
Hari ini, sepertinya adalah hari dimana bintang Joe bersinar terang.
Mahasiswa yang baru beberapa hari ini menjadi mahasiswa di Globe's University ini benar-benar mencuri perhatian berkat aksi heroik nya yang menggagalkan upaya bunuh diri seorang mahasiswi yang frustasi.
Beberapa aksi Joe yang menyelamatkan gadis itu kini terpajang di ruang Mading dengan berbagai gaya. Termasuk ketika dia berada dibawah gadis itu juga turut terekam dengan ekspresi wajah Joe yang sangat jelek.
Saat ini, Joe, Tye, Sylash, Naomi, Jessica,, Ruby dan tentu saja Aurelie tampak duduk di kafe yang tidak jauh dari kampus untuk sekedar menikmati minuman dan beberapa porsi kentang goreng sambil sesekali bersenda gurau.
Naomi yang diketahui adalah anak dari Tuan Johnson pemilik university ini tampak sedang berusaha menasehati Aurelie agar tidak lagi mencoba mengulangi tindakannya yang bisa menyusahkan banyak pihak itu.
"Aku heran dengan mu, Rel. Mengapa kau bisa senekat itu ingin mengakhiri hidup mu?" Tanya Joe menghentikan aktivitas mengunyah nya.
Dengan wajah murung, Aurelie pun menjawab pertanyaan dari Joe.
"Ketika itu aku baru saja tiba di Quantum City ini dari Garden Hill bagian Timur. Sebagai anak baru, aku tentu tidak memiliki teman di sini. Ketika itu, ada seorang pemuda yang sangat perhatian kepada ku. Perhatiannya yang aku rasa sangat tulus membuat ku luluh. Ketika itu aku tidak merasakan kesepian lagi di tempat baru ini. Beberapa kali kami keluar bersama-sama menonton film di bioskop dan makan bersama. Hingga pada akhirnya aku terjebak ke dalam bujuk rayunya untuk menginap di sebuah hotel di dekat Kryptonite Club." Kata Aurelie yang kembali menangis.
"Tenangkan diri mu Rel. Ayo minum dulu!" Kata Jessica sambil menyodorkan air mineral kepada gadis malang itu.
Aurelie segera menerima botol air tersebut lalu menenggaknya hingga isinya tandas.
Berulang kali dia menarik nafas lalu menghempaskan dengan keras. Ada sedikit kelonggaran di rongga dadanya.
"Lalu apa yang terjadi setelah itu?" Tanya Ruby pula penasaran.
"Setelah itu, terjadilah sesuatu yang seharusnya tidak terjadi. Karena termakan bujuk rayunya, malam itu kami melakukan hubungan terlarang. Setelah itu, dia tidak lagi pernah mendekati ku. Dia seperti menghindar ku. Ketika dia tidak bisa lagi menghindar, aku segera bertanya tentang perubahan sikap nya kepada ku. Dia menjawab bahwa saat ini dia terjerat hutang akibat ditipu oleh sahabatnya. Dia mengatakan bahwa saat itu dia sangat pusing memikirkan hutang tersebut karena jika tidak segera dilunasi, maka bunganya akan semakin besar."
"Aku tidak tega melihatnya seperti itu. Lalu aku menghubungi orang tua ku untuk meminta uang dengan alasan bahwa aku membutuhkan untuk membayar segala keperluan ku. Ayahku mengirimkan uang sebesar lima ribu dollar dan kesemuanya aku serahkan kepada lelaki itu."
"Dua hari setelah itu, dia kembali menghindari ku dengan berbagai alasan. Barulah tadi setelah kelas selesai, aku memberanikan diri menemuinya yang ketika itu sedang bersama dengan sahabat-sahabatnya. Aku kembali menanyakan tentang perubahan sikapnya. Tapi, dia dan teman-temannya malah menghina ku dan mengatakan bahwa aku adalah gadis ****** yang merelakan tubuhku demi uang lima ribu Dollar. Padahal uang ku lah yang telah dia tipu. Aku tidak tau lagi harus berbuat apa. Diantara kekecewaan, patah hati, merasa terhina, dilecehkan bahkan dituduh sebagai wanita ******. Semuanya seakan menutup kesadaran ku. Yang ada dalam fikiran ku saat itu hanya ada satu kata. Yaitu, mengakhiri hidupku dengan cara melompat dari lantai atas bangunan kampus," sambil terus menangis, Aurelie menceritakan semuanya kepada Joe dan sahabatnya.
"Maafkan jika aku bertanya kepada mu. Siapakah lelaki itu?" Tanya Tye dengan berhati-hati. Dia takut jika pertanyaannya nanti akan membuat gadis ini tersinggung.
"Bajingan itu bernama Daren," Jawab Aurelie yang sukses membuat Tye, Sylash dan yang lainnya melongo.
"Hah?"
Mendengar nama Daren disebut, mulut semua orang itu melongo dan saling terkejutnya, mereka sampai lupa sejenak mengatupkan mulut. Beruntung tidak ada lalat yang masuk.
"Kau tenang saja, Rel. Kami akan membuat perhitungan dengan Daren itu. Aku akan pastikan dia akan mendapat balasan yang setimpal," kata Sylash geram. Wajahnya saat ini memerah menahan geram.
