
Sepasang muda-mudi tadi yang sedang duduk di sebatang balok kayu di pinggir pantai itu tampak keheranan. Ini karena suasana larut malam di pinggir pantai yang tadinya sepi itu mendadak menjadi ramai dan terang benderang oleh cahaya lampu kendaraan roda empat yang tiba di pantai tersebut.
Dari arah laut pula, kini tampak sekitar lima unit kapal Yacht mulai merapat dan kemudian berhenti di bagian pantai yang masih berair dalam.
Salah satu dari lima unit Yacht tersebut tampak sangat mewah. Hal ini karena dari kelima perahu mewah tersebut, hanya yang di tengah lah yang memiliki tiga tingkat dan tampak sangat super sekali.
Tak lama setelah itu, dari arah laut kini bermunculan perahu karet dan mulai merapat membuat Joe dan Tiara semakin mempererat pegangan tangan mereka.
"Joe. Kau tau siapa mereka ini Joe?" Tanya Tiara ketakutan.
"Sama seperti mu. Aku juga tidak tau. Apa mungkin ada geng mafia yang akan melakukan transaksi di pantai Kuala Nipah ini?" Kata Joe menjawab pertanyaan dengan pertanyaan pula.
Mereka berdua lalu memperhatikan ke arah perahu karet yang sudah tiba di bibir pantai dan kini tampak puluhan orang sudah mendaratkan kaki mereka di pantai tersebut.
Sepasang lelaki dan wanita setengah baya memakai pakaian putih dan gaun merah jambu tampak saling bergandengan tangan mengarah ke sepasang muda-mudi yang tampak seperti orang linglung itu.
"Ayah?!" Kata Joe dalam hati lalu segera menggosok kelopak matanya khawatir kalau dia salah melihat.
Semakin rombongan orang itu mendekat, semakin Joe melihat bahwa yang datang itu adalah ayah dan ibu nya beserta rombongan.
Kejadian ini sebenarnya bukan hanya Joe saja yang terheran-heran. Beberapa orang yang berada di dalam mobil pun juga merasakan keheranan dan saling pandang.
"Bang Tigor. Apakah ini bagian dari rencana kejutan dari mu untuk ketua?" Tanya Ameng yang duduk di sebelah lelaki setengah baya itu.
"Tidak. Ini bukan dari bagian rencana ku." Jawab Tigor seperti tidak percaya.
"Mungkin Tuan besar berubah fikiran dan sengaja untuk langsung datang ke Kuala Nipah ini." Kata Acong pula.
"Bisa jadi." Jawab Tigor setengah membenarkan pendapat dari sahabatnya itu.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Mari kita kembali ke Starhill.
Tepat dua hari yang yang lalu, setelah Tigor menelepon Jerry di Starhill, Clara yang sejak beberapa waktu yang lalu hanya kepikiran tentang putra satu-satunya itu terus-menerus merajuk, mendiamkan Jerry. Hal ini mau tak mau membuat Tuan besar dari Starhill itu mati kutu juga.
Ketika di tanya, mengapa Clara berubah dan seperti tidak memperdulikannya, Clara hanya menjawab bahwa dia sangat ingin merayakan hari ulang tahun putranya yang ke 17 ini walau bagaimana sekalipun.
Dia tidak mau tau apa pun alasannya. Yang jelas, jika dia tidak bertemu dengan Putranya di hari ulangtahunnya ini, maka dia akan mendiamkan Jerry sampai di hari ulang tahun putranya yang ke 18.
Jerry benar-benar mati kutu oleh Clara.
Bayangkan saja. Di diamkan oleh istri tercinta selama setahun itu pasti tidak enak. Ini yang membuat Jerry akhirnya merubah fikiran dan memutuskan berangkat menuju Kuala Nipah menggunakan Super Yacht.
*********
Saat ini, rombongan orang-orang yang datang dari arah laut itu telah tiba di depan Joe dan Tiara.
Mereka adalah Jerry dan Clara, Drako dan istrinya. Tuan Syam dan Istrinya. Arslan dan istrinya yaitu Lisa. Herey dan Istrinya yaitu Joanna, Daniel dan Helen, Riko dan Rina, Ryan dan Jenny, Kevin dan istrinya Lira. David dan istrinya Adelle. Herman dan istrinya Rindy serta Ivan dengan Istrinya Lorna serta putri mereka Xenita. Di sana juga ada Kenny berama istri dan ketiga anaknya.
Selain itu, juga ada Black, Jeff, Austin dan beberapa pentolan Dragon Empire dan Tiger.
"Ayah, Ibu!" Kata Joe begitu pasangan setengah baya itu tiba di depannya.
"Putra ku. Kau sudah besar sekarang." Kata Clara sambil membelai rambut putranya yang cepak itu.
"Mengapa kalian datang kemari?" Tanya Joe merasa heran.
Kini dia menatap satu persatu ke arah mereka yang ada di tempat itu. Sebagian dia kenal dan sebagian besarnya lagi tidak.
"Ibu mu selalu memikirkan dirimu. Bukankah hari ini adalah hari ulangtahun mu?" Kata Jerry mengingatkan.
"Heheehe..." Jawab Joe sambil nyengir kuda.
"Oh ya. Mengapa tidak kau tiup lilinnya?" Tanya Clara karena sejak tadi melihat bahwa Joe hanya memegangi saja kue ulangtahun yang diberikan Tiara kepadanya.
"Berdoa dulu Joe! Kemudian baru tiup lilinnya." Kata Drako.
"Iya kek." Kata Joe.
Dia lalu memejamkan matanya kemudian mulai berdoa.
