada mobil Aston Martin Luther, Aston Martin Vantage dan Rolls-Royce Sweptail yang konon mendapat predikat sebagai mobil termahal di dunia menurut Klaim dari perusahaan tersebut.
Joe terus memperhatikan deretan kendaraan mewah ini dengan cuek. Bukan tidak suka. Tapi tidak mengerti apa-apa tentang mobil seperti ini.
Dari sekian banyak kendaraan super sport tersebut, ada satu unit mobil yang masih di tutup oleh Car Cover.
Setelah mendekati mobil yang masih di bungkus itu, Jerry lalu memanggil Joe dan berkata. "Joe. Ini adalah hadiah yang kami persiapkan untuk ulang tahun mu yang ke 17 dulu. Tapi kami tidak bisa membawa ini ke Indonesia karena akan terlalu banyak peraturan. Maka, kami hanya bisa menunggu mu kembali. Sekarang kau boleh membuka cover mobil ini. Lihat apakah kau menyukainya." Kata Jerry sambil tersenyum.
Joe tidak langsung membuka selimut pada mobil tersebut. Melainkan, dia terlebih dahulu menatap ke arah Ibu nya.
Setelah mendapat anggukan, barulah Joe membuka selimut mobil tersebut dan kini tampaklah sebuah mobil super sport berwarna hitam yang membuat jiwa miskin orang lain menangis.
"Ini adalah mobil super spot Lykan Hypersport. Ibu mu yang memilihkan mobil ini untuk mu. Sekarang kau boleh menggunakan mobil ini sesuka hatimu." Kata Jerry sambil mengelus-elus rambut jigrak kaku milik Joe.
"Ayah. Apakah mobil ini kuat? Aku khawatir jika menabrak pohon kelapa, nanti mobil ini rusak." Kata Joe yang teringat sudah membuat rusak mobil milik salah satu pengawal yang dikirim oleh Tigor untuknya.
"Hahaha. Di sini tidak ada pohon kelapa. Yang ada hanya tiang tower. Jangan kau tabrak jika masih sayang pada nyawa mu." Kata Jerry sambil terkekeh geli.
"Hehehe." Kata Joe sambil garu-garu kepala nya yang tidak gatal.
"Black. Sekarang kalian boleh pergi. Ingatlah untuk berhati-hati di jalan raya!" Kata Jerry berpesan.
"Baik Tuan besar." Kata Black dengan hormat.
"Ayah. Aku belum terlalu mengerti rambu-rambu lalu lintas. Sebaiknya biar kami memakai satu mobil saja." Kata Joe sambil melirik ke arah Volvo butut yang seketika membuat perasaan Jerry tidak enak.
"Mobil itu mogok. Jangan bawa! Dia tidak bisa melakukan perjalanan sampai enam jam." Kata Jerry sambil merengut.
Clara tidak dapat menahan tawa ketika melihat ekspresi jelek pada wajah suaminya itu. Bagaimanapun dia sangat maklum jika Jerry sangat menyayangi Volvo butut nya itu.
"Baiklah ayah. Aku akan menggunakan mobil pemberian mu ini." Kata Joe sambil tersenyum melirik ke arah Ibu nya.
"Anak dan Ayah sama saja." Kata Clara sambil melangkah keluar meninggalkan garasi itu.
Kini tinggallah Black sendiri sambil memanaskan mesin mobil tersebut sebelum digunakan untuk kendaraan mereka menuju Garden Hill.
LIKE NYA JANGAN LUPA SETELAH SELESAI BACA.
Bersambung...