
Perkampungan pinggir laut yang masih berada dalam kawasan kabupaten Tanjung Karang menjadi gempar dengan kedatangan iringan rombongan yang mengendarai mobil mewah.
Kegemparan itu semakin bertambah ketika rombongan itu berhenti tepat didepan rumah milik Karman yang mereka ketahui adalah orang miskin yang sehari-harinya adalah seorang pelaut. Terlebih lagi, beberapa waktu yang lalu, Karman ini mendapat musibah kehilangan anak dan istrinya akibat kecelakaan.
Para warga mulai dari orang tua, emak-emak, bapak-bapak sampai ke anak kecil pun berkeluaran dari rumah masing-masing untuk melihat rombongan itu.
Bisik-bisik diantara mereka yang melihat rombongan itu pun tidak terelakkan lagi.
Ada yang mengira bahwa Karman ini meminjam uang dengan rentenir dan kini mereka datang untuk menagihnya. Ada pula yang beranggapan bahwa rombongan ini ada hubungannya dengan kecelakaan yang menimpa keluarga. Dan kedatangan mereka adalah untuk memberikan kompensasi atas kematian Istrinya beserta dua orang anaknya. Setidaknya, begitulah yang mereka bicarakan saat ini.
Bisik-bisik diantara mereka seketika berhenti ketika mereka melihat para pengendara kendaraan roda empat itu mulai keluar dari mobil masing-masing. Dengan tampak sangat hormat, beberapa orang dari mereka langsung membukakan pintu untuk mobil jenis Mercedes Benz S-class, dan kini dari dalam, keluarlah seorang lelaki paruh baya dengan rambut sedikit gondrong yang sudah berwarna dua diikat dengan rapi.
Sambil mengisap sebatang cerutu, lelaki tersebut dengan santai menjulurkan kakinya dan keluar dari mobil tersebut.
Asap tampak mengepul dari mulutnya yang tak henti-hentinya menyunggingkan senyum.
"Apa benar ini rumahnya?" Tanya lelaki paruh baya itu sambil membuka kacamata hitam yang menutupi matanya.
"Benar Bang!" Jawab salah seorang dari utusan yang datang ke rumah, Karman kemarin.
"Hmmm. Rumah ini. Sungguh sangat memprihatikan," gumam lelaki itu. Dia kembali mengisap cerutu dan menghembuskan asapnya.
"Carmen Bond! Apakah kau tidak menerima tamu?" Serunya karena sekian lama, sang pemilik rumah tidak juga keluar.
Setelah dia berkata seperti itu, barulah sang pemilik rumah keluar dengan lagak santai.
"Hei. Bang Marven!" Kata Karmen sambil merentangkan tangannya.
"Naik kuda turun kuda.
Naik batang turun batang.
Lama kita tidak bersua,
Minta rokok sebatang!" Kata Karman berpantun menyambut tamu nya itu.
"Wah wah wah. Kau ini Carmen. Oh ya. Bagaimana kabar mu?" Tanya lelaki paruh baya bernama Marven itu.
"Huhf. Seperti yang kau lihat lah Bang. Seperti inilah keadaan ku selama dua puluh tahun ini. Ini bisa dikatakan lumayan setelah lebih lima tahun menjadi pelarian yang diburu oleh pihak kepolisian!" Jawab Karman.
"Hallo Carmen Bond. Lama tidak bertemu. Ternyata kau sangat menderita. Anggap saja kedatangan kami kemari adalah berkah untukmu!"
Karmen memalingkan wajahnya kearah datangnya suara tadi. Lalu dengan santai diapun berucap. "Irfan. Hahaha. Anak yang dulu masih belum bisa membuang ingusnya sendiri, ternyata sekarang sudah pandai bernyanyi. Tapi lagu mu tidak bagus!"
Merah padam wajah Irfan mendapat serangan balik tersebut. Tapi, dia berusaha sekuat mungkin untuk tidak terpancing. Malah, dengan angkuh dia melontarkan hinaan. "Kemana saja kau melarikan diri di saat Abang ku masuk penjara? Apakah melelahkan menjadi tikus yang diincar oleh kucing?"
"Di saat kami semua bertaruh nyawa menghadapi gempuran dari organisasi Dragon Empire, kau malah enak-enakan bersama dengan Debora si bidan desa itu. Lalu, ketika semuanya sudah selesai, kau muncul dengan lagak bodoh mu dan mengakui bahwa kau tidak pernah terlibat dengan organisasi kucing hitam. Sekarang, kau ingin menyindir ku. Berapa jumlah wajah mu?" Karman sama sekali tidak memberi nafas kepada Irfan.
"Ah. Sudahlah! Hentikan perdebatan kalian itu! Kita baru bertemu, tapi kalian sudah berdebat seperti anak kecil berebut mainan," kata Marven menengahi pertengkaran antara Karman dan adik tirinya tersebut.
