Joe William

Joe William
Kedatangan Honor di Indonesia



Hari ini, tanggal sekian, bulan sekian, tahun sekian, adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh kedua belah pihak. Baik itu dari pihak Marven, maupun pihak Joe.


Terlebih lagi Marven. karena, hari ini adalah hari kedatangan Honor Miller dari Hongkong. Tentu saja dia merasa senang. Karena, sebentar lagi akan mendapatkan kucuran dana bagi perusahaan Martins Group miliknya yang telah lama mati suri. Walaupun sebenarnya dia tau bahwa sebenarnya hak dan kekuasaannya di perusahaan akan segera diambil alih oleh Arold Holding Company, Namun, siapa yang tidak gelap mata bagi seorang mantan narapidana jika dihadapkan dengan uang dalam jumlah yang cukup besar.


'Persetan dengan Martins Group. Jika dia memiliki banyak uang, dia bisa mendirikan perusahaan yang lain'. Setidaknya, begitulah yang ada didalam hati Marven.


Atas saran dari Karman, Kemungkinan Marven akan memeras Honor dalam jumlah yang besar jika memang ingin memiliki 60% saham di perusahaan tersebut, yang meliputi, Hotel, Restoran, pusat hiburan malam, dan beberapa kafe yang tersebar mulai dari gang Kumuh, sampai perbatasan Tikungan Pitu.


*****


Pagi itu, lebih dari 10 unit BMW X5 dan lima unit mobil Porsche Cayenne meluncur mulus dijalan raya kota Kemuning menuju kota Tasik Putri.


Di tengah-tengah konvoi kendaraan mewah tersebut, ada satu unit mobil Rolls-Royce yang bentuknya persis seperti kapal pesiar. Dan itu adalah mobil Rolls-Royce Sweptail. Salah satu diantara mobil yang konon katanya termahal di dunia.


Rombongan itu sendiri seperti sedang mempamerkan kemewahan dan tampak angkuh membelah jalan raya. Sementara di bagian depan, beberapa unit mobil polisi mendahului bagi membuka jalan untuk konvoi tersebut.


Layaknya jalan raya itu seperti milik nenek moyangnya, tidak satupun kendaraan yang diizinkan untuk menyalip.


Tepat pukul lima sore, akhirnya rombongan tersebut sampai juga di tujuan mereka yaitu kota Tasik Putri.


Di sana, sudah ada utusan dari Marven yang menunggu kedatangan mereka. Setelah bertemu dengan rombongan itu, utusan dari Marven langsung membawa rombongan tersebut menuju ke hotel Martins Tasik Putri dan langsung naik ke ruang parkir di bagian Rooftop hotel tersebut.


Tiba di Rooftop hotel tersebut, orang-orang yang mengendarai mobil BMW X5 dan Porche Cayenne tadi langsung berkeluaran dan membuat barisan. Kemudian, beberapa orang dari mereka langsung membukakan pintu untuk Rolls-Royce Sweptail.


Kini, dari dalam mobil super mewah tersebut keluar seorang lelaki paruh baya dan seorang pemuda kisaran usia 22 tahun dengan wajah angkuh dan tampak sangat dingin.


Sambil memandang ke sekeliling, dia segera menjentikkan jari tangannya memanggil salah seorang dari utusan Marven tadi.


"Ya Tuan. Apakah ada yang bisa saya bantu?" Tanya utusan yang bertugas menjemput rombongan tadi.


"Dimana Marven berada?" Tanya pemuda itu dengan lagak angkuhnya.


"Maaf Tuan. Boss kami akan tiba sebentar lagi!" Jawab sang utusan.


"Hmm!" Hanya itu yang keluar dari hidung pemuda itu. Lalu tangannya segera mengibas seperti orang yang sedang mengusir lalat.


Utusan dari Marven tadi langsung mengerut wajahnya mendapatkan perlakuan seperti itu.


"Sombong betul bagudung se-ekor ini?!" Katanya dalam hati.


(Bagudung dalam bahasa Indonesia adalah Tikus)


Baru saja pemuda itu duduk, kini dari arah bagian timur menderu sebuah helikopter dan tepat mendarat di bagian yang lapang pada Rooftop hotel tersebut.


