
Sesuai dengan rencana yang telah mereka berdua tetapkan antara Joe dan Tigor, malam itu juga anak buah Tigor bergerak dari berbagai tempat di kota Kemuning menuju perbatasan kota Batu tepatnya di kawasan perkebunan kelapa sawit milik negara.
Karena Joe dan Tigor tidak mengetahui berapa jumlah yang pasti dari orang-orang yang dikirim oleh Musuh, jadi, saat ini ada ratusan orang yang berangkat langsung menuju ke perbatasan.
Hal yang sama juga terjadi di pihak musuh. Saat ini mereka mulai berdatangan ke kota Kemuning dan memilih penginapan yang tidak terlalu jauh dari Martins Hotel.
Arus pergerakan antara dua kelompok ini saling berpapasan sebenarnya di jalan antara kota Kemuning dan kota Batu. Karena tidak saling kenal, maka semuanya tampak seperti biasa saja. Namun siapa sangka bahwa masing-masing di kepala mereka penuh dengan rencana yang pastinya akan mengakibatkan korban berjatuhan.
Satu kelompok ingin melakukan perburuan, sementara satu kelompok lagi akan membuat jebakan. Ya. Buruan menjebak pemburu.
...***...
Seorang pemuda tampak sedang sarapan di sebuah kamar hotel di Martins Hotel.
Beberapa orang lelaki setengah baya tampak berdiri di samping pemuda yang sedang sarapan sambil memandang keluar jendela dari tingkat atas Martins Hotel tersebut.
Karena posisinya berada di lantai atas, maka dengan sangat jelas pemuda itu mampu mengawasi setiap gerak gerik yang dia rasa mencurigakan.
"Mereka telah tiba Paman." Kata pemuda itu sambil terus menyuap makanannya menggunakan tangan. Hal ini dia lakukan karena tidak biasa menggunakan sendok dan garpu. Karena tadi, gara-gara menggunakan kedua benda itu, makanan yang berada dalam piringnya nyaris melompat ke lantai.
"Maksud anda orang-orang asing itu ketua?" Tanya Ameng.
"Benar Paman. Aku paling geram begini. Menjadikan aku seperti binatang buruan. Mereka harus membayar dengan sangat mahal." Kata pemuda itu sambil menyudahi sarapannya.
Tok tok tok...!
"Siapa di luar?" Tanya Ameng.
Tampak kini Ameng, Acong, Sugeng, Andra dan yang lainnya bersiap di dekat pintu kamar milik Joe untuk menyambut segala kemungkinan.
"Ketua, Miss Aline meminta izin untuk mengunjungi anda. Katanya dia sangat mengkhawatirkan kesehatan anda." Jawab orang yang mengetuk pintu tadi.
"Huh. Ada-ada saja. Ini semua pasti karena tadi malam itu paman Tigor mengatakan bahwa aku sakit."
"Ayo paman temui dan bawa Miss Aline itu ke sini!" Kata Joe lalu segera memakai masker sekaligus menutup kepalanya dengan mantel yang terdapat pada jaket Hoodie miliknya.
Dia kini lalu membelakangi pintu sambil menatap ke arah jendela untuk memantau keadaan di sejauh jangkauan matanya memandang.
Tak lama setelah itu terdengar pintu di ketuk beberapa kali dari arah luar.
"Siapa?"
"Ketua. Ini saya Ameng mengantar Miss Aline."
"Masuk! Pintu tidak di kunci!" Kata Joe sambil masih terus membelakangi pintu.
"Selamat pagi Tuan muda."
Terdengar suara sapaan di belakangnya dari seorang wanita setengah baya.
"Miss Aline. Terimakasih atas perhatian dan kunjungan anda. Kemari mendekat!" Kata Joe sambil terus membelakangi mereka.
Tanpa membantah, Miss Aline pun segera maju beberapa langkah dan berdiri di samping pemuda itu.
"Kau penasaran dengan wajah ku Miss Aline?" Tanya Joe tanpa Tedeng aling-aling.
"Sa-sa-saya tid-tid,"
"Mengapa anda begitu gugup?.
