Joe William

Joe William
Menyembunyikan Butet



Bukit batu - Kota Batu


Beberapa tetua di geng Tengkorak tampak terburu-buru memasuki villa di bukit batu.


Ketika tiba di ruangan yang sangat besar, mereka lalu berdiri dengan gelisah seperti orang yang tidak sabaran.


Seorang wanita paruh baya terlihat memasuki ruangan tersebut, dan ketika dia tiba di ruangan tadi, baru lah para tetua tersebut menarik nafas lega.


"Kakak tertua!" Kata mereka sambil memberi hormat.


"Mengapa Paman?" Tanya wanita paruh baya tadi.


"Kakak tertua. Anggiat telah tertangkap oleh kepolisian Kota Batu bagian kriminal. Kami khawatir kalau-kalau dia akan bernyanyi di ruang interogasi," jawab salah seorang dari mereka dengan wajah yang menunjukkan kegelisahan.


"Wah. Sungguh celaka jika begini," kejut wanita paruh baya yang dipanggil dengan sebutan kakak tertua itu.


"Kak. Sebaiknya kakak bersembunyi dulu. Kami tidak meragukan kesetiaan Anggiat. Hanya saja, kami khawatir dia tidak tahan menerima siksaan di sana yang menyebabkan dia membocorkan semua tentang kita di sini,"


"Kemana aku akan pergi? Bukankah aku sudah tidak boleh kembali lagi ke kota Tasik Putri?"


"Saya memiliki satu rumah di kondominium bukit batu bagian selatan. Kakak bisa menempati rumah tersebut. Kakak jangan kemana-mana, tunggu kabar dari kami! Kami akan memberi kabar jika semuanya sudah aman,"


"Baiklah. Jika sudah begitu, aku ikut saja!" Jawab wanita itu.


Kini, semuanya menarik nafas lega. Mereka pun lalu bersama-sama memindahkan Butet ke rumah milik salah seorang dari mereka di bagian selatan Bukit Batu, tepatnya di kondominium yang dulunya dibangun oleh perusahaan William Group.


Begitu rombongan yang membawa Butet meninggalkan kawasan Villa bukit Batu, beberapa orang yang tampak sedang mengawasi arena tersebut dari kejauhan segera pergi setelah salah satu dari mereka membuntuti rombongan Butet.


"Kak. Di sinilah tempatnya. Kakak bisa menempati kondominium ini selama yang kakak mau,"


"Terimakasih, Pak. Bapak sudah sangat baik kepada ku,"


"Jangan terlalu sungkan kak. Saya adalah adik Bedul. Saya dan Abang saya dulu sudah banyak menerima kebaikan dari Bang Birong,"


"Pak Toga. Segera serap kabar! Aku ingin tau apakah Paman Anggiat bernyanyi atau tidak. Setelah itu, tunggu saja apakah keluarga Miller memiliki ketertarikan atau tidak untuk menjalin bisnis dengan kita. Aku tau bahwa setelah Irfan mati, maka dia tidak memiliki siapa-siapa lagi di sini. Walaupun mereka kuat, tapi mereka pasti butuh orang lokal. Sementara Marven, belum ketahuan dimana keberadaannya. Lagipula, apa yang bisa diharapkan dari mantan narapidana itu?!"


"Kakak tertua tenang saja. Asalkan kakak tertua selamat dari incaran petugas kepolisian, semuanya masih bisa kita atur. Kakak tunggu kabar baiknya!"


"Terimakasih, Pak Toga!"


Setelah semuanya selesai, Pak Toga dan beberapa orang lagi yang sebaya dengannya pun langsung meninggalkan kondominium tempat dia menyembunyikan Butet.


Tiba di bawah, mereka yang sejak tadi sudah diawasi oleh anak-anak buah Rio pun tanpa curiga langsung kembali ke pusat kota Batu.


Sementara itu, setelah mengetahui bahwa orang buruan mereka ternyata sudah disembunyikan di kondominium bukit batu bagian selatan, petugas polisi berpakaian preman tersebut langsung kembali untuk menemui Rio di markas besar kepolisian resor kota Batu.


*********


Mobil Toyota hardtop terus melaju membelah jalan antara kota Batu ke kota Kemuning.


