
...Bukit batu...
Malam itu, lebih dari seratusan orang lelaki berperawakan tegap yang mengenakan seragam hitam-hitam.
Sekelompok orang-orang yang tidak kelihatan wajahnya itu tampak mengendap-endap di antara rerimbunan pohon-pohon Cemara di taman luas yang terdapat di bagian depan sebuah bangunan Villa mewah yang sudah terlihat tua.
Begitu mereka sudah menempati posisi mereka masing-masing, dari arah kejauhan terlihat mobil Audi Q3 melintas dan berhenti di ujung jalan.
Dari dalam kini keluar seorang yang mengenakan pakaian jaket Hoodie serba hitam. Namun, entah bila tepatnya, tiba-tiba sosok itu sudah menghilang seperti disapu angin.
Tes..! Tes..! Prak!"
Tampak beberapa butir bola-bola besi menghantam beberapa lampu yang terdapat di jalan sehingga membuat sebagian di depan Villa itu menjadi gelap.
Baru saja lampu-lampu di jalan itu padam, terlihat lah puluhan bayangan merengsek menuju tembok tinggi Villa itu.
Bagaikan cicak, sosok-sosok hitam itu merayap memanjat tembok tersebut dan langsung bergulingan menjatuhkan diri kebagian dalam yang ditembok.
Wuzz!
"Hoek..."
"Eh apa itu?"
Belum sempat pengawal itu menyadari apa yang terjadi, tiba-tiba..,
"Arrrrgh....!"
Terlihat lebih dari sepuluh orang lelaki yang berjaga-jaga di bangunan Villa tadi berjatuhan ke tanah dengan masing-masing kepala mereka berdarah.
Kejadian itu begitu cepat hingga tidak ada yang menyadari bahwa halaman di Villa mewah itu kini sudah dipenuhi oleh orang-orang berbadan tegap yang mengenakan pakaian serba hitam.
"Bagian depan, Clear!" Kata salah satu dari lelaki berpakaian hitam itu berbicara menggunakan alat komunikasi mini.
Selesai memberikan aba-aba, sekitar dua puluh orang kini merengsek kebagian belakang. Dan sekali lagi di sana terdengar suara bak bik buk dengan diiringi suara erangan tertahan.
"Bagian belakang, Clear!"
"Di-copy!"
Kini, kembali lelaki tadi memberikan aba-aba kepada beberapa kawannya yang langsung merengsek ke bagian pintu utama Villa tadi.
"Hancurkan pintu itu!" Kata seorang pemuda. Diketahui adalah pemuda, karena sosok yang memberikan perintah itu bersuara sangat jernih dan bening. Layaknya suara seorang pemuda yang masih berusia sekitar 22 tahun tanpa serak dan berat.
Kini, lelaki yang menerima perintah tadi langsung menempelkan alat peledak yang akan dia jadikan sebagai bahan untuk meledakkan pintu Villa yang tebal dan kuat itu.
***
Di bagian dalam Villa mewah itu, kini terlihat beberapa orang lelaki sedang berkumpul sambil tertawa-tawa. Di hadapan mereka terletak sekoper uang dalam jumlah yang cukup banyak.
Seorang wanita paruh baya tampak memukul-mukulkan seikat uang di atas meja dengan senyum penuh makna.
"Kakak tertua. Jika begini terus, kita bisa kaya dan geng Tengkorak bisa berjaya lagi seperti jaman Abang Birong memimpin," kata salah seorang lelaki tua di ruangan itu.
"Benar kak! Berdoalah semoga keluarga Miller dan orang-orangnya Tigor sering bersengketa. Karena, jika mereka berkonflik, kita juga yang untung. Iyakan manteman? Hahahaha!"
"Betul tuh. Sudah tidak jaman lagi dua singa berkelahi, domba yang jadi korban. Kini, dua domba bertarung, kita adalah singa yang mendapatkan keuntungan,"
"Baiklah. Kita bagi keuntungan ini. Tapi, bagaimana dengan anggota kita yang tertangkap?" Tanya wanita itu sambil membuka resleting di tas berisi uang tadi semakin lebar.
"Kakak tenang saja. Mereka tidak akan bernyanyi. Sekali mereka bernyanyi sepiring berdua, anak bini mereka bisa krek..!" Jawab yang lainnya pula sambil mengacungkan jari telunjuknya di leher.
"Polisi bisa apa kak? Buktinya ketakutan kita selama ini tidak menjadi kenyataan. Polisi hanya bisa menangkap ditempat kejadian. Jika mereka berani main tuduh sembarangan tanpa bukti, kita lawan balik. Apa lagi kita sekarang punya uang!"
"Hahahaha. Ayo kak. Kita akan pesta malam ini. Ini lebih baik daripada kakak mengikuti Marven tolol itu. Bisa apa dia? Sekarang dia hanya akan menjadi boneka bagi keluarga Miller. Sedangkan kita, ada uang, ada barang. Butuh tenaga kita, maka sediakan uang yang banyak. Benar begitu kawan-kawan?"
"Baiklah! Aku akan membagi-bagikan uang hasil kerja kita. Kemari kalian!" Kata wanita itu pula.