Miss Aline. Bukannya aku tidak mempercayai dirimu. Tapi saat ini aku benar-benar baru terjun ke dunia bisnis. Aku tidak tau siapa kawan, siapa lawan dan siapa yang berada di pihak ku." Kata Joe masih tidak berpaling menatap lawan bicaranya.
"Tuan muda. Saya datang kemari karena khawatir dengan kesehatan anda. Ketika berada di Tower Apartemen kemarin, anda tampak mendadak berubah dan langsung meninggalkan kami. Hal ini membuat saya bertanya kepada pak Tigor. Dia lalu mengatakan bahwa Anda memiliki sangat banyak penyakit. Itu yang membuat saya sangat khawatir." Kata Miss Aline menjelaskan.
Tentu saja dia tidak tau penyakit seperti apa yang di maksud oleh Tigor kemarin. Yang dia tau dan yang dapat dia tangkap adalah Joe ini memiliki penyakit kronik dan penyakit yang bisa kambuh kapan saja. Padahal penyakit yang dimaksud oleh Tigor ini adalah penyakit iseng, jahil, tengil dan kegilaan kegilaan lain yang ada pada diri Tuan muda mereka itu.
"Tuan muda. Jauh sebelum anda mengenal saya, saya lebih dulu mengenal anda dan menganggap anda sebagai putra saya sendiri. Ketika anda berusia belum genap setahun, saya selalu mengunjungi anda di Starhousing. Ketika anda diambil oleh kakek Malik, setahun kemudian saya dipindahkan ke kota Kemuning ini." Kata Miss Aline.
"Oh ya. Silahkan duduk!" Kata Joe mempersilahkan Miss Aline untuk duduk.
"Mis Aline. Sebenarnya sedekat apa antara anda dengan Ayah ku. Aku sangat penasaran. Ini karena setiap kali antara aku dan Ayah membicarakan anda, dia mengatakan bahwa anda adalah sahabatnya dan bukan bawahan." Kata Joe bertanya dan mengutarakan rasa penasaran di hati nya.
"Joe William. Seharusnya kau itu lahir dari rahim ku. Bukan dari rahim Clara ibumu." Jawab Miss Aline.
Duaaar...
Seperti di sambar petir di siang bolong. Joe yang mendengar jawaban seperti ini langsung kaget.
Mendengar Miss Aline kini memanggil langsung namanya tanpa ada sebutan Tuan muda dan langsung menyebut nama ibunya tanpa sebutan Nyonya besar saja membuat Joe sangat terkejut sekaligus penasaran sedekat apa hubungan mereka ini di masa lalu.
"Kau kaget Joe?" Tanya Miss Aline.
"Teruskan!" Pinta Joe sekuat tenaga berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Beruntung dia saat ini memakai masker. Jika tidak entahlah.
"Dulu, ketika Ayah mu masih berumur sekitar dua puluh dua tahun, aku hanya seorang resepsionis di sebuah toko milik Smith Group yang saat itu baru saja diakuisisi oleh Ayah mu. Itu lah awal mula aku bertemu dengan Ayah mu yang ketika itu masih menyembunyikan identitasnya sebagai Tuan muda dari dua keluarga raksasa yang sangat kaya raya di Metro City." Kata Miss Aline memulai kisahnya.
"Lalu?" Tanya Joe penasaran.
"Ayah mu dulu bersama kedua sahabatnya yaitu Ryan dan Daniel ketika pertama kali datang mengunjungi Jewel Star persis seperti gembel yang hampir sama seperti mu ini. Masih sangat polos dan tidak tau apa-apa. Hanya saja bedanya, ayah mu tidak usil dengan menyuruh kami mendorongnya menggunakan Troli."
"Hahaha. Miss Aline menyindir ku." Kata Joe tertawa.