Setelah beberapa jam menempuh perjalanan, akhirnya mobil yang dikendarai oleh lelaki paruh baya dan juga pemuda berwajah tanpa ekspresi tadi sampai juga di kawasan perumahan elite kota Kemuning.


Kini, mobil Toyota hardtop tadi berhenti tepat di salah satu rumah besar tiga tingkat yang ternyata telah ramai dikunjungi oleh orang-orang. Tampak juga puluhan mobil mewah keluaran terbaru terparkir rapi di lapangan luas di depan rumah tersebut.


Begitu melihat mobil Toyota hardtop tadi berhenti, beberapa orang terlihat menyongsong ketika lelaki paruh baya dan pemuda tadi, dan langsung bersalaman.


"Bagaimana perjalanan mu dik?" Tanya seorang lelaki paruh baya yang tampak lebih tua dari lelaki pemilik Toyota hardtop tadi.


"Perjalanan ku aman bang. Setelah kejadian itu, aku tidak pernah lagi bepergian tanpa persiapan,"


"Hmmm. Bagus lah kalau begitu. Ajak Namora ke dalam! Abang masih menunggu Joe William. Sepertinya dia terlambat,"


"Terimakasih bang. Kami masuk dulu!"


Baru saja sang tamu tadi memasuki rumah besar tiga tingkat tersebut, kini dari arah yang sama dengan pengendara Mobil Toyota hardtop tadi, menderu laju mobil super sport Lykan hypersport secara ugal-ugalan dan langsung menekan rem pakem yang kontan saja mengagetkan semua orang yang berada di tempat itu karena derit suara ban yang terseret di halaman rumah besar itu.


Beberapa orang lelaki paruh baya hanya bisa geleng-geleng kepala saja melihat mobil super sport itu berhenti melintang di jalan.


Kini dari dalam mobil, keluar lah seorang pemuda mengenakan celana jeans, jaket Hoodie, dan bermasker hitam bergambar kucing.


"Apakah aku terlambat?" Tanya pemuda tadi cengengesan. Namun, karena dia mengenakan masker, jadi, tidak ada yang tau bahwa dia sedang cengengesan.


"Tidak, Ketua. Anda datang tepat waktu," jawab mereka yang segera berjalan menghampiri pemuda itu. Kemudian, salah seorang dari mereka melindungi pemuda tadi dengan payung untuk melindunginya dari sengatan sinar matahari.


"Wah. Ramai sekali," kata pemuda itu sambil menepiskan payung yang melindunginya.


"Aku tidak biasa diperlakukan seperti ini. Jangan payungi aku! Sinar ultraviolet sangat baik untuk kulit!" Katanya lagi.


Berjalan beberapa langkah, kini dia melihat ada tiga orang pemuda sebaya dengannya yang sangat dia kenal. Dikatakan kenal, karena pemuda yang sebaya dengannya itu adalah anggota J7. Ketiga pemuda itu adalah Jericho, Juned dan James.


Kebetulan karena ayah ketiga anak muda itu adalah anggota dari Dragon Empire, maka mereka ikut menemani orang tua mereka dalam pertemuan kali ini.


"Heh!" Sapa pemuda yang mengenakan masker tadi sambil menepuk pundak Jericho.


Melihat pemuda itu menepuk pundak anaknya, membuat ayah Jericho dan yang lainnya langsung membungkuk hormat. Tidak terkecuali juga Jericho, Juned dan James. Mereka kenal pemuda itu. Tapi karena moments nya berbeda, maka mereka tidak berani untuk tidak sopan.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" Tanya pemuda itu.


"Hi Joe. Kami ke sini menemani ayah kami. Sekaligus ada juga sesuatu yang ingin kami sampaikan dalam pertemuan ini," jawab Jericho. Tapi dia segera terkejut ketika satu tangan besar menampar pipinya.


"Aduh. Ada apa, Ayah?" Tanya pemuda itu kaget.


"Berbicara yang sopan kepada Ketua kita! Apa kau mengira bahwa kau pantas untuk menyebut namanya?" Tegur sang ayah kepada Jericho.


"Maafkan aku ayah. Maafkan aku, Ketua!"


"Ah sudahlah. Sekarang mari kita masuk dulu. Akan ada waktu untuk kalian menyampaikan apa saja yang ingin kalian sampaikan!" Kata Joe yang langsung melangkah sambil diiringi oleh puluhan lelaki.