Mereka kini membuat lingkaran di depan meja. Bagi yang tidak kebagian kursi, maka mereka akan bersila di lantai dengan suka rela. Asalkan posisi mereka dekat dengan meja yang diatasnya terdapat tas berisi uang tadi.
Boom!
Baru saja wanita paruh baya tadi akan membagi-bagikan uang hasil dari upah yang mereka terima dari keluarga Miller, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara ledakan disusul dengan pintu bagian depan villa itu hancur berantakan.
"Kepala berkurap!" Latah seorang lelaki tua kaget.
Dari sisa ledakan dan asap yang mengepul tadi, kini terlihat sesosok lelaki mengenakan jaket Hoodie dan masker hitam berlambang kucing berjalan masuk sambil pura-pura terbatuk.
"Uhuk.., uhuk.., uhuk! Ah... Sial sekali. Sulitnya bertamu di Villa rongsokan ini. Harus meledakkan pintu terlebih dahulu baru boleh masuk," kata sosok hitam itu. Dibelakangnya kini terlihat tidak kurang dari sepuluh orang lelaki tegap yang juga berpakaian loreng hitam berdiri tegak seperti tunggul kayu gosong.
"Si.., si.., siapa kau?" Tanya wanita paruh baya terlonjak berdiri. Kejutnya yang tadi belum hilang, kini terpaksa harus berganti dengan keheranan.
"Aku? Kau bertanya siapa aku? Aku adalah anak jin iprit yang telah kau usik," jawab sosok hitam tadi.
"Apa kamsud mu hah?" Tanya salah satu dari orang-orang geng tengkorak.
"Sialan. Dia bertanya kamsud atau maksud? Hahaha. Bicaralah yang benar sobat!"
"Apa maksud mu? Kau datang dengan cara tidak beradab. Masuk ke rumah orang dengan cara meledakkan pintu. Kemana pengawal semuanya?" Bentak wanita paruh baya tadi marah.
"Apa itu biadab, dan apa itu beradab, anda tidak layak untuk itu. Bicara adab dengan kalian ini sama dengan mengajarkan warna pelangi kepada orang buta," jawab sosok hitam tadi. Dia membetulkan letak maskernya, lalu melanjutkan. "Kalian ini ya. Anjing-anjing tengkorak yang tinggal tulang-belulang telah mengusik ku. Membakar pusat hiburan dan restoran milik ku di gang Kumuh. Masih punya wajah untuk bicara adab?"
Mendengar perkataan dari sosok hitam tadi, sontak mereka semua saling pandang dengan bibir bergumam. "Ja.., jadi..,"
"Ya. Aku adalah Joe William. Pemilik perusahaan Tower Sole propier. Selama ini, belum pernah ada yang bisa lolos ketika aku sudah menargetkan orang itu. Kalian akan membayarnya berikut dengan bunganya!"
Wuzzz...!
"Arrrrrgh...!"
Mata tajam sosok hitam itu dengan cepat menangkap pergerakan dari salah seorang dari anggota geng Tengkorak yang mencoba untuk membokongnya dengan pistol. Namun, orang itu kalah cepat. Karena sosok hitam tadi sudah lebih duluan menjentikkan jari tangannya. Dari jari tangan itu, melesat beberapa butir bola besi secara beruntun menghantam bagian tangan lelaki tadi, dan yang terakhir menjebol batok kepalanya.
"Jangan coba-coba membokong ku!" Kata sosok hitam itu dingin.
Korban pertama dari orang yang berada di ruangan itu telah jatuh.
Terlihat jelas linangan darah tergenang dilantai mar-mar putih di ruangan tengah Villa itu.
"Polisi tidak bisa menangkap kalian karena tidak cukup bukti. Tapi, aku dan orang-orang ku tidak perlu bukti. Ucapkan selamat tinggal kepada dunia. Jika aku biarkan kalian semua hidup, kalian akan menyusahkan di kemudian hari!"
"Bereskan orang-orang ini! Tidak ada seorangpun yang boleh hidup. Setelah itu, bakar Villa ini dan biarkan mereka terkubur di sini!" Kata sosok hitam itu memberikan perintah.
Belum lagi sosok hitam itu keluar dari ruangan besar Villa itu, kini entah dari mana datangnya, tiba-tiba bermunculan lelaki berseragam loreng hitam, kemudian mengamuk membantai semua orang yang ada di ruangan itu tanpa pandang bulu.
Jerit pekik menyayat hati terdengar dari mereka yang terbunuh. Mayat-mayat bergelimpangan tumpang tindih.
Dari arah luar, kini masuk beberapa orang lagi sambil menggotong mayat-mayat anggota geng tengkorak yang telah terlebih dahulu mati.
Mereka menumpuk mayat-mayat itu di ruangan tengah Villa tadi, lalu menuangkan minyak.
Setelah semuanya kerja-kerja selesai, salah satu dari lelaki berseragam loreng hitam tadi melemparkan puntung rokok cerutu miliknya.
Api pun berkobar menjilati segala apa yang ada di ruangan itu.
Bau daging panggang terasa menusuk hidung.
Api terus menyala, namun orang-orang berpakaian loreng hitam tadi sudah tidak kelihatan wujud. Mereka seperti menguap dihembus angin. Dengan begitu, musnahlah sudah kumpulan yang mengatasnamakan diri mereka dengan nama Geng Tengkorak.
Bersambung...