"Di situ lah pertama kali aku bertemu dengan Ayah mu. Jujur saat itu aku sempat terpikir untuk mengusir ayah mu dan kedua sahabatnya dari toko itu. Tapi entah mengapa itu urung aku lakukan. Saat ini aku malah bertingkah sangat baik dan menjelaskan segala sesuatunya kepada ayah mu. Mungkin karena itu dia merasa terkesan dan dengan kekuasaan yang dia miliki, dia menaikkan jabatan ku dari seorang resepsionis menjadi Management urusan pelanggan. Lompatan level yang sangat tinggi menurut ku. Walaupun itu dia lakukan secara sembunyi-sembunyi dan aku memang masih belum tau siapa ayah mu ketika itu. Aku berfikir kalau dia ini melakukan hal seperti itu karena Tuan Barry sempat di tolong oleh Ayah mu. Jadi untuk membalas jasa, mungkin Tuan Barry menyetujui permintaan ayah mu untuk menaikkan jabatan ku."
"Singkat cerita. Akhirnya antara aku dan Ayah mu berteman dekat bahkan sangat dekat. Namun hubungan kami menjadi renggang ketika aku mengetahui bahwa dia adalah majikan ku. Sampai pada suatu saat ayah mu di keroyok oleh musuh-musuhnya dan di buang ke bawah jembatan Metro City."
"Ibu mu berhasil menyelamatkan ayah mu dari terbawa arus sungai dan dengan bantuan dari Kakek Malik, akhirnya ayah mu selamat. Lalu Ayah mu menikah dengan Clara dan kau pun lahir. Bayangkan andai Ayah mu tidka bertemu dengan ibu mu, kemungkinan ayah mu akan menikahi antara aku, Joanna, Lisa, Via atau Hellen. Dan kau mungkin saja akan lahir dari salah satu rahim mereka ini." Kata Miss Aline mengakhiri kisahnya.
"Apakah Ayah ku dulu suka mempermainkan wanita Bi?" Tanya Joe yang mulai memanggil Aline dengan sebutan Bibi.
"Tidak. Ayah mu hanya terlalu baik sampai-sampai wanita salah dalam mengartikan kebaikan Ayah mu. Itu lah masalahnya. Semua gadis ketika itu berharap kepadanya tanpa ayah mu tau itu. Bukan salah dia. Kami yang terlalu terbawa perasaan." Jawab Miss Aline.
"Kau sudah sarapan Joe? Bibi ada membawa sarapan untuk mu."
"Bibi ingin melihat wajahku? Ingatlah untuk menjaga privasi ku Bi." Kata Joe lalu mencopot masker nya.
Kini tampak lah seraut wajah tengil yang mengingatkan Aline kepada Jerry di waktu muda nya dulu.
"Mari sini anak ku. Bibi akan menyuapi mu makan." Kata Aline lalu menyuapi Joe untuk makan.
"Bi. Setelah ini kau jangan keluar dulu dari kamar ku ini ya."
"Mengapa Joe?" Tanya Aline tidak mengerti.
"Musuh bisnis Ayah ku telah mengirim pembunuh bayaran untuk melacak keberadaan ku. Mereka berhasil aku pancing kemarin itu ketika aku naik Troli. Bibi akan di kawal oleh orang-orang ku. Aku khawatir mereka akan membabi buta dengan menyerang siapa saja orang-orang yang dekat dengan ku. Tunggu sampai aku kembali, Bibi baru boleh pergi. Jadi, hari ini tidak usah masuk kerja dulu." Kata Joe.
"Mengapa kau tidak lari saja Joe? Cepatlah kembali ke Starhill!" Kata Aline dengan nada suara khawatir.
"Lari? Sampai kapan bisa lari terus? Kalau tidak diberi pelajaran, mereka tidak akan tau langit itu tinggi dan samudra itu luas dan dalam."
"Lalu, maksud mu kau ingin bertarung dengan mereka? Joe. Kau itu masih kecil. Jangan melawan mereka. Jika mereka ini adalah pembunuh bayaran, sudah pasti mereka ini sangat profesional." Kata Aline.
"Aku juga memiliki para pengawal yang sangat profesional di sekeliling ku. Bibi percaya saja. Nanti aku akan memakai pakaian robot biar tidak terluka." Kata Joe lalu segera membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Aline.
Mereka pun terus saja mengobrol menunggu waktu sore. Karena ketika sore sudah datang, segala rencana akan dijalankan.
...Bersambung......