Kini suasana di pinggir pantai itu menjadi meriah karena geng Tigor juga turut bergabung dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun kepada Joe.
"Apa doa mu nak?" Tanya Clara.
"Aku mendoakan kakek Tengku Mahmud semoga panjang umur dan sehat selalu." Jawab Joe membuat Tigor, Rio dan Namora yang juga berada di tempat itu saling pandang.
"Anak baik. Ini baru anak baik." Kata Jerry sambil membelai rambut anaknya.
"Takut Bu. Sangat takut." Jawab Joe sambil menatap ke arah rumah panggung di ujung sana.
"Oh ya Joe. Kau tidak mengenalkan teman mu itu kepada kami?" Tanya Jerry.
"Hehehe. Hehehe..." Kata Joe sambil menggaru kepalanya yang tidak gatal.
"Tiara. Salami ibu dan ayah ku!" Bisik Joe sambil mendorong pundak Tiara dengan pundaknya.
"Hallo paman. Bibi. Nama saya Tiara." Kata Tiara malu-malu.
"Anak ini persis seperti diriku dulu. Aku melihat bayangan diriku dalam diri gadis ini. Sina nak. Biar ibu peluk." Kata Clara sambil meraih pundak gadis itu. Lalu mereka pun saling berpelukan.
"Joe. Kami ingin tau. Kepada siapa potongan kue pertama akan kau berikan." Tanya Jerry.
"Potongan pertama dari kue ulangtahun ku ini akan aku berikan kepada kakek Tengku Mahmud. Apa boleh begitu Bu?" Tanya Joe.
"Boleh. Tidak ada salahnya." Kata Tiara.
"Mari kita ke rumah dulu Bu." Ajak Joe lalu mendahului berjalan didampingi oleh Tiara.
"Tuan Besar. Saya tidak menyangka anda akan datang langsung kemari. Ini satu kehormatan buat saya." Kata Tigor menyapa Jerry selaku atasannya itu.
"Hey Gor. Lama tak bertemu. Semakin subur saja badan mu." Kata Jerry lalu mereka pun saling berpelukan.
"Hahaha. Begitulah Tuan besar." Jawab Tigor lalu memandang ke arah orang-orang yang berada di belakang Jerry.
"Tuan Ivan, Tuan Ryan dan yang lainnya. Hahaha. Kita bertemu lagi." Kata Tigor.
Begitu mendapat sapaan dari Tigor ini, mereka lalu saling tertawa kemudian berpelukan.
"Tuan Besar. Biarkan Joe duluan yang masuk. Aku khawatir kakek Tengku Mahmud akan menyerang kita. Maklumlah jika sifat jahil nya sudah kambuh, dia akan menyerang kita dengan kulit kerang." Kata Tigor memperingatkan ketika mereka berada di dekat halaman rumah Tengku Mahmud.
Baru saja dia memperingatkan, kini sebutir kulit kerang sudah melesat lalu tepat menabrak kening Tigor.
"Aduh...!"
"Kan. Sudah ku duga." Kata Tigor sambil mengusap keningnya yang sedikit sakit.
Mereka semua terdiam ketika seorang lelaki tua keluar dari rumah dengan mulut belepotan kue ulangtahun dari Joe William.
"Setan-setan dari mana ini semuanya?" Kata lelaki tua itu membentak.
"Heh kau anak jin iprit. Yang mana ayah mu heh?" Tanya Tengku Mahmud lagi kepada Joe.
"Yang memakai jas putih itu kek." Kata Joe sambil tertunduk.
Dia sudah menduga bahwa kejahilan gurunya ini pasti kambuh begitu melihat sasaran.
"Heh Jin iprit. Kemari kau!" Kata Tengku Mahmud ke arah Jerry.
Tidak ada pilihan. Jerry pun kini mendekat. Namun baru beberapa langkah dia berjalan, tiba-tiba Tengku Mahmud melemparkan kulit kerang ke arah Jerry.
Masih untung Jerry cepat menghindar. Jika tidak pasti jidatnya sudah bercap kulit kerang.
"Hehehe. Ada isi. Ternyata kau ada isi. Aku melihat pergerakan mu sedikit sama dengan si Malik. Tapi kau sangat lamban. Jika aku melemparkan kulit kerang tadi dengan kecepatan tinggi, kau pasti sudah pingsan." Kata Tengku Mahmud sambil terkekeh.
"Mohon maafkan saya kek. Dan terimalah salam hormat dari saya." Kata Jerry membungkuk.
"Ah sudahlah. Lupakan semua peradatan. Oh ya. Mari kalian masuk. Tapi jangan semua. Rumahku ini tidak kuat menampung kalian semuanya. Bisa roboh rumahku ini." Kata Tengku Mahmud.
Begitu Jerry dan Clara akan menaiki tangga untuk duduk di teras rumah Tengku Mahmud itu, Joe kini membawa seember air lalu mencuci kaki ibunya. Hal ini membuat Clara dan Jerry merasa sangat terharu.
"Tidak sia-sia kau belajar jauh-jauh anak ku." Kata Clara dalam hati.
Selesai dengan kaki Ibunya, kini Joe berganti mencuci kaki Jerry.
"Akhlak yang sangat baik." Kata Jerry sambil mengusap kepala pemuda itu.
"Kek. Jangan buat masalah lagi ya. Atau acara ulangtahun ku ini akan kacau." Kata Joe memperingatkan.
"Diam kau anak Jin iprit. Pergi bawa ember ditangan mu itu kebelakang!" Bentak Tengku Mahmud membuat Joe hanya garu-garu kepala saja.
Melihat kejadian ini, Jerry dan Clara serta Drako tidak kuasa menahan tawa.
Bersambung...