Joe William

Joe William
Honor akan berlatih



"Tuan Honor, Mr. Feng ingin mengundang anda makan malam bersama mereka. Apakah anda bersedia memenuhi undangan tersebut," kata Paman Cheung kepada Honor yang saat ini baru saja selesai melakukan ritual di depan papan nama milik ayahnya.


"Paman Cheung. Aku peringatkan kepada kalian semua! Berhentilah menjodoh-jodohkan aku dengan wanita. Hatiku saat ini dipenuhi oleh dendam. Tidak ada lagi ruang untuk mencintai," bentak Honor kepada lelaki tua itu.


"Honor. Kau itu sudah berusia 21 tahun. Saatnya kau memikirkan calon pendamping hidup mu. Rebecca Feng adalah salah satu gadis tercantik di Victoria peak ini. Selain seorang selebriti, ayahnya yaitu Mr.Feng adalah orang yang terpandang. Kalian boleh sejenak untuk bertemu lalu saling mengenal. Tidak ada salahnya," kata Tiger Lee pula membujuk anak majikannya yang kini menjadi majikannya itu.


"Paman Tiger. Aku tidak mau. Tolong jangan paksa aku. Bagi ku, wanita hanya akan menjadi penghambat langkah saja. Aku tidak ingin leherku dikalungi oleh bandul yang bernama tanggung jawab. Apa kalian ingin kakiku dibelenggu oleh ikatan sebuah pernikahan? Selagi dendam ku belum terbalaskan, selagi itu pula aku tidak akan memikirkan soal wanita,"


"Tapi, Tuan...,"


"Diam kalian semua! Apakah aku yang menjadi kepala keluarga, atau kalian? Jika aku, maka kata-kata ku adalah perintah!" Bentak Honor Miller yang sudah tersulut emosi.


Semua orang yang berada di ruangan itu hanya bisa terdiam saling bertukar pandang.


Mereka tidak bisa mendesak lagi. Karena, walau bagaimanapun, mereka hanyalah keluarga bawahan dan saat ini, Honor adalah kepala keluarga Miller. Berarti, mereka berada di bawah naungan Honor Miller setelah ayahnya meninggal dan Rudolf serta Albern menyatakan bahwa mereka keluar dari keluarga Miller.


"Paman Cheung.., obat!" Kata Honor sambil menampung 'kan tangannya.


"Tuan... Jangan terlalu sering menggunakan obat perangsang untuk berlatih. Saya khawatir pembuluh di otak anda akan rusak,"


"Obat kataku!"


"Ba-ba-baik!"


Paman Cheung lalu menyerahkan sebuah suntik kepada Honor.


Setelah menerima, Honor langsung menusukkan jarum tersebut ke lengan tangannya, tepatnya di bagian urat nadi.


Setelah obat tersebut masuk ke dalam tubuhnya melalui urat besar pada lengannya, kini tampak matanya memerah dan urat-urat lehernya nya bersembulan keluar.


"Sekarang, siapa diantara kalian yang akan melawan ku bertarung?" Tantang Honor kepada semua orang yang berada di tempat itu.


Tiger Lee hanya mendesah saja. Lalu dengan cepat dia melemparkan kursi ke arah Honor yang langsung disambut oleh pemuda itu dengan tinjunya sehingga kursi tersebut jebol berantakan.


"Maju lah kalian semua!" Kata Honor seperti mengamuk lalu menyerang mereka semua.


Hanya Tiger Lee dan Zacky saja yang tidak lari. Selebihnya, semua melarikan diri mencari selamat dari amukan pemuda yang telah menggunakan obat untuk meningkatkan kekuatannya tersebut.


"Honor. Setelah menggunakan obat itu, kendalikan dirimu. Bagaimanapun, obat itu hanyalah obat perangsang kekuatan. Sekarang, aku akan mengajarkan kepadamu bagaimana caranya untuk menjadi petarung," kata Tiger Lee.


Lelaki setengah baya itu lalu membuat gerakan menendang yang tepat dia kirim ke arah dada Honor.


Seperti orang yang kesurupan, sedikitpun dia tidak merasakan rasa sakit. Dia malah terus bergerak dan menyerang membabi buta.


"Kacau kalau sudah begini," bisik Tiger kepada Zacky.


Pertarungan tiga lawan satu itu terus berlangsung sampai beberapa jam sebelum Honor jatuh terduduk dengan nafas terengah-engah.