"Sudah lah. Aku telah ikhlas. Kak Joe telah membuka mataku bahwa kehidupan belum berakhir. Aku masih memiliki orang tua yang harus aku bahagiakan. Karena, hidup ku bukan hanya milikku. Tapi juga milik kedua orang tua ku. Bersyukur aku tidak mati hari ini. Andai aku mati, kemungkinan orang tua ku akan merasakan pukulan berkali-kali di hati mereka. Terimakasih, Kak Joe!"
"Ah. Lupakan saja. Walau bagaimanapun, kita sudah menjadi sahabat sekarang. Lalu, apakah kau masih memiliki uang untuk melanjutkan kuliah?" Tanya Joe.
Mendengar pertanyaan ini, Aurelie hanya bisa menggeleng sambil tertunduk.
"Kau mau bekerja di sebuah toko paruh waktu?" Tanya Joe.
"Jika ada, aku mau kak. Tapi, toko apa?" Tanya Aurelie dengan antusias. Baginya, hanya itulah satu-satunya cara agar dia bisa menutupi uang yang sudah diambil oleh Daren.
"Aku memiliki kenalan seorang manager di Quantum Jewelry. Kau ingat Tye, ketika kita belanja di sana?" Tanya Joe.
"Ingat. Memangnya kenapa Joe?" Tanya Tye.
"Aku mau kak. Kapan aku bisa mulai bekerja?"
"Sebentar. Aku akan mengirim pesan terlebih dahulu kepada Manager itu," kata Joe lalu mengeluarkan ponselnya untuk mengirim pesan kepada Eagle.
Di dalam pesan tersebut, dia meminta kepada Eagle untuk mengatakan kepada Manager di Quantum Jewelry agar memberikan pekerjaan kepada sahabatnya.
Tak lama kemudian balasan yang datang pun cukup memuaskan.
Joe membalas pesan tersebut dan menyuruh agar mereka datang ke kafe dekat kampus untuk menjemput Aurel.
"Sudah. Sebentar lagi mereka akan datang menjemput mu. Baik-baik nanti di sana ya! Jangan bunuh diri lagi!" Kata Joe sambil menoel hidung. Tapi kali ini bukan hidungnya, melainkan hidung Aurelie yang dia toel.
Dua puluh menit berselang, rombongan mobil mewah pun berhenti di depan kafe tersebut. Dan dari dalam, muncul beberapa orang lelaki dan tiga diantaranya sangat dikenal oleh Ruby, Naomi dan Tye.
Ketiga lelaki itu adalah, Tuan Baron, Tuan Xavier dan Eagle bersama seorang wanita berpakaian putih hitam.
"Tu-tu-Tuan Baron?! Bagaimana bisa? Mustahil karena Joe ini," kata Naomi dalam hati.
Tye dan Ruby juga tidak jauh berbeda. Bagaimana mungkin hanya dengan pesan singkat saja, Joe bisa mengundang tiga nama besar di Quantum City ini untuk datang secara langsung ke kafe di dekat kampus mereka ini?
"Maaf. Jika boleh saya bertanya, yang manakah diantara Nona ini yang bernama Aurelie?" Tanya Tuan Baron dengan sopan.
Sebelum menjawab, Aurelie terlebih dahulu melihat ke arah Joe dan yang lainnya.
Setelah Joe mengangguk, barulah Aurelie mengacungkan telunjuknya.
"Saya, Tuan. Saya yang bernama Aurelie," jawab gadis itu.
"Perkenalkan. Nama saya adalah Baron. Saya adalah CEO di perusahaan Quantum entertainment dan sekitarnya. Kedatangan saya ke sini karena mendapat informasi bahwa anda sedang mencari pekerjaan. Baiklah, ada satu pekerjaan kosong yang bisa anda isi. Yaitu sebagai pramuniaga. Jika anda menginginkan pekerjaan itu, anda bisa mengikuti saya dan Miss Clarisa selaku manager di Quantum Jewelry akan mengajarkan kepada anda bagaimana menjadi seorang pramuniaga profesional," kata Tuan Baron.
"Terima saja Rel!"
"Iya benar. Terima saja!" Kata mereka.
"Ba-ba-baik., Baiklah Tuan. Saya akan menerima pekerjaan ini,"
"Bagus. Jika begitu, mari kita berangkat sekarang juga," ajak Tuan Baron.
Sebum mereka pergi, Tuan Baron dan yang lainnya segera memberikan hormat kepada Joe. Namun, pemuda itu berpura-pura melihat ke arah lain dan baru membetulkan letak duduknya ketika rombongan Tuan Baron telah keluar meninggalkan kafe tersebut.
"Wah, Joe. Kau hebat sekali," puji Tye dengan tulus.
"Hebat apanya?" Tanya Joe berpura-pura heran.
"Hebat lah. Hanya dengan sekali kirim pesan, orang-orang besar itu langsung datang,"
"Oh. Itu rejekinya Aurelie saja. Aku hanya membuka jalan bagi dirinya,"
"Sudahlah! Untuk apa di bahas. Sebaiknya kita lanjut minum lalu pulang. Aku masih belum tau hukuman apa lagi yang harus aku terima dari kepala asrama," kata Joe.
Bersambung...