Dari dalam, keluarlah seorang lelaki dengan penampilan uniknya. Mulai dari atas, sampai ke bawah semuanya serba hitam dan mengkilat.


Penampilan orang ini persis seperti ninja dalam bentuk koboi. Singkatnya, dikatakan ninja boleh, dikatakan koboi juga boleh. Ninja, karena dia berpakaian serba hitam, Koboi, karena ada topi lebar yang dilipat di bagian sisinya yang biasa dipakai oleh para koboi.


Di pinggang lelaki berpenampilan aneh itu, tampak sepucuk pistol entah asli atau palsu. Kemudian, ada pula sebuah walkie talky. Sedangkan ditangannya, tampak jam tangan digital berukuran besar.


Lelaki serba hitam itu mempersilahkan seorang lelaki paruh baya dengan rambut diikat ke atas untuk turun dengan diikuti seorang lagi lelaki yang lebih muda.


"Silahkan, Bang Marven!"


"Hmmm. Terimakasih Mr. Carmen Bond 070!" Jawab lelaki bernama Marven itu.


Setelah berada di luar helikopter, dia segera tersenyum ketika melihat seorang pemuda dengan wajah gelisah tak sabaran telah berada di sana.


Sambil tersenyum ramah, lelaki berambut gondrong terikat itupun langsung menyapa. "Hallo Tuan Honor. Maaf telah membuat anda menunggu!" Katanya berbasa-basi.


Sebenarnya, Marven antara yang paling tidak sabaran ingin lekas bertemu dengan Honor. Karena, selain ingin cepat-cepat melakukan kesepakatan kerja sama, dia juga ingin cepat-cepat mendapatkan uang. Tapi, karena usul dari Karman yang memintanya untuk menjaga image, dia akhirnya menurut saja dan membiarkan Honor menunggunya di Rooftop hotel tersebut.


"Bang! Anda harus menjaga image! Dia itu pendatang. Kita lah tuan rumah. Jangan karena uang, harga diri kita tergadai. Biarkan dia menunggu. Tamu memang raja. Tapi harus tau diri!" Begitulah kata Karman yang akhirnya dituruti oleh Marven.


"Apakah anda yang bernama Tuan Marven?" Tanya Honor acuh tak acuh.


"Unang alusi pertanyaan ni bagudung i Bang! Dang adong sopanni i. Pantang so hebat!" Bisik Karman berbahasa Batak.


Artinya: (Jangan jawab pertanyaan tikus itu bang. Tak ada sopan nya. Kayak hebat saja!)


Mendengar bisikan Karman, Marven pun berlagak angkuh.


Sambil mengendorkan dasinya, tanpa diminta pun dia langsung saja duduk dan mengangkat sebelah kakinya.


Zacky, lelaki setengah baya yang berdiri di belakang Honor merasa tersinggung dan ingin menegur. Tapi, Karmen keburu memotong. "Anda datang kemari sebagai tamu. Tamu yang ingin mengajukan kesepakatan kerja sama. Bagaimanapun, kami adalah tuan rumah. Tidak ada siapapun yang meminta kalian untuk datang dan mengucurkan dana ke dalam perusahaan kami. Kalianlah yang datang sendiri. Jadi, jika kalian merasa kaya, bisa menanam saham, kemudian kalian beranggapan bahwa kami terhutang budi, kalian salah besar! Jadi, jangan pertontonkan kesombongan kepada kami. Jika ingin sombong, datang ke rumah biar aku ajari cara sombong yang benar!"


Merah padam wajah Zacky mendengar perkataan dari Karmen tadi. Irfan juga merasa di tenggorokan nya saat ini seperti menelan biji kedondong. Bagaimana tidak, dia sangat takut andai Honor tersinggung dan membatalkan kesepakatan kerjasama. Bisa gagal dia kecipratan untung.


"Ah. Sudahlah. Lupakan saja. Anda memang benar. Saya adalah Marven. Pewaris dari Martins Group," jawab Marven menengahi. Dia tidak ingin terjadi pertengkaran antara Zacky dan Karman.


"Hahaha. Maafkan anak buah saya. Tapi, orang yang serba hitam itu. Aku suka selera humornya!" Kata Honor memaksakan tertawa.