"Berikan aku satu kali suntikan lagi! Aku pasti akan mengalahkan kalian berdua," pinta Honor.


"Paman Tiger Lee. Aku ingin bisa berkembang. Menjadi petarung, dan aku ingin kelak dengan tangan ku ini, bisa mencabut nyawa Joe William itu untuk membalaskan dendam atas kematian ayah ku,"


"Tidak ada yang instan. Jika kau ingin menjadi petarung, maka kau harus berlatih. Apakah kau tidak mempercayai kemampuan dirimu sendiri sampai-sampai kau ingin mengambil jalan pintas dengan mengkonsumsi obat perangsang kekuatan seperti ini? Aku khawatir kau akan mengalami ketergantungan kepada obat perangsang itu. Ayo lah! Kau jangan menyerah!" Kata Tiger Lee membangkitkan semangat Honor.


"Hu hu hu..," Honor kini malah menangis sambil tersandar di dinding ruangan yang tampak berantakan.


"Mengapa sulit sekali bagiku untuk bisa menjadi seorang petarung?"


"Tidak sulit asalkan kau mau sedikit saja mengalami susah. Tapi, siapa yang berani membuat mu susah dengan kekuasaan yang kau miliki? Tidak ada seorangpun guru yang berani menghukum mu. Ketika kau merasakan penderitaan, kau akan menyuruh orang-orang mu untuk membunuh guru tersebut. Lalu, siapa lagi yang berani mengajari mu? Semua guru sudah menyerah. Bahkan ketika mendengar nama mu saja, mereka sudah lari meninggalkan Hongkong,"


"Jika begini, aku tidak akan bisa menghadapi Joe William yang katanya memiliki kehebatan bertarung," kata Honor putus asa.


"Apakah Joe ini sehebat itu?" Tanya Tiger Lee penasaran.


"Diana dan Frank Regnar mengatakan begitu. Terbukti puluhan anak buah Sean yang dikirim ke Indonesia untuk membunuhnya semuanya gagal. Bahkan, semuanya mati dibantai oleh Joe William itu. Hanya Sean yang dibiarkan selamat untuk membawa kabar,"


"Kau sudah tau bahwa lawan mu bukanlah lawan sembarangan. Maka dari itu, bangkit! Jangan bermanja-manja lagi! Ayo bangun kau!"


Plak!


"Bangun kataku!"


Plak!


"Uhuk..,"


"Bangun kau Honor!" Bentak Tiger sambil terus menampari pemuda itu.


Tiger Lee kini membuka bajunya yang menampakkan otot-otot serta tatto bergambar harimau mulai dari perut sampai ke dada.


Dengan sadis, dia mencengkram kerah baju milik Honor lalu membanting pemuda itu di atas meja hingga meja itu pecah.


"Pelan sedikit Lee!" Kata Zacky mengingatkan agar Tiger Lee tidak terlalu kasar kepada Tuan mereka itu.


"Tidak bisa! Jika ingin menjadi petarung, maka dia harus terbiasa mendapatkan perlakuan seperti ini. Tidak ada yang instan. Semuanya bermula dari nol,"


"Iya. Aku tau. Tapi, jika kau seperti ini, itu namanya bukan mengajar. Tapi membunuh,"


Tiger Lee langsung tersadar dengan ucapan Zacky tadi. Berulang kali dia mengusap wajahnya. Lalu dia pun berjalan menghampiri Honor Miller yang tampak terbatuk-batuk.


"Aku akan berlatih. Aku akan berlatih! Paman tenang saja. Aku tidak akan mengeluh. Percaya kepada ku!" Kata Honor sambil bangkit berdiri dengan susah payah.


"Dulu, aku juga seperti diri mu. Ketika mendapat kasih sayang dari mendiang Tuan besar Arold Miller, aku mulai manja. Sampai pada satu ketika, aku harus menjalankan sebuah misi ke Mexico untuk membawa barang pesanan. Di sana aku di bully habis-habisan oleh anggota Gengster di sana. Itu adalah moment yang paling memalukan. Hingga aku bertekad untuk memperbaiki diri. Dan saat ini, belum ada lawan yang bisa lolos dari cengkeraman tangan Tiger Lee,"


"Aku membutuhkan tenaga mu. Kelak, aku akan mengandalkan dirimu," kata Honor optimis.


Bersambung...