Joe William

Joe William
Joe terpaksa mengajak Xenita dan Talia jalan-jalan



Joe jadi malu sekali ketika sang ibu mengungkit nama Tiara dihadapan ramai orang yang berada di ruangan itu.


Untuk menghilangkan rasa malunya, dia segera bangkit dan berpura-pura lupa bahwa dia belum memberi hormat kepada Ivan dan Gerrard.


"Paman Ivan, Bibi Lorna.., terimalah salam hormat dari saya!" Kata Joe sambil membungkuk dihadapan lelaki yang sebaya dengan ayahnya itu secara bergantian. Kemudian, dia berpaling ke arah Gerrard Gordon pula. "Paman Gordon. Terima salam hormat saya!" Sekali lagi Joe membungkukkan badannya.


Ivan Patrik dan Gerrard Gordon tersenyum melihat tingkah pemuda itu. Walaupun mendapatkan hukuman yang keras dari Drako, tapi dia sepertinya tidak merasakan apa-apa.


"Hahaha. Ternyata putra mu tidak lupa peradatan!" Kata Ivan sambil menatap ke arah Jerry.


"Yah begitulah. Dia 'kan di didik oleh Tengku Mahmud. Mungkin dia mendapat pendidikan selain bela diri, juga peradatan. Kau tau sendirilah seperti apa Nusantara ini. Seperti apa masyarakat nya. Mereka akan sangat baik jika dibaiki. Tapi, bisa berubah jadi singa jika dikasari!" Kata Jerry.


"Sebenarnya dimana-mana sama saja. Bahkan seekor semut juga akan menggigit kalau sudah keterlaluan," balas Ivan Patrik pula.


"Joe. Apakah kau tidak mempunya rencana untuk mengajak Talia dan Xenita untuk sekedar jalan-jalan melihat-lihat sekitar kota Kemuning ini?" Tanya Gerrard Gordon pula.


"Uhuk!" Joe langsung terbatuk begitu ditanya tentang apakah dia memiliki rencana untuk mengajak kedua gadis manja itu untuk jalan-jalan.


"Pergilah Joe! Ajak Talia dan Xenita ini jalan-jalan!" Kata Jerry memberi izin. Tepatnya sih menyuruh agar kedua gadis itu tidak terlalu kaku.


Mendengar ini, Joe segera mengeluarkan ponselnya kemudian mengirim pesan WhatsApp.


"R1. Siapkan troli untuk ku!"


Semua mata terbelalak mendengar perintah dari Joe ini. Bisa-bisanya dia meminta kepada pengawal pribadinya untuk menyiapkan troli.


"Joe! Apakah kau akan naik troli sementara Talia dan Xenita jalan kaki?" Tanya Ivan nyaris tertawa.


"Cantik kah Tiara itu kak?" Tanya Talia.


"Xenita pernah bertemu dengannya. Dia cantik. Mungkin jika kalian bersanding bersama, sebelas dua belas lah!" Jawab Joe sambil tersenyum kepada Xenita.


"Ya. Cantik. Lembut dan pendiam. Tidak seperti aku!" Kata Xenia sambil terkikik geli.


"Suatu saat aku ingin bertemu dengan Tiara ini. Siapa tau kami bisa bersahabat," kata Talia memaksakan diri untuk tersenyum.


"Jadi, apakah kita berangkat sekarang?" Tanya Joe.


"Pergilah kalian bertiga. Kami masih ada hal yang ingin di bahas. Semakin lama waktu kami bertemu sangat sedikit. Jadi, ketika ada kesempatan, kami akan sangat menghargai waktu," kata Jerry sambil mengibaskan tangannya menyuruh Joe untuk pergi.


"Joe pamit, Ayah, Ibu dan Paman semua!" Kata Joe. Lalu, enak saja dia menggandeng tangan kedua gadis itu.


Ketika Xenita melewati Tigor, gadis itu sempat berbisik menanyakan Namora. Tigor yang tidak tau apa-apa setengah mati menyembunyikan keterkejutannya.


"Namora ada di kota Batu. Mungkin sore ini dia akan kembali. Tapi tidak mungkin. Oh ya Paman! Kirim satu helikopter untuk menjemput Namora! Aku tidak tahan menghadapi dua gadis sekaligus!" Kata Joe berpura-pura ketakutan.


"Huh. Kakak kira kami ini apaan?" Cibir Xenita.


Melihat gelagat anak-anak muda itu, mereka hanya bisa geleng-geleng kepala saja. Mereka juga dulu pernah muda. Namun, ketika mereka muda, kebebasan tidak begitu mudah untuk mereka peroleh. Apa lagi, dahulu orang tua mereka sangat menitikberatkan pergaulan anak-anaknya. Jika tidak sederajat, maka mereka tidak boleh untuk berteman. Jerry William juga nyaris menjadi korban. Untung dia melawan. Jika tidak, mungkin Lorna Warker yang saat ini menjadi istri Ivan Patrik sudah menjadi istrinya.


Bersambung...