"Maaf Bang. Saat ini aku sangat sensitif. Aku baru saja ditinggal oleh anak dan istri ku yang tidak bersama dengan ku lagi. Telah terjadi kecelakaan maut yang merenggut nyawa!" Kata Karman. Memang benar kecelakaan maut pasti merenggut nyawa. Namanya juga maut. Tapi dia tidak menjelaskan bahwa nyawa siapa. Karena, istri dan anak-anaknya saat ini sedang berada di Blok B Tasik Putri.
"Aku turut berbelasungkawa atas kecelakaan maut itu!" Kata Marven bersimpati.
"Carmen Bond. Kau kini tinggal sendiri. Dan aku juga baru bebas dari penjara. Aku bertujuan untuk membangun dan mendirikan kembali organisasi kucing hitam. Terhitung sudah ribuan orang dari tiga geng yang menyatakan bergabung dengan geng kucing hitam. Itulah mengapa aku datang kemari untuk menemui mu. Aku ingin merekrut mu kembali untuk masuk ke dalam organisasi," kata Marven menjelaskan tujuannya.
"Apakah orang sepertiku ini masih dibutuhkan di dalam organisasi?" Tanya Karman berpura-pura merendah.
"Heh! Siapa bilang kau tidak dibutuhkan? Jika kau tidak dibutuhkan, apa mungkin aku mengorbankan banyak waktu, tenaga dan biaya untuk melacak keberadaan mu? Aku bahkan berangkat langsung untuk menjemput mu. Kau pikir sendiri lah!"
"Terimakasih untuk kepercayaan Abang. Hanya saja, naluri ku sudah lama tumpul. Aku ingin kita bicara empat mata tentang semua yang terjadi setelah Abang bebas dari penjara. Ini bertujuan, agar aku dapat mempelajari apa saja yang bisa menguntungkan, dan apa saja yang bisa merugikan. Tentunya Abang tidak mau organisasi kita hancur sampai tiga kali?!"
"Baiklah! Silahkan!" Ajak Marven. Lalu mereka berdua pun berjalan santai ke arah pantai.
Di sepanjang berjalan menuju pantai tersebut, Marven menceritakan semuanya kepada Karman tentang membangun kekuatan setelah bergabungnya mantan geng tengkorak, anak buah Jordan, dan geng kucing hitam. Tidak lupa Marven juga menceritakan tawaran kerja sama yang datang dari Hongkong. Yaitu, dari keluarga Miller. Semuanya persis seperti yang diperkirakan oleh Tigor sekitar lebih dari setahun yang lalu.
Kini Karman tau seperti apa dia harus bermain. "60 per 40%. Ini berarti Abang tidak mempunyai kuasa di dalam perusahaan. Walaupun sebagai CEO, tapi hak mutlak sebagai pemegang keputusan penuh, berada di tangan Arold Holding Company. Ini berarti, perusahaan akan dijajah secara halus," kata Karman yang mulai memberikan analisanya.
"Itu belum lagi jabatan eksekutif chairman malah jatuh ke tangan orang-orang dari Arold Holding Company. Sewaktu-waktu, ketika keputusan yang Abang ambil tidak sesuai dengan keinginan mereka, mereka bisa saja memveto keputusan tersebut,"
"Lalu, bagaimana menurut mu?" Tanya Marven.
"51 per 49% 51 untuk Abang, sedangkan 49% milik mereka. Itu baru pas!"
"Tapi kan kita tidak memiliki dana yang besar untuk mengoperasikan perusahaan,"
"Ingat cerita McDonald's? Hanya karena sebuah nama, mereka rela memberikan cek kosong kepada kedua bersaudara itu demi memiliki perusahaan tersebut. Dimana-mana, ada makanan yang sama persis dengan yang ada dan dijual oleh McDonald's. Tapi, karena nama McDonald's tersebut ada di sana, maka segala sesuatunya terasa seperti wah. Martins Group memiliki nama. Tidak butuh lama untuk merintis kembali perusahaan itu. Masalahnya, apakah Abang ingin yang instan, atau bersusah payah terlebih dahulu?" Karman menatap wajah Marven dengan serius.
"Akan aku pikirkan kembali. Tapi kau harus ingat! Aku hanya sendiri. Sementara yang lainnya menginginkan kerja sama itu. Sebagai bekas narapidana yang baru saja menghirup udara bebas, aku tidak bisa terlalu ngotot untuk mempertahankan keputusanku sendiri. Aku butuh mereka. Oleh karena itu, tidak apa-apa untuk mengalah kali ini,"
"Jika begitu, aku tidak bisa memberinya saran lagi. Tapi ingat bang! 60% saham itu jangan lepaskan dengan harga murah! Mereka ingin menjajah, kita bisa menggerogoti mereka."
"Apa kau mengetahui tentang perusahaan Arold Holding Company ini?" Tanya Marven sekedar ingin tahu.
"Tidak bang. Aku hanya mempelajari saja apa yang Abang katakan tadi. Jika dinilai, berarti pemilik perusahaan ini adalah orang yang sangat licik!" Tandas Karman.
